Kota Malang pagi itu benar-benar sejuk. Sofie Najwa, seorang gadis remaja yang baru saja selesai dari tilawah subuhnya beranjak membuka tirai jendela kamar untuk menyambut mentari pagi. Berharap, pancaran sinar itu memberikan kehangatan di tengah dinginnya pagi musim kemarau di Bulan Ramadhan.
Tapi pagi itu beda. Bukan hanya mentari saja yang menyambut seperti biasanya, pohon sakura yang ia tanam di pekarangan bersama kakaknya 2 tahun lalu mulai memekarkan bunganya. Bunga-bunga putih yang mungil dan cantik itu menyambutnya diantara kesejukan hawa dan kehangatan sinar mentari. Sontak, Sofie senang bukan kepalang. Sebuah Nokia yang terletak di atas mejanya segera di raih.
“Kak, kapan pulang?” tulis Sofie dalam
bentuk SMS kepada Kakaknya, Ghazali, yang sedang menempuh pendidikan S1 di Jogja.
“Rencanannya 1 hari sblum lebaran. Kakak
ikut itikaf di sini. Knp?” jawab sang kakak tanpa waktu lama.
“Ihh, lama banget. Skrng aja kak. Ada
yang harus kakak liat!!”
“Apaan? Masih sibuk nih.”
“Pohon Sakuranya sudah keluar bunganya
kak. Bunganya mekar. Kakak harus liat!”
“Nanti kan bisa. Pas lebaran.”
“Gak bisa kak. Mekarnya ga bisa lama.
Paling 1 mgg aja.”
“Aduh, gmn ya? Nanggung.”
“Ayolah kak, blum tentu tahun dpn bisa
lg.”
“Nanti kakak kabari lg deh.”
“Pulang sehari aja kak. Uang pulang
Sofie ganti deh.”
Tak ada jawaban lagi dari Gazali. Sofie
penuh harap, mekarnya bunga pohon asal Jepang pemberian kakaknya ini bisa
disaksikan Ghazali. Bukan hanya pengalaman langka, tapi juga sebagai pembuktikan
bahwa Sofie bisa membesarkan dan merawat bunga-bunga yang dimilikinya.
Terkhusus pemberian kakaknya ini.
***
Sofie Najwa memang penyuka
bunga. Hari-harinya selalu diisi menanam dan merawat bunga-bunga indah di
pekarangan rumah. Hobi yang juga sama dengan sang Ibu. Sampai-sampai, orang
yang berkunjung ke rumah mereka lebih menganggap kebun dari pada tempat
tinggal. Kebetulan, keluarga mereka hidup di kota yang juga mendapat julukan
Kota Bunga. Kota yang dikelilingi gunung-gunung tinggi di Jawa Timur. Juga,
kota yang memiliki suhu relatif dingin di saat malam dan pagi hari.
Mereka menanam berbagai pohon dan bunga
bukan sekedar hobi dan pengisi waktu, tetapi mencari inspirasi kehidupan. Berbagai
bunga Sofie tanam. Ada melati, mawar, bugenvil, kamboja, dan banyak sekali. Kalau
disebutkan satu-satu bisa puluhan jenis. Tapi jika ada salah satu jenis bunga
yang di tanam lebih dari satu, biasnya termasuk spesial bagi Sofie. Pernah
Ghazali bertanya kepada Sofie sebelum diberi bunga sakura, “Kenapa
bunga mawar lebih banyak di tanam?”
“ Karena Sofie ingin seperti bunga
mawar. Bunganya cantik. Disukai banyak orang. Sofie ingin cantik seperti
mawar.” jelasnya dengan percaya diri.
“Yakin, ingin seperti mawar?”
“Gak apa-apa kan Sofie seperti mawar?”
“Iya gak apa-apa,” ucap yang penuh
senyuman mengejek, “Gak apa-apa Sofie cantik. Tapi cantik yang penuh duri.
Kalau disentuh menyakitkan. Kakak gak mau melihat adik yang cantik tapi
menyakitkan. Hehe.”
Ucapan kakaknya itu ternyata menjadi
pikiran Sofie. Ada benarnya juga. Mawar punya kelemahan. Bukan hanya duri saja,
tetapi selama ini mawar hanya dinikmati keindahan dan hanya bermanfaat untuk
hadiah rayuan kepada seorang wanita. Akhirnya Sofie harus berpikir ulang. Ia
ingin menemukan bunga yang bisa jadi filosofi hidupnya. Tapi Sofie bingung,
bunga apa yang baik dan cocok. Bunga-bunga yang sudah menjadi koleksinya selalu
ia perhatikan, adakah yang memiliki konsep yang menarik untuk dijadikan model
konsep dirinya?
Masalah yang dipikirkan Sofie ternyata
diketahui juga oleh sang kakak, meski Sofie sendiri tidak bercerita. Ghazali
pun juga ikut memikirkan bunga apa yang cocok buat Sofie untuk menginspirasi
hidupnya. Tapi Ghazali tidak berpikir lama. Penggemar Rurouni Kenshin dan komik
Naruto ini cukup mudah memutuskan untuk memberikan Pohon Sakura kepada adiknya.
Ada filosofi yang begitu dibanggakan oleh penduduk dari negeri asal pohon ini.
Mendapati bibit Pohon Sakura tidak
begitu sulit. Sudah banyak toko-toko bibit bunga menjualnya dengan harga
beragam. Ghazali mendapati bibit sakura dari hasil cangkok yang sudah tumbuh
setinggi setengah meter. Ia dapati dengan harga yang tak begitu mahal jika
dilihat dari harga pasaran. Tapi, bagi kantong mahasiswa tetap saja menguras
dompet. Demi sebuah hadiah untuk adik tersayangnya, harga tak menjadi masalah
selama ia masih punya biaya untuk hidup.
Ghazali beli dua pohon sakura yang masih
kecil itu agar bisa melengkapi koleksi bunga sang adik. Dari dua pohon yang
dibelinya ia tak tahu menahu jenisnya, yang ia tahu dari penjualnya, yang juga
kawannya sendiri, hanya memiliki dua warna bunga yang berbeda jika mekar nanti,
yaitu putih dan merah muda.
Meski ada sedikit ragu kemungkinan bisa
tumbuh di kota asalnya. Ia mencoba optimis karena sudah ada bukti di beberapa
kota di Indonesia Sakura berhasil tumbuh dan mekar. Apalagi kemampuan sang adik
yang di dapat secara otodidak dalam merawat tanaman tak diragukan. Ia yakin, pohon
ini bakal tumbuh dan terawat, berharap berbunga.
Dua pohon sakura yang masih kecil itu ia
bawa sebagai oleh-oleh mudik lebaran tahun berikutnya. Sofie kegirangan sekali.
Pohon sakura memang sempat terpikir oleh Sofie bisa di tanam di perkarangan. Ia
sudah sempat menyiapi dana dari tabungannya untuk membeli bibit Sakura. Tapi, kepulangan
sang kakak dalam rangka lebaran dengan hadiah spesialnya memberikan kejutan
yang tak terkira.
“Ini pohon yang menghasilkan bunga yang
begitu anggun. Sangat dipuji di negara asalnya. Juga menjadi simbol keteguhan
dari negara yang sempat jatuh di perang dunia 2 lalu bangkit menjadi negara
maju dan dipuji. Seperti sakura yang beku di musim dingin lalu mekar di musim
semi. Mekarnya banyak di puja. Semoga Sofie juga seperti sakura.” pesan Ghazali
yang mencoba menjawab pertanyaan Sofie selama ini.
“Sofie janji akan merawatnya.” janjinya
penuh semangat.
Dua pohon sakura kecil itu yang awalnya
berada di pot langsung di pindah ke tanah oleh Sofie dan sang kakak. Lagi-lagi
secara otodidak, belajar ke sana kemari, mulai baca-baca buku dan di internet,
Sofie pelajari cara merawat Sakura. Ia ingin membuktikan kepada kakaknya bahwa
ia bisa membuat pohon hadiah spesial itu menghasilkan bunga. Seperti dalam
filosofi Sakura itu sendiri sebagai bunga yang memberikan kebahagiaan dan
keceriaan di kala mekar. Sofie juga ingin menjadi sosok yang memberikan
kebahagiaan dan keceriaan terkhusus kepada kakaknya dari kemampuan yang ia
miliki. Usaha menjadikan pohon sakura itu mekar, menjadi cita-cita Sofie.
Edukasi soal Sakura juga dilakukan
Ghazali dengan mengajak Sofie berkunjung ke Kebun Raya Cibodas Saat Sofie libur
sekolah. Kebun ini adalah sebuah taman konservasi yang dimiliki LIPI. Letaknya
berada di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Di kebun itu ada ratusan pohon Sakura
yang berhasil berkembang. Di kebun itu Sakura bisa mekar dua kali dalam setahun.
Sekali mekar lamanya ada satu minggu. Sofie banyak belajar mengenai Sakura.
Dari kebun itulah Sofie dapat mengetahui bahwa 2 pohon sakura miliknya termasuk
jenis Prunus cerasoides, yang bakal
berbunga merah muda dan Prunus yamasakura
yang akan berbunga putih. Pohon Sakura termasuk kelompok Prunus karena disebut juga sebagai jenis cherry blossoms yang bisa menghasilkan buah ceri setelah masa
berbunga.
Kesabaran
Sofie menanti berbunga akhirnya tercapai. Ternyata ia harus menunggu selama dua
tahun dengan ketinggian pohonya kurang lebih sudah mencapai 3 meter. Sofie
mengerti, mekarnya bunga ini tak begitu lama. Ia memaksa sang kakak agar segera
pulang untuk melihatnya.
Hanya
ada satu pohon saja yang bisa mekar, yaitu pohon yang masuk jenis Prunus yamasakura dengan bunganya yang berwarna putih. Jenis Prunus cerasoides terlihat juga akan
menghasilkan bunga namun masih berupa kuncup. Entah akan berhasil mekar atau
tidak Sofie tidak tahu. Berharap bunga dua pohon itu bisa mekar bersama.
Sofie
tak henti-hentinya memandangi Sakuranya. Sejak meminta kakaknya untuk pulang,
Sofie selalu memandang bunga itu dengan semangat. Menyaksikannya dengan
tertegun. Menikmati keindahan. Dari pagi sebelumnya hingga sore esoknya, Sofie
hampir tiap jam memandangi, menyentuh, dan beberapa ia petik untuk bisa
merasakan kelembutan sang kelopak bunganya sembari menanti kabar sang kakak
bisa pulang atau tidak. Tapi Sore itu benar-benar kejutan.
Di
saat Sofie sedang diam memandang pohon Jepang yang ia rawat itu, tiba-tiba ia
dikagetkan oleh sosok yang datang dari belakang. Sosok itu mendekap kepala Sofie
dengan ke dua tangan dan menutup matanya. Kepala Sofie yang berbalut jilbab
putih pun menjadi kusust. Dengan sigap, kedua tangan Sofie ikut meraih kedua
tangan asing yang menutup matanya. Meski
Sofie kaget, ia segera sadar bahwa sosok yang menutup matanya sangat ia kenal.
Kenal dari aromanya.
“Kakak..”
langsung ia sebut saja kata itu. Ghazali ternyata datang dengan diam-diam.
Dekapan tangannya Ghazali lepas, langsung saja dengan gemas pipi Sofie dicium
sambil mencubit pipi satunya. “Aaakkk, kakak... sakit.” erang Sofie.
“Biarin
saja sakit. Salah sendiri menggemaskan.”
“iiihhh...”
Sofie juga ikut membalas mencubit pipi kakaknya. “Kok gak bilang-bilang bisa
datang. Pakai diam-diam segala.”
“Biar kejutan aja.” candanya, “Ini kakak bawakan Takoyaki untuk buka nanti. Kita buka
sambil ber-Hanami di sini. Biar kayak
orang Jepang.” Kebetulan sore itu saat bulan Ramadhan di bulan September. Bulan
dimana Sakura mekar di daerah tropis seperti di Kebun Raya Cibodas. Hanami sendiri adalah kebiasaan piknik
warga Jepang dengan duduk bersantai di bawah pohon sakura saat bunganya mekar
sambil menyantap bento yang mereka
bawa.
“Wah
asiknya. Yuk ayuk.” Dengan segera Sofie menuruti ajakan kakaknya. Sayang, kedua
orang tua mereka sedang tidak ada karena menghadiri undangan pengajian dan buka
puasa di rumah atasan ayahnya. Jadi hanya mereka saja. Kebetulan juga, Ghazali
hanya bisa sehari pulang. Masih banyak aktivitas yang harus ia selesaikan di
kota tempat ia kuliah. Maklum aktivis. Waktu yang sempit itu benar-benar ia
sempatkan untuk menyenangi sang adik dan mendengar ocehan centilnya.
Di
bawah pohon Sakura jenis Prunus yamasakura
dengan beralaskan tikar mereka berbaring sambil menatap ke atas. Memandang
jelas ranting-ranting pohon yang penuh mahkota putih dengan sedikit dedaunan
hijau. Sinar matahari yang sudah condong ke barat tak mengganggu pandangan
mereka. Tapi sinar sorenya membuat pantulan warna bunga-bunga di sekitar
perkarangan rumah mereka cantik berseri. “Meski cahaya matahari sudah
berkurang, pantulan warna kelopaknya tetap bersahaja ya kak. Sangat sederhana. Bunganya
kecil, mungil, lembut dipegang. Terasa damai dan sejuk jika dilihat.
Benar-benar anggun bunganya.” Komentar Sofie dalam perbincangan mereka. Sofie
juga banyak bercerita usahanya merawat pohon itu.
“Sama
seperti Sofie, bersahaja, sejuk, damai di pandang. Anggun, dan menggemaskan.”
balas sang kakak menyanjung sambil mencubit pipinya lagi dengan gemas
“Ihh
kakak. Tumben-tumben ngomong gitu.” ucapnya ke Ge’er-an (baca: gede rasa)
dengan menampakkan lesung pipinya yang manis.
“Tapi
Sofie lebih cocok diibaratkan seperti Sakura dari pada bunga mawar yang dulu.”
Lanjut Ghazali lagi, “Kalau lagi mekar sangat indah. Kehadirannya dirindukan
bayak orang. Sangat cocok menginspirasi semangat dan bangkit.”
“Kakak
ini bisa aja buat-buat begitu. Tapi yang jadi masalah buat Sofie, umur bunganya
hanya sebentar. Hanya bisa dinikmati sesaat.”
“Nah
itu. Itulah hidup. Tak ada yang abadi. Kita hanya sementara di sini. Lalu,
bagaimana dengan kehadiran kita yang sementara membuat orang takjub dan sangat
bahagia melihatnya.”
“Tapi,
apa Sofie hanya memberikan manfaat dengan hanya indah dipandang? Gak enak kan
kalau Sofie disukai karena hanya indah dipandang saja. Sofie juga maunya jadi
orang yang lebih bermanfaat dari pada sekedar indah dipandang.” ucapan Sofie
ini sebenarnya bukan hanya kebetulan. Sebelumnya Sofie pernah memikirkan soal
ini. Kalau Sakura dijadikan filosofi hidupnya maka, keindahan itu akan muncul
sesaat, lalu berguguran, dan digantikan keindahan yang lain.
Ghazali
mencoba berpikir dan memahami maksud adiknya. Nampak, sang adik lebih memahami
filosofi sebuah bunga. Ia telah melihat, bahwa kini pikiran Sofie sudah lebih
dewasa. Menanam bunga memang hobi. Tapi, hobi ataupun pekerjaan apapun, bisa
jadi menyenangkan jika kita mengetahui makna dan nilai dibaliknya. Sofie,
nampak berhasil memaknai nilai-nilai bagaimana alam bekerja dalam perwujudan
bunga-bunga yang ia pelihara. Sofie ingin, hobi menanam bunga buan sekedar
menanam, tapi memetik nilai dari apa yang ia tanam. “Semua ciptaan Allah pasti
ada kekurangannya Sofie. Bunga-bunga yang Allah ciptakan pasti ada manfaat,
juga ada kerugian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Begitu juga kita sebagai
manusia.” Jelas Ghazali mencoba
“Tapi
ada-loh kak, pohon yang lebih baik dari Sakura? Pohon yang tak pernah
menggugurkan bunga atau daunnya.” Sofie bangun dari pembaringannya. Ia ingin
serius membicarakan ini ke kakaknya dengan menatap langsung.
“Yang
lebih bagus emang banyak. Malah, bagi kakak pohon mangga lebih bagus. Karena
ada buahnya, enak di makan. Hahaha.” candanya sambil berkelakar.
“Iihh
bukan gitu. Maksud Sofie ada pohon yang sering di puji Allah dalam Al Qur’an, loh
kak.”
“Hmm,
iya pernah dengar. Pohon apa itu?
Zaitun? Anggur”
“Bukan.
Ayo tebak-tebak.”
“Apa?
Pohon Khuldi yang buahnya di makan Nabi Adam?” Ghazali coba menebak-nbak iseng.
“Bukan!!
Pohonnya yang buahnya manis, sering kakak makan. Biasanya banyak di jual saat
bulan ramadhan.” Sofie coba membuka kata kunci itu.
“oohh..
kurma.”
“Iya
kurma. Pohon itukan sering disebutkan di dalam Al Qur’an. Ketahuan ya, kakak ga
pernah baca Qur’an.”
“Hehehe,
pintar juga adikku ini. Bener-bener adik yang solehah. Iya kakak, memang jarang
buka terjemahan Qur’an.” pujinya. Ghazali baru sadar jika kurma sering di sebut
di kitab suci itu. “Sofie tertarik dengan pohon kurma?”
“Jadi
gini kak. Sofie ingat salah satu ayat Al Qur’an kalau tidak salah Surat Ibrahim
ayat 25 yang kira-kira artinya; Allah membuat perumpamaan kalimat baik seperti
pohon yang baik. Pohon yang memberikan buahnya setiap musim.”
“Pohon yang baik kenapa bisa diartikan pohon kurma?”
Ghazali bingung.
“Kata ustadzah Sofie begitu. Para ulama
menyimpulkanya, pohon yang baik adalah pohon kurma. Di Al Qur’an dan di
hadist-hadist Nabi banyak menyebutkan pohon kurma dengan beragam keunggulannya.”
“Jadi, Sofie mau menanam pohon kurma nih ceritanya.
Mau berubah idola lagi dari sakura ke kurma?”
“Kalau kakak mau ngasih pohon kurma, Sofie siap
merawat.” Sofie agak sedikit ragu menjawab pertanyaan Ghazali dengan tegas. Ia
cukup menjawab secara diplomatis dengan senyuman yang penuh harap.
“Yah, bilang saja mau minta dibelikan. Hahaha.” Ucap
Ghazali sambil tertawa
“Iya kak. Beli kan ya?” pinta Sofie sambil nyengir.
“Permasalahannya, emang cukup di tanam di perkarangan
ini? Bunga-bungan Sofie sudah banyak memenuhi tempat. Pohon kurma butuh lahan
yang luas karena jika sudah dewasa ukurannya besar.”
“Itu urusan mudah kak. Bisa di atur. Biar semua
koleksi tanaman Sofie lengkap. Yang penting Sofie bisa punya tanaman yang
banyak di sebut Al Qur’an.” jelas Sofie.
Obrolan ber-Hamani
sore itu tak disangka Ghazali memberikan inspirasi baru dalam berfilosofi
tanaman. Tampak ada yang tidak puas pada diri Sofie meski di saat-saat Sakura
sedang mekarnya. Adiknya yang kini lebih intensif mendalami Agama, seperti
mengajak Ghazali untuk menemukan nilai filosofis sebuah tanaman yang memiliki
makna spesial di dalam agama. Obsesi baru Sofie itu menjadi pikiran Ghazali.
Tiba-tiba terbesit dalam dirinya untuk mengetahui lebih jauh tentang kurma. Ia
baru mengerti dari Sofie jika kurma itu sering di sebut di dalam Al Qur’an, yaitu
kitab yang menjadi pegangan kuat tradisi keluarga besarnya. Ia memang meyakini
agama ini dengan kuat. Tilawahnnya juga rajin. Namun, untuk memaknai isi
kandungannya Ghazali termasuk jarang. Didikan agamanya masih karena lingkungan keluarga,
belum sampai pada tahap berilmu dan kesadaran diri.
Setelai berbuka puasa sambil ber-Hanami di pekarangan rumahnya, ada satu pertanyaan lagi yang ingin
Ghazali ajukan ke Sofie, “Pohon kurma itu sepengetahuan kakak mirip seperti
pohon palm ya. Dari bentuknya seperti tak menarik di lihat. Juga tak memiliki
bunga yang cantik.”
“Meski terlihat tak menarik, tapi bisa menghasilkan
buah yang sangat di anjurkan Nabi Muhammad untuk makanan pertama berbuka. Lagi
pula manfaat kurma lebih banyak untuk kesehatan. Coba kakak pelajari
manfaatnya. Banyak kok penjelasaanya di internet.” Jelas Sofie yang tampak
sudah lebih tahu. “Berbeda seperti Sakura, kak. Mending mana, indah di lihat
tapi tak menghasilkan buah yang nikmat dan sehat, atau tak menarik dilihat tapi
gak ada musim gugur, selalu berbuah sepanjang musim, dan buahnya bermanfaat?”
“Mending, pohon yang indah dipandang, tak pernah
gugur, dan juga menghasilkan buah yang sehat, bermanfaat.” Lirih kakaknya.
“Yang seperti itu hanya ada di surga kali kakaak...”
Balas Sofie dengan senyum cemberut yang cukup imut sehingga menggoda Ghazali
mencubit pipinya lagi.
“Kakai nih, cubitin pipi Sofie terus. Ntar tembem.”
“Biarin aja, salah sendiri lucu.”
***
Lebaran tiba, Ghazali kembali pulang ke rumah. Memang
benar kata Sofie, saat lebaran itu bunga-bunga sakura sudah mulai berguguran.
Sakura yang berjenis Prunus
cerasoides justru tidak berhasil memekarkan bunganya.
Bisa jadi faktor suhu yang tidak mendukung, sebab jenis ini memang bukan
berasal dari Jepang, namun dari Pegunungan Himalaya. Hanya jenis Prunus yamasakura saja yang berhasil
memamerkan kelopak putihnya yang cantik. Tapi kini kelopak putih itu
berjatuhan. Akan digantikan dedaunan hijau yang akan menutup ranting-ranting
mungil. Biasanya, ketika masuk fase ini, buah ceri akan tumbuh. Tapi sayang,
buah ceri yang dihasilkan pohon sakura Jepang tidak bisa dikonsumsi karena tak
memilki rasa. Berbeda dengan ceri dari eropa yang biasa dikonsumsi, jenis yang
berbeda dari Skaura tentunya.
Sakura
adalah pohon musim. Ia hanya memberikan kesan dan kesenangan pada musim-musim
tertentu. Pada umumnya, hampir setiap tumbuhan yang menghasilkan buah, hanya
berbuah pada musim-musim tertentu. Kalaupun bisa berbuah di setiap musim,
biasanya karena hasil rekayasa teknologi pertanian saat ini. Penjelasan Sofie
yang ia kutip dari Al Quran yang tertulis “Pohon yang memberikan buahnya setiap
musim” menarik perhatian Ghazali untuk dipelajari dan dimiliki.
Semangat menanam pohon kurma tak hanya milik Sofie,
kakaknya jadi ikut-ikutan bersemangat. Apalagi setelah Ghazali membuka sebuah
artikel di internet yang menuliskan hadits tentang pohon Iman. Pohon yang bisa
menjadi perumpamaan seorang mukmin. Ia ingin mempelajari karakter seorang
mukmin dengan mencoba merasakan langsung menanam pohon kurma.
Agenda selama mudik lebaran kini, Ghazali manfaatkan
bersama Sofie mempelajari dan mencari bibit pohon kurma. Kakak adik itu begitu
kompak dalam mencari tahu tentang budidaya pohon kurma. Mereka sempat pesimis
ketika hasil hitung-hitungan mereka akan menghabiskan biaya yang cukup mahal.
Maklum, mereka ingin memiliki pohon kurma jenis ajwa yang terkenal sebagai
kurma Nabi. Tanaman asli dari Madinah ini memang memiliki harga bibit yang
mahal di banding jenis-jenis yang lain. Rasa pesimis mereka soal biaya terobati
setelah sang ayah siap membantu membiayai rencana mereka. Itu juga berkat lobi
sang ibu yang selalu mendukung apa saja yang diinginkan Sofie.
Teknologi internet mempermudah mereka bertemu dengan
penjual bibit pohon kurma di kotanya. Setelah kakak adik itu berembuk panjang,
mereka sepakat membeli 5 bibit pohon, yaitu yang masih berupa bibit berumur 2-4
bulan berjumlah dua buah. Tiga berikutnya mereka beli yang sudah menjadi pohon hasil
dari stek dengan ukuran setinggi 2 meter. Semuanya itu menghabiskan biaya
jutaan.
Yang menjadi masalah, ketika masih berumur itu, belum
bisa membedakan pohon jantan dan betina. Kelamin pohon kurma bisa dilihat
setelah tumbuh tunas. Sedangkan tunas sendiri bisa muncul pada umur 4 – 5
tahun. Untuk bisa menghasilkan pembuahannya sendiri di perlukan tunas jantan
yang diserbukan ke betina. Biasanya proses penyerbukan cukup dibantu oleh
angin. Kalau petani kurma, penyerbukan biasa dilakukan secara manual. Alasan
inilah yang membuat mereka membeli pohon ini lebih dari satu. Agar salah satu
pohon yang mereka beli menghasilkan tunas jantan dan yang lainnya betina.
Kalau saat menanam pohon Sakura sebelumnya target
mereka adalah mekarnya bunga, maka pada pohon kurma target mereka bisa berbuah
dan dikonsumsi. Meski, harus menunggu 5-7 tahun lagi. “Sofie siap merawat dan
membesarkannya. Biarkan hidup Sofie menjadi tukang kebun.” ucap Sofie yang
sangat bersemangat dengan tanaman barunya ini.
Pohon kurma itu mereka tanam di pekarangan mereka.
Beruntung, lahan warisan kakeknya hanya dimanfaatkan seperempatnya saja untuk
rumah. Sisanya sudah sejak lama dijadikan tanaman sayur. Sejak ibu Sofie
menikah dengan ayahnya dan tinggal di tempat itu, sebagian lahan diubah menjadi
kebun bunga. Hobi yang kini diturunkan ke Sofie.
Sebenarnya, ibu Sofie adalah wanita yang lulus kuliah
dari jurusan filsafat. Berbeda dari ayahnya lulusan teknik mesin. Seperti dua
karekter yang bertolak belakang. Sosok ibulah yang mempengaruhi karakter Sofie.
Itu juga bisa dilihat dari nama Sofie yang berasal dari bahasa latin atau Yunani
yang artinya kebijaksanaan. Orang Yunani menganggap, para filosof adalah
orang-orang yang bijaksana, karena mereka adalah orang-orang yang mengerti
hakikat. Jadi, hobi menanam bunga senang mereka padukan dengan filosofinya.
***
Setelah pohon itu sampai di pekarangan rumah, Sofie
dan Ghazali langsung menanam ke tanah langsung yang sebelumnya masih berada di
pot pelastik. Usaha menanam langsung itu membutuhkan waktu yang lama. Mereka
juga harus membuat adonan tanah humus yang juga dibelinya dengan harga yang
lumayan mahal.
Ayah dan ibu akhirnya juga terlibat membantu. Seharian
itu mereka bekerja bersama menanam 3 pohon kurma yang setinggi 2 meter. Mereka
harus menyediakan jarak sampai 2 meter antara tiap pohon. Karena lahan yang
terbatas, ada sebagian bunga yang dikorbankan dipindah atau dibuang. Tanaman
kurma bukan lagi proyek Sofie atau ibu saja, tapi sudah menjadi proyek
keluarga. Sang ayah yang tak pernah ikut-ikutan mengurus bunga karena sangat sibuk
dengan pekerjaannya kini ikut terlibat. Sofie berhasil memberikan pengaruh ke
keluarganya. Ayah, Ghazali, Sofie dan ibu secara bersama mencangkul, mengaduk
tanah dengan pupuk, dan mengangkat pohon secara bersama untuk ditempatkan di
lubangnya..
Kebetulan pas hari libur dan masih masa-masa libur
lebaran. Mereka semua bekerja sambil berkotor-kotor ria, tertawa penuh canda,
bergotong royong mencangkul dan mengangkut tanaman. Pakaian Ghazali dan Sofie
penuh dengan kotoran pasir. Kotoran itu bukan karena aktivitas menanam itu
saja, tetapi mereka yang banyak bercanda dengan kejar-kejaran, siram-siraman
air, dan lempar-lemparan tanah. Sofie bahagia sekali hari itu. Baru kali ini
Sofie menyaksikan hari kebun keluarga. Kehadiran pohon ‘harapan’-nya membuat
satu keluarga bersatu, beramai-ramai menanam sebagai pohon cita-cita keluarga.
Semua ini akan menjadi kenangan yang tak akan bisa dilupakan.
“Keren ya kak rumah kita. Ada pohon Jepang, ada pohon
Arab.” ucap Sofie sambil memandang 3 pohon kurma ketika sudah selesai menanam.
“Yah, itu semua karena obsesi Sofie. Kalau bukan
karena Sofie, gak mungkin kita bisa berkebun sekeluarga seperti ini.” Sofie
hanya tersenyum mendengar ucapan kakaknya ini. “Seindah Sakura, semanis kurma,
itulah adikku.” Lanjutnya.
“Kakak ini, gatok-gatok-in aja.” ucapnya yang
ditanggapi kelakaran sang kakak.
Ayah dan ibu sudah kembali ke dalam rumah untuk
membersihkan diri. Sofie dan Ghazali masih duduk-duduk beristirahat di bawah
pohon sakura sambil memandang 3 pohon kurmanya. Sedangkan 2 pohon kurma yang
masih kecil mereka letakan di tempat tersendiri. Jika umurnya sudah 2 tahu baru
akan di tanam di tanah.
“Kak,” panggil Sofie seperti ingin mengatakan sesuatu.
“sudah punya penjelasan filosofi tentang pohon kurma?”
“Belum. Kakak masih belum sempat mengenali kurma.
Habisnya mendadak sih. Setau kakak dari
tukang bibit tadi, pohon kurma termasuk tanaman yang gak rewel, cukup mudah di
rawatnya. Kalau sudah besar, rimbunan daunnya bisa meneduhkan orang yang berada
di bawahnya. Dedaunan pohon itu bisa menyerap panasnya sinar matahari. Pantas
saja, di negeri gurun sana, para musafir kalau istirahat di bawah pohon kurma.
Baru itu yang kakak tau. Kira-kira bisa Sofie maknai apa dari pohon itu?”
“Artinya, kita bisa seperti pohon kurma, yang hidupnya
tidak rewel dan meneduhkan bagi orang disekitarnya.” Jelas Sofie. “Tapi, tidak
hanya itu saja. Yang harus kakak tau, pohon kurma itu mendapat julukan pohon
iman. Dialah pohon yang bisa menjadi perumpamaan seorang muslim.” Kemudian
Sofie diam lama. Ia menatap ke tiga pohon itu dengan takjub.
“Terus, gimana penjelasan pohon iman itu.” tanya sang
kakak tidak sabar.
“Sebentar ya, kak.” Tiba-tiba Sofie beranjak ke dalam
rumah. Tak lama, sofie keluar lagi dengan membawa sebuah kota kayu. “Sofie gak
mau jelasin sekarang. Penjelasannya ada di surat Sofie yang ada di dalam kotak
ini. Kakak baru boleh baca tiga tahun lagi setelah pohon ini menghasilkan
buahnya.”
“ Tiga tahun lagi? Lama banget.” Ghazali heran dengan
rencana Sofie. Sofie pun mengambil cangkul dan mencangkul tanah di antara pohon
kurma itu.
“Biar seru saja kak.” ucap Sofie sambil memberi senyum
ke kakaknya. Ia masih terus melanjutkan mencangkul kemudian menaruh kotak itu
ke dalamnya lalu menimbunnya dengan pasir yang dicangkul tadi.
“Kalau nanti lupa gimana?” tanya Ghazali yang hanya
memperhatikan Sofie menanam kotak itu. Lalu Sofie beranjak mengambil batu-batu
kerikil sebagai tanda.
“Gak boleh lupa.” Tegas Sofie. Ia pun selesai menanam
kotak itu. Lalu kembari beranjak menuju kakaknya. “Sofie mau ceritakan ke kakak
tiga tahun lagi aja. Kalau diceritakan sekarang pasti nanti kakak lupa dan
tidak berkesan. Kalau tiga tahun lagi, kakak akan bisa mengingat kenangan ini.
Lagi pula, ini pohon masa depan.”
“Kenapa kok di sebut pohon masa depan?”
“Kalau semua tanaman mati karena suhu bumi yang
semakin panas akibat global warming,
pohon kurma-lah yang tersisa. Ia mampu bertahan di tempat yang panas dan
dingin. Makanya disebut pohon masa depan. Pohon ini akan menjadi masa depan
kita kak. Biarkan apa yang ingin Sofie sampaikan ditunda dulu. Jadi rahasia
Sofie dulu. Boleh kakak ketahui kalau pohon ini sudah besar dan berbuah. Kakak akan
merasakan manfaatnya.”
“Oke deh kalau itu maunya Sofie. Kakak nurut saja.
Bener-bener adik yang kreatif dan imut.” kata Ghazali yang diteruskan dengan
mencubit pipi Sofie karena gemasnya.
“Mmmmhhh.. kakak, nanti pipi Sofie kotor. Tangan kakak
belum dicuci.” Ucap Sofie dengan nada manjanya.
Entah kenapa tiba-tiba air mata Sofie menetes.
“Kenapa Sofie? Kok menangis?” tanya kakaknya bingung.
Dengan jemarinya yang masih menempel di pipi mengusap lembut air mata Sofie.
Lalu, Sofie sambil sesenggukan, memeluk sang kakak dan merebahkan kepalanya di
dada Ghozali.
“Sofie hanya terharu saja. Sofie senang sekali kak.
Punya kakak yang baik dan orang tua yang perhatian. Gak semua anak perempuan
bisa seperti Sofie. Bisa berkebun bersama seperti ini.” ucap Sofie sambil
memeluk erat kakaknya dengan penuh sayang.
“Iya, kan Sofie anak perempuan yang seindah pohon
sakura dan seteduh pohon kurma.” Balas Ghozali memujinya lagi.
“Janji ya kak, tiga tahun lagi kakak harus membongkar
kotak itu dan membaca suratnya di bawah pohon ini.” ucap Sofie sambil melepas
pelukan lalu menunjukkan jari kelingkingnya sebagai kode ‘janji’.
“Insya Allah, semoga Allah tidak membuat kakak lupa.
Nanti kalau sudah besar dan berbuah kita akan ber-hanami di sini.” ucap Ghazali sambil menyambut kelingking Sofie
dengan kelingkingnya.
***
Libur lebaran usai, Ghazali kembali ke Jogja tempat ia
kuliah. Seminggu dua kali, Sofie menyirami Pohon Kurmanya. Hampir setiap sore,
waktunya di habiskan merawat bunga-bunga. Kadang, ia hanya duduk diam,
termenung, memandangi pohon kurmanya. Entah apa yang ada dipikirannya. Ia hanya
memandang, mungkin takjub, atau pikirannya hanya kosong. Sesekali, sang kakak
menghubungi untuk menanyakan kabar pohon kurma tersebut.
Setelah 9 bulan merawat pohon Kurma itu, ada yang aneh
dalam diri Sofie. Tiba-tiba ia sering merasa lelah. Beberapa kali ia mengalami
mimisan. Wajahnya sering pucat. Kepala pusing. Tubuh tak seimbang. Sering
berkeringat tidak jelas. Tapi, ia selalu menyembunyikan apa yang ia rasakan
dari orang tuanya. Ia tak ingin orang tunya khawatir apa yang terjadi pada
Sofie. Ia selalu berusaha menahan diri atas gejala sakit yang sering hinggap
pada dirinya akhir-akhir itu. “Cuma lelah saja, yah/bu.” ucapnya menjawab
ketika selalu ditanya.
Gejala sakitnya mulai dikhawatirkan orang tuanya setelah
tiba-tiba Sofie terjatuh mendadak karena mengalami kondisi tubuh yang tidak seimbang.
Wajahnya begitu pucat. Orang tuanya lalu membawanya ke rumah sakit. Setelah
beberapa kali berobat, dokter akhirnya menyatakan bahwa Sofie positif terkena
kanker darah atau disebut juga leukimia.
Penyakit yang juga belum jelas penyebabnya dari mana.
Lebih dari sebulan lamanya Sofie menjalani rawat inap.
Ia harus menjalani kemotrapi. Tapi nampaknya belum menunjukkan kesembuhan.
Justru semakin tambah parah. Atas saran dokter perusahaan sang ayah, Sofie di
bawa saja ke Rumah Sakit di Jakarta agar bisa dilakukan pengobatan yang lebih ‘high’,
yaitu transplantasi. Saran itu dituruti. Semua biaya pengobatan ditanggung oleh
pihak perusahaan ayah.
Semenjak Sofie di rawat, Ghazali sudah tidak bisa
konsentrasi kuliah dan aktivitas kemahasiswaanya. Ia sering pulang mengunjungi
Sofie. Ketika di bawa ke Jakarta, Ghazali-lah yang selalu menemaninya di rumah
sakit. Agar sang ayah bisa konsentrasi bekerja. Ibu pun juga sering
bolak-balik Jakarta-Malang. Kuliah pun ia tinggalkan demi menemani sang adik.
Sering Ghazali menangis melihat adiknya. Ia menangis
karena tak tega melihat adiknya yang sering kesakitan. Ia terus berdoa untuk
meminta yang terbaik buat adiknya. Setiap dalam keadaan sadar, Sofie selalu
mengaji atau meminta kakanya mengaji lalu ia mendengarkan. Kadang, Sofie
mengulang-ulang hafalan Qur’annya. Penyakit Sofie memang benar-benar akut.
Cepat sekali datangnya. Usaha transplantasi belum membuahkan hasil. Sampai
dibulan ke empat penyakitnya, Sofie mengalami koma. Dokter nampak hanya
berharap pada keajaiban. Tapi tetap, terus berusaha memberikan pengobatan
terbaik buat Sofie.
“Sofie, ayo sembuh donk.” ucap Ghazali mendekap tangan
Sofie yang hawanya panas sekali. “ Sofie jangan sakit terus. Kakak rindu
bermain bersama Sofie. Kakak rindu menanam pohon bersama Sofie. Kita masih
punya pohon kurma yang harus dirawat.” Ghazali pun tak bisa menahan tangisnya.
Lama ia mencium kening adiknya sambil mengusap kepalanya yang gundul karena rambutnya
rontok akibat kemotrapi. Ghazali sangat berharap Sofie bisa bangun kembali dari
koma.
Tiba-tiba Ghazali teringat sesaat setelah selesai
menanam pohon kurma tempo hari. Sofie tiba-tiba menangis waktu itu. Mungkinkah
itu pelukan terakhirnya? Apakah itu sebuah tanda dari Sofie yang umurnya sudah
tidak lama lagi? Tapi Ghazali tak mau berpikir buruk. Ia terus berdoa. Ia terus
berharap bahwa Sofie pasti akan sembuh. Ia berusaha yakin bahwa anak sebaik
Sofie pasti akan di tolong Allah dari penderitaanya. Allah pasti akan
menyembuhkan.
“Sakura hidupnya kakak. Jangan tinggali kakak ya.
Kakak sayang sama Sofie.” ucap Ghazali lagi dengan suara sesegukan tangis.
Allah-lah pemilik takdir itu. Allah selalu memberikan
pilihan yang terbaik buat umatnya yang taat. Allah lebih memilih mengambil
nyawa Sofie yang masih sangat muda. Sehari setelah bisikan Ghazali, Sofie
menghembuskan nafas terakhirnya. Ghazali hanya pasrah. Ia berusaha tegar. Ia
berusaha ikhlas atas kehendak Allah yang telah mengambil adi terbaik dan
satu-satunya. Jenazah Sofie dibawa pulang ke kota asal. Ia dikuburkan di
pemakaman dekat rumah.
Setelah proses pemakaman, Ghazali teringat akan surat
itu. Tapi ia tak mau langsung membukanya. Ia ingin menepati janji sang adik
yang akan membacanya tiga tahun dari awal menanam.
Suasana di keluarga mereka menjadi sepi. Tak ada lagi
keriuhan ocehan Sofie. Tak ada lagi keributan di halaman rumah ketika Sofie
sibuk berkebun. Semuanya seperti hampa. Sang ibu beberapa kali menangis jika
mengingat Sofie. Sudah tak ada lagi yang merawat kebun. Ibu pun sudah kehilangan
semangat merawat kebun. Setiap mencoba berkebun selalu teringat Sofie.
Ghazali tetap fokus melanjutkan kuliahnya. Setahun
setelah meninggalnya Sofie, ia lulus menjadi seorang sarjana. Lebih tepatnya
sarjana tehnik dari jurusan arsitektur. Tapi ia tak langsung pulang. Empat
bulan setelah lulus, ia diterima beasiswa melanjutkan studi arsiteknya di
negeri Jerman.
Agar bisa melupakan kenangan Sofie dengan kebunnya,
ayah dan ibu menerima tawaran kantor untuk dimutasi ke Jakarta. Mutasi ini juga
bukan karena permintaan ayah, tapi murni dari prestasi kerja yang membawanya ke
jabatan yang lebih tinggi di kantor pusat. Enam bulan kemudian, Ayah dan ibu
resmi pindah ke Jakarta dan menetap di sana sementara. Ghazali pun, jika pulang
juga mesti ke Jakarta. Rumah mereka sementara di titipkan ke adiknya ayah.
Tepat tiga tahun dari waktu yang diminta Sofie untuk
membaca suratnya, ternyata dilupakan Ghazali. Posisi Ghazali sedang berada di
Jerman. Ia begitu sibuk sekali dengan kuliahnya. Mungkin karena terlalu fokus
mengejar target lulus. Surat itu akhirnya ia ingat setelah mendapat oleh-oleh
buah kurma dari tetangga apartemennya di Jerman yang berasal dari Turki. Saat
itu ia tiba-tiba sadar dan teringat. Ia sudah melewati setahun dari yang
dijanjikan.
Berkat rezeki Allah, kesempatan pulang itu ia dapatkan
beberapa hari setelah teringat. Ia memang berusaha mencari cara untuk bisa
pulang setelah teringat surat itu. Sudah dua tahun ia tidak pulang. Beruntung,
sang dosen pembimbing atas tugas tesisnya mengizinkan pulang sementara. Biaya
pun di tanggung oleh ayahnya. Seminggu kemudian ia dapat terbang ke Indonesia.
Hanya sehari singgah di rumah orang tuanya di Jakarta, ia langsung menuju ke
rumah asalnya, Kota Malang.
***
Rumahnya tidak berubah. Perkarangannya juga masih
seperti dulu. Padahal sudah empat tahun ia tinggalkan. Bunga-bunganya Sofie
juga masih terawat. Pikirnya, mungkin sengaja masih dipelihara oleh sang paman.
Perlahan ia masuk ke pekarangan rumahnya yang terlihat
begitu sepi. Rumah pun terlihat tertutup rapi. Ia tak tahu apa sang paman ada
di dalam atau di luar. Tapi kedatangannya sore itu sungguh benar-benar tanpa
sepengetahuan paman.
Yang berubah hanyalah tiga pohon kurma itu.
Pohon-pohon itu kini semakin tinggi. Batangnya semakin kekar dan besar. Daunnya
juga semakin rimbun. Tapi, ada yang membuat Ghazali tersenyum, buahnya terlihat
muncul berwarna kekuning-kuningan. Tidak hanya pohon kurma saja, beberapa meter
dari pohon itu ia melihat pohon sakura Sofie ternyata sedang mekar. Dua pohon sakura
itu akhirnya mekar bersamaan. Beberapa bunganya pun berguguran ketika angin
datang menerpa. Sungguh indah pemandangannya. Ini seperti benar-benar
ditakdirkan. Ia datang ke rumahnya ini seperti sudah ada yang mengatur dengan
baik. Ah, ia benar-benar merindukan Sofie. Air matanya tiba-tiba meleleh. Tempat
ini penuh kenangan.
Di suasana yang anggun dan sepi sore itu, ia langsung
mencari tanah yang menguburkan kotak surat yang di tanam Sofie waktu itu. Tanda
batu-batu yang disusun Sofie masih ada. Langsung ia cangkul tanahnya. Tidak
perlu waktu yang lama, kota kayu itu segera diraih. Dengan cepat pula ia buka
dan menemukan dua lembar kertas beserta foto Sofie dengan Ghazali dengan latar
belakang perkarangan rumah itu. Cukup lama ia memandang foto itu. Air matanya
kembali meleleh.
Ghazali lalu duduk bersadar pada batang pohon kurma.
Perlahan, ia mulai membacanya.
Assalamu’alaikum Kakak,
Terimakasih sudah mau membaca surat ini. Terimakasih sudah menjadi kakak Sofie yang sangat baik. Yang selalu mendukung Sofie. Yang selalu membantu Sofie.
Terimakasih atas hadia-hadiah tanaman-tanaman dari kakak. Sofie sayang sekali
sama kakak.
Baru baca di pembukaannya, air matanya meleleh lebih deras. Ia hentikan sejenak untuk mengelap pipinya yang basah. Ia benar-benar tak kuat menahan haru. Ia lajutkan lagi membacanya.
Di surat ini Sofie ingin menepati janji akan menjelaskan filosofi pohon
kurma. Saat penantian mekarnya bunga pohon sakura waktu itu, Sofie mendapatkan
pengetahuan baru tentang pohon yang lebih baik dari pohon-pohon lainnya yang
Sofie tanam selama ini. Sebenarnya penjelasan ini bukan murni dari Sofie, tapi
Sofie dapat dari ustadzah Sofie saat pengajian di sekolah. Ustadzah Sofie menjelaskan
tentang pohon iman yang diperumpamakan dengan pohon kurma.
Sofie minta maaf kalau waktu itu memaksa kakak untuk pulang melihat bunga
sakura mekar. Sebenarnya paksaan Sofie waktu itu bukan hanya karena sakura
saja, tapi tidak sabarnya Sofie ingin menceritakan pohon kurma ini. Untungnya
Sofie punya kakak yang baik. Dalam waktu dua minggu saja kita sudah punya pohon
kurma.
Lagi-lagi ia menangis mengingat kenangan masa itu.
Beberapa kali pipinya diseka. Suara angin yang merdu dengan bunga-bunga sakura
yang berjatuhan tak ia rasakan lagi. Ia kembali fokus.
Kakak ingat waktu Sofie menunjukkan ayat Al Qur’an tentang pohon yang baik?
Sofie tulis lagi ya ayatnya,
‘Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat
yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke
langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu
ingat.’ (QS. Ibrahim 24-25)
Seperti kata Ustadzah Sofie, ayat tersebut ditafsiri oleh para ulama
sebagai pohon kurma.
Para ulama menafsirkan dengan menjelaskan hadist ini:
Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon
yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah
kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi.
Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma,
namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah
beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon
kurma.” Hadits ini diriwayatkan oleh imam Bukhari
Kemudian, ustadzah Sofie menjelaskan dengan detail perumpamaan pohon kurma
bagi seorang muslim. Penjelasan itu Sofie catat. Ini hasil catatannya.
Pertama, Pohon kurma memiliki akar yang kokoh. Sederas apapun angin
menerjang, pohon kurma tetap kokoh. Orang Islam bisa diumpamakan dengan pohon.
Akar adalah tauhidnya. Semakin kuat tauhidnya, semakin kuat juga menghadapi
ujian iman.
Kedua, agar pohon kurma dapat tumbuh, harus di rawat dan di siram. Maka, manusia
pun agar bisa tumbuh harus mendapat perawatan dan sirawan, yaitu perawatan
agama seperti terus mempelajari agama, dan siramannya adalah membaca Al Qur’an.
Ketiga, Pohon kurma tidak dapat tumbuh di sembarang tanah. Hanya tanah yang
cocok saja yang dapat tumbuh. Begitu juga iman, hanya bisa tumbuh di hati
manusia yang telah diberi hidayah oleh Allah. Bukalah hati kita agar ada
hidayah Allah, sehingga iman mudah tumbuh.
Keempat, buah pohon kurma dapat dimakan setiap waktu. Seperti Surat Ibrahim
di atas, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.
Jika pohon kurma menghasilkan buah, maka manusia menghasilkan amalan. Jadilah
manusia yang terus menghasilkan amalan disetiap waktu.
Kelima, pohon kurma memiliki daun yang tidak gugur. Jadilah seorang muslim
yang tidak mudah gugur. Selalu bersemangat menghadapi hidup yang penuh ujian.
Dengan daun yang tidak mudah gugur, maka pohon akan terus hidup menghasilkan
buah. Sama hal dengan manusia. Jika kita mudah gugur, akan sulit menghasilkan
amalan.
Keenam, Pohon kurma disifatkan dengan sabda Rasulullah, ‘Sesungguhnya
permisalan mukmin seperti pohon kurma. Tidaklah kamu mengambil sesuatu darinya,
niscaya bermanfaat bagimu.’ (H.r. Ath Thabrani). Maka, pohon kurma seluruh
bagiannya bermanfaat. Seorang muslim juga harus bermanfaat bagi orang
disekitarnya. Seorang muslim harus menunjukkan akhlak yang mulia, budi pekerti
yang luhur, memberikan kebaikan dan tidak mengganggu mereka. Meskipun gagal
berbuah, pohon kurma juga tetap bisa memberikan manfaat dari dedaunannya,
batangnya, serabutnya. Bahkan, di padang pasir pohon ini bisa dijadikan tempat
berteduh karena daunnya yang mampu menyerap panas sinar matahari. Seorang
muslim harus memiliki segala manfaat meski gagal dari usaha yang lain.
Ketujuh, pohon kurma adalah pohon yang paling sabar menghadapi terjangan
angin. Pohon yang mampu bertahan dari cuaca yang sangat panas. Mampu bertahan
dari kekeringan air. Begitu juga seorang muslim harus mampu bertahan dari segala
ujian yang didapatkan.
Kedelapan, pohon kurma semakin tua semakin baik kualitasnya. Seperti
seorang muslim yang seharusnya semakin berkualitas agamanya jika semakin tua.
Kesembilan, yang terpenting dari pohon kurma adalah buahnya yang begitu
besar manfaatnya. Buah kurma dapat menjadi makanan pokok, memberikan energi
karena kandungan gulanya, dan bisa menjadi obat. Buah dapat diibaratkan amal.
Kualitas seorang muslim dapat dilihat dari amalnya. Jadilah seorang muslim yang
menghasilkan amal. Dengan amal, manfaat bagi lingkungan sekitar akan terasa.
Terakhir, yang terpenting bagi Sofi, karena ini hanya tambahan dari Sofie,
pohon kurma tidak hanya milik orang arab. Buktinya, di negeri kita saja bisa
tumbuh dan menghasilkan buah. Pohon kurma bisa tumbuh dimana saja asalkan
mendapat tanah yang cocok dan dirawat dengan benar. Seperti agama kita ini,
yang bisa tumbuh di mana saja. Asalkan diterima dengan baik dan dirawat oleh
pemeluknya.
Mantap ya kak filosofi pohon kurma ini yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.
Pohon Sakura saja kalah. Bagi Sofie pohon sakura hanya menang dikeindahannya
saja, tapi dari sisi manfaat masih diragukan.
Ada catatan penting
mengapa kita harus meniru pohon kurma. Menurut sofie, manusia selalu berusaha
menemukan konsep dirinya sesuai apa yang ia dapati di alam. Konsep diri manusia
selalu dibuat berdasarkan filosofi yang dibuat oleh dirinya sendiri. Padahal
kita tak tahu apakah filosofi dirinya itu baik atau tidak. Al Qur’an sudah
menunjukkan bagaimana kita seharusnya menjadi seorang manusia. Konsep diri
manusia yang seharusnya kita tiru, sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Dan
Allah menunjukkan dengan perumpamaan sebuah pohon. Yaitu, pohon kurma. Pohon
yang sering disebutkan di dalam AL Qur’an.
Bagi Sofie sendiri, untuk bisa menjadi seperti pohon kurma masih cukup
sulit. Bukan berarti Sofie pesimis, Sofie berusaha agar bisa menjadi seorang
mukmin. Seorang yang kokoh akidahnya dan banyak amalnya. Mungkin saat ini Sofie
hanya seperti Sakura yang kakak bilang. Bunga yang begitu dirindukan, indah
dipandang, tapi hanya hadir sesaat. Sofie merasa hanya sebentar hadir di dunia
ini.
Kalau kakak sayang Sofie, kakak harus berjanji berusaha menjadi seseorang
yang seperti pohon kurma. Kokoh imannya. Teduh kepribadiannya. Baik sikapnya.
Banyak amalnya.
Bener kak ya, janji!
Sofie ingin bisa bertemu kakak di surga suatu saat nanti. Kita berkebun di
surga saja. Sofie yakin, bunga-bunga surga pasti akan lebih indah dari pada di
dunia.
Sekali lagi, jangan lupakan janji Sofie ya kak. Semoga Allah selalu
memudahkan jalan kakak untuk dekat dengan agaman-Nya, istiqomah menjaga
keshalihan, dan hidup kakak selalu diisi dengan amal. Amin.
Salam sayang dari adiknya kakak yang sering di cubit pipinya :)
Sofie Najwa
Ghazali tak tahan membendung tangisnya. Air mata
berurai membasahi pipi dan menetesi disebagian kertas surat itu. Ia tak
menyangka Sofie bisa seperti ini. Ia lebih dewasa dari umurnya. Lebih berilmu
dari sifatnya. Sendainya saja ia masih hidup, Ghazali pasti ingin memeluknya
erat. Menjaganya. Melindunginya. Merawat adiknya dengan baik. Tapi, Allah punya
kehendak. Allah lebih memilih diri-Nya melindungi Sofie dari dunia yang fana
ini. “Ya Allah, Kau benar-benar lebih mampu melindungi Sofie dari pada kami.”
kata Ghazali dalam batinnya. “Pertemukan kami sekeluarga di surga-Mu ya Allah.”
Lanjut doanya dalam batin.
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Al-Fath: 18)
The end
Malang, 18-19 Juli 2015 / 2-3 Syawal 1436 H
Malang, 18-19 Juli 2015 / 2-3 Syawal 1436 H

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.