Rabu, 03 Desember 2014

Surat untuk Kau - 1 : Masalah-masalah Nabi Adam



Bismillahirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hei Kau,

Bagaimana kabar masalahmu hari ini? Apa hanya kau ratapi atau kau hadapi? Seberat apapun masalah kau, yakinlah dengan ayat Allah ini, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al Baqarah : 286). Jangankan kau atau aku, Nabi Adam pertama kali dihidupkan saja sudah menghadapi masalah. Ini semua sudah rencana Allah.

Pasti kau bertanya, apa masalah pertama Adam ketika pertama kali dihidupkan? Baiklah, langsung saja aku katakan, permusuhan Iblis kepada Adam menjadi masalahnya.  

Sebelum adanya manusia, bumi sudah didiami oleh beberapa makhluk hidup. Baik itu tumbuhan dan hewan-hewan. Dari beberapa riwayat hadist juga menjelaskan bahwa bangsa Jin sudah mendiami Bumi. Tak banyak yang bisa diceritakan bagaimana kondisi bumi saat sebelum manusia ada.

Malaikat dan Iblis adalah makhluk Allah yang sudah lebih dulu diciptakan. Terkhusus Iblis, dari riwayat Ibnu Abbas ia adalah makhluk sebangsa malaikat yang bernama Azazil. Dia bertempat tinggal di bumi, paling pekerja keras dan paling berilmu.Dia adalah penjaga surga, selain juga adalah penguasa langit dan memiliki kekuasaan di bumi. Tapi menurut Imam Hasan Al-Basrhri, bahwa Iblis bukan bagian dari malaikat, tetapi bagian dari bangsa jin. Ia adalah pemimpin dari bangsa jin dan yang paling banyak beribadah kepada Allah. Lalu, di bumi terjadi peperangan antar bangsa jin sehingga terjadi kerusakan-kerusakan, lalu malaikat turun ke bumi untuk mengatasi pertikaian tersebut. Iblis di bawa kelangit oleh maialat dan menetap di sana.


Selama Iblis berada di Surga, Allah mengabarkan kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan makhluk yang akan menjadi khalifah di muka bumi (lihat Al-Baqarah : 30).  Kabar ini adalah kabar besar. Ada suatu keistimewaan dari Allah atas kabar ini. Disitulah malaikat mempertanyakan keraguannya. “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di bumi?” (Al Baqarah : 30). Malaikat tahu, bahwa ada sisi kelebihan manusia yang tidak dimiliki para malaikat, yaitu seperti yang dikhawatirkan dari apa yang mereka tanyakan. Malaikat juga tahu tentang apa yang akan diperbuat manusia nanti ketika di bumi. Ini bukan pertanyaan kedengkian malaikat, atau kecemburuan, atau juga protes. Namun, pertanyaan untuk menambah pengetahuan mereka tentang rencana Allah. Allah pun menjawab, “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah : 30)

Lalu diutuslah Malaikat Jibril ke bumi mengambil segenggam tanah (jangan bayangkan genggaman tangannya malaikat ya, hehe). “Aku berlindung kepada Allah dari dirimu yang ingin mengambil sesuatu dari wajahku.” Pinta bumi yang tak ingin bagian dari dirinya diambil oleh Jibril. Jibril pun kembali dan tidak jadi mengambilnya, “Ya Tuhanku,” Adu Jibril kepada Allah, “bumi meminta perlindungan, maka aku pun melindunginya.” Lalu Malaikat Mikail gantian di utus Allah untuk melakukan seperti yang dilakukan Jibril. Namun, kembali bumi meminta perlindungan. Kembali Mikail mengadu kepada Allah seperti yang dilakukan Jibril sebelumnya. Kini Allah mencoba mengutus satu malaikat lagi. Kali ini malaikat maut, dan lagi bumi meminta perlindungan. Namun sang malaikat maut ternyata tak gentar, “Aku pun berlindung kepada Allah apabila aku harus kembali tanpa melaksanakan perintah-Nya.” Ucapnya kepada bumi. Maka, malaikat maut mengambil tanah dari bumi. Ia tidak mengambil tanah dari satu tempat saja, tetapi dari beberapa tempat dengan beberapa warna, seperti putih, merah, dan hitam. Karena itu keturunan Adam ada perbedaan warna kulit. Dari bumi itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu. (Thaahaa : 55)

Malaikat maut kembali ke langit dan membasahinya tanah yang diambilnya menjadi seperti tanah liat, lalu  Allah berfirman, “Sesunguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tipupkan ruh-Ku kepadanya, tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.” (Shaad : 71-72)

Ketika Allah telah selesai menciptakan Adam dengan tangan-Nya, Adam masih berupa jasad. Para malaikat terlihat terkejut saat melihat jasad Adam. Yang lebih terkejut adalah Iblis. Ada kedengkian pada diri Iblis. Ada rasa kecemburuan. Mungkin juga frustasi. Mengapa makhluk yang hanya dari tanah ini seperti begitu spesial. Ia beberapa kali mendatangi jasad Adam untuk memukulnya hingga jasad itu mengeluarkan suara seperti suara tembikar dari tanah kering, seperti yang dimaksud firman Allah, “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (Ar-Rahman : 14). Iblis terus menganggu jasad Adam sambil merendahkannya.

Tiba waktunya Allah meniupkan roh ke dalam jasad Adam. Setelah roh masuk ke dalam tubuh, Adam tiba-tiba bersin. “Ucapkanlah alhamdulillah.” pinta malaikat kepada Adam yang menyaksikan proses penipuan ruh. Adam segera mengucapkan “Alhamdulillah.” Lalu Allah menjawabnya, “Tuhanmu merahmatimu.” Bersyukurlah kalau kau masih bisa bersin. Artinya, kau masih dirahmati. Kisah ini melatari alasan disunnahkan mengucap Alhamdulillah ketika bersin.

Setelah sempurna peniupan roh, Adam menjadi hidup. Di sinilah Allah mulai menyuruh seluruh makhluk tak terkecuali malaikat dan iblis untuk tunduk kepada Adam. Malaikat pun bersujud menuruti perintah Allah. Hanya iblis yang enggan. Ini yang seperti aku katakan tadi, baru saja hidup sudah memiliki musuh.

Aku pernah mendengar perkataan dari seorang yang mengaku intelektual muslim. Ia berkata bahwa iblis adalah makhluk yang paling beriman kepada Allah karena tidak mau sujud kepada Adam. Aku hanya bisa tertawa mendengarnya, sebab yang dikatakannya benar-benar bodoh. Itu adalah logika yang keliru. Justru, sebagai manusia kita seharusnya bersyukur. Allah meminta makhluknya yang lain untuk bersujud kepada manusia. Manusia adalah makhluk yang istimewa. Sujud kepada manusia adalah perintah Allah. Ketika melanggar perintah Allah, bukankah itu sama saja sebuah keingkaran?

Allah pun bertanya kepada Iblis, “Waha Iblis! Apa sebabnya kamu tida sujud bersama mereka” Iblis menjawab, “Aku sekali-kali tidak akan sjud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering dari lumpur hitamyang dibentuk. Lalu Allah berfirman, “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” (Al-Hijr : 28-35)

Iri, kedengkian, kesombongan, bisa jadi ini juga sikap frustasi Iblis karena tidak diciptakan seperti manusia, dan segala sifat keburukan lainnya menjadi cerminan iblis. Sifat-sifat seperti Iblis ini jugalah yang bisa dimiliki manusia. Makanya, manusia itu istimewa. Bisa memiliki sifat seperti malaikat, bisa juga seperti Iblis. Setelah Allah melaknat Iblis inilah, ia meminta penangguhan dan meminta agar bisa menjadi makhluk yang mampu mengajak manusia mengikuti jalan mereka. Jelas, keberadaan Iblis ini adalah masalahnya Adam yang juga masalahnya umat manusia, sebab Iblis akan terus berusaha menjebak manusia agar ingkar pada Allah. Hingga saat ini, Iblis selalu menjadi musuh orang-orang beriman. Semua kekacauan yang ada di dunia ini Iblis menjadi salah satu biangnya. Tapi tenang saja, Allah sudah menjamin jika kita taat sama Allah dan mengikuti perintahnya, masalah Iblis ini akan terselesaikan. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai penjaga. (Al Israa : 65)

Setelah Adam diciptakan mulai dari pembentukan jasad kemudian ditiupkan ruh, maka kita bisa menyimpulkan ada dua unsur dalam diri manusia, yaitu jasad dan ruh. Jasad dan ruh inilah yang kemudian melahirkan jiwa dalam diri manusia. Unsur-unsur jiwa ini dibagi lagi menjadi; akal dan nafsu. Bicara soal jiwa, Allah menyempurnakan ciptaan Adam dengan mengajarinya ilmu dan pengetahuan untuk mengisi akalnya.

Kau ingatkah ketika bapak dan ibu mengajari kita saat kecil. Seperti itulah Allah (mungkin) mengajari Adam tentang kehidupan. Adam tidak tercipta dari anak kecil, namun langsung dalam wujud dewasa. Jangan bayangkan kalau Adam dengan tubuh dewasa terlihat seperti anak kecil. Tetapi aku punya keyakinan, pasti saat itu Adam seperti para filosof, banyak bertanya soal kehidupan. Untungnya, langsung Allah yang mengajari. Sehingga semua jawaban pasti benar, karena Allah maha tahu. “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama benda semuanya.” (Al-Baqarah : 31)

Bagaimana kau, apa masih kuat membaca? Ini baru masalah pertama. Lanjut ke masalah Adam berikutnya.

Meski Adam hidup di surga yang penuh dengan kenikmatan, ternyata ia juga merasakan kegelisahan. Tak ada manusia lain selain dia. Adam hanya seorang diri. Mungkin malaikat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ia merasa kesepian ditengah keindahan surga. Ini menjadi masalahnya Adam yang kedua. Kadang ia termenung sendiri di bawah pohon rindang yang buah-buahannya cukup dipanggil bisa jatuh sendiri. Kadang juga, ia duduk di atas gunung sambil memandang keindahan daratan surga sambil meratapi kesendiriannya. Ia bingung apa yang harus dilakukan, karena sepi ia rasakan.  Artinya, Adam juga pernah jomblo loh, seperti kau mungkin. Hahaha.. Ini hanya imajinasiku saja.

Kegelisahan-kegelisahan Adam rupanya sudah menjadi rencana Allah. Manusia seperti Adam tidak diciptakan untuk sendiri. Allah pun memberikan kejutan buat Adam sebagai jawaban atas masalahnya. Ketika Adam sedang tertidur, Allah mengambil sebagian tulang rusuknya untuk menciptakan manusia jenis lain. Lahirlah Manusia yang diberi nama Hawa. Inilah karunia Allah sebagai jawaban atas kegelisahan Adam.

Ketika Adam bangun dari tidurnya, ia kaget ada sosok manusia yang berbeda dengan dirinya sudah hadir di sampingnya. “Siapa kamu?” Tanya Adam. “Aku adalah seorang wanita.” Jawab sosok itu. Adam bertanya lagi, “Untuk apa kamu diciptakan?” Wanita itu menjawab, “Agar kamu dapat merasa tentram di sampingku.” Pembicaran terus berlanjut sampai Adam tau nama wanita itu adalah Hawa. Nama yang langsung diberikan Allah juga.

Soal penciptaan Hawa ini, Nabi Saw pun bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian untuk memperlakukan para wanita dengan baik, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling condong (bengkok) dari tulang rusuk adalah bagian paling atas, apabila kamu paksa meluruskannya maka akan membuatnya patah, namun jika kamu biarkan saja maka ia akan tetap condong. Maka dari itu aku berwasiat untuk memperlakukan wanita dengan baik.”

Adam dan Hawa adalam manusia dengan unsur yang sama namun memiliki sifat yang berbeda. Masing-masing mempunya tugasnya sendiri. Meski begitu, perbedaan tersebut merupakan satu kesatuan yang menghidupi jalannya kisah kehidupan umat manusia.

Meski Adam sudah menemukan teman hidupnya, ternyata masalah muncul lagi. Manusia memang tak pernah lepas dari masalah. Masalah Adam kali ini bener-bener menguji dirinya sebagai manusia yang mudah tergoda, yaitu manusia yang memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu inilah yang sering menggoda manusia agar terjerumus ke lembah dosa.

Kau sudah tau bukan masalah selanjutnya apa? Masalah ke tiga ini adalah pelanggaran Adam dan Hawa yang memakan buah larangan Allah.  Walapun ia seorang nabi, Adam membawa sifat manusia yang luput dari kesalahan meski sudah jelas Allah perintahkan: Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga kalian termasuk orang-orang yang zhalim. (Al A’raaf : 19)

Ada riwayat yang mengatakan, Adam memakan buah terlarang tersebut karena ajakan Hawa. Hawa adalah orang pertama yang memakan buah tersebut, lalu Adam juga ikut memakannya. Pendapat ini dikuatkan oleh sabda Nabi Saw, “Kalau saja tidak karena perbuatan Hawa (dengan membujuk Ada untuk memakan buah terlarang) maka wanita tidak akan pernah menghianati suaminya.” Maksudnya, kalau saja Hawa tidak pernah berbuat khianat kepada Adam dengan cara merayu dan membujuknya untuk melanggar perintah Allah, maka turunan-turunanya yang wanita hingga akhir zaman tidak akan pernah berbuat serupa terhadap suami mereka.

Inilah salah satu ujian manusia. Begitu pentingnya wanita terhadap keselamatan hidup pria. Begitu juga pria bagaimana menjaga wanita. Keduanya saling mengikat. Pria bisa jatuh karena wanita. Wanita bisa “patah” karena pria. Soal hasrat ini yang menyebabkan Adam terjatuh (ke bumi). Yah, seperti itulah manusia, selalu diuji dari masalah-masalah yang muncul atas godaan hawa nafsu.

Tapi mereka sadar atas kesalahannya lalu memohon ampun, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jia engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A’raf 22-23). Doa ini mengajarkan bentuk pengakuan atas kesalahan mereka. Mereka bersimpuh, tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah. Mereka mengajarkan kepada kita bawah bertobat adalah cara yang bijak ketika kita sadar telah berbuat salah.

Tobat Adam dan Hawa memang diterima oleh Allah. Namun, Allah tetap memberikan perintah berupa hukuman agar mereka berdua turun ke bumi dan membangun kehidupan.

Tentang turunya Adam dan Hawa ke dunia ini ada kisah perdebatan yang menarik antara Nabi Adam dengan Nabi Musa. Nabi Musa pernah bertemu dengan Nabi Adam. Aku juga belum paham maksud pertemuannya ini apakah setelah kematian mereka sehingga bertemu di surga atau saat Musa masih hidup.

“Hai Adam, kamu bertanggung jawab atas keluarnya manusia dari surga karena dosa yang kau perbuat hingga mereka dalam kesengsaraan.” Ucap Nabi Musa. “Musa, kau adalah orang yang diistemewakan oleh Allah dengan diberikan risalah-Nya dan dengan berbicara kepadamu secara langsung. Apakah kau masih menyalahkanku suatu kejadian yang telah dituliskan oleh Allah untukku sebelum aku diciptakan?” Kata Adam. Musa pun terdiam. Kisah yang diceritakan dalam sabda Nabi Saw ini ditambahi oleh Nabi Saw,”Perkataan Nabi Adam itu pun dapat mengalahkan pendapat Nabi Musa.” (Muttafaq Alaih)

Kau paham ya maksud kisah dari perdebatan Nabi Adam dengan Nabi Musa. Semua kesalahan kita di dunia ini telah dituliskan oleh Allah di lauhul mahfudz. Meski begitu, kesalahan seperti Nabi Adam dan Hawa pun jika ia bertobat tetap akan diampuni oleh Allah. Allah pun tetap menjanjikan Adam kembali ke surga jika ajal telah menjemput mereka. Jadi, jangan salahkan Nabi Adam dan Hawa kalau kita sekarang tinggal di bumi. Bumi ini adalah tempat ujian. Seperti yang aku katakan tadi, manusia diciptakan untuk di uji dan diberikan masalah agar kita berusaha menjadi Insan Kamil, manusia sempurna.

 Allah pun berfirman, “Maka sekali-kali jangan sampai dia (iblis) mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu celaka. Sesungguhnya di Surga kamu tidak akan kelaparan dan tidak dalam keadaan telanjang. Dan kamu tidak merasakan dahaga dan tidak pula merasakan panas matahari di dalamnya. ” (Thaha : 117-119). Firman Allah inilah yang membuktikan perbedaan antara di dunia dan di surga. Ketika Adam turun ke dunia, ia harus merasakan hidup yang tidak senyaman di surga.

Setelah Adam tiba di muka bumi adam dalam kondisi belum tahu apa-apa. Adam tidak tahu apa yang harus ia lakukan, baik saat lapar atau saat haus. Masalah berikutnya muncul. Masalah ke empat.

Kalau di Surga, jika ia lapar makanan bisa datang dengan sendirinya. Berbeda dengan di bumi. Tak ada yang otomatis. Adam mengalami ujiannya. Ia harus berpikir bagaimana agar ia tak kelaparan. Sesulit apapun keberadaan Adam di bumi, karunia Allah tetap diberikannya. Allah melalui Jibril memberi petunjuk bagaimana hidup di bumi, seperti petunjuk yang kita dapatkan di Al Qur’an yang turun melalui Nabi Muhammad Saw. Tapi Allah tak ingin membuat manusia seperti Adam manja. Petunjuk-petunjuk yang diberikan bukan hasil, tapi lebih ke tata cara untuk mengerjakan proses. Untuk mendapatkan hasilnya, manusia harus kerja keras dalam prosesnya.

Salah satu yang diajarkannya adalah tentang mengolah makanan. Jibril datang hanya membawakan beberapa biji gandum. Adam sempat kebingungan, buat apa biji gandum tersebut. Lalu Jibril menjelaskan agar biji tersebut ditebarkan di tanah. Inilah untuk pertama Adam diajarkan bercocok tanam. Adam harus sabar menanam tanaman dengan tekun dan ulet agar bisa berbuah. Tidak hanya menanam, Adam juga diajarkan cara menggiling agar bisa menjadi tepung, lalu mengadonnya dengan air, lalu memanggangnya hingga menjadi roti sebagai makanan pokok. Semua ini harus dilakukan dengan kerja keras. Tidak seperti saat di surga yang hanya tinggal petik dan makan.

Begitu juga soal pakaian dan soal kehidupan berkeluarga. Mereka berdua datang ke bumi dalam keaadaan telanjang dan belum tahu apa yang harus dilakukan. Ada sebuah riwayat yang mejelaskan, bahwa Adam dan Hawa turun dalam keaadaan telanjang yang hanya ditutupi daun-daun dari surga. Adam merasakan suhu panasnnya di Bumi. Ia mengeluh kepada Hawa atas panas yang dirasa. Datanglah malaikat jibril dengan membawakan kapas kepada Hawa. Di ajarkannya Hawa cara memintal kapas menjadi benang, lalu menjadi pakaian. Tidak hanya itu, Jibril pun mengajarkan mereka berdua bagaimana berhubungan suami istri. Menurut Ibnu Katsir, riwayat ini sebenarnya masih dipertanyakan kesahihannya. Meski begitu, aku tetap mencantumkan kisah ini sebab aku yakin, Adam dan Hawa ketika hidup sama seprti anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Manusia harus diajarkan. Diberi tahu. Wallahualam atas kebenaran riwayatnya.

Dari kehidupan berkeluarga itulah mereka melahirkan anak yang berpasang-pasangan. Lahir Qabil dengan kembaranya yang perempuan, lahir juga Habil dengan kembarannya perempuan. Oleh Adam mereka dinikahkan secara silang agar melahirkan turunan.

Keberadaan mereka ternyata melahirkan kisah konflik pertama dalam sejarah umat manusia. Qabil merasa iri dengan Habil. Mulai iri dari soal masalah pasangan yang dinikahkan hingga sikap iri Qabil terhadap kelebihan yang dimiliki Habil. Faktor kecemburuan, iri dan dengki menjadi awal penyakit itu. Aku tidak ingin bercerita banyak tentang konfilk ini secara detail. Pasti kau sudah sering mendengarnya kan? Kisah konflik ini sudah cukup jelas diceritakan di Surat Al-Maidah : 27-31. Konflik keluarga ini yang membuat Adam menjadi luar biasanya sedih. Ini bisa juga kita anggap masalah yang ke lima Adam. Sebuah masalah bagaimana ia harus mengelola keluarga dengan berbagai sifatnya. Pada masalah inilah Adam kehilangan anak terbaiknya yang bernama Habil karena dibunuh oleh Qabil. Bersyukur, Allah mengkaruniai anak pengganti Habil. Lahirlah anak yang bernama Seth ketika Adam telah berumur 130 tahun. Dari Seth inilah yang nantinya akan menurunkan keturunan Nabi Idris dan Nabi Nuh.

Dari hasil kelahiran ini manusia menjadi berkembang biak. Ada yang meriwayatkan kalau Adam dan Hawa melahirkan 40 anak. Ada juga ulama yang mengatakan Hawa merasakan 120 kelahiran dengan setiap kelahiran melahirkan sepasang kembar. Beberapa ulama dan sejarawan ada yang mengatakan sebelum meninggal Adam sudah memiliki keturunan hingga 40.000 orang. Riwayat juga menyebutkan umur Adam mencapai seribu tahun. Wallahu’alam.

Satu masalah lagi yang menjadi penyakit umat manusia karena turunan Adam. Ketika menjelang waktu kematian, Adam di datangi malaikat maut. Adam keberatan atas kedatangan malaikat maut. Ia merasakan bahwa belum waktunya mati, “ Bukankah usiaku masih empat puluh tahun lagi?” tanyanya pada malaikat maut. “Bukankah sisa usiamu itu telah engkau berikan kepada salah satu keturunanmum Dawud?” Malaikat mengingatkan. Namun Adam tetap menolak untuk mengakuinya.

Sebelumnya, ketika Adam telah baru saja diciptakan, Allah telah menunjukkan para keturunannya. Saat Allah menunjukkan itu, Adam melihat ada seorang dari turunannya memiliki cahaya di antara kedua matanya, Adam bertanya, “Siapakah orang itu?” Allah menjawab, “Dia adalah salah seorang dari keturunanmu yang hidup pada umat-umat terakhir, namanya dawud.” Adam bertanya lagi, “Berapakah usia yang ditetapkan untuknya?” Allah menjawab, “Enam puluh tahun.” Lalu Adam meminta, “ Ya Allah, tambahkannya usianya empat puluh tahun dari usiaku.” Inilah yang dilupakan Adam. Penyakit lupa inilah menurun kepada anak cucunya.

Setelah Adam meninggal semuan tanggung jawab kepemimpinan bumi diserahkan oleh putranya yang bernama Seth. Ia juga seorang nabi. Sayang tak banyak riwayat dan dalil Al-Qur’an yang mejelaskan tentang Nabi Seth.

Seperti itulah masalah-masalah yang dihadapi Adam sesuai alur kisah kehidupan yang dilaluinya. Mulai dari masalah berhadapan dengan musuh abadi, masalah kesendirian, masalah godaan hawa nafsu, masalah bertahan hidup di dunia, masalah mengelola keluarga, hingga masalah lupa yang menjadi penyakit umat manusia. Semua masalah itu, Allah telah memberikan jalan untuk menyelesaikannya, seperti cara Allah memberikan jalan kepada Adam. Itulah misi Allah, mencipatakn masalahbuat kita agar kita terdorong menjadi Insan Kamil. Tinggal kita mau atau tidak berusaha menjalankannya.

Maha besar Allah,
Semoga aku dan kau tetap selalu berada dalam petunjuk Allah. Oke, udah dulu ya. Maaf kalau telalu panjang. Semoga tidak lelah membacanya. Tunggu surat berikutnya.


Wassalamu’alaikum w.r wb.

Jogja, 3 Desember 2014
Bung H.d.

1 komentar:

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger