Kapitalisme itu seperti hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang.
Individualisme menjadi sifat. Hegemonisme menjadi cara untuk memenangkan
pertarungan. Tak ada batas-batas norma di sini. Yang penting kita menang, tak
peduli dampak sosial yang akan terjadi. Di ekonomi moneter, pertarungannya
adalah uang. Uang tidak sekedar sebagai alat berkuasa dan menumpuk kekayaan,
tapi juga peluru pertempuran. Mulai abad 20 hingga awal abad 21 ini, cukup terkenal
dengan istilah Currency wars atau
perang mata uang.
Dalam sejarahnya, Currency wars
sudah terjadi sejak tahun 1920an, yaitu ketika negara-negara eropa mulai
menerapkan mata uang berbasis kertas (uang fiat) tanpa di-backed dengan emas. Sejarah pun mencatat, selama era 1920an hingga
1930an beberapa negara Eropa mengalami hyperinflasi
akibat banyaknya mencetak uang. Mereka mencetak uang tanpa batas karena
kebutuhan uang dalam negeri yang kalah perang, terutama Jerman, yang akhirnya
memunculkan Nazi. Mereka pun sadar, bahwa uang kertas yang mereka cetak harus
kembali kepada emas. Lalu di tahun 1944, muncul perjanjian Breton Woods
(seperti yang sudah di jelaskan di tulisan Ekonomi Moneter 1 klik di sini) untuk
mengembalikan nilai uang agar di backed
pada emas dengan cara menjadikan dollar sebagai mata uang acuan. AS mengakui
dirinya memiliki simpanan emas terbesar di dunia, dengan begitu dollar ditetapkan
sebagai alat untuk alat tukar perdagangan internasional dan cadangan devisa.
Sejak saat itu, dollar berhasil menghegemoni perekonomian dunia. Hampir
semua negara yang terlibat dalam perdagangan dunia sangat bergantung pada
dollar. Sampai akhirnya, di tahun 1971, AS memutuskan secara sepihat tidak
terikat lagi pada perjanjian Breton Woods, atau mata uang dollar lepas dari
backed emas. Negara-negara dunia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Currency wars kembali hadir.
Pemberitaan yang heboh akhir-akhir ini adalah soal devaluasi yuan, yaitu
usaha pemerintah China melalui People’s
Bank of China (PBOC) untuk memangkas nilai uangnya terhadap mata uang lain.
Dengan memangkas nilai uang, target yang diinginkan adalah terjadinya
depresiasi; yaitu penurunan atau pelemahan nilai mata uang.
Dalam teorinya, depresiasi memiliki dampak positif. Jika negara tersebut
memiliki basis ekspor yang kuat akan dapat memberikan keuntungan. Dengan
melemahnya nilai mata uang, harga ekspor di pasar internasional akan menjadi
murah, sehingga mendorang pasar internasional untuk membeli. Dengan begitu
dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negara yang mata uangnya terdepresiasi.
Tidak seperti Indonesia yang sering mengandalkan impor, ketika rupiah
terdepresiasi (bukan karena devaluasi) terhadap dollar akhir-akhir ini, rakyat
jadi kalang kabut karena barang-barang kebutuhan yang berasal dari luar negeri
menjadi mahal.
Keuntunggan lainnya adalah adanya usaha rakyatnya untuk tidak membeli barang
impor tetapi hanya membeli barang yang diproduksi di dalam negeri, dikarenakan
harga barang-barang impor jelas mahal. Hanya saja, keuntungan ini bisa terjadi
jika negara tersebut bisa memproduksi barang-barang kebutuhan yang sama dengan
barang impor.
Negatif dari depresiasi adalah pengaruhnya kepada kondisi psikologis
pelaku investasi di pasar uang. Depresiasi menjadi anggapan sebagian besar
investor bahwa di negara tersebut sedang terjadi pemasalahan keuangan. Inilah
yang terjadi saat ini, devaluasi yuan ternyata berdampak pada turunnya nilai
saham sebagian besar bursa saham di negara-negara asia.
Devaluasi yuan perlu kita lihat latar belakannya mengapa terjadi. Dari
berita-berita yang beredar, pada kuartal I tahun 2015 pertumbuhan ekonomi China
tercatat 7% yang katanya terendah sejak 2009 (padahal di Indonesia 6,9% sudah
termasuk prestasi dijaman SBY, era Jokowi di kuartal II tercatat 4,67%),
kemudian diikuti dengan penurunan ekspor sebesar 15%.
Ditengah melambatnya pertumbuhan, index saham di Sanghai Stock Exchange (SSE) mengalami kenaikan drastis hingga
mencapai angka 5.000an. Jujur, saya tak mengerti soal saham, bagaimana angka
tersebut di hasilkan. Tapi dalam pemberitaan 2 bulan lalu, index saham SSE
mengalami kejatuhan secara mendadak dalam sehari (tepatnya 9 Juli 2015),
menjadi angka 3.000an. Banyak pengamat menilai, hal ini terjadi karena
saham-saham di SSE mengalami yang namanya bubble.
Saham-saham yang dibeli para investor di SSE dananya berasal dari hutang.
Dalam teorinya, kredit yang selalu dikucurkan secara terus menerus
menyebabkan uang akan mengalir besar, sehingga berdampak pada harga semakin
mahal (keluar dari nilai intrinsik) karena permintaan tinggi. Jika tidak
terkontrol akan terjadi gelembung (bubble)
harga barang yang membuat para kreditor tak mampu (gagal) bayar. Dalam kasus jual-beli
saham di SSE tadi, mungkin bisa
disamakan dengan teori seperti ini. Sekali lagi, saya kurang menguasai soal
saham. Hehe..
Begitulah yang dilakukan pemerintah China, yaitu memberikan pinjaman
modal bagai para investor untuk membeli saham-saham di SSE. Sehingga, ada kasus
(yang mungkin) terjadi gagal bayar atau satu perusahaan sahamnya anjlok, sehingga
berdampak pada psikologi investor lain yang secara bersamaan menarik (menjual)
saham. Index saham pun turun drastis.
Nampaknya, ada usaha pemerintah China untuk mengembaikan kembali gairah
perekonomian dengan memberikan pinjaman modal kepada investor agar mau membeli
saham, namun yang terjadi adalah kegagalan. Lalu yang terjadi, PBOC mengambil
sikap dengan melakukan devaluasi, yang tujuannya sudah dijelaskan tadi, yaitu
meningkatkan pertumbuhan ekspor di pasar internasional. Selain meningkatan
pertumbuhan ekonomi, berharap dengan bergairahnya kembali penjualan ekspor, para
investor saham dapat membeli saham kembali di SSE. Lagi-lagi Pemerintah China
membuka keran kredit modal saham kembali. Apa akan terjadi bubble yang lebih besar ke depan? Wallahualam.
Banyak pengamat yang menilai apa yang dilakukan China adalah bagian dari currency wars. Sebelumnya, AS sendiri
sudah melakukan. Kebijakan Quantitive Easing (QE, yang di jelaskan di artikel
sebelumnya di sini) sebenarnya juga bisa dikatakan bagian dari currency wars. Jika China memilih
devaluasi, maka AS dengan jalan QE. Pencetakan dollar dengan skala besar cukup
berdampak pada depresiasinya nilai dollar. Mata uang negara lain, termasuk
rupiah sempat mengalami apresiasi,
dan berdampak juga semakin lancarnya ekspor AS ke negara lain.
Setelah ekonominya stabil (setelah krisis 2007-2008), dollar yang sempat
mengalir ke negara-negara emerging market
memilih untuk pulang kampung karena ada prospek ekonomi yang bagus di AS. Dollar
akhirnya mengalami apresiasi. Tidak
hanya rupiah, hampir semua mata uang negara-negara maju mengalami depresiasi terhadap dollar. Anehnya,
kembali menguatnya dollar justru disikapi negara-negara lain dengan melakukan depresiasi secara sengaja (kebijakan
devaluasi). Di negara-negara Eropa dan Jepang misalnya ikut-ikutan menerapkan
QE, tapi tidak dengan China yang memilih devaluasi. Mereka memanfaatkan situasi
menguatnya dollar dengan me-depresiasi-kan
mata uangnya agar meningkatkan daya saing ekspor. Nampak, ada semacam balas
dendam setelah AS berhasil unggul dalam ekspornya ketika sukses melakukan QE
tadi, yang menyebabkan (terutama China) nilai ekspor menurun.
Langkah devaluasi yuan membuat harga barang ekspor beberapa negara juga
ikut berantakan. Agar bisa ikut bersaing di pasar ekspor, beberapa negara di
Asia juga meniru langkah China. Vietnam dengan mata uangnya dong, kemudian
Thailand dengan bath, juga ikut-ikutan melakukan langkah devaluasi. Berbeda
dengan Korea Selatan yang memilih mengurangi rate-nya yang diikuti penjualan cadangan devisa, agar depresiasi mata
uang won bisa dilakukan dengan perlahan-lahan. Negara-negara yang tak punya
keunggulan ekspor tanpa melakukan devaluasi juga ikutan terdepresiasi karena
faktor defisitnya neraca perdagangan, seperti Malaysia dan Indonesia. Dollar semakin
menjadi raja.
Efek dari currency wars ini
berdampak pada persaingan harga. Harga-harga barang ekspor komoditi di pasar
internasional akan mengalami penurunan (deflasi). Indonesia juga terkena dampak
sulitnya menjual komoditas ekspor di luar negeri. Padahal, Indonesia termasuk
negara yang masih terseok-seok dalam keunggulan ekspornya sehingga tak mampu
bersaing di tengah perang harga. Tak heran, perusahaan-perusahaan yang
mengandalkan penjualan ke pasar ekspor dan bahan baku dari pasar impor
situasinya cukup rumit. PHK sudah terjadi dimana-mana.
Adanya currency wars ini juga
yang, bisa jadi, menyebabkan The Fed belum memutuskan menaikan fed-rate (suku bunga bank di AS). Jika fed-rate jadi di naikan, dollar akan
semakin menguat. Menguatnya dollar diramalkan akan berdampak pada semakin
sulitnya produk ekspor AS bersaing di pasar internasional. Jika kalah bersaing,
berefek pada terjadinya penurunan produktifitas barang ekspor AS. Ekonomi
kembali mengalami perlambatan. Ada kekhawatiran, para investor kembali menarik
dananya ke luar AS. Deflasi menjadi ancaman.
Jika ini terjadi, bisa dimungkinkan AS kembali mengalami krisis.
Kita tahu, kalau negara seperti AS sudah mengalami krisis, maka dampaknya
akan menyebar seluruh dunia, seperti yang terjadi di 2007-2008 lalu. Belum lagi
ditambah adanya deflasi harga-harga ekspor dan melemahnya ekonomi China sebagai
negara yang perekonomianya terkuat ke dua setelah AS. Apakah Great Deflation Crisis akan terjadi lagi
dan lebih besar dari tahun 1930an? Wallahualam
lagi. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi nanti.
Bagaimana dengan Indonesia? Depresiasi rupiah terhadap dollar lumayan
parah. Sudah menyentuh angka Rp 14.000an per dollar. Tapi depresiasi rupiah
tidak memberikan jaminan keunggulan ekspor Indonesia. Gubernur BI sendiri
mengatakan rupiah tidak mungki akan ikut-ikutan melakukan devaluasi. Terdepresiasinya
rupiah bukan saja disebabkan pulang kampungnya dollar, melainkan banyak juga
dipengaruhi faktor defist neraca berjalan. Efek currency wars ini memiliki pengaruh kuat terhadap penjualan ekspor
Indonesia. Ditambah juga adanya peningkatan belanja barang impor untuk
proyek-proyek tertentu. Cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir agak
terkuras (tercatat antara Mei sampai Juni 2015 berkurang 2,8 miliar dollar AS)
untuk pembayaran hutang. Menurut pemerintah dan informasi resmi dari BI,
cadangan devisa yang dimiliki Indonesia saat ini masih mampu untuk mendanai
impor hingga 7 bulan ke depan. Masih mampukah Indonesia hingga 7 bulan ke depan
jika masih belum berhasil meningkatkan ekspornya? Kita lihat saja nanti progres
pemerintah setelah menggunakan APBN 2015 yang cair di semester 2 ini, apakah
berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau tidak? Lagi-lagi Wallahualam, kita tunggu saja apa yang
akan terjadi nanti.
Sebenarnya, ada dua penyebab yang menjadikan krisis ini. Pertama
permainan para spekulan dan lepasnya mata uang dari standar moneter yang rill. Soal
permainan spekulan, seperti dalam teori 3 motif memegang uang menurut Keynes
(pelajaran ekonomi di SMA), yaitu untuk alat transaksi, untuk berjaga-jaga, dan
alat spekulasi. Yang terakhir ini yang menjadikan para pemilik uang mencoba
mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan uangnya sebagai alat spekulasi, yaitu
dengan bermain saham. Sudah saya jelaskan diatas bagaimana efek para investor
mempengaruhi bursa pasar uang terhadap pertumbuhan perekonomian suatu negara.
Kemudian penyebab ke dua, lepasnya
mata uang dari standar moneter yang rill. Lagi-lagi saya harus mengungguli
emas. Soal wacana kembali kepada emas bukan hanya milik umat Islam, dalam buku
yang berjudul Currency warss; The Making
of The Next Global Crisis karya James Rickards menyebutkan, perang mata
uang terjadi ketika standar moneter global tidak bersandar pada standar moneter
yang berbasis komoditas rill seperti emas. Saya belum membaca buku tersebut. Reviewnya
saya dapatkan dari web coreindonesia.org.
Dalam reviewnya itu juga menuliskan, dengan standar emas, mata uang
cendrung stabil dalam jangka panjang, tidak mudah diubah-ubah entah dengan cara
mencetak seenaknya atau dengan menurunkan nilai seenaknya, sehingga mampu
mendorong pertumbuhan perdagangan dan mobilitas kerja.
Kemudian lanjut saya kutip, “Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan
oleh Federal Reserve Bank of St Louis, disebutkan bahwa Kinerja ekonomi di
Amerika Serikat dan Inggris unggul di bawah standar emas klasik dibandingkan
dengan dengan periode berikutnya dibawah mata uang kertas.
Uniknya lagi, standar tersebut tidak membutuhkan perencanaan dan
intervensi bank sentral untuk mengontrol sektor moneter. Defisit yang mendorong
terjadinya inflasi domestik akan mendorong daya saing ekspor negara tersebut ke
negara yang mengalami surplus sehingga secara alamiah mengurangi tekanan
inflasi tersebut dan sebaliknya, negara yang surplus perlahan mengalami inflasi
yang menurunkan daya saingnya. Mekanisme tersebut di kalangan ekonom disebut
dengan price-specie-flow mechanism.
Dengan demikian, mekanesme rebalancing akan berjalan secara alamiah, tidak
perlu perang urat syaraf sebagaimana yang terjadi antara AS dan Tiongkok selama
ini. Oleh karena itu, selama hampir 80 tahun (1836- 1913), perekonomian AS
dapat tumbuh kuat meski tanpa kehadiran bank sentral.”
Selengkapnya silakan bisa di baca di link ini http://www.coreindonesia.org/view/126/currency-wars.html
Jika para pemimpin-peminpin dunia itu terus tidak sadar apa yang mereka
perbuat, dan semakin serakah dalam menguasai pereknomian, maka kita tunggu saja
kehancuranya. Resesi dunia akan kembali hadir. Siap-siap harta kita terkuras
habis akibat uang kita yang tertanam di bank. Kok bisa? Insya Allah tulisan
selanjutnya jika diberi kesempatan, kesehatan, dan tak malas.
Bersambung..

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.