Minggu, 20 September 2015

Mengelola Ekonomi Kreatif Rumah Tangga


Situasi ekonomi yang tak menentu di tambah lesunya permintaan di dunia properti menjadi kegalauan Nanda. Seorang ikhwan teman sekampus saya ini menjadi galau lantaran usaha properti yang dilakoninya belum menghasilkan pendapatan selama beberapa bulan terakhir. Belum lagi jodoh yang tak kunjung datang menambah hati terus merana. (hahaha.. kena loh)

Tapi satu hal yang menarik, ditengah lesunya penghasilan dari usaha properti, ia tetap terus berpikir bagaimana dapur bisa terus mengepul. Muncul anggapan, bahwa penghasilan tidak hanya berasal dari aset usaha yang sedang kita bangun, atau gaji dari pekerjaan di kantor saja, tapi bisa juga dari aset yang telah kita miliki. Misalnya rumah.

“Banyak orang yang gak sadar kalau rumah adalah beban. Kita mengeluarkan biaya untuk listrik, air, telepon, bayar pajak, menggaji pembantu, yang kesemuanya adalah pengeluaran rutin.” Ucap kawan saya itu saat obrolan tengah malam di sebuah cafe di Jalan Kaliurang tempo hari. Dia mengajak berpikir kepada kami bahwa rumah adalah aset yang bisa dimanfaatkan untuk menutupi biaya operasional rumah tangga sehari-hari. “Dari pada kita terbebani dari biaya operasional itu, kenapa tidak kita buat salah satu sisi rumah itu sebagai pendapatan. Misal jika punya kelebihan kamar bisa dibuat kos-kosan, dan sebagainya.” Ucapnya kemudian.

Bisa jadi pandangan Nanda ini adalah upayanya untuk mencari penghasilan lain di luar penghasilan utamanya dari bisnis properti yang sedang mandek. Lepas dari motifnya, konsep memanfaatkan aset yang kita miliki agar menghasilan income menjadi salah satu cara mengelola ekonomi rumah tangga secara kreatif. Benar apa yang dikatakannya, selama ini aset-aset yang kita miliki bisa menjadi beban keuangan. Memang, kita punya penghasilan utama dari gaji bulanan. Hanya saja, apakah harus menghabiskan semua gaji untuk membiayai beban-beban dari aset yang kita miliki setiap bulannya?

Saya bukan mengajak untuk terus menerus mencari duit dalam mengisi hidup. Tidak seperti itu. Maksud saya, ingin mengajak berpikir bawah aset (baik berwujud benda ataupun uang) bukan sekedar alat konsumsi, tetap juga bisa sebagai alat investasi. Bicara investasi maka kita bicara soal masa depan. Orang tua saya sudah mengajarkan hal ini ketika masa-masa sekolah saya dulu.

Saya besar di lingkungan komplek perumahan Pertamina di Balikpapan. Bapak saya adalah seorang pegawai BUMN minyak tersebut. Ibu hanya mengurusi rumah tangga. Secara penghasilan sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi, muncul ide krative untuk agar ada pendapatan sampingan. Sekaligus memanfaatkan waktu luang ibu saya di rumah. Kebetulan rumah saya dekat dengan stadion sepakbola, yaitu stadion Persiba. Di sana banyak sekali pedagang kecil yang menjual bakso, es campur, dan berbagai jenis makanan lainnya. Prospek yang ibu saya lihat adalah pasti para pedagang itu membutuhkan es batu untuk menu minumannya. Dibelilah kulkas khusus pembeku es sebanyak 3 buah. Menjual es batu menjadi usaha sampingan rumah tangga kami waktu itu.

Beruntungnya lagi, tinggal di perumahan pertamina tak ada beban pengeluaran untuk biaya listrik dan air, semuanya adalah fasilitas perusahaan. Air yang menjadi bahan es batu dan listrik untuk kulkas tak kena beban. Harga es batu kami bisa bersaing dengan pedagang lain. Anggap aja menghancurkan harga pasar, haha. Hampir tiap hari para pedagang itu mengambil es batu di rumah kami. Tidak hanya pedagang yang ada di sana, pedagang ikan dari pasar juga ada yang mengambil es batu di tempat kami untuk pendingin ikannya. Pendapatan tambahan di luar gaji pun ada.

Pendapatan dari berjualan es batu itu dimanfaatkan ibu saya untuk biaya pengeluaran sehari-sehari, seperti biaya makan dan uang jajan kami di sekolah. Pendapatan gaji dimanfaatkan untuk biaya sekolah hingga biaya kuliah dan membayar cicilan membangun rumah, termasuk biaya berobat. Mengingat bapak saya 10 tahun mengalami penyakit stroke.

Saya bersyukur, orang tua sudah berpikir investasi masa depan waktu itu. Sebagian penghasilan gaji dihabiskan untuk bangun rumah dan beli tanah. Ketika bapak saya meninggalkan dunia tahun 2010, keluarga kami diwariskan dua buah rumah dan dua kapling tanah. Aset yang kini dimanfaatkan untuk kehidupan anak-anaknya setelah dewasa.

Ucapan Nanda tadi-lah yang mengingatkan pengalaman masa kecil saya bersama keluarga. Orang tua saya bisa memanfaatkan peluang yang ada, dalam hal ini lingkungan tempat tinggal, sebagai aset yang produktif.

Prototipe Produk Katering Nanda
Kalau ibu saya dengan menjual es batu, Nanda juga tak sekedar berkata-kata. Kini ia menganggap pembantu rumah tangga yang ada di rumahnya adalah aset. Ia mengajak sang pembantu rumah untuk mengisi waktu luangnya dengan membuat masakan. Nanda sedang mencoba membuat usaha katering. Ide kateringnya tergolong unik, yaitu jasa katering untuk kos-kosan. Meski belum berjalan, uji coba masakan sebagai prototip produk sudah dilakukannya.

Mengelola ekonomi kreatif rumah tangga bentuknya macam-macam, jika pekerjaan utama sudah menguras energi waktu sehingga tak mungkin menjalankan usaha sampingan, maka pilihannya adalah pintar-pintar mengelola penghasilan. Apalagi penghasilannya terbilang besar dan melebihi kebutuhan hidup. Kelebihan penghasilan adalah kesempatan membangun aset meski tanpa bekerja.

Orang yang konsumtif dengan orang yang produktif akan beda dalam pengelolaan danannya. Bagi orang produktif, ia akan berpikir bagaimana uang bisa menghasilkan uang kembali. Bagi orang konsumtif, uang hanya dipakai untuk memuaskan hasrat keinginannya saja.

Dalam ekonomi kreatif rumah tangga, ada upaya bagaimana kelebihan penghasilan bisa menjadi aset produktif. Orang-orang (bermental) kaya dan tak punya banyak waktu membangun usaha diluar pekerjaan tetap, biasanya cendrung memanfaatkan kelebihan penghasilan itu untuk membeli properti. Entah untuk dijadikan aset masa depan karena nilainya yang terus meningkat setiap tahunnya atau disewakan untuk tambahan penghasilan rutin. Bisa juga di investasikan dalam bentuk emas, deposito, dan saham. Tergantung mana yang lebih nyaman dilakukan. Yang terpenting kemanfaatannya (barokah).

Yang menariknya lagi kawan saya di Purwokerto. Ide adalah asetnya. Kawan saya yang satu ini tak punya latar belakang pendidikan kelistrikan. Tapi pekerjaan sehari-harinya mengelola toko listrik dari warisan almarhum ayahnya yang menyatu dengan rumah tempat tinggal. Telah lama ia berpikir bagaimana toko alat-alat listrik warisan ayahnya memiliki diferensiasi dengan toko listrik pada umumnya. Salah satu ide yang tercetus adalah distro lampu. Namun ia masih bingung dalam hal penyediaan stok yang sesuai konsepnya. Ia ingin tidak sekedar mendapatkan pendapatan rutin hanya dari mengelola toko, tetapi bisa menghasilkan produk kreatif yang masih jarang di pasaran.

Produk Lampu boneka karya kawan saya dari
Purwokerto
Ide itu muncul setelah beberapa kali ada seseorang anak muda yang sering menitip lampu boneka di toko listriknya. Bagi kawan saya itu, lampu boneka yang sering dititipkan bentuknya terlalu umum dan sudah bukan jamannya lagi. Kawan saya itu kemudian mencoba mencari tahu cara membuatnya. Setelah tahu teknik pembuatan boneka lampu, ia coba membuat prototip boneka lampu dengan model boneka yang sedang trend. Ternyata berhasil. Lalu ia ajak anak muda tadi untuk bekerja sama. Kawan saya sebagai pemberi ide, pembuat prototip dan pemasar, maka anak muda tadi yang akan memproduksi secara masal. Banyak ide-ide teknik membuat lampu boneka yang kawan saya ajarkan kepada anak muda tadi. Saat ini usaha lampu boneka masih produksi dalam intensitas kecil. Ia memanfaatkan sepetak ruang di rumah dan tokonya untuk menjalankan ide usaha ini. Ada harapan, produk ini bisa menjadi aset usaha masa depan dari modal indusri kreatif rumah tangga.

Mengelola ekonomi rumah tangga dengan kreatif dengan membangun industri rumah tangga bukan sebuah irisan. Dalam sekala makro, industri rumah tangga bisa menjadi kekuatan fundamental ekonomi sebuah negara. Jika sebagian besar rakyat Indonesia memanfaatkan aset rumah tangganya untuk menciptakan produk atau usaha kreatif, ada harapan bisa meningkatkan pendapatan per kapita nasional. Dalam kondisi tertentu, mengelola ekonomi rumah tangga secara kreatif bukan saja bisa menjadi penghasilan sampingan, ada kalanya bisa menjadi pendapatan utama. Kalau penghasilan dari sini lebih besar dari gaji bulanan, kenapa tidak diseriusi saja.

Selama ini pemerintah masih menumpukan pertumbuan ekonomi pada sektor konsumsi. Pertumbuhan ekonomi akan meningkat jika tindakan konsumsi masyarakat cukup tinggi. Salah satu cara untuk menjaga konsumsi masyarakat adalah dengan menurunkan tingkat pengangguran. Semakin banyak yang bekerja pada industri besar, semakin besar pula konsumsi yang dilakukan masyarakat karena penghasilan dari gajinya bisa dibelanjakan untuk membeli barang-barang produksi industri besar, sehingga uang bisa terus berputar. Sedangkan industri besar tersebut digerakan dari investasi. Sebagian besar investornya dari luar negeri. Hal ini sangat riskan jika terjadi dunia moneter tak menentu. Seperti krisis yang terjadi akhir-akhir ini. Investor banyak menarik modalnya keluar negeri, pertumbuhan industri besar menjadi lambat, ancaman pengangguran meningkat. Efeknya pertumbuhan ekonomi melemah.

Sayangnya, pemerintah belum serius menggarap sektor ini. Masyarakat juga masih belum antusias atau belum ada kesadaran mengelola asetnya agar lebih produktif. Ibu-ibu rumah tangga di negeri ini waktu luangnya juga banyak tersisa untuk menonton tayangan sintron atau bergosip dengan tetangga.

So, mengelola ekonomi rumah tangga secara kreatif baik dengan industri rumah tangga atau dengan kegiatan-kegiatan produktif, bukan saja memberikan dampak positif secara pribadi dan keluarga melainkan juga secara nasional. Dengan catatan, kegiatan-kegiatan produktif tersebut tidak membebani tugas utama dalam menjalankan aktivitas rumah tangga. Wallahualam.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger