Minggu, 06 September 2015

Keserakahan Ekonomi Moneter 2 – Currency Wars Bikin Dunia Deg Deg-an


Kapitalisme itu seperti hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Individualisme menjadi sifat. Hegemonisme menjadi cara untuk memenangkan pertarungan. Tak ada batas-batas norma di sini. Yang penting kita menang, tak peduli dampak sosial yang akan terjadi. Di ekonomi moneter, pertarungannya adalah uang. Uang tidak sekedar sebagai alat berkuasa dan menumpuk kekayaan, tapi juga peluru pertempuran. Mulai abad 20 hingga awal abad 21 ini, cukup terkenal dengan istilah Currency wars atau perang mata uang.

Dalam sejarahnya, Currency wars sudah terjadi sejak tahun 1920an, yaitu ketika negara-negara eropa mulai menerapkan mata uang berbasis kertas (uang fiat) tanpa di-backed dengan emas. Sejarah pun mencatat, selama era 1920an hingga 1930an beberapa negara Eropa mengalami hyperinflasi akibat banyaknya mencetak uang. Mereka mencetak uang tanpa batas karena kebutuhan uang dalam negeri yang kalah perang, terutama Jerman, yang akhirnya memunculkan Nazi. Mereka pun sadar, bahwa uang kertas yang mereka cetak harus kembali kepada emas. Lalu di tahun 1944, muncul perjanjian Breton Woods (seperti yang sudah di jelaskan di tulisan Ekonomi Moneter 1 klik di sini) untuk mengembalikan nilai uang agar di backed pada emas dengan cara menjadikan dollar sebagai mata uang acuan. AS mengakui dirinya memiliki simpanan emas terbesar di dunia, dengan begitu dollar ditetapkan sebagai alat untuk alat tukar perdagangan internasional dan cadangan devisa.

Sejak saat itu, dollar berhasil menghegemoni perekonomian dunia. Hampir semua negara yang terlibat dalam perdagangan dunia sangat bergantung pada dollar. Sampai akhirnya, di tahun 1971, AS memutuskan secara sepihat tidak terikat lagi pada perjanjian Breton Woods, atau mata uang dollar lepas dari backed emas. Negara-negara dunia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Currency wars kembali hadir.

Pemberitaan yang heboh akhir-akhir ini adalah soal devaluasi yuan, yaitu usaha pemerintah China melalui People’s Bank of China (PBOC) untuk memangkas nilai uangnya terhadap mata uang lain. Dengan memangkas nilai uang, target yang diinginkan adalah terjadinya depresiasi; yaitu penurunan atau pelemahan nilai mata uang.

Dalam teorinya, depresiasi memiliki dampak positif. Jika negara tersebut memiliki basis ekspor yang kuat akan dapat memberikan keuntungan. Dengan melemahnya nilai mata uang, harga ekspor di pasar internasional akan menjadi murah, sehingga mendorang pasar internasional untuk membeli. Dengan begitu dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negara yang mata uangnya terdepresiasi. Tidak seperti Indonesia yang sering mengandalkan impor, ketika rupiah terdepresiasi (bukan karena devaluasi) terhadap dollar akhir-akhir ini, rakyat jadi kalang kabut karena barang-barang kebutuhan yang berasal dari luar negeri menjadi mahal.

Keuntunggan lainnya adalah adanya usaha rakyatnya untuk tidak membeli barang impor tetapi hanya membeli barang yang diproduksi di dalam negeri, dikarenakan harga barang-barang impor jelas mahal. Hanya saja, keuntungan ini bisa terjadi jika negara tersebut bisa memproduksi barang-barang kebutuhan yang sama dengan barang impor.

Negatif dari depresiasi adalah pengaruhnya kepada kondisi psikologis pelaku investasi di pasar uang. Depresiasi menjadi anggapan sebagian besar investor bahwa di negara tersebut sedang terjadi pemasalahan keuangan. Inilah yang terjadi saat ini, devaluasi yuan ternyata berdampak pada turunnya nilai saham sebagian besar bursa saham di negara-negara asia.

Devaluasi yuan perlu kita lihat latar belakannya mengapa terjadi. Dari berita-berita yang beredar, pada kuartal I tahun 2015 pertumbuhan ekonomi China tercatat 7% yang katanya terendah sejak 2009 (padahal di Indonesia 6,9% sudah termasuk prestasi dijaman SBY, era Jokowi di kuartal II tercatat 4,67%), kemudian diikuti dengan penurunan ekspor sebesar 15%.

Ditengah melambatnya pertumbuhan, index saham di Sanghai Stock Exchange (SSE) mengalami kenaikan drastis hingga mencapai angka 5.000an. Jujur, saya tak mengerti soal saham, bagaimana angka tersebut di hasilkan. Tapi dalam pemberitaan 2 bulan lalu, index saham SSE mengalami kejatuhan secara mendadak dalam sehari (tepatnya 9 Juli 2015), menjadi angka 3.000an. Banyak pengamat menilai, hal ini terjadi karena saham-saham di SSE mengalami yang namanya bubble. Saham-saham yang dibeli para investor di SSE dananya berasal dari hutang.

Dalam teorinya, kredit yang selalu dikucurkan secara terus menerus menyebabkan uang akan mengalir besar, sehingga berdampak pada harga semakin mahal (keluar dari nilai intrinsik) karena permintaan tinggi. Jika tidak terkontrol akan terjadi gelembung (bubble) harga barang yang membuat para kreditor tak mampu (gagal) bayar. Dalam kasus jual-beli saham di SSE tadi,  mungkin bisa disamakan dengan teori seperti ini. Sekali lagi, saya kurang menguasai soal saham. Hehe..

Begitulah yang dilakukan pemerintah China, yaitu memberikan pinjaman modal bagai para investor untuk membeli saham-saham di SSE. Sehingga, ada kasus (yang mungkin) terjadi gagal bayar atau satu perusahaan sahamnya anjlok, sehingga berdampak pada psikologi investor lain yang secara bersamaan menarik (menjual) saham. Index saham pun turun drastis.

Nampaknya, ada usaha pemerintah China untuk mengembaikan kembali gairah perekonomian dengan memberikan pinjaman modal kepada investor agar mau membeli saham, namun yang terjadi adalah kegagalan. Lalu yang terjadi, PBOC mengambil sikap dengan melakukan devaluasi, yang tujuannya sudah dijelaskan tadi, yaitu meningkatkan pertumbuhan ekspor di pasar internasional. Selain meningkatan pertumbuhan ekonomi, berharap dengan bergairahnya kembali penjualan ekspor, para investor saham dapat membeli saham kembali di SSE. Lagi-lagi Pemerintah China membuka keran kredit modal saham kembali. Apa akan terjadi bubble yang lebih besar ke depan? Wallahualam.

Banyak pengamat yang menilai apa yang dilakukan China adalah bagian dari currency wars. Sebelumnya, AS sendiri sudah melakukan. Kebijakan Quantitive Easing (QE, yang di jelaskan di artikel sebelumnya di sini) sebenarnya juga bisa dikatakan bagian dari currency wars. Jika China memilih devaluasi, maka AS dengan jalan QE. Pencetakan dollar dengan skala besar cukup berdampak pada depresiasinya nilai dollar. Mata uang negara lain, termasuk rupiah sempat mengalami apresiasi, dan berdampak juga semakin lancarnya ekspor AS ke negara lain.

Setelah ekonominya stabil (setelah krisis 2007-2008), dollar yang sempat mengalir ke negara-negara emerging market memilih untuk pulang kampung karena ada prospek ekonomi yang bagus di AS. Dollar akhirnya mengalami apresiasi. Tidak hanya rupiah, hampir semua mata uang negara-negara maju mengalami depresiasi terhadap dollar. Anehnya, kembali menguatnya dollar justru disikapi negara-negara lain dengan melakukan depresiasi secara sengaja (kebijakan devaluasi). Di negara-negara Eropa dan Jepang misalnya ikut-ikutan menerapkan QE, tapi tidak dengan China yang memilih devaluasi. Mereka memanfaatkan situasi menguatnya dollar dengan me-depresiasi-kan mata uangnya agar meningkatkan daya saing ekspor. Nampak, ada semacam balas dendam setelah AS berhasil unggul dalam ekspornya ketika sukses melakukan QE tadi, yang menyebabkan (terutama China) nilai ekspor menurun.

Langkah devaluasi yuan membuat harga barang ekspor beberapa negara juga ikut berantakan. Agar bisa ikut bersaing di pasar ekspor, beberapa negara di Asia juga meniru langkah China. Vietnam dengan mata uangnya dong, kemudian Thailand dengan bath, juga ikut-ikutan melakukan langkah devaluasi. Berbeda dengan Korea Selatan yang memilih mengurangi rate-nya yang diikuti penjualan cadangan devisa, agar depresiasi mata uang won bisa dilakukan dengan perlahan-lahan. Negara-negara yang tak punya keunggulan ekspor tanpa melakukan devaluasi juga ikutan terdepresiasi karena faktor defisitnya neraca perdagangan, seperti Malaysia dan Indonesia. Dollar semakin menjadi raja.
Efek dari currency wars ini berdampak pada persaingan harga. Harga-harga barang ekspor komoditi di pasar internasional akan mengalami penurunan (deflasi). Indonesia juga terkena dampak sulitnya menjual komoditas ekspor di luar negeri. Padahal, Indonesia termasuk negara yang masih terseok-seok dalam keunggulan ekspornya sehingga tak mampu bersaing di tengah perang harga. Tak heran, perusahaan-perusahaan yang mengandalkan penjualan ke pasar ekspor dan bahan baku dari pasar impor situasinya cukup rumit. PHK sudah terjadi dimana-mana.

Adanya currency wars ini juga yang, bisa jadi, menyebabkan The Fed belum memutuskan menaikan fed-rate (suku bunga bank di AS). Jika fed-rate jadi di naikan, dollar akan semakin menguat. Menguatnya dollar diramalkan akan berdampak pada semakin sulitnya produk ekspor AS bersaing di pasar internasional. Jika kalah bersaing, berefek pada terjadinya penurunan produktifitas barang ekspor AS. Ekonomi kembali mengalami perlambatan. Ada kekhawatiran, para investor kembali menarik dananya ke luar AS. Deflasi menjadi ancaman.  Jika ini terjadi, bisa dimungkinkan AS kembali mengalami krisis.

Kita tahu, kalau negara seperti AS sudah mengalami krisis, maka dampaknya akan menyebar seluruh dunia, seperti yang terjadi di 2007-2008 lalu. Belum lagi ditambah adanya deflasi harga-harga ekspor dan melemahnya ekonomi China sebagai negara yang perekonomianya terkuat ke dua setelah AS. Apakah Great Deflation Crisis akan terjadi lagi dan lebih besar dari tahun 1930an? Wallahualam lagi. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi nanti.

Bagaimana dengan Indonesia? Depresiasi rupiah terhadap dollar lumayan parah. Sudah menyentuh angka Rp 14.000an per dollar. Tapi depresiasi rupiah tidak memberikan jaminan keunggulan ekspor Indonesia. Gubernur BI sendiri mengatakan rupiah tidak mungki akan ikut-ikutan melakukan devaluasi. Terdepresiasinya rupiah bukan saja disebabkan pulang kampungnya dollar, melainkan banyak juga dipengaruhi faktor defist neraca berjalan. Efek currency wars ini memiliki pengaruh kuat terhadap penjualan ekspor Indonesia. Ditambah juga adanya peningkatan belanja barang impor untuk proyek-proyek tertentu. Cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir agak terkuras (tercatat antara Mei sampai Juni 2015 berkurang 2,8 miliar dollar AS) untuk pembayaran hutang. Menurut pemerintah dan informasi resmi dari BI, cadangan devisa yang dimiliki Indonesia saat ini masih mampu untuk mendanai impor hingga 7 bulan ke depan. Masih mampukah Indonesia hingga 7 bulan ke depan jika masih belum berhasil meningkatkan ekspornya? Kita lihat saja nanti progres pemerintah setelah menggunakan APBN 2015 yang cair di semester 2 ini, apakah berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau tidak? Lagi-lagi Wallahualam, kita tunggu saja apa yang akan terjadi nanti.

