![]() |
| Foto: Facebook WESAL TV Keluarga |
Saya memang tak tahu apa-apa yang sebenarnya terjadi. Media-media dari kelas teri, media partisan, media yang sukanya copas, media guyonan, hingga media warta sekelas hiu, ramai memberitakan dengan sudut pandang masing-masing. Begitu juga perilaku para netter yang hobi share berita tanpa filter, lalu membuat analis-analisis amsumtif, sampai-sampai ada pihak ‘agama sebelah’ yang ikut berjuang klarifikasi berita yang katanya hoax (dalam kasus surat larangan sholat ied yang ternyata diakui pelaku benar). Semuanya memenuhi kotak digital yang dinamakan social media. Berisik sekali. Sekali lagi, saya hanya bisa berpegangan bahwa “aku tak tahu apa-apa” sebagai filter agar tak sembarangan menerima informasi masuk dipikiran lalu membagikannya ke orang lain. Saya hanya berusaha bisa menerma berita yang sudah terverifikasi kebenarannya dan bersumber dari orang/media yang kredibel.
Karena "aku tak tahu apa-apa", maka saya tak mau ikut-ikutan berisik. Lebih baik menunggu hasil investigasi dari Tim yang dibentuk untuk membuka tabir, apa sebenarnya yang terjadi. Selama mengikuti perkembangan berita yang terjadi, saya tertarik dengan pernyataan Ustad Fadzlan Garamatan yang dikutip dari IslamPos (17/7/2015), “Bismillah, masjid dibakar kita bangun kembali, tidak ada dendam, ayo kita galakkan infaq jama’ah. Kita tahu kalau kita gerak pasti menang, tapi tidak, itu bukan pilihan kami, kami lebih memilih membangun.Mari bergandengan,”
Lalu kata-kata menarik itu dilanjutkan, “Banyak hal yg perlu kita pahami apa yg melatar belakangi kejadian demi kejadian di sana.”
Kemudian dilanjutkannya lagi, “Dakwah memerlukan pengorbanan. Diperlukan strategi mengolah satu informasi dengan kecerdasan emosional, agar menjadi sebuah strategi dakwah yang cerdas sebagaimana dakwahnya Rasulullah, yakni dengan keteladanan.”
Kata-kata beliau ini cukup menyiratkan kalau kedewasannya dalam ber-Islam. Jam terbang yang tinggi menghadapi kaumnya dan semangat mengislamkan penduduk Papua melahirkan sikap yang lebih pro aktif dari pada reaktif. Beliau lebih paham soal Fiqh Dakwah. Di tangannya, ia berhasil mengislamkan ratusan ribu warga Papua. Masya Allah.
Pernah saya menulis tentang pengalaman Ustad Fadzlan Garamatan yang saya tuliskan di blog ini (Baca: Jalan Juang Membangun Masyarakat Beradab di Tanah Timur Indonesia). Pengalaman yang ia ceritakan ketika berkunjung dan berceramah di Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Mengajarkan manusia Papua menjadi lebih beradab menjadi titik poin utama semangat Ustad Fadzlan berjuang mengislamkan penduduknya. Bentuknya juga sederhana, bermodal sabun. Makanya di sebut Ustad Sabun. Dengan Sabun, ia mandikan orang-orang Papua yang selama ini tak pernah mandi. Mereka jadi harum dan senang. Dengan mandi, penduduk pun mau masuk Islam. Diajarkan juga bagaimana menutup aurat dan berpakaian yang benar.
Justru dengan diajarkannya perilaku yang beradab, penduduk Papua merasa lebih dihargai. Berbeda dengan perilaku misionaris yang tetap membiarkan mereka berperilaku tidak beradab. Menurut Ustad Fadzlan sendiri, hadirnya kelompok misionaris lebih bertujuan kepada pembodohan dari pada memanusiakan manusia. Ada indikasi kepentingan imperialisme modern untuk menguasai alam di negeri timur nusantara ini dengan cara membodohi penduduknya. Indikasi ini juga tak bisa lagi dikatakan lagi sebagai asumsi, fakta terlihat jelas dengan adanya perusahaan tambang emas yang lebih memberikan kekayaan si negara super power dari pada mensejahterakan penduduk asli.
Semangat proaktif dalam berdakwah itu pun bisa kita wujudkan dengan cara-cara sederhana. Komentar sang ‘Ustadz Sabun’ untuk tidak meributkan, dendam, terus menyudutkan agama sebelah, apalagi sampai mengirim pasukan jihad segala, hanya memperkeruh suasana dan tidak menyelesaikan masalah. Kerjanya hanya seperti mengutuki kegelapan. Seperti yang dikutip dari berbagai media Islam, Ustad Fadzlan juga berujar, “Umat Islam hendaknya menghadapi kasus pembakaran masjid ini dengan hati yang dingin, mereka yang membakar masjid karena ketidak tahuannya tentang Islam."
Justru, Lontaran ide untuk meminta umat Islam menyumbangkan sebagian harta sebagai modal membangun kembali masjid yang dibakar menjadi solusi cerdas membangkitkan lagi semangat mengislamkan tanah yang dulunya pernah di beri nama Nuur Waar. Cara dakwahnya lebih elegan dan konstruktif. Tidak hitam putih dan main pukul. Pikirannya lebih bersifat jangka panjang dari pada emosi sesaat. Dengan gerakan fokus mengislamkan penduduknya, otomatis gerakan misionaris perlahan akan tersingkirkan.
Ustadz Fadzlan sudah lama berdakwah di Papua. Ia membentuk organisasi yang di beri nama AFKN (Al Fatih Kaaffah Nusantara). Sebagai organisasi sosial dan pembinaan Islam warga Papua. Kiprahnya silakan bisa lihat lebih detail di afkn-nuuwaar.com.
Kasus Tolikara bisa menjadi bukti, adanya umat Islam di daerah yang diberi nama IRIAN oleh Soekarno. Selama ini selalu identik dengan daerah yang banyak umat Nasrani. Ada artikel menarik dari akun Facebook WESAL TV Keluarga. Artikel yang diberi Judul Fakta Islam di Papua yang Jarang Diketahui Masyarakat Luas menuliskan bahwa komunitas Muslim di Papua sudah mencapai angka 900.000 jiwa dari total jumlah penduduk sekitar 2.4 juta jiwa, atau mencapai 40 % dari keseluruhan jumlah penduduk Papua. 60% sisanya merupakan gabungan pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Animisme, dan mayoritas dari 60% ini adalah animisme dipedalaman. Jumlah itu akan terus semakin bertambah seiring dengan pesatnya dakwah di sana.
Tiba-tiba saja terbesit di pikiran saya, mungkinkah kebangkitan Islam di Nusantara dibawa oleh orang-orang Papua? Bisakah peradaban Islam lahir di pulau ini?
Bisa saja mungkin. Perhatikan saja. Pikiran mereka masih murni. Belum tersentuh mordernisme. Dirasuki oleh berbagai opini media dari Pulau Jawa juga terbilang jarang. Apalagi racun bersocial media. Mereka juga tidak terpengaruh dengan beban masalah baik politik dan ekonomi orang-orang di Jawa. Dengan dikenalkannya ajaran Islam dalam pikiran murni mereka yang belum tersentuh pemikiran-pemikiran mana pun, Islam mudah diterima di lingkungan komunitas yang belum berbudaya mapan dan mudah menerima pembaharuan budaya, seperti orang-orang Papua yang akhirnya menerima Islam karena sabun. Ada asa, mereka akan mempunyai satu gagasan dalam bergerak dan bercita-cita.
Bentangan alam yang masih murni tanpa racun oksidasi juga membentuk mereka berfisik kuat. Bisa jadi modal membentuk pasukan tempur terlatih. Belum lagi kekayaan alam yang melimpah. Ada syarat-syarat untuk membangun sebuah peradaban baru.
Dalam sejarah, Allah sudah memberi kesempatan dari berbaga belahan dunia yang diduduki orang-orang Muslim memimpin peradaban. Mulai dari semenajung Arab, Persia, India, Turki, hingga Spanyol. Allah belum memberikan kesempatan pemimpin peradaban dari kaum muslimin di timur (Nusantara). Ada harap, kebangkitan itu bisa muncul dari tanah Nuur Waar.
Siapa tau, maksud hadist Nabi Saw tentang ramalan akan hadirnya Ashabul Riyatus Suud atau diartikan sebagai Pasukan Panji Hitam dari Timur adalah orang-orang Papua.
Wallahualam,

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.