Minggu, 30 Agustus 2015

Keserakahan Ekonomi Moneter 1 - Quantitive Easing, Cara Mencetak Duit Sebanyak Mungkin


Black Monday, istilah yang dikatakan tak berlebihan jika disematkan pada hari senin lalu (24/08/15). Masyarakat kita dihebohkan dengan berita lemahnya rupiah terhadap dolar hingga mencapai di atas Rp 14.000. Nilai terburuk sejak krisis 1998. Tak hanya mata uang, IHSG pun dalam beberapa pekan terkahir ikut terjatuh. Saya tak begitu paham soal penjelasan IHSG dalam perhitungan angka-angkanya. Saya lebih mengamati tingkah dollar yang bermain atas kendali The Fed (Federal Reserve atau Bank Sentral AS).

Memperbincangkan pergerakan nilai mata uang, tak lepas untuk membicarakan The Fed. Meski The Fed adalah bank sentral yang mengatur kebijakan moneter di Amerika Serikat, faktanya ia sangat berpengaruh pada kondisi moneter negeri lain. Kedigdayaan dolar sebagai mata uang perdagangan dunia, menjadikan kebijkan-kebijkan moneternya sangat diperhatian bagi para investor yang senang bermain spekulatif.

Melemahnya rupiah juga tidak hanya dilihat dari fundamental ekonomi dalam negeri saja, tapi kondisi pasar uang internasional cukup mempengaruhi. Entah mengapa, baru wacana akan ditingkatkannya Fed Rate (suka bunga The Fed) mampu menyedot dolar yang bertebaran di pasar uang yang ada di muka bumi menuju negara asalnya. Negeri-negeri yang fundamental ekonominya lemah dan rapuh, akan terimbas dengan melemahnya nilai uang, seperti rupiah.

Makanya, saya merasa tak adil jika hanya menyalahkan Jokowi ketika rupiah mengalamai pelemahan. Memang pemerintah punya kontribusi kuat atas kebijakan ekonomi yang diambil, namun terjebaknya rupiah dalam lingkaran moneter dunia punya kontribusi kuat terhadap kerapuhan struktur ekonomi dunia terkhusus Indonesia.

Beberapa pakar ekonomi menyebutkan, kestabilan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa sebelum Jokowi adalah berkat kebijakan Quantitive Easing (QE) yang dikeluarkan The Fed sejak 2008. QE adalah kebijakan bank sentral untuk manambah (mencetak) jumlah uang yang beredar dengan cara membeli surat berharga dan obligasi baik di masyarakatnya maupun di negara lain tanpa menggunakan kebijakan penurunan suku bunga. Nah herankan, QE seperti melanggar teori sebelumnya. Dalam pelajaran-pelajaran teori ekonomi di sekolahan, upaya bank sentral untuk menambah uang beredar adalah dengan menurunkan suku bunga. Kasus yang di alami QE adalah, suku bunga sudah tidak bisa diturunkan lagi (mendekati nol), namun bank sentral tetap melakukan kebijakan penambahan uang beredar dengan alasan untuk memperlancar kecepatan uang beredar. Bukankah itu akan berdampak pada inflasi? Hmm, pastinya.

Kebijakan QE tak lepas dari kondisi AS yang mengalami krisis di tahun 2007 - 2008 akibat gagal bayar para pengguna anggunan kredit perumahan (subprime mortgage). The  Fed memutuskan kebijakan Fed Rate menjadi 0.25%, suku bunga yang terbilang hampir nol. Berharap, dengan semakin kecil suku bunga, bank tetap menyalurkan kredit ke masyarakat agar suplay uang tetap jalan. Namun, yang terjadi uang pun tak ada. Tak ada yang bisa di kreditkan. Maka, dengan menurunkan kebijakan QE, The Fed mencetak uang baru tanpa melakkukan penurunan suku bunga dan menyalurkannya ke masyarakat. Perlahan roda perekonomian AS mulai bergerak. Uang dolar tidak hanya beredar di AS, tapi juga masuk ke negara-negara yang menarik minat investor, atau dikenal dengan istilah Emerging Market. Indonesia menjadi salah satu negara yang masuk sebagai Emerging Market. Masuknya investor asing yang membawa dolar dari QE itu cukup memberikan stimulus modal bagi pergerakan ekonomi Indonesia, baik di sektor rill maupun di moneternya. Pada periode ke dua pemerintaha SBY ekonomi Indonesia mencapai pertumbuhan tertinggi 6,9%.

Yang jadi permasalahan, masa-masa eforia QE ini ada batasnya. Ekonomi AS mulai bergeliat. Inflasi dan deflasi di AS tidak begitu berubah secara siginifikan. Kucuran dana QE di stop dengan kebijakan Tapering Off, yaitu memotong dana stimulus di peredaran dolar dalam negeri. Juga muncul asumsi The Fed akan menaikan rate-nya. Para investor yang mendapat dana QE tadi mulai berpikir ulang untuk menarik dana dari Emerging Market pulang kampung ke negara asal dengan alasan investasi yang lebih menarik. Ditambah juga kurang kerjaannya China mendevaluasi mata uangnya sehingga membuat kepanikan investor dan berdampak pada turunya IHSG. Kurs mata uang negara Emerging Market pun guncang. Dolar menguat drastis karena permintaannya yang begitu tinggi. Kejadian ini sudah diramalkan sejak lama. Siapa pun presiden terpilih pada pemilu 2014 lalu akan mengalami fase kejatuhan rupiah ini. 

Pertanyaanya, krisis ekonomi apakah sebuah keniscayaan atau bisa diramalkan karena rapuhnya sistem?

Pemerintah saat ini lebih fokus dalam penyerapan anggaran untuk menghadapi gejolak rupiah. Berharap, kucuran dana APBN 2015 yang mengalir ke proyek-proyek infrastruktur bisa mempercepat perputaran uang, menambah nilai konsumsi masyarakat, dan menambah kuantitas produksi di sektor rill. Dengan begitu, defisit neraca pembayaran bisa teratasi. Lalu diharapkan, ekspor bisa lebih tinggi dari impor.

Jika pun fokus pemerintah ini berhasil, tetap saja, selama rupiah masih berada dalam lingkaran moneter, dalam hal ini rupiah mematok nilainya dengan dolar, kemungkinan krisis tetap akan ada. Karena, dolar sendiri juga sekedar kertas yang tidak dijamin (backed) dengan logam mulia atau cadangan emas. Nilainya hanya bergantung pada hukum permintaan dan penawaran di valuta asing.

Begitu juga dengan kebijakan QE tadi. Ini adalah gaya baru mencetak uang tanpa backed yang ada di dalam kebijakan moneter. Ada kesan, AS begitu egois. Kebijakan ekonomi yang dilakukan untuk memperbaiki negerinya tak mempertimbangkan dampak terhadap negara-negara kawannya. Nampak, ada kerapuhan dalam sistem ekonomi moneter terhadap uang kertas (fiat money) yang terus dicetak, terutama oleh The Fed.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa rapuh? Jika ingin dijawab dengan jawaban secara filosofis dan hakikat sifat manusia, maka kerapuhan manusia terletak dari lepas kontronya mengendalikan hawa nafsu. Dalam hal ekonomi, nafsu keserakahan manusia untuk menumpuk kekayaan tanpa batas adalah asal muasal permasalahan ekonomi yang terjadi di dunia ini. Sektor moneter-lah yang menjadi perangkat untuk menjalankan ambisi keserakahan itu. Manusia akan menjadi rapuh ketika sudah dikuasai hasrat. Di sektor moneter tak lepas dari hasrat penguasaan aset dengan manipulasi nilai (kemunculan fiat money), permainan bunga bank (riba), hasrat berhutang (kredit), dan hasrat spekulasi. Keempat masalah ini yang dalam agama Islam sendiri hukumya tak dianjurkan (makruh) hingga haram.

Sebelum ada uang, kita kenal transaksi dengan istilah barter. Kemajuan jaman memperkenalkan manusia dengan emas. Dibalik kesulitan yang ada pada barter emas menjadi instrument yang dipilih sebagai alat tukar waktu itu. Sifat berharga yang dimiliki emas membuat nilainya stabil. Sehingga, orang-orang melakukan transaksi dengan alat pembayaran berupa kepingan emas dan perak. Selama berabad-abad lamanya, kekayaan manusia cukup dinilai dari seberapa banyak aset yang dimiliki seperti tanah atau rumah dan banyaknya kepemilikan emas. Selama menggunakan emas, tak ada yang namanya istilah inflasi dan krisis moneter. Krisis ekonomi yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh faktor produksi seperti gagal panen dan bencana alam. Krisis yang terjadi karena faktor takdir di luar kuasa manusia. Berbeda dengan saat ini, krisis terjadi karena sistem yang diciptakan manusia sendiri. Bukankah secara logika ini adalah sebuah rancangan yang tersistem untuk tujuan tertentu?

Setidaknya, kontribusi awal dari krisis adalah ketika lahirnya uang kertas (fiat money). Hingga abad 19, uang berbasis logam mulia masih digunakan sebagai alat transaksi. Kalau tidak salah, uang kertas mulai di populerkan di AS sejak tahun 1860an ketika pemerintah AS mencetak surat sebagai alat penjamin emas yang digadaikan.

Secara bertahap hingga tahun 1930-an, masyarakat AS dipaksa untuk menyerahkan logam mulia yang dimilikinya kepada pemerintah yang kemudian diganti dengan uang kertas. Kala itu, perputaran uang kertas masih bisa dijamin oleh emas sebagai cadangan nilai. The Fed yang berdiri tahun 1913, meski sebagai lembaga keuagan swasta, sudah memiliki hak untuk mencetak uang dolar. Uang kertas yang dicetak The Fed di pinjamkan kepada pemerintah AS disertai pengembalian beserta bunganya. Untuk bisa mengembalikan hutang tersebut, pemerintah AS menekankan pajak kepada rakyat.

Tahun 1944, AS sebagai negara pemilik emas terbesar, menggagas sistem keuangan internasional dengan nama berjanjian Bretton Woods. Ada 44 negara sepakat untuk menyerahkan cadangan devisanya berupa emas ke AS dan diganti dengan dolar. Lalu disepakati dolar menjadi cadangan devisa bagi setiap negara, dan alat tukar dalam perdagangan. Saat itu dolar masih dijamin nilainya oleh emas.

Rupiah yang awalnya bernama ORI ketika pertama terbit tahun 1946 di patok 2 ORI sama dengan 1 gram emas. Namun, saat Konfrensi Meja Bundar sebagai perjuangan pengakuan kedaulatan Indonesia, salah satu kesepakatannya adalah harus mematok nilai uangnya dengan dolar. Maka tahun 1949, 1 dolar memiliki nilai sama dengan 3,86 ORI. Kemudian tahun 1952, setelah ORI berubah menjadi Rupiah merosot 1 dolar menjadi Rp 11,8.

Jika ada yang bertanya mengapa bisa menjadi angka 3,86 dn Rp 11,8 ? Logikanya begini, jika 1 dolar dipatok sama dengan 1 gram emas, maka dengan cadangan emas sebanyak 100.000 gram sama dengan 100.000 dolar yang beredar di masyarakat. Lalu Indonesia mengambil Rp 1.000 dolar untuk cadangan devisanya, namun jumlah uang yang beredar di masyarakat Rp 100.000, maka 1 dolar = Rp 100. Jika ingin 1 dolar sama dengan 1 rupiah, maka harus menambah cadangan emas yang diserahkan kepada dolar.

Bencana keuangan itu mulai terjadi sejak 1960an. AS membutuhkan dana besar untuk mendanai proyek dan perangnya. Semenara cadangan emas terbatas, sulit ditambah. Jika ingin mencetak uang baru maka harus menambah cadangan emasnya. Karena sudah dikuasi nafsu serakah, The Fed mulai mencetak uang tanpa ada jaminan nilai (backed) pada dolar. Konsep pencetakan uang tanpa backed yang ada di dunia perbankan dikenal dengan istilah Fractional Reserve Requirement. Untuk menjelaskan, nampaknya cukup panjang. Saya agak sulit menjelaskan dengan bahasa yang mudah. Mungkin bisa baca saja buku Satanic Finance karya A. Riawan Amin.

Akibat dari pencetakan uang ini, dolar mengalami depresiasi. Inflasi meningkat karena suplay uang yang beredar cukup banyak. Negara-negara eropa pun menuntut ke AS terhadap emasnya. Banyak negara eropa akhirnya menarik kembali emasnya. Sehingga cadangan emas di AS mulai berkurang. Ekonomi AS mengalami inflasi tinggi hingga tahun1979.

Entah mengapa, dengan kuasanya, tahun 1971 AS memutuskan sepihak membatalkan perjanjian Bretton Woods. Sehingga dolar tidak dijamin lagi dengan emas, namun nilainya diserahkan kepada mekanisme pasar di valuta asing. Di pasar valutas asing, nilai uang ditentukan oleh tingkat inflasi, neraca pembayaran, perbedaan suku bunga antara tiap negara, ekspor-impor, dan sebagainya, sehingga tak ada kestabilan dalam kurs uang.

Melepaskan nilai dolar ke pasar merupakan bentuk stategi keserakahan The Fed untuk menumpuk kekayaannya. Hegemoni dolar sebagi alat pembayaran internasional membuat permintaan dolar juga tinggi. Sehingga nilainya terus menguat terhadap mata uang lainnya. Efeknya adalah, penciptaan dolar tanpa backed emas membuat inflasi terus terjadi.

Begitu juga dengan kebijakan The Fed berupa QE seperti gaya baru dalam menciptakan uang baru tanpa dukungan backed emas. Menariknya stimulus dari QE tidak hanya di edarkan di dalam negeri saja, melainkan di investasikan ke negara-negara Emerging Market seperti yang dijelaskan di atas. Mestinya kebijakan QE ini bisa meningkatkan inflasi karena banyaknya uang beredar, namun nampaknya nilai inflasi dan deflasi tidak berubah secara signifikan berkat diberlakukannya kebijakan Tapering Off sebagai strategi menjaga inflasi itu dengan menarik kembali stimulus dolar yang sudah beredar di masyarakat dalam neger AS. Sebagai gantinya, ditiupkan isu bakal akan dinaikan Fed Rate sehingga para pemegang dolar mau pulang kampung.

Kecurigaan saya adalah, dengan pulang kampungnya dolar menebabkan nilai dolar naik sehingga mata uang lain turun. Jika, negara-negara yang mata uang jatuh memiliki jatuh tempo hutang terhadap AS, bukankah ini menguntungkan AS?
Kembai lagi soal pencetakan uang, ketika uang terus dicetak tanpa dijamin nilai rill dan melebihi kapasitas ouput produksi barang, inflasi akan terus terjadi setiap tahunnya sampai di suat titik yang dinamakan buble ekonomi, yaitu sebuah perekonomian yang terlihat besar, tapi tidak berisi apa-apa, dan suatu waktu akan meledak yang berakibat pada krisis ekonomi yang dahsyat. Inilah kerapuhan ekonomi itu.

Logika inflasi bisa dilihat dari persamaan rumus MV = PY. M adalah suplay uang, V adalah kecepatan uang beredar, P tingkat harga rata-rata, dan Y adalah ouput rill barang dan jasa yang dihasilkan. Jika suplay uang (M) meningkat dengan out put (Y) tetap, dan kecepatan peredaran juga tetap (V), maka otomatis tingkat harga rata-rata (P) akan naik.

Dengan adanya inflasi, jangan heran jika harga kambing 50 tahun lalu lebih murah daripada harga saat ini. Tidak dengan emas, yang mematok harga kambing sejak berabad-abad lalu hingga sekarang sama dengan 1 dinar.

Bersambung..


Bahan Bacaan:
- Catatan mata kuliah Ekonomi Makro yang masih tersimpan rapi
- Blog http://www.teguhhidayat.com 
- Satanic Finance, A. Riawan Amin
- Artikel Zaim Saidi: Runtuhnya uang Kertas
- Berbagai surat kabar baik cetak maupun online

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger