Sabtu, 06 Desember 2014

Surat untuk Kau - 2 : Yang Bermartabat Tinggi Nabi Idris



Bismillahirrahmannirrahim
Assalamau’alaikum

Hei Kau,

Kalau ada mesin waktu lalu aku kirim kau ke tahun 5.000an sebelum masehi (SM), apa yang akan kau lihat di masa itu? Mungkin kau akan bermajinasi, akan menemukan alam yang masih begitu indah tanpa ada limbah dan keursakan. Kemudian kau menemukan manusia yang masih hidup nomaden, pakaian hampir telanjang yang hanya dari kulit hewan, hidup di gua-gua dengan berbagai batu sebagai alat mencari penghidupan. Nampaknya, imajinasi kau sudah dibentuk dari yang sudah kita pelajari saat ini, baik dari sekolah ataupun cerita dan film. Berbeda dengan aku. Aku memiliki keyakinan, pada masa itu manusia sudah menjalani kehidupan yang berperadaban. Ini ada hubungannya dengan kisah seorang Nabi yang ingin kita bahas.

Masih ingat tentang pembagian era manusia dari jaman pra sejarah dan sejarah? Itu tuh, yang pernah kita pelajari saat kelas 1 SMA. Ah, kau pasti lupa. Semoga saja masih ingat. Singkatnya, jaman pra sejarah adalah jaman dimana manusia belum mengenal tulisan. Jaman sejarah adalah dimana manusia telah mengenal tulisan. Menurut sebagian besar peneliti sejarah, bahwa tingkat ilmu pengetahuan sebuah peradaban dilihat dari perkembangan tulisan. Sebuah peradaban dikatakan maju jika terdapat bukti berupa artefak yang terdapat tulisan. Keberadaan tulisanlah sebagai bukti hasil dari sebuah pikiran manusia yang ingin diabadikan.

Masa sejarah peradaban mulai dibicarakan dari tahun 2.900an SM, yaitu ketika muncul peradaban-peradaban kuno seperti Sumeria dan Akadia di lembah Sungai Eufrat dan Trigis serta peradaban Mesir di lembah sungai Nil. Alasan masa perhitungan sejarah sejak tahun-tahun tersebut dikarena mulai munculnya artefal-artefak yang memuat tulisan tentang kehidupan manusia saat itu. Masa sebelum itu, 5.000an - 3.000an SM tak ada catatan tertulis. Kebanyakan pada masa itu kehidupan manusia hanya diyakini dari kitab-kitab suci, termasuk Al-Quran. Makanya, menurut sebagian kalangan sejarawan barat disebut sebagai era pra sejarah. Eranya keberadan manusia purba.

Sengaja menyinggung soal masalah tulis-menulis, sebab sejarah kenabian yang akan kita bahas sudah memasuki dimana manusia mulai mengenal ilmu pengetahuan. Dialah Nabi Idris, yang menurut riwayat dari Ibnu Ishaq, Idris adalah manusia pertama yang mulai menulis dengan pena, menjahit pakaian dari kapas dengan jarum, dan yang sudah mempelajari ilmu hitung, ilmu hisab, serta perbintangan.

Jika kita mengikuti pendapat dari riwayat Ibnu Ishaq ini, maka, masa hidup Nabi Idris yaitu sekitar tahun 5.000an SM, dapat dikatakan peradabannya sudah cukup maju. Teori keberadaan manusia purba yang hidup belum beradab terbantahkan. Bisa jadi, catatan-catatan artefak pada masa itu hancur akibat banjir besar yang terjadi di era Nabi Nuh, yaitu sekitar tahun 3.000an SM. Wallahualam

Nabi Idris adalah turunan ke lima dari Nabi Syits. Sedangkan Nabi Syits anak langsung dari Nabi Adam. Ketika Nabi Adam meninggal, segara urusan kepemimpinan umat manusia diserahkan ke Nabi Syits. Syits dianggap nabi berdasarkan riwayat yang diturunkan Ibnu Hibban yang mengatakan bahwa Nabi Syits menerima suhuf sebagai ajaran yang diturukan Nabi Adam. Ketika Nabi Syits meninggal, kepemimpinan umat diserahkan kepada anaknya yang bernama Anusy. Kemudian Anusy meninggal, diserahkan kepada Qainan. Lalu, setelah Qainan meninggal, kepemimpinan diserahkan kepada Mahlail. Menurut riwayat dari orang Persia yang ditulis Ibnu Katsir, di masa Mahlail inilah Kota Babylonia terbentuk. Kota-kota dan benteng yang besar dibangun. Setelah Mahlail meninggal, kepemimpinan diturunkan kepada Yarid. Lalu, Yarid mempunyai anak yang dikenal bernama Henokh atau Akhnukh. Dinamakan Henokh atau Akhnukh karena merupakan sebutan dari Mbah Buyutnya Nabi Nuh. Dialah yang dikenal sebagai Nabi Idris.

Meski semua para pemimpin manusia itu turun menurun setelah kepergian pemimpin sebelumnya, mereka semua ketika hidup masih bertemu dengan Nabi Adam. Umur manusia jaman dahulu panjang-panjang. Nabi Adam berumur mencapai 960 tahun, artinya ia hidup sampai beberapa generasi. Menurut Ibnu Katsir, Nabi Idris pernah bertemu dengan Nabi Adam ketika Nabi Adam masih berumur 600an tahun.

Tak banyak ayat Al Qur’an yang menceritakan tentang Nabi Idris. Dalam Al-Qur’an Nabi Idris hanya disebutkan 2 kali. Salah satunya adalah Surat Maryam 56-57, “Dan ceritakanlah kisah Idris di dalam kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi.”

Banyak para ulama tafsir Al-Qur’an mencoba memahami makna tempat yang tinggi. Makna yang petama, Allah memuliakan Nabi Idris dengan kenabian dan menurunkan 30 shuhuf kepadanya. Selain itu, ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Nabi Idris juga membuat ia mendapatkan martabat yang tinggi. Keahliannya dalam menulis menggunakan pena, dan ilmu-ilmu yang sudah disebutkan tadi membuat Nabi Idris mendapat kedudukan mulia di sisi Allah. Karena ilmu pengetahuan ini, Nabi Idris merupakan manusia yang pada jamannya berhasil membangun sebuah peradaban manusia yang maju.

Makna kedua, makna yang tinggi dalam ayat tersebut adalah sebuah tempat yang sangat tinggi. Ada ulama yang berpendapat bahwa Nabi Idris tidak meninggal, namun di angkat oleh Allah langsung ke surga sehingga dimaknai sebagai manusia yang mendapat tempat yang tinggi di surga Allah. Ada juga pendapat seperti yang di sampaikan Ibnu Abbas ketika bertanya ke Ka’ab, beliau menjelaskan bahwa Nabi Idris diberi wahyu oleh Allah, “Sesungguhnya Aku akan mengangkat amalanmu pada setiap hari seperti amalan anak Adam lainnya.” Idris pun berusaha untuk menambahkan amalannnya. Ketika malaikat yang sering mendampingi Nabi Idris datang menemui, ia meminta sang malaikat untuk memberitahu malaikat maut agar menunda ajalnya. Sang malaikat menyetujui permintaan Idris, lalu mengajak Idris menemui malaikat maut langsung ke langit. Di terbangkanlah Idris oleh sang malaikat. Tak disangka, di langit ke empat mereka bertemu malaikat pencabut nyawa. Ternyata, sang malaikat pencabut nyawa baru saja diperintahkan Allah untuk mencabut nyawa Nabi Idris. Di tempat langit ke empat itulah Nabi Idris dicabut nyawanya. Inilah yang dimaksud firman Allah sebagai tempat yang tertinggi.

Kalaupun pendapat kedua itu shahih, aku lebih suka memilih pendapat yang petama. Orang-orang yang berilmu jelas akan dimuliakan oleh Allah sebagai orang yang bermartabat dan beradab.

Ada yang menarik diceritakan tentang Nabi ini dari Tafsir Al-Azhar yang ditulis oleh ulama negeri kita, Buya Hamka. Beliau mengutip dari Tafsir Jawahir yang ditulis oleh syeikh Thanthawi Jauhari di awal abad 20, yang mengatakan bahwa Idris adalah Oziris. Idris nama dari lafal bahasa arab, sama seperti Yesus yang dalam bahasa Arab adalah Isa.

Dalam sejarah peradaban Mesir yang kita temukan dalam buku-buku sejarah, Oziris adalah sosok dewa maut Mesir Kuno. Pada tafsir-tafsir sebelumnya, tidak ada yang menyebutkan tentang kesamaan Oziris dengan Nabi Idris. Dari penjelasan Buya Hamka, perkembangan ilmu pengetahuan di Abad 19 dalam penyelidikan kebudayaan peradaban Mesir yang terkenal dengan nama Egyptologi, telah berhasil membongkar rahasia huruf hieroglyph; huruf bangsa Mesir  kuno. Dari hasil penyelidikan yang baru berusia 165 tahun itu­lah didapat cerita tentang orang besar Mesir yang bernama Oziris itu. Dan ajaran-ajaran Oziris yang didapat dari huruf-huruf Kuno itu bertemu pokok ajaran Tauhid.

Menurut Syaikh Thanthawi, Oziris atau Idris ini seorang Nabi yang diutus Allah kepada bangsa Mesir Kuno dan membawa ajaran-ajaran dan perubahan. Tidak hanya sebagai Nabi, ia juga sekaligus seorang raja yang berpengaruh, karena pada masa Mesir itu antara kerajaan dan agama adalah satu. Menurut hasil sejarah itu juga, Idris meninggal dibunuh oleh saudaranya karena dengki akan pengaruhnya yang besar. Lalu jasadnya dibalsem.

Karena jasa kebaikan Oziris dan pengaruhnya yang besar dalam membangun peradaban Mesir, ia dimuliakan oleh para hakim dengan menempatkan sebagai manusia yang berhak berada di tempat yang sangat tinggi, yaitu di alam lain. Namun, semakin lama, beberapa ratus tahun kemudian dengan generasi turun menurun, Oziris malah dipertuhankan (Dewa Oziris).

Di dalam kitab Qashash al-Anbiya ada perdebatan soal dimana Idris di lahirkan dan dibesarkan. Ada yang berpendapat di wilayah Mesir, tepatnya di Memphis. Ada juga yang berpendapat Kota Babylon. Nabi Idris lalu diperintahkan Allah bersama pengikutnya untuk berpindah ke Mesir. Di Mesir beliau berdakwah menyeru umat manusia menuju jalan Allah.

Dari pendapat Syeikh Thanthawi dengan kitab Qashash al-Anbiya yang ditulis Ibnu Katsir ada kesamaan tentang letak perintah dakwah Nabi Idris. Meski begitu, kita kembali semua kebenaran itu pada Allah, Wallahualam.

Seru tidak? Seperti yang aku katakan pada di awal surat, bahwa mempelajari sejarah kenabian sama halnya kita mempelajari perkembangan kehidupan manusia. Semakin kita temukan penemuan-penemuan sejarah yang saling berhubungan antara pendapat yang satu dengan yang lainnya, semakin menarik kita kupas lebih dalam hikmahnya. Jadi, jaman pada kisah Nabi Idris ini kalau direnungkan sudah kita bisa anggap sebagai jaman sejarah, bukan pra sejarah lagi. Sebab, karya tulis sudah ada, diikuti pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kemajuan peradaban.

Bagaimana dengan kau? Apakah suka membaca dan menulis? Jika kau jauh dari kehidupan membaca dan menulis tak salah kalau aku katakan kau manusia pra sejarah (baca: manusia purba), hahaha..

Maha besar Allah yang maha mengetahui dan pemilik ilmu (Al ‘Aliim)

Wassalamu’alaikum,

Jogja, 6 Desember 2014
Bung H.d.


Baca,

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger