Bismillahirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Hei Kau,
Bagaimana kabar masalahmu hari ini? Apa hanya kau ratapi atau kau hadapi? Seberat apapun masalah kau, yakinlah dengan ayat Allah ini, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al Baqarah : 286). Jangankan kau atau aku, Nabi Adam pertama kali dihidupkan saja sudah menghadapi masalah. Ini semua sudah rencana Allah.
Hei Kau,
Bagaimana kabar masalahmu hari ini? Apa hanya kau ratapi atau kau hadapi? Seberat apapun masalah kau, yakinlah dengan ayat Allah ini, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al Baqarah : 286). Jangankan kau atau aku, Nabi Adam pertama kali dihidupkan saja sudah menghadapi masalah. Ini semua sudah rencana Allah.
Pasti kau bertanya, apa masalah pertama Adam ketika
pertama kali dihidupkan? Baiklah, langsung saja aku katakan, permusuhan Iblis
kepada Adam menjadi masalahnya.
Sebelum adanya manusia, bumi sudah didiami oleh
beberapa makhluk hidup. Baik itu tumbuhan dan hewan-hewan. Dari beberapa
riwayat hadist juga menjelaskan bahwa bangsa Jin sudah mendiami Bumi. Tak
banyak yang bisa diceritakan bagaimana kondisi bumi saat sebelum manusia ada.
Malaikat dan Iblis adalah makhluk Allah yang sudah
lebih dulu diciptakan. Terkhusus Iblis, dari riwayat Ibnu Abbas ia adalah
makhluk sebangsa malaikat yang bernama Azazil. Dia bertempat tinggal di bumi,
paling pekerja keras dan paling berilmu.Dia adalah penjaga surga, selain juga
adalah penguasa langit dan memiliki kekuasaan di bumi. Tapi menurut Imam Hasan
Al-Basrhri, bahwa Iblis bukan bagian dari malaikat, tetapi bagian dari bangsa
jin. Ia adalah pemimpin dari bangsa jin dan yang paling banyak beribadah kepada
Allah. Lalu, di bumi terjadi peperangan antar bangsa jin sehingga terjadi
kerusakan-kerusakan, lalu malaikat turun ke bumi untuk mengatasi pertikaian
tersebut. Iblis di bawa kelangit oleh maialat dan menetap di sana.
Selama Iblis berada di Surga, Allah mengabarkan kepada
para malaikat bahwa Dia akan menciptakan makhluk yang akan menjadi khalifah di
muka bumi (lihat Al-Baqarah : 30). Kabar ini adalah kabar besar. Ada
suatu keistimewaan dari Allah atas kabar ini. Disitulah malaikat mempertanyakan
keraguannya. “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan
menumpahkan darah di bumi?” (Al Baqarah : 30). Malaikat tahu, bahwa ada
sisi kelebihan manusia yang tidak dimiliki para malaikat, yaitu seperti yang
dikhawatirkan dari apa yang mereka tanyakan. Malaikat juga tahu tentang apa
yang akan diperbuat manusia nanti ketika di bumi. Ini bukan pertanyaan
kedengkian malaikat, atau kecemburuan, atau juga protes. Namun, pertanyaan
untuk menambah pengetahuan mereka tentang rencana Allah. Allah pun menjawab, “Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah : 30)
Lalu diutuslah Malaikat Jibril ke bumi mengambil
segenggam tanah (jangan bayangkan genggaman tangannya malaikat ya, hehe). “Aku
berlindung kepada Allah dari dirimu yang ingin mengambil sesuatu dari wajahku.”
Pinta bumi yang tak ingin bagian dari dirinya diambil oleh Jibril. Jibril pun
kembali dan tidak jadi mengambilnya, “Ya Tuhanku,” Adu Jibril kepada Allah,
“bumi meminta perlindungan, maka aku pun melindunginya.” Lalu Malaikat Mikail
gantian di utus Allah untuk melakukan seperti yang dilakukan Jibril. Namun,
kembali bumi meminta perlindungan. Kembali Mikail mengadu kepada Allah seperti
yang dilakukan Jibril sebelumnya. Kini Allah mencoba mengutus satu malaikat
lagi. Kali ini malaikat maut, dan lagi bumi meminta perlindungan. Namun sang
malaikat maut ternyata tak gentar, “Aku pun berlindung kepada Allah apabila aku
harus kembali tanpa melaksanakan perintah-Nya.” Ucapnya kepada bumi. Maka,
malaikat maut mengambil tanah dari bumi. Ia tidak mengambil tanah dari satu tempat
saja, tetapi dari beberapa tempat dengan beberapa warna, seperti putih, merah,
dan hitam. Karena itu keturunan Adam ada perbedaan warna kulit. Dari bumi itulah Kami menjadikan kamu dan
kepadanya Kami akan mengembalikan kamu. (Thaahaa : 55)
Malaikat maut kembali ke langit dan membasahinya tanah
yang diambilnya menjadi seperti tanah liat, lalu Allah berfirman, “Sesunguhnya
Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah aku sempurnakan
kejadiannya dan Aku tipupkan ruh-Ku kepadanya, tunduklah kamu dengan bersujud
kepadanya.” (Shaad : 71-72)
Ketika Allah telah selesai menciptakan Adam dengan
tangan-Nya, Adam masih berupa jasad. Para malaikat terlihat terkejut saat melihat jasad Adam. Yang lebih terkejut adalah Iblis. Ada kedengkian pada diri
Iblis. Ada rasa kecemburuan. Mungkin juga frustasi. Mengapa makhluk yang hanya
dari tanah ini seperti begitu spesial. Ia beberapa kali mendatangi jasad Adam
untuk memukulnya hingga jasad itu mengeluarkan suara seperti suara tembikar
dari tanah kering, seperti yang dimaksud firman Allah, “Dia menciptakan
manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (Ar-Rahman : 14). Iblis terus
menganggu jasad Adam sambil merendahkannya.
Tiba waktunya Allah meniupkan roh ke dalam jasad Adam.
Setelah roh masuk ke dalam tubuh, Adam tiba-tiba bersin. “Ucapkanlah
alhamdulillah.” pinta malaikat kepada Adam yang menyaksikan proses penipuan
ruh. Adam segera mengucapkan “Alhamdulillah.” Lalu Allah menjawabnya, “Tuhanmu
merahmatimu.” Bersyukurlah kalau kau masih bisa bersin. Artinya, kau masih
dirahmati. Kisah ini melatari alasan disunnahkan mengucap Alhamdulillah ketika
bersin.
Setelah sempurna peniupan roh, Adam menjadi hidup. Di
sinilah Allah mulai menyuruh seluruh makhluk tak terkecuali malaikat dan iblis
untuk tunduk kepada Adam. Malaikat pun bersujud menuruti perintah Allah. Hanya
iblis yang enggan. Ini yang seperti aku katakan tadi, baru saja hidup sudah
memiliki musuh.
Aku pernah mendengar perkataan dari seorang yang
mengaku intelektual muslim. Ia berkata bahwa iblis adalah makhluk yang paling
beriman kepada Allah karena tidak mau sujud kepada Adam. Aku hanya bisa tertawa
mendengarnya, sebab yang dikatakannya benar-benar bodoh. Itu adalah logika yang
keliru. Justru, sebagai manusia kita seharusnya bersyukur. Allah meminta
makhluknya yang lain untuk bersujud kepada manusia. Manusia adalah makhluk yang
istimewa. Sujud kepada manusia adalah perintah Allah. Ketika melanggar perintah
Allah, bukankah itu sama saja sebuah keingkaran?
Allah pun bertanya kepada Iblis, “Waha Iblis! Apa
sebabnya kamu tida sujud bersama mereka” Iblis menjawab, “Aku sekali-kali tidak
akan sjud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering dari
lumpur hitamyang dibentuk. Lalu Allah berfirman, “Keluarlah dari surga, karena
sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai
hari kiamat.” (Al-Hijr : 28-35)
Iri, kedengkian, kesombongan, bisa jadi ini juga sikap
frustasi Iblis karena tidak diciptakan seperti manusia, dan segala sifat
keburukan lainnya menjadi cerminan iblis. Sifat-sifat seperti Iblis ini jugalah
yang bisa dimiliki manusia. Makanya, manusia itu istimewa. Bisa memiliki sifat
seperti malaikat, bisa juga seperti Iblis. Setelah Allah melaknat Iblis inilah,
ia meminta penangguhan dan meminta agar bisa menjadi makhluk yang mampu
mengajak manusia mengikuti jalan mereka. Jelas, keberadaan Iblis ini adalah
masalahnya Adam yang juga masalahnya umat manusia, sebab Iblis akan terus
berusaha menjebak manusia agar ingkar pada Allah. Hingga saat ini, Iblis selalu
menjadi musuh orang-orang beriman. Semua kekacauan yang ada di dunia ini Iblis
menjadi salah satu biangnya. Tapi tenang saja, Allah sudah menjamin jika kita
taat sama Allah dan mengikuti perintahnya, masalah Iblis ini akan
terselesaikan. Sesungguhnya
hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu
sebagai penjaga. (Al Israa : 65)
Setelah Adam diciptakan mulai dari pembentukan jasad
kemudian ditiupkan ruh, maka kita bisa menyimpulkan ada dua unsur dalam diri
manusia, yaitu jasad dan ruh. Jasad dan ruh inilah yang kemudian melahirkan
jiwa dalam diri manusia. Unsur-unsur jiwa ini dibagi lagi menjadi; akal dan
nafsu. Bicara soal jiwa, Allah menyempurnakan ciptaan Adam dengan mengajarinya
ilmu dan pengetahuan untuk mengisi akalnya.
Kau ingatkah ketika bapak dan ibu mengajari kita saat
kecil. Seperti itulah Allah (mungkin) mengajari Adam tentang kehidupan. Adam
tidak tercipta dari anak kecil, namun langsung dalam wujud dewasa. Jangan
bayangkan kalau Adam dengan tubuh dewasa terlihat seperti anak kecil. Tetapi
aku punya keyakinan, pasti saat itu Adam seperti para filosof, banyak bertanya
soal kehidupan. Untungnya, langsung Allah yang mengajari. Sehingga semua
jawaban pasti benar, karena Allah maha tahu. “Dan Dia ajarkan kepada Adam
nama-nama benda semuanya.” (Al-Baqarah : 31)
Bagaimana kau, apa masih kuat membaca? Ini baru
masalah pertama. Lanjut ke masalah Adam berikutnya.
Meski Adam hidup di surga yang penuh dengan kenikmatan, ternyata ia juga merasakan kegelisahan. Tak ada manusia lain selain dia. Adam hanya seorang diri. Mungkin malaikat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ia merasa kesepian ditengah keindahan surga. Ini menjadi masalahnya Adam yang kedua. Kadang ia termenung sendiri di bawah pohon rindang yang buah-buahannya cukup dipanggil bisa jatuh sendiri. Kadang juga, ia duduk di atas gunung sambil memandang keindahan daratan surga sambil meratapi kesendiriannya. Ia bingung apa yang harus dilakukan, karena sepi ia rasakan. Artinya, Adam juga pernah jomblo loh, seperti kau mungkin. Hahaha.. Ini hanya imajinasiku saja.
Kegelisahan-kegelisahan Adam rupanya sudah menjadi
rencana Allah. Manusia seperti Adam tidak diciptakan untuk sendiri. Allah pun
memberikan kejutan buat Adam sebagai jawaban atas masalahnya. Ketika Adam
sedang tertidur, Allah mengambil sebagian tulang rusuknya untuk menciptakan
manusia jenis lain. Lahirlah Manusia yang diberi nama Hawa. Inilah karunia
Allah sebagai jawaban atas kegelisahan Adam.
Ketika Adam bangun dari tidurnya, ia
kaget ada sosok manusia yang berbeda dengan dirinya sudah hadir di
sampingnya. “Siapa kamu?” Tanya Adam. “Aku adalah seorang wanita.” Jawab sosok
itu. Adam bertanya lagi, “Untuk apa kamu diciptakan?” Wanita itu menjawab,
“Agar kamu dapat merasa tentram di sampingku.” Pembicaran terus berlanjut
sampai Adam tau nama wanita itu adalah Hawa. Nama yang langsung diberikan Allah
juga.
Soal penciptaan Hawa ini, Nabi Saw pun
bersabda, “Aku berwasiat kepada kalian untuk memperlakukan para wanita dengan
baik, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling
condong (bengkok) dari tulang rusuk adalah bagian paling atas, apabila kamu
paksa meluruskannya maka akan membuatnya patah, namun jika kamu biarkan saja
maka ia akan tetap condong. Maka dari itu aku berwasiat untuk memperlakukan
wanita dengan baik.”
Adam dan Hawa adalam manusia dengan
unsur yang sama namun memiliki sifat yang berbeda. Masing-masing mempunya
tugasnya sendiri. Meski begitu, perbedaan tersebut merupakan satu kesatuan yang
menghidupi jalannya kisah kehidupan umat manusia.
Meski Adam sudah menemukan teman
hidupnya, ternyata masalah muncul lagi. Manusia memang tak pernah lepas dari
masalah. Masalah Adam kali ini bener-bener menguji dirinya sebagai manusia yang
mudah tergoda, yaitu manusia yang memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu inilah yang
sering menggoda manusia agar terjerumus ke lembah dosa.
Kau sudah tau bukan masalah
selanjutnya apa? Masalah ke tiga ini adalah pelanggaran Adam dan Hawa yang
memakan buah larangan Allah. Walapun ia
seorang nabi, Adam membawa sifat manusia yang luput dari kesalahan meski sudah
jelas Allah perintahkan: Janganlah kamu
berdua mendekati pohon ini, sehingga kalian termasuk orang-orang yang zhalim.
(Al A’raaf : 19)
Ada riwayat yang mengatakan, Adam
memakan buah terlarang tersebut karena ajakan Hawa. Hawa adalah orang pertama
yang memakan buah tersebut, lalu Adam juga ikut memakannya. Pendapat ini
dikuatkan oleh sabda Nabi Saw, “Kalau saja tidak karena perbuatan Hawa (dengan
membujuk Ada untuk memakan buah terlarang) maka wanita tidak akan pernah
menghianati suaminya.” Maksudnya, kalau saja Hawa tidak pernah berbuat khianat
kepada Adam dengan cara merayu dan membujuknya untuk melanggar perintah Allah,
maka turunan-turunanya yang wanita hingga akhir zaman tidak akan pernah berbuat
serupa terhadap suami mereka.
Inilah salah satu ujian manusia.
Begitu pentingnya wanita terhadap keselamatan hidup pria. Begitu juga pria
bagaimana menjaga wanita. Keduanya saling mengikat. Pria bisa jatuh karena
wanita. Wanita bisa “patah” karena pria. Soal hasrat ini yang menyebabkan Adam
terjatuh (ke bumi). Yah, seperti itulah manusia, selalu diuji dari
masalah-masalah yang muncul atas godaan hawa nafsu.
Tapi mereka sadar atas kesalahannya
lalu memohon ampun, “Ya Tuhan kami, kami
telah menzalimi diri kami sendiri. Jia engkau tidak mengampuni kami dan memberi
rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A’raf
22-23). Doa ini mengajarkan bentuk pengakuan atas kesalahan mereka. Mereka
bersimpuh, tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah. Mereka mengajarkan kepada
kita bawah bertobat adalah cara yang bijak ketika kita sadar telah berbuat
salah.
Tobat Adam dan Hawa memang diterima
oleh Allah. Namun, Allah tetap memberikan perintah berupa hukuman agar mereka
berdua turun ke bumi dan membangun kehidupan.
Tentang turunya Adam dan Hawa ke dunia
ini ada kisah perdebatan yang menarik antara Nabi Adam dengan Nabi Musa. Nabi
Musa pernah bertemu dengan Nabi Adam. Aku juga belum paham maksud pertemuannya
ini apakah setelah kematian mereka sehingga bertemu di surga atau saat Musa
masih hidup.
“Hai Adam, kamu bertanggung jawab atas
keluarnya manusia dari surga karena dosa yang kau perbuat hingga mereka dalam
kesengsaraan.” Ucap Nabi Musa. “Musa, kau adalah orang yang diistemewakan oleh
Allah dengan diberikan risalah-Nya dan dengan berbicara kepadamu secara
langsung. Apakah kau masih menyalahkanku suatu kejadian yang telah dituliskan
oleh Allah untukku sebelum aku diciptakan?” Kata Adam. Musa pun terdiam. Kisah
yang diceritakan dalam sabda Nabi Saw ini ditambahi oleh Nabi Saw,”Perkataan
Nabi Adam itu pun dapat mengalahkan pendapat Nabi Musa.” (Muttafaq Alaih)
Kau paham ya maksud kisah dari
perdebatan Nabi Adam dengan Nabi Musa. Semua kesalahan kita di dunia ini telah
dituliskan oleh Allah di lauhul mahfudz. Meski begitu, kesalahan seperti Nabi
Adam dan Hawa pun jika ia bertobat tetap akan diampuni oleh Allah. Allah pun
tetap menjanjikan Adam kembali ke surga jika ajal telah menjemput mereka. Jadi,
jangan salahkan Nabi Adam dan Hawa kalau kita sekarang tinggal di bumi. Bumi ini
adalah tempat ujian. Seperti yang aku katakan tadi, manusia diciptakan untuk di
uji dan diberikan masalah agar kita berusaha menjadi Insan Kamil, manusia
sempurna.
Allah pun berfirman, “Maka sekali-kali jangan sampai dia (iblis) mengeluarkan kamu berdua
dari surga, nanti kamu celaka. Sesungguhnya di Surga kamu tidak akan kelaparan
dan tidak dalam keadaan telanjang. Dan kamu tidak merasakan dahaga dan tidak
pula merasakan panas matahari di dalamnya. ” (Thaha : 117-119). Firman
Allah inilah yang membuktikan perbedaan antara di dunia dan di surga. Ketika
Adam turun ke dunia, ia harus merasakan hidup yang tidak senyaman di surga.
Setelah Adam tiba di muka bumi adam
dalam kondisi belum tahu apa-apa. Adam tidak tahu apa yang harus ia lakukan,
baik saat lapar atau saat haus. Masalah berikutnya muncul. Masalah ke
empat.
Kalau di Surga, jika ia lapar makanan
bisa datang dengan sendirinya. Berbeda dengan di bumi. Tak ada yang otomatis.
Adam mengalami ujiannya. Ia harus berpikir bagaimana agar ia tak kelaparan.
Sesulit apapun keberadaan Adam di bumi, karunia Allah tetap diberikannya. Allah
melalui Jibril memberi petunjuk bagaimana hidup di bumi, seperti petunjuk yang
kita dapatkan di Al Qur’an yang turun melalui Nabi Muhammad Saw. Tapi Allah tak
ingin membuat manusia seperti Adam manja. Petunjuk-petunjuk yang diberikan
bukan hasil, tapi lebih ke tata cara untuk mengerjakan proses. Untuk
mendapatkan hasilnya, manusia harus kerja keras dalam prosesnya.
Salah satu yang diajarkannya adalah
tentang mengolah makanan. Jibril datang hanya membawakan beberapa biji gandum.
Adam sempat kebingungan, buat apa biji gandum tersebut. Lalu Jibril menjelaskan
agar biji tersebut ditebarkan di tanah. Inilah untuk pertama Adam diajarkan
bercocok tanam. Adam harus sabar menanam tanaman dengan tekun dan ulet agar
bisa berbuah. Tidak hanya menanam, Adam juga diajarkan cara menggiling agar
bisa menjadi tepung, lalu mengadonnya dengan air, lalu memanggangnya hingga
menjadi roti sebagai makanan pokok. Semua ini harus dilakukan dengan kerja keras.
Tidak seperti saat di surga yang hanya tinggal petik dan makan.
Begitu juga soal pakaian dan soal
kehidupan berkeluarga. Mereka berdua datang ke bumi dalam keaadaan telanjang
dan belum tahu apa yang harus dilakukan. Ada sebuah riwayat yang mejelaskan,
bahwa Adam dan Hawa turun dalam keaadaan telanjang yang hanya ditutupi
daun-daun dari surga. Adam merasakan suhu panasnnya di Bumi. Ia mengeluh kepada
Hawa atas panas yang dirasa. Datanglah malaikat jibril dengan membawakan kapas
kepada Hawa. Di ajarkannya Hawa cara memintal kapas menjadi benang, lalu
menjadi pakaian. Tidak hanya itu, Jibril pun mengajarkan mereka berdua
bagaimana berhubungan suami istri. Menurut Ibnu Katsir, riwayat ini sebenarnya
masih dipertanyakan kesahihannya. Meski begitu, aku tetap mencantumkan kisah
ini sebab aku yakin, Adam dan Hawa ketika hidup sama seprti anak kecil yang
tidak mengerti apa-apa. Manusia harus diajarkan. Diberi tahu. Wallahualam atas kebenaran riwayatnya.
Dari kehidupan berkeluarga itulah
mereka melahirkan anak yang berpasang-pasangan. Lahir Qabil dengan kembaranya
yang perempuan, lahir juga Habil dengan kembarannya perempuan. Oleh Adam mereka
dinikahkan secara silang agar melahirkan turunan.
Keberadaan mereka ternyata melahirkan
kisah konflik pertama dalam sejarah umat manusia. Qabil merasa iri dengan
Habil. Mulai iri dari soal masalah pasangan yang dinikahkan hingga sikap iri
Qabil terhadap kelebihan yang dimiliki Habil. Faktor kecemburuan, iri dan
dengki menjadi awal penyakit itu. Aku tidak ingin bercerita banyak tentang
konfilk ini secara detail. Pasti kau sudah sering mendengarnya kan? Kisah
konflik ini sudah cukup jelas diceritakan di Surat Al-Maidah : 27-31. Konflik
keluarga ini yang membuat Adam menjadi luar biasanya sedih. Ini bisa juga kita
anggap masalah yang ke lima Adam. Sebuah masalah bagaimana ia harus mengelola
keluarga dengan berbagai sifatnya. Pada masalah inilah Adam kehilangan anak
terbaiknya yang bernama Habil karena dibunuh oleh Qabil. Bersyukur, Allah
mengkaruniai anak pengganti Habil. Lahirlah anak yang bernama Seth ketika Adam
telah berumur 130 tahun. Dari Seth inilah yang nantinya akan menurunkan
keturunan Nabi Idris dan Nabi Nuh.
Dari hasil kelahiran ini manusia
menjadi berkembang biak. Ada yang meriwayatkan kalau Adam dan Hawa melahirkan
40 anak. Ada juga ulama yang mengatakan Hawa merasakan 120 kelahiran dengan
setiap kelahiran melahirkan sepasang kembar. Beberapa ulama dan sejarawan ada
yang mengatakan sebelum meninggal Adam sudah memiliki keturunan hingga 40.000
orang. Riwayat juga menyebutkan umur Adam mencapai seribu tahun. Wallahu’alam.
Satu masalah lagi yang menjadi
penyakit umat manusia karena turunan Adam. Ketika menjelang waktu kematian,
Adam di datangi malaikat maut. Adam keberatan atas kedatangan malaikat maut. Ia
merasakan bahwa belum waktunya mati, “ Bukankah usiaku masih empat puluh tahun
lagi?” tanyanya pada malaikat maut. “Bukankah sisa usiamu itu telah engkau
berikan kepada salah satu keturunanmum Dawud?” Malaikat mengingatkan. Namun
Adam tetap menolak untuk mengakuinya.
Sebelumnya, ketika Adam telah baru
saja diciptakan, Allah telah menunjukkan para keturunannya. Saat Allah
menunjukkan itu, Adam melihat ada seorang dari turunannya memiliki cahaya di
antara kedua matanya, Adam bertanya, “Siapakah orang itu?” Allah menjawab, “Dia
adalah salah seorang dari keturunanmu yang hidup pada umat-umat terakhir,
namanya dawud.” Adam bertanya lagi, “Berapakah usia yang ditetapkan untuknya?”
Allah menjawab, “Enam puluh tahun.” Lalu Adam meminta, “ Ya Allah, tambahkannya
usianya empat puluh tahun dari usiaku.” Inilah yang dilupakan Adam. Penyakit
lupa inilah menurun kepada anak cucunya.
Setelah Adam meninggal semuan tanggung
jawab kepemimpinan bumi diserahkan oleh putranya yang bernama Seth. Ia juga
seorang nabi. Sayang tak banyak riwayat dan dalil Al-Qur’an yang mejelaskan
tentang Nabi Seth.
Seperti itulah masalah-masalah yang
dihadapi Adam sesuai alur kisah kehidupan yang dilaluinya. Mulai dari masalah
berhadapan dengan musuh abadi, masalah kesendirian, masalah godaan hawa nafsu,
masalah bertahan hidup di dunia, masalah mengelola keluarga, hingga masalah
lupa yang menjadi penyakit umat manusia. Semua masalah itu, Allah telah
memberikan jalan untuk menyelesaikannya, seperti cara Allah memberikan jalan
kepada Adam. Itulah misi Allah, mencipatakn masalahbuat kita agar kita
terdorong menjadi Insan Kamil. Tinggal
kita mau atau tidak berusaha menjalankannya.
Maha besar Allah,
Semoga aku dan kau tetap selalu berada
dalam petunjuk Allah. Oke, udah dulu ya. Maaf kalau telalu panjang. Semoga tidak lelah membacanya. Tunggu surat berikutnya.
Wassalamu’alaikum
w.r wb.
Jogja, 3 Desember 2014
Bung H.d.
Selanjutnya >> ; Surat untuk Kau - 2 : Yang Bermartabat Tinggi Nabi Idris
Sebelumnya >> ; Surat untuk Kau – Mukaddimah : Karena Kita Ada di Ruang dan Waktu
Nice article
BalasHapus