Sebenarnya, ada dua penyebab yang menjadikan krisis ini. Pertama permainan para spekulan dan lepasnya mata uang dari standar moneter yang rill. Soal permainan spekulan, seperti dalam teori 3 motif memegang uang menurut Keynes (pelajaran ekonomi di SMA), yaitu untuk alat transaksi, untuk berjaga-jaga, dan alat spekulasi. Yang terakhir ini yang menjadikan para pemilik uang mencoba mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan uangnya sebagai alat spekulasi, yaitu dengan bermain saham. Sudah saya jelaskan diatas bagaimana efek para investor mempengaruhi bursa pasar uang terhadap pertumbuhan perekonomian suatu negara.

Kemudian penyebab ke dua,  lepasnya mata uang dari standar moneter yang rill. Lagi-lagi saya harus mengungguli emas. Soal wacana kembali kepada emas bukan hanya milik umat Islam, dalam buku yang berjudul Currency warss; The Making of The Next Global Crisis karya James Rickards menyebutkan, perang mata uang terjadi ketika standar moneter global tidak bersandar pada standar moneter yang berbasis komoditas rill seperti emas. Saya belum membaca buku tersebut. Reviewnya saya dapatkan dari web coreindonesia.org.

Dalam reviewnya itu juga menuliskan, dengan standar emas, mata uang cendrung stabil dalam jangka panjang, tidak mudah diubah-ubah entah dengan cara mencetak seenaknya atau dengan menurunkan nilai seenaknya, sehingga mampu mendorong pertumbuhan perdagangan dan mobilitas kerja.

Kemudian lanjut saya kutip, “Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Federal Reserve Bank of St Louis, disebutkan bahwa Kinerja ekonomi di Amerika Serikat dan Inggris unggul di bawah standar emas klasik dibandingkan dengan dengan periode berikutnya dibawah mata uang kertas.

Uniknya lagi, standar tersebut tidak membutuhkan perencanaan dan intervensi bank sentral untuk mengontrol sektor moneter. Defisit yang mendorong terjadinya inflasi domestik akan mendorong daya saing ekspor negara tersebut ke negara yang mengalami surplus sehingga secara alamiah mengurangi tekanan inflasi tersebut dan sebaliknya, negara yang surplus perlahan mengalami inflasi yang menurunkan daya saingnya. Mekanisme tersebut di kalangan ekonom disebut dengan price-specie-flow mechanism. Dengan demikian, mekanesme rebalancing akan berjalan secara alamiah, tidak perlu perang urat syaraf sebagaimana yang terjadi antara AS dan Tiongkok selama ini. Oleh karena itu, selama hampir 80 tahun (1836- 1913), perekonomian AS dapat tumbuh kuat meski tanpa kehadiran bank sentral.”

Selengkapnya silakan bisa di baca di link ini http://www.coreindonesia.org/view/126/currency-wars.html

Jika para pemimpin-peminpin dunia itu terus tidak sadar apa yang mereka perbuat, dan semakin serakah dalam menguasai pereknomian, maka kita tunggu saja kehancuranya. Resesi dunia akan kembali hadir. Siap-siap harta kita terkuras habis akibat uang kita yang tertanam di bank. Kok bisa? Insya Allah tulisan selanjutnya jika diberi kesempatan, kesehatan, dan tak malas.

Bersambung..

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger