Senin, 24 Agustus 2015

Selembar Kain Nasionalisme Simbolik

Bendera merah-putih terbesar yang berhasil saya abadikan di pendakian Gn. Merapi tempo hari

Kusisingkan lengan untuk meneggakkanmu
Mataku berkaca memandangmu berkibar
Bergemuruh denyut nadi mengayuh semangat
Kumerinding kau dipuja bagi segenap jiwa
Kau seperti asa dalam kolektivitas rasa
Hinggaku bertanya, mengapa aku harus mencintaimu?
Wahai, Selembar Kain Nasionalisme


Berbagai ukuran merah putih itu berkibar riuh di atas ketinggian lebih dari 1.000 Meter Diatas Permukaan Laut (MDPL). Dengan bangga para pemuda dan pemudi berfoto ria berlatar langit menjulang yang tak ketinggalan kibaran sang saka. Pemandangan wajah meriah nasionalisme itu saya saksikan di tengah-tengah bukit dan bebatuan tandus area puncak Gunung Merapi, 17 Agustus 2015 tempo hari.

Peristiwa perayaan kemerdekaan selalu menjadi moment menarik bagi para pendaki. Gunung-gunung yang berstatus aman tak pernah sepi menjadi wisata perayaan kemerdekaan. Seakan, pendakian ada simbol perjuangan. Berjuang mengibarkan sang saka ke tempat tertinggi sebagai simbol cita-cita perjuangan. Sambil dilanjut reflektifitas keindahan alam ibu pertiwi. Bagi para pendaki, bisa melihat kibaran merah putih di tempat tertinggi benar-benar mengaduk-aduk emosi nasionalisme.

Yang menjadi pertanyaan, apakah nasionalisme hanya sebatas simbolitas? Jelas akan di jawab bagi penganutnya bahwa simbolitas memacu semangat untuk sebuah gerakan subtantif. Seperti dalam ajaran Islam, berjilbab adalah simbol agama. Sedangkan substansinya menjadi muslimah kaffah. Maka, simbolitas nasionalisme adalah modal yang menghidupi jiwa menjadi manusia pengabdi negeri.

Saya secara pribadi memang meyakini pentingnya sebuah simbolitas. Simbolitas dan subtansi akan saling berkaitan dalam kaidah hakikatnya. Contoh, orang melakukan shalat adalah wujud simbolitas dalam beragama. Maka subtansinya adalah menjalankan ketaatan. Wujud ketaataan akan saling berkorelasi dengan sikapnya dalam hubungan sosial.

Mencoba menganalogikan simbolitas dalam bernasionalisme dengan simbolitas beragama apakah akan memiliki pertemuan substansi yang sama? Inilah yang saya pikirkan, mengapa saya harus mencintai negeri ini?

Delapan puluh tujuh tahun yang lalu, Agus Salim pernah mengkritik Soekarno atas gagasan tentang cinta tanah air. Soekarno yang waktu itu adalah pemimpin Partai Nasionalis Indonesia (PNI) berpidato tentang bumi Indonesia yang dipersonifikasikan ke dalam bentuk sesosok ibu karena telah melahirkan tanah yang subur, air yang melimpah, dan keelokan paras alamnya. Sebagai putra bangsa yang berdiri tegak di atas tanah sang ibu, Soekarno mengatakan pentingnya menghamba pada sang ibu, yaitu ibu Indonesia. Kini dikenal dengan nama ibu pertiwi.

Gagasan Soekarno ini ditanggapi Agus Salim, yang kala itu pimpinan Partai Sarekat Islam (PSI), di dalam surat kabar Fadjar Asia edisi Agustus 1928. Bagi Agus Salim, gagasan Soekarno ini dapat melahirkan benih-benih fasisme dalam jiwa nasionalis. Rasa bangga yang berlebihan pada tanah air, seperti yang dicontohkan Salim, bisa dilihat dari sejarah Eropa yang berperang atas nama nasionalisme. Sifat-sifat berlebihan yang menghamba pada tanah air dapat berwujud pada perendahan bagi bangsa lain.

Meski dibantah oleh Soekarno soal sifat-sifat nasionalisme eropa yang berbeda dengan nasionalisme ala timur, namun bagi Agus Salim adalah keutamaan niat dalam wujud cinta itu. Cinta tanah air yang didengungkan Soekarno bukan lagi penghambaan pada Allah Swt sang pencipta, tetapi seperti kata Agus Salim, “menghambanya manusia pada berhala tanah air”. Penghambaan pada benda dan dunia hanyalah melahirkan kekikiran dan kesombongan. Sebab, dunia memiliki batas kesempurnaan. “Maka sebagai dalam tiap-tiap hal yang mengenai dunia kita, demikian juga dalam hal cinta tanah air kita mesti menunjukan cita-cita kepada yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan, dan keutamaan yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah Swt.” Tulis Agus Salim.

Agus Salim sudah mengingatkan di masa-masa embrio negara ini akan berdiri, semua itu harus dilandasi Lillahi ta’ala, atau karena Alllah swt.  Hanya berlandas pada Allah ada batasan-batasan (hukum agama) yang menjaga manusia dari sikap keyakinan yang salah. Seperti fasisme dalam jiwa nasionalis yang ditakutkan Agus Salim.

Okelah kita bisa menerima argumen pengelakan dari Soekarno yang menganggap nasionalisme yang ia dengungkan adalah demi mewujudkan cita-cita persatuan, bukan semangat fasis yang ditakuti Agus Salim. Tapi, satu hal yang menggelitik adalah penghambaan pada ibu pertiwi itu sendiri. Bagi saya, penganggungan pada simbolitas bisa  mendekati pada sebuah kesyirikan ketika terjadi penyimpangan makna substansinya.

Ibu pertiwi bukan sekedar simbol personifikasi. Dalam makna definitifnya ia adalah perwujudan sebuah substansi nilai yang dalam agama hindu disebut dewi (ibu) bumi. Dalam bahasa Sanskerta disebut pṛthvi atau juga pṛthivī. Dari definisinya itu sendiri sudah menyiratkan adanya perwujudan penyembahan “berhala” pada ajaran yang bukan bagian dari akidah Islam. Nah, bahayanya adalah penganggungan yang sering kita nyanyikan di lagu-lagu nasional saat masa sekolah dulu. Belum lagi slogan dan sumpah yang sering didengungkan dalam penyataan sebuah perjuangan membela negeri ini, seperti “Demi ibu pertiwi,” atau “Ibu Pertiwi memanggil,” dan sebagainya. Semuanya karena ibu pertiwi, bukan karena Allah Swt.

Kesalahan dalam memaknai simbolitas nasionalisme inilah yang akan mendekati “berhala” kesyirikan bagi umat yang telah meyakini bawah Allah adalah Tuhannya. Berkali-kali Allah mengingatkan di dalam kitabnya bahaya ‘berhala’ ini. Kita bisa belajar dari sejarah para nabi di dalam Al Qur’an yang berupaya menentang kesyirikan kaumnya atas berhala-berhala yang diciptakannya sendiri. Proses lahirnya ‘berhala’ juga tak sederhana. Proses kesyirikan yang terjadi pada umat para nabi itu lahir dari proses yang panjang. “Berhala” adalah simbolitas yang awalnya berupa simbol-simbol yang memiliki makna susbtansi yang sesuai akidah, kemudian berubah substansinya bertentangan dengan akidah.

Dari kisah para nabi bisa kita simak, nama-nama berhala yang menyesatkan umat para nabi itu awalnya adalah orang-orang shaleh yang mengajak pada jalan kebenaran. Orang-orang shaleh adalah simbol bagi penganutnya untuk di taati, diikuti, hingga dikagumi. Kemudian orang-orang shaleh itu meninggal dan waktu semakin menjauh, munculah kesalahan berpikir pada diri manusia. Bukan lagi mengikuti ajarannya, namun sampai kepada penyembahan kepada orang-orang shaleh yang kemudian disimbolkan dalam bentuk patung.

Ini juga menjadi alasan adanya larangan memberi wujud pada para nabi dan  Tuhan. Agama Islam tak bisa lepas dari simbolitas dalam ajaran-ajarannya. Simbolitas Tuhan termanifestasikan dalam perwujudan eksistensinya, yaitu hasil-hasil ciptaan. Tanah dan air dalam sebuah negeri adalah manisfestasi eksistensi Tuhan yang menyatu dengan esensinya. Kemudian, manusia pun memiliki kewajiban menyembah dengan simbolitas-simbolitas yang tertuang dari ajaran-Nya dan Nabi-Nya sebagai perwujudan pengagungan akan eksistensinya. Simbolitas dari ajaran-Nya dan Nabi-Nya yang menjaga manusia dari penyembahan pada “berhala”.

Proses pem”berhala”an yang diceritakan di dalam Al Qur’an pasti akan terjadi dalam setiap zaman. Tak dipungkiri, saat ini meski hidup di jaman moderen yang mengedepankan rasionalitas, ditambah teknologi yang maju, secara tak sadar benih-benih kesyirikan bisa muncul dihadapan kita dengan berbagai bentuknya, dalam konteks pembahasan ini adalah kesyirikan dalam bernegara. Sekali lagi, Agus Salim sudah mengingatkan sejak masa embrio negeri ini, bahwa semua yang kita lakukan di dunia harus didasari pada liLlahi ta’ala. Bukan illah yang lain.

Meski saya mengkiritk penghambaan pada ibu pertiwi, bukan berarti saya mengambil jalan pengharaman mutlak pada nasionalisme. Dalam konteks zaman yang masih terdapat imperialisme kedaulatan ekonomi, mungkin juga politik, nasionalisme dalam batas-batas tertentu merupakan kompromi dialektis antara semangat simbol-simbol tanah air dengan semangat perjuangan “pembebasan” dari tirani yang masih mencekram negeri ini. Perjuangan “pembebasan” adalah tugas umat Islam yang ingin beragama secara kaffah di negerinya. Mungkin pragmatisnya, kita sebut saja “Nasionalisme Islam”.

Nasionalisme sendiri berasal dari kata nation yang dipakai setelah abad ke-18 di Prancis. Ketika itu Parlemen Revolusi Prancis menyebut diri mereka sebagai assemblee nationale yang menandai transformasi institusi politik tersebut, dari sifat eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan ke sifat egaliter. Semua kelas meraih hak yang sama dengan kaum kelas elite dalam berpolitik. Dari sinilah makna kata nation menjadi seperti sekarang yang merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu negara. Dalam kenyataan sejarahnya juga, nasionalisme buka terbentuk dari sebuah bangsa, namun nasionalisme-lah yang membentuk sebuah bangsa. Kasus nyata itu terjadi di Indonesia. Indonesia adalah kumpulan dari beberapa bangsa yang bersatu menjadi Bangsa Indonesia atas nama nasionalisme.

Dalam periode masa Hindia Belanda, nasionalisme memang dipakai sebagai alat propaganda anti kolonialisme. Semangat yang dibentuk adalah perlawanan terhadap tirani imperialisme. Fakta ini yang menjadi semangat kesadaran masyarakat Hindia Belanda waktu itu untuk memiliki cita-cita lepas dari jajahan imperialis Belanda. Keberhasilan paham nasionalisme sebagai anti tesis kolonialisme menginspirasi berbagai negara untuk lepas dari jajahan. Bisa kita lihat di awal abad 20, berbagai bangsa lahir dengan identitasnya masing-masing.

Dalam resolusi jihad PBNU tahun 1945 tak lepas dari nuansa nasionalisme yang menghinggapi masyarakat santri waktu itu. Lahirnya laskar-laskar jihad dari para santri bagian dari hasil kompromi dialektis antara ajaran Islam dengan keyakinan memperjuangkan tanah air sebagai lahan berjuang dalam beragama. Cinta pada tanah air adalah perwujudan sebagai cinta pada Allah dan agamanya. Karena Allah kita menjaga tanah air ini, bukan karena ibu pertiwi, atau karena merah putih, atau karena hanya membela tanah dan airnya. Semua itu bermula pada ketaatana pada agama.

Saya pun sampai harus menyimpulkan, cinta tanah air yang lepas dari motivasi ketaatan pada Allah Swt hanya menghasilkan dua kemungkinan, yaitu semangat fasisme dan sifat hipokrit. Kecintaan pada suatu yang absurd hanya melahirkan karakter-karakter munafik di tubuh bangsa ini. Bisa kita lihat dari karakter para pemimpinnya sejak bangsa ini berdiri.

Siapa bilang Soekarno nasionalis sejati. Laporan sejaran mencatat, ia akhirnya meloloskan proyek-proyek sebuah korporasi Jepang setelah diberi hadiah wanita yang menggoda hasrat seksual sang presiden. Korporasi itu selama berpuluh tahun kemudian menguasai kedaulatan perekonomian bangsa untuk bisa berdikari. Ini hanya satu contoh, belum contoh-contoh kemunafikan para pemimpin kita yang lain.

Kembali ke perayaan kemerdekaan di Gunung Merapi tempo hari, saya pun bertanya dalam hati. Begitu bangganya para anak muda mengibarkan selembar kain nasionalisme simbolik, bentuk nasionalisme seperti apakah mereka? Apa hanya sebatas simbolitas dan slogan-slogan dengan emosi sesaat? Wallahualam bishowab.

Akhirnya, di sinilah aku punya alasan dan mengerti mengapa harus mencintai negeri ini. Tapi, satu hal yang belum bisa aku mengerti adalah, mengapa aku bisa mencintaimu? Iyaa, kamuu.. :D

1 komentar:

  1. suka dengan ulasan saudara tentang sejarah. semoga kelak ada sebuah buku sejarah yg cukup ringan tapi berbobot.

    BalasHapus

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger