![]() |
| Bendera merah-putih terbesar yang berhasil saya abadikan di pendakian Gn. Merapi tempo hari |
Kusisingkan lengan untuk meneggakkanmu
Mataku berkaca memandangmu berkibar
Bergemuruh denyut nadi mengayuh semangat
Kumerinding kau dipuja bagi segenap jiwa
Kau seperti asa dalam kolektivitas rasa
Hinggaku bertanya, mengapa aku harus mencintaimu?
Wahai, Selembar Kain Nasionalisme
Berbagai ukuran merah putih itu berkibar riuh di atas ketinggian lebih
dari 1.000 Meter Diatas Permukaan Laut (MDPL). Dengan bangga para pemuda dan
pemudi berfoto ria berlatar langit menjulang yang tak ketinggalan kibaran sang
saka. Pemandangan wajah meriah nasionalisme itu saya saksikan di tengah-tengah
bukit dan bebatuan tandus area puncak Gunung Merapi, 17 Agustus 2015 tempo
hari.
Peristiwa perayaan kemerdekaan selalu menjadi moment menarik bagi para
pendaki. Gunung-gunung yang berstatus aman tak pernah sepi menjadi wisata
perayaan kemerdekaan. Seakan, pendakian ada simbol perjuangan. Berjuang
mengibarkan sang saka ke tempat tertinggi sebagai simbol cita-cita perjuangan. Sambil
dilanjut reflektifitas keindahan alam ibu pertiwi. Bagi para pendaki, bisa melihat
kibaran merah putih di tempat tertinggi benar-benar mengaduk-aduk emosi
nasionalisme.
Yang menjadi pertanyaan, apakah nasionalisme hanya sebatas simbolitas? Jelas
akan di jawab bagi penganutnya bahwa simbolitas memacu semangat untuk sebuah
gerakan subtantif. Seperti dalam ajaran Islam, berjilbab adalah simbol agama.
Sedangkan substansinya menjadi muslimah kaffah. Maka, simbolitas nasionalisme
adalah modal yang menghidupi jiwa menjadi manusia pengabdi negeri.
Saya secara pribadi memang meyakini pentingnya sebuah simbolitas.
Simbolitas dan subtansi akan saling berkaitan dalam kaidah hakikatnya. Contoh,
orang melakukan shalat adalah wujud simbolitas dalam beragama. Maka subtansinya
adalah menjalankan ketaatan. Wujud ketaataan akan saling berkorelasi dengan
sikapnya dalam hubungan sosial.
Mencoba menganalogikan simbolitas dalam bernasionalisme dengan simbolitas
beragama apakah akan memiliki pertemuan substansi yang sama? Inilah yang saya
pikirkan, mengapa saya harus mencintai negeri ini?
Delapan puluh tujuh tahun yang lalu, Agus Salim pernah mengkritik
Soekarno atas gagasan tentang cinta tanah air. Soekarno yang waktu itu adalah
pemimpin Partai Nasionalis Indonesia (PNI) berpidato tentang bumi Indonesia
yang dipersonifikasikan ke dalam bentuk sesosok ibu karena telah melahirkan tanah
yang subur, air yang melimpah, dan keelokan paras alamnya. Sebagai putra bangsa
yang berdiri tegak di atas tanah sang ibu, Soekarno mengatakan pentingnya
menghamba pada sang ibu, yaitu ibu Indonesia. Kini dikenal dengan nama ibu
pertiwi.
Gagasan Soekarno ini ditanggapi Agus Salim, yang kala itu pimpinan Partai
Sarekat Islam (PSI), di dalam surat kabar Fadjar Asia edisi Agustus 1928. Bagi
Agus Salim, gagasan Soekarno ini dapat melahirkan benih-benih fasisme dalam
jiwa nasionalis. Rasa bangga yang berlebihan pada tanah air, seperti yang
dicontohkan Salim, bisa dilihat dari sejarah Eropa yang berperang atas nama
nasionalisme. Sifat-sifat berlebihan yang menghamba pada tanah air dapat
berwujud pada perendahan bagi bangsa lain.
Meski dibantah oleh Soekarno soal sifat-sifat nasionalisme eropa yang
berbeda dengan nasionalisme ala timur, namun bagi Agus Salim adalah keutamaan
niat dalam wujud cinta itu. Cinta tanah air yang didengungkan Soekarno bukan
lagi penghambaan pada Allah Swt sang pencipta, tetapi seperti kata Agus Salim, “menghambanya
manusia pada berhala tanah air”. Penghambaan pada benda dan dunia hanyalah
melahirkan kekikiran dan kesombongan. Sebab, dunia memiliki batas kesempurnaan.
“Maka sebagai dalam tiap-tiap hal yang mengenai dunia kita, demikian juga dalam
hal cinta tanah air kita mesti menunjukan cita-cita kepada yang lebih tinggi
daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan, dan keutamaan
yang batasnya dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah Swt.” Tulis Agus Salim.
Agus Salim sudah mengingatkan di masa-masa embrio negara ini
akan berdiri, semua itu harus dilandasi Lillahi
ta’ala, atau karena Alllah swt. Hanya
berlandas pada Allah ada batasan-batasan (hukum agama) yang menjaga manusia
dari sikap keyakinan yang salah. Seperti fasisme dalam jiwa nasionalis yang
ditakutkan Agus Salim.
Okelah kita bisa menerima argumen pengelakan dari Soekarno yang
menganggap nasionalisme yang ia dengungkan adalah demi mewujudkan cita-cita
persatuan, bukan semangat fasis yang ditakuti Agus Salim. Tapi, satu hal yang
menggelitik adalah penghambaan pada ibu pertiwi itu sendiri. Bagi saya, penganggungan
pada simbolitas bisa mendekati pada
sebuah kesyirikan ketika terjadi penyimpangan makna substansinya.
Ibu pertiwi bukan sekedar simbol personifikasi. Dalam makna definitifnya ia
adalah perwujudan sebuah substansi nilai yang dalam agama hindu disebut dewi
(ibu) bumi. Dalam bahasa Sanskerta disebut pṛthvi
atau juga pṛthivī. Dari definisinya
itu sendiri sudah menyiratkan adanya perwujudan penyembahan “berhala” pada
ajaran yang bukan bagian dari akidah Islam. Nah, bahayanya adalah penganggungan
yang sering kita nyanyikan di lagu-lagu nasional saat masa sekolah dulu. Belum
lagi slogan dan sumpah yang sering didengungkan dalam penyataan sebuah
perjuangan membela negeri ini, seperti “Demi ibu pertiwi,” atau “Ibu Pertiwi
memanggil,” dan sebagainya. Semuanya karena ibu pertiwi, bukan karena Allah Swt.
Kesalahan dalam memaknai simbolitas nasionalisme inilah yang akan
mendekati “berhala” kesyirikan bagi umat yang telah meyakini bawah Allah adalah Tuhannya.
Berkali-kali Allah mengingatkan di dalam kitabnya bahaya ‘berhala’ ini. Kita
bisa belajar dari sejarah para nabi di dalam Al Qur’an yang berupaya menentang
kesyirikan kaumnya atas berhala-berhala yang diciptakannya sendiri. Proses
lahirnya ‘berhala’ juga tak sederhana. Proses kesyirikan yang terjadi pada umat
para nabi itu lahir dari proses yang panjang. “Berhala” adalah simbolitas yang
awalnya berupa simbol-simbol yang memiliki makna susbtansi yang sesuai akidah,
kemudian berubah substansinya bertentangan dengan akidah.
Dari kisah para nabi bisa kita simak, nama-nama berhala yang menyesatkan
umat para nabi itu awalnya adalah orang-orang shaleh yang mengajak pada jalan
kebenaran. Orang-orang shaleh adalah simbol bagi penganutnya untuk di taati,
diikuti, hingga dikagumi. Kemudian orang-orang shaleh itu meninggal dan waktu
semakin menjauh, munculah kesalahan berpikir pada diri manusia. Bukan lagi
mengikuti ajarannya, namun sampai kepada penyembahan kepada orang-orang shaleh
yang kemudian disimbolkan dalam bentuk patung.
Ini juga menjadi alasan adanya larangan memberi wujud pada para nabi
dan Tuhan. Agama Islam tak bisa lepas
dari simbolitas dalam ajaran-ajarannya. Simbolitas Tuhan termanifestasikan
dalam perwujudan eksistensinya, yaitu hasil-hasil ciptaan. Tanah dan air dalam
sebuah negeri adalah manisfestasi eksistensi Tuhan yang menyatu dengan
esensinya. Kemudian, manusia pun memiliki kewajiban menyembah dengan
simbolitas-simbolitas yang tertuang dari ajaran-Nya dan Nabi-Nya sebagai
perwujudan pengagungan akan eksistensinya. Simbolitas dari ajaran-Nya dan
Nabi-Nya yang menjaga manusia dari penyembahan pada “berhala”.
Proses pem”berhala”an yang diceritakan di dalam Al Qur’an pasti akan
terjadi dalam setiap zaman. Tak dipungkiri, saat ini meski hidup di jaman
moderen yang mengedepankan rasionalitas, ditambah teknologi yang maju, secara
tak sadar benih-benih kesyirikan bisa muncul dihadapan kita dengan berbagai
bentuknya, dalam konteks pembahasan ini adalah kesyirikan dalam bernegara. Sekali
lagi, Agus Salim sudah mengingatkan sejak masa embrio negeri ini, bahwa semua
yang kita lakukan di dunia harus didasari pada liLlahi ta’ala. Bukan illah
yang lain.
Meski saya mengkiritk penghambaan pada ibu pertiwi, bukan berarti saya
mengambil jalan pengharaman mutlak pada nasionalisme. Dalam konteks zaman yang
masih terdapat imperialisme kedaulatan ekonomi, mungkin juga politik,
nasionalisme dalam batas-batas tertentu merupakan kompromi dialektis antara
semangat simbol-simbol tanah air dengan semangat perjuangan “pembebasan” dari
tirani yang masih mencekram negeri ini. Perjuangan “pembebasan” adalah tugas
umat Islam yang ingin beragama secara kaffah di negerinya. Mungkin
pragmatisnya, kita sebut saja “Nasionalisme Islam”.
Nasionalisme sendiri berasal dari kata nation yang dipakai setelah abad ke-18 di Prancis. Ketika itu
Parlemen Revolusi Prancis menyebut diri mereka sebagai assemblee nationale yang menandai transformasi institusi politik
tersebut, dari sifat eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan ke
sifat egaliter. Semua kelas meraih hak yang sama dengan kaum kelas elite dalam
berpolitik. Dari sinilah makna kata nation
menjadi seperti sekarang yang merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang
menjadi penduduk resmi suatu negara. Dalam kenyataan sejarahnya juga,
nasionalisme buka terbentuk dari sebuah bangsa, namun nasionalisme-lah yang
membentuk sebuah bangsa. Kasus nyata itu terjadi di Indonesia. Indonesia adalah kumpulan dari
beberapa bangsa yang bersatu menjadi Bangsa Indonesia atas nama nasionalisme.
Dalam periode masa Hindia Belanda, nasionalisme memang dipakai sebagai
alat propaganda anti kolonialisme. Semangat yang dibentuk adalah perlawanan
terhadap tirani imperialisme. Fakta ini yang menjadi semangat kesadaran
masyarakat Hindia Belanda waktu itu untuk memiliki cita-cita lepas dari jajahan
imperialis Belanda. Keberhasilan paham nasionalisme sebagai anti tesis
kolonialisme menginspirasi berbagai negara untuk lepas dari jajahan. Bisa kita
lihat di awal abad 20, berbagai bangsa lahir dengan identitasnya masing-masing.
Dalam resolusi jihad PBNU tahun 1945 tak lepas dari nuansa nasionalisme
yang menghinggapi masyarakat santri waktu itu. Lahirnya laskar-laskar jihad
dari para santri bagian dari hasil kompromi dialektis antara ajaran Islam dengan
keyakinan memperjuangkan tanah air sebagai lahan berjuang dalam beragama. Cinta
pada tanah air adalah perwujudan sebagai cinta pada Allah dan agamanya. Karena
Allah kita menjaga tanah air ini, bukan karena ibu pertiwi, atau karena merah
putih, atau karena hanya membela tanah dan airnya. Semua itu bermula pada
ketaatana pada agama.
Saya pun sampai harus menyimpulkan, cinta tanah air yang lepas dari
motivasi ketaatan pada Allah Swt hanya menghasilkan dua kemungkinan, yaitu
semangat fasisme dan sifat hipokrit. Kecintaan pada suatu yang absurd hanya
melahirkan karakter-karakter munafik di tubuh bangsa ini. Bisa kita lihat dari
karakter para pemimpinnya sejak bangsa ini berdiri.
Siapa bilang Soekarno nasionalis sejati. Laporan sejaran mencatat, ia
akhirnya meloloskan proyek-proyek sebuah korporasi Jepang setelah diberi hadiah
wanita yang menggoda hasrat seksual sang presiden. Korporasi itu selama
berpuluh tahun kemudian menguasai kedaulatan perekonomian bangsa untuk bisa
berdikari. Ini hanya satu contoh, belum contoh-contoh kemunafikan para pemimpin
kita yang lain.
Kembali ke perayaan kemerdekaan di Gunung Merapi tempo hari, saya pun bertanya
dalam hati. Begitu bangganya para anak muda mengibarkan selembar kain nasionalisme simbolik,
bentuk nasionalisme seperti apakah mereka? Apa hanya sebatas simbolitas dan
slogan-slogan dengan emosi sesaat? Wallahualam bishowab.
Akhirnya, di sinilah aku punya alasan dan mengerti mengapa harus
mencintai negeri ini. Tapi, satu hal yang belum bisa aku mengerti adalah,
mengapa aku bisa mencintaimu? Iyaa, kamuu.. :D

suka dengan ulasan saudara tentang sejarah. semoga kelak ada sebuah buku sejarah yg cukup ringan tapi berbobot.
BalasHapus