Situasi ekonomi yang tak menentu di tambah lesunya permintaan di dunia properti menjadi kegalauan Nanda. Seorang ikhwan teman sekampus saya ini menjadi galau lantaran usaha properti yang dilakoninya belum menghasilkan pendapatan selama beberapa bulan terakhir. Belum lagi jodoh yang tak kunjung datang menambah hati terus merana. (hahaha.. kena loh)
Tapi satu hal yang menarik, ditengah lesunya penghasilan dari usaha
properti, ia tetap terus berpikir bagaimana dapur bisa terus mengepul. Muncul anggapan, bahwa penghasilan tidak hanya berasal dari aset usaha
yang sedang kita bangun, atau gaji dari pekerjaan di kantor saja, tapi bisa juga
dari aset yang telah kita miliki. Misalnya rumah.
“Banyak orang yang gak sadar kalau rumah adalah beban. Kita mengeluarkan
biaya untuk listrik, air, telepon, bayar pajak, menggaji pembantu, yang
kesemuanya adalah pengeluaran rutin.” Ucap kawan saya itu saat obrolan tengah
malam di sebuah cafe di Jalan Kaliurang tempo hari. Dia mengajak berpikir kepada
kami bahwa rumah adalah aset yang bisa dimanfaatkan untuk menutupi biaya
operasional rumah tangga sehari-hari. “Dari pada kita terbebani dari biaya
operasional itu, kenapa tidak kita buat salah satu sisi rumah itu sebagai
pendapatan. Misal jika punya kelebihan kamar bisa dibuat kos-kosan, dan
sebagainya.” Ucapnya kemudian.
Bisa jadi pandangan Nanda ini adalah upayanya untuk mencari penghasilan
lain di luar penghasilan utamanya dari bisnis properti yang sedang mandek. Lepas
dari motifnya, konsep memanfaatkan aset yang kita miliki agar menghasilan income menjadi salah satu cara mengelola ekonomi rumah tangga secara kreatif. Benar apa yang dikatakannya, selama ini aset-aset yang kita miliki
bisa menjadi beban keuangan. Memang, kita punya penghasilan utama dari gaji
bulanan. Hanya saja, apakah harus menghabiskan semua gaji untuk membiayai
beban-beban dari aset yang kita miliki setiap bulannya?
Saya bukan mengajak untuk terus menerus mencari
duit dalam mengisi hidup. Tidak seperti itu. Maksud saya, ingin mengajak berpikir bawah aset (baik
berwujud benda ataupun uang) bukan sekedar alat konsumsi, tetap juga bisa
sebagai alat investasi. Bicara investasi maka kita bicara soal masa depan. Orang
tua saya sudah mengajarkan hal ini ketika masa-masa sekolah saya dulu.
Saya besar di lingkungan komplek perumahan Pertamina di Balikpapan. Bapak
saya adalah seorang pegawai BUMN minyak tersebut. Ibu hanya mengurusi rumah
tangga. Secara penghasilan sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Tapi, muncul ide krative untuk agar ada pendapatan sampingan. Sekaligus memanfaatkan waktu luang ibu saya di rumah. Kebetulan rumah saya dekat dengan stadion
sepakbola, yaitu stadion Persiba. Di sana banyak sekali pedagang kecil yang
menjual bakso, es campur, dan berbagai jenis makanan lainnya. Prospek yang ibu
saya lihat adalah pasti para pedagang itu membutuhkan es batu untuk menu
minumannya. Dibelilah kulkas khusus pembeku es sebanyak 3 buah. Menjual es batu
menjadi usaha sampingan rumah tangga kami waktu itu.
Beruntungnya lagi, tinggal di perumahan pertamina tak ada beban
pengeluaran untuk biaya listrik dan air, semuanya adalah fasilitas perusahaan.
Air yang menjadi bahan es batu dan listrik untuk kulkas tak kena beban. Harga es batu kami bisa bersaing dengan pedagang lain. Anggap aja menghancurkan harga
pasar, haha. Hampir tiap hari para pedagang itu mengambil es batu di rumah
kami. Tidak hanya pedagang yang ada di sana, pedagang ikan dari pasar juga ada
yang mengambil es batu di tempat kami untuk pendingin ikannya. Pendapatan tambahan di luar gaji pun
ada.
Pendapatan dari berjualan es batu itu dimanfaatkan ibu saya untuk biaya
pengeluaran sehari-sehari, seperti biaya makan dan uang jajan kami di sekolah. Pendapatan
gaji dimanfaatkan untuk biaya sekolah hingga biaya kuliah dan membayar cicilan
membangun rumah, termasuk biaya berobat. Mengingat bapak saya 10 tahun
mengalami penyakit stroke.
Saya bersyukur, orang tua sudah berpikir investasi masa depan waktu itu. Sebagian
penghasilan gaji dihabiskan untuk bangun rumah dan beli tanah. Ketika
bapak saya meninggalkan dunia tahun 2010, keluarga kami diwariskan dua buah
rumah dan dua kapling tanah. Aset yang kini dimanfaatkan untuk kehidupan anak-anaknya
setelah dewasa.
Ucapan Nanda tadi-lah yang mengingatkan pengalaman masa kecil saya bersama
keluarga. Orang tua saya bisa memanfaatkan peluang yang ada, dalam hal ini
lingkungan tempat tinggal, sebagai aset yang produktif.
![]() |
| Prototipe Produk Katering Nanda |
Mengelola ekonomi kreatif rumah tangga bentuknya macam-macam, jika
pekerjaan utama sudah menguras energi waktu sehingga tak mungkin menjalankan
usaha sampingan, maka pilihannya adalah pintar-pintar mengelola penghasilan.
Apalagi penghasilannya terbilang besar dan melebihi kebutuhan hidup. Kelebihan
penghasilan adalah kesempatan membangun aset meski tanpa bekerja.
Orang yang konsumtif dengan orang yang produktif akan beda dalam
pengelolaan danannya. Bagi orang produktif, ia akan berpikir bagaimana uang
bisa menghasilkan uang kembali. Bagi orang konsumtif, uang hanya dipakai untuk memuaskan hasrat keinginannya saja.
Dalam ekonomi kreatif rumah tangga, ada upaya bagaimana kelebihan
penghasilan bisa menjadi aset produktif. Orang-orang (bermental) kaya dan tak
punya banyak waktu membangun usaha diluar pekerjaan tetap, biasanya cendrung
memanfaatkan kelebihan penghasilan itu untuk membeli properti. Entah untuk
dijadikan aset masa depan karena nilainya yang terus meningkat setiap tahunnya
atau disewakan untuk tambahan penghasilan rutin. Bisa juga di investasikan dalam
bentuk emas, deposito, dan saham. Tergantung mana yang lebih nyaman dilakukan.
Yang terpenting kemanfaatannya (barokah).
Yang menariknya lagi kawan saya di Purwokerto. Ide adalah asetnya. Kawan
saya yang satu ini tak punya latar belakang pendidikan kelistrikan. Tapi
pekerjaan sehari-harinya mengelola toko listrik dari warisan almarhum ayahnya
yang menyatu dengan rumah tempat tinggal. Telah lama ia berpikir bagaimana toko
alat-alat listrik warisan ayahnya memiliki diferensiasi dengan toko listrik
pada umumnya. Salah satu ide yang tercetus adalah distro lampu. Namun ia masih
bingung dalam hal penyediaan stok yang sesuai konsepnya. Ia ingin tidak sekedar
mendapatkan pendapatan rutin hanya dari mengelola toko, tetapi bisa
menghasilkan produk kreatif yang masih jarang di pasaran.
![]() |
| Produk Lampu boneka karya kawan saya dari |
| Purwokerto |
Mengelola ekonomi rumah tangga dengan kreatif dengan membangun industri
rumah tangga bukan sebuah irisan. Dalam sekala makro, industri rumah tangga
bisa menjadi kekuatan fundamental ekonomi sebuah negara. Jika sebagian besar
rakyat Indonesia memanfaatkan aset rumah tangganya untuk menciptakan produk
atau usaha kreatif, ada harapan bisa meningkatkan pendapatan per kapita
nasional. Dalam kondisi tertentu, mengelola ekonomi rumah tangga secara kreatif bukan saja bisa menjadi penghasilan sampingan, ada kalanya bisa menjadi pendapatan utama. Kalau penghasilan dari sini lebih besar dari gaji bulanan, kenapa tidak diseriusi saja.
Selama ini pemerintah masih menumpukan pertumbuan ekonomi pada sektor
konsumsi. Pertumbuhan ekonomi akan meningkat jika tindakan konsumsi masyarakat
cukup tinggi. Salah satu cara untuk menjaga konsumsi masyarakat adalah dengan
menurunkan tingkat pengangguran. Semakin banyak yang bekerja pada industri
besar, semakin besar pula konsumsi yang dilakukan masyarakat karena penghasilan
dari gajinya bisa dibelanjakan untuk membeli barang-barang produksi industri
besar, sehingga uang bisa terus berputar. Sedangkan industri besar tersebut
digerakan dari investasi. Sebagian besar investornya dari luar negeri. Hal ini
sangat riskan jika terjadi dunia moneter tak menentu. Seperti krisis yang
terjadi akhir-akhir ini. Investor banyak menarik modalnya keluar negeri,
pertumbuhan industri besar menjadi lambat, ancaman pengangguran meningkat. Efeknya
pertumbuhan ekonomi melemah.
Sayangnya, pemerintah belum serius menggarap sektor ini. Masyarakat juga
masih belum antusias atau belum ada kesadaran mengelola asetnya agar lebih produktif.
Ibu-ibu rumah tangga di negeri ini waktu luangnya juga banyak tersisa untuk
menonton tayangan sintron atau bergosip dengan tetangga.
So, mengelola ekonomi rumah tangga secara kreatif baik dengan industri rumah tangga atau dengan kegiatan-kegiatan produktif, bukan saja memberikan dampak positif secara pribadi dan keluarga melainkan juga secara nasional. Dengan catatan, kegiatan-kegiatan produktif tersebut tidak membebani tugas utama dalam menjalankan aktivitas rumah tangga. Wallahualam.


0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.