| sumber ilustrasi: anggarawepe.blogspot.com |
Hai Bunga Edelweis,
Tempo hari
Kau hadir di saat lelahku mendaki
Lalu kita bercengkrama di ruang frekuensi
Meski jauh, kau hibur aku dengan kelopakmu yang indah berseri
(Pernah dulu) Hanya sekali aku memandang, kau sudah menggoda hati
Tapi tak pernah punya niat untuk mencari
Namun tempo hari, sempat aku kira ini mimpi
Hai Bunga Edelweis,
Suaramu tak aku mengerti
Tingkahmu juga tak aku pahami
Namun, keberadaanmu telah menghiasi bumi
Kau tetap jelita meski awan-awan menutup cahaya mentari
Dan aku tau, kau lebih berwarna dari pada pelangi
Karena itu, kau bunga terindah yang ingin kumiliki
Hai Bunga Edelweis,
Maaf, kalau tempo hari aku ingin memetik
Agar menghiasi rumahku yang sempit
Lalu kurawat kau sambil temani sepiku di dunia ini yang berisik
Menjadi bunga abadiku di tengah hidupku yang rumit
Hai Bunga Edelweis,
Nyatanya, kau memang tak ingin dipetik
Mungkin, alam lebih suka kau berada di kaki langit
Menghibur pendaki lain yang (mungkin) diam-diam juga melirik
Atau Mungkin, ada orang yang lebih ahli atau pantas memetik
Tapi terimakasih, telah menemani pendakianku di waktu yang sedikit
Hai Bunga Edelweis,
Kini, aku akan terus berjalan
Melewati tantangan alam pegunungan
Untuk mencapai puncak tujuan
Aku harus mengejar cita-cita dan impian
Hai Bunga Edelweis,
Aku tak ada niat untuk melupakan
Tapi juga tak ingin terus memikirkan
Kapan-kapan kita berjumpa lagi di tanah pendakian
Karena kita tak tahu takdir di ruang kehidupan
Sambil berharap, kaulah bunga abadiku di masa depan
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.