Senin, 01 Desember 2014

Surat untuk Kau – Mukaddimah : Karena Kita Ada di Ruang dan Waktu


Bismillahirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Hei Kau,
Salam kenal dariku

Mungkin aku tak pernah bertemu kau. Kau pun mungkin tak pernah melihat aku. Kalau pun kita pernah bertemu dan saling kenal, Alhamdulillah. Tapi aku tak peduli kita pernah bertemu atau tidak, yang penting aku mengucapkan terimakasih karena kau mau membaca suratku ini. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu dan saling mengenal.

Aku juga tak tahu bagaimana kehidupan kau. Seperti apa kau. Apa yang kau sukaui atau apa yang kau benci. Tapi nampaknya, kau dan aku mungkin punya kesamaan nasib, yaitu terjebak dalam rutinitas kehidupan yang menuntut kita, seperti karir, pekerjaan, kuliah, hingga sibuk beraktualisasi di sosial media, sehingga kita lupa mempertanyakan sebuah pertanyaan “Hakikat”; “Mengapa kita melakukan hal ini? Untuk apa?” Mungkin juga, kita punya kesamaan nasib berupa “masalah”, entah itu masalah keuangan, keluarga, cinta, pertemanan, pekerjaan, dsb. Namun, pernahkah kita bertanya, “Mengapa masalah itu ada?” Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan “Hakikat” itu aku tak ingin mengajak kau untuk berfilsafat. Tidak. Mungkin itu akan berat bagi kau. Hanya saja, aku ingin berbagi sesuatu yang mungkin akan menarik buat kau.

Aku sengaja ingin menuliskan surat ini untuk kau karena ingin bercerita tentang kita. Cerita tentang kita sebagai manusia. Manusia yang terlahir di dalam sebuah ruang dan waktu, dimana ada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ada awal, ada akhir. Ada kelahiran, ada kematian. Karena waktu, kita tak bisa melihat masa depan, tapi kita bisa mempelajari masa lalu. Maka dari itu, aku ingin berkisah tentang masa lalu, sebuah perjalanan umat manusia, yang mana semua itu bisa menjawab pertanyaan hekekat mengapa kita ‘ada’ di ruang dan waktu. Lalu bagaimana seharusnya kita dari keber’ada’an kita diruang dan waktu ini.

Surat yang kau baca ini hanya surat awal saja dari beberapa puluh surat yang akan ku kirim ke kau nanti. Semua surat yang akan ku kirim nanti -Insya Allah- sebagian besar berupa kisah atau sejarah manusia terdahulu. Karena kita berada di ruang dan waktu, mari kita pahami dari sejarah para nabi, orang-orang shalih, dan peradaban manusia. Ada tiga alasan, mengapa aku ingin menyurati kisah kepada kau;

Pertama, kita berusaha berikhtiar untuk terus memohon dan mendapatkan petunjuk kehidupan. Kita ditakdirkan oleh Allah hidup sebagai manusia yang lahir di dunia ruang dan waktu dimana ujian adalah cara Allah untuk menjadikan kita Insan Kamil. Untuk menjawab tantangan ujian Allah kita perlu petunjuk. Petunjuk kehidupan bisa kita dapati dari kisah masa lalu yang banyak tertuang di dalam Al-Qur’an. Sebab di dalam ruang dan waktu, kita juga perlu pahami bahwa apa yang terjadi pada masa lalu berhubungan dengan apa yang terjadi masa kini dan masa yang akan datang.

Sering kali kita membaca surat Al Fahtihah di dalam sholat. Berkali-kali pula kita berucap permohonan, “Ihdinas sirotol mustaqim (Tunjukillah kami jalan yang lurus), shirotol ladzi na'an 'am ta'alaihim (Jalan orang-orang yang Engkau karuniai nikmat).” Para mufassir banyak menjelaskan bahwa ayat ini memiliki makna permohonan untuk mendapatkan petunjuk kehidupan seperti petunjuk yang diberikan kepada orang-orang shalih pada masa sebelumnya. Ayat ini tidak hanya berdiri sendiri, namun makna dari “orang-orang yang Engkau beri nikmat” itu akan diikuti oleh ayat-ayat berikutnya yang berkisah tentang para Nabi Allah yang telah mendapat petunjuk kehidupan. Dari melihat kisah-kisah mereka, kita bisa belajar bahwa sebagian besar dari mereka untuk menjadi orang-orang yang mendapatkan “nikmat” perlu menghadapi ujian yang berat. Jalan yang lurus tidak semulus yang kita duga, namun jalan yang penuh perjuangan untuk melaluinya. Maka, memahami kisah-kisah yang banyak diceritakan di Al-Qur’an dapat menjadi ikhtiar kita untuk mendapatkan petunjuk ketika menghadapi permasalahan kehidupan.

Kalau kau kini sering menemukan manusia-manusia memuakan, angkuh, dan rakus, sama halnya dengan manusia-manusia dulu. Penyakit-penyakit itu ada dalam setiap jaman. Dakwah para nabi adalah menghadapi manusia-manusia seperti itu. Itulah mengapa para nabi menjadi manusia istimewa. Karena mereka berani, sabar, dan memiliki tekad untuk memperbaiki manusia-manusia itu.

Apa yang telah terjadi oleh para nabi kita, pun juga terjadi pada kita pada saat ini atau pada masa yang akan datang nantinya. Meski dengan kadar masalah yang berbeda tentunya.

Kedua, karena kita berada di ruang dan waktu, kita dituntut untuk menjadi orang yang berpikir tentang kehidupannya, yaitu dengan mempelajari kisah masa lalu.  “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai akal.” (Yusuf : 111). Dengan kisah, kita bisa merenungi jiwa-jiwa manusia pada saat itu. Memahami perilaku mereka, ketika diuji, ketika ditantang, ketika dihadapi masalah, “Maka Ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Al-A’raf: 176) . Mengutip dari seorang sastrawan terkenal dari Jerman bernama Goethe, “Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.” Dia bukan muslim, tapi sadar bahwa kalau kita berakal kita harus bisa mengambil pelajaran dari masa lalu. Maka, sebagai seorang muslim yang ingin taat dengan perintah dari Al-Qur’an, sudah patutnya kita memahami kisah-kisah itu untuk memahami ada apa dibalik ruang dan waktu. Dengan begitu kita akan menemukan pelajaran kehidupan, bahwa semua ini semata demi kehidupan kita selepas dari dunia ruang dan waktu (setelah kematian), yaitu kehidupan yang tak ada awal dan akhir lagi. Sebuah kehidupan abadi.

Ketiga, aku ingin berbagi pengetahuan kepada kau dari yang sudah pernah kupelajari selama ini. Mungkin sedikit curhat. Rutinitas kehidupanku membuat pikiran jenuh. Masalah kehidupan yang selalu hadir pun kadang juga membuat gerah. Pertanyaan-pertanyaan hakikat itu muncul. Meskipun aku sudah mencoba mencari jawaban-jawaban itu ke berbagai buku yang ditulis para filosof barat, ternyata jawaban yang paling nyaman adalah jawaban yang diberikan di kitab suci kita sendiri, yaitu Al-Qur’an.

Begitu banyak kisah-kisah yang ada di Al-Qur’an membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang “Hakikat” dalam perjalanan ruang-waktu. Selama ini kita memahami dan mempelajari sejarah kehidupan manusia hanya tentang kekuasaan dan politik. Berbeda dengan mempelajari sejarah dari Al-Qur’an, kita bisa menemukan bagaimana perjalanan manusia dalam menemukan tuhan, perilaku, dan cara berkehidupan yang pantas sebagai makluk Allah.

Pelan-pelan aku ikuti kisah-kisah itu, baik membaca secara langsung teks Al-Quran meupun membaca tafsirnya dari berbagai kitab para ulama. Ternyata begitu menyenangkan. Banyak hal yang awalnya aku tidak tahu, kini menjaid tahu. Kisah yang awalnya tahu sebatas permukaan, kini bisa tahu secara mendalam. Maka dari itu, apa yang sudah kupelajari selama ini tidak ingin hanya untuk aku sendiri, tapi ingin coba membagikan kepada kau.

Ditengah rutinitas dan kesibukan sehari-hari, aku akan mencoba secara bertahap menuliskan kisah-kisah para nabi mulai dari manusia pertama diciptakan hingga Insya Allah nabi terakhir. Urutan nabi yang ditulis juga nanti menyesuikan urutan tahun kehadiran nabi sesuai yang sudah disepakait para sejarawan dan ulama.

Beberapa sumber yang menjadi bahanku adalah; aya-ayat yang tertuang dalam Al-Qur’an, uraian dari kitab Al Bidayah wa An-Nihayah karya Ibnu Katsir, Uraian Tarikh Ath-Thabari dari Imam Ath-Thabari, dan beberapa kitab tafsir seperti Tafsir Ibnu Katsir, Fi Zilal Al-Qur’an karya Sayyid Qutb, dan Tafsir Al Azhar karya Buya HAMKA.

Aku yakin, kau juga sudah sering mendengar kisah pra nabi, entah kisah waktu ikut TPA, pelajaran sekolah, atau membaca buku. Dengan membaca surat-suratku nanti, aku berharap bisa menambah pengetahuan yang belum pernah kau dapat atau membantuku untuk menyempurnakan kisah yang mungkin ada kesalahan.

Agar nyaman dibaca, kisah yang akan kutulis nanti tidak akan aku tuangkan sumber riwayatnya. Insya Allah kisah yang aku ambil dari pendapat para ulama yang sudah menyatakan sahih. Kalaupun kau ingin bertanya sumber riwayatnya, akan aku jawab dengan menunjukkan kitab itu.

Satu alasan lagi mengapa harus aku tulis dalam bentuk surat adalah itikadku untuk menjaga tradisi surat-menyurat. Sebuah tradisi yang mulai pudar setelah negeri ini mulai kebanjiran teknologi informasi. Dengan terbiasa menulis surat, kita tetap menjaga tradisi menulis. Karena menulis adalah tradisinya para ulama dan para orang-orang shalih yang selalu rindu dengan ilmu.

Sebelum aku tutup, mari kita terus berdoa dari ayat ini :
Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (Asy-Syu’araa 83). Amin..

Semoga Allah memudahkan dan melancarkan rencana kita.

Senang kenal dengan kau.
Wassalamu’alaikum wr wb


Jogja, 1 Desember 2014
Bung H.d.


Selanjutnya >> Surat untuk Kau - 1 : Masalah-masalah Nabi Adam

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger