Bismillahirrahmannirrahim
Assalamau’alaikum
Hei Kau,
Kalau ada mesin waktu lalu aku kirim kau
ke tahun 5.000an sebelum masehi (SM), apa yang akan kau lihat di masa itu?
Mungkin kau akan bermajinasi, akan menemukan alam yang masih begitu indah tanpa
ada limbah dan keursakan. Kemudian kau menemukan manusia yang masih hidup nomaden,
pakaian hampir telanjang yang hanya dari kulit hewan, hidup di gua-gua dengan
berbagai batu sebagai alat mencari penghidupan. Nampaknya, imajinasi kau sudah
dibentuk dari yang sudah kita pelajari saat ini, baik dari sekolah ataupun cerita
dan film. Berbeda dengan aku. Aku memiliki keyakinan, pada masa itu manusia
sudah menjalani kehidupan yang berperadaban. Ini ada hubungannya dengan kisah
seorang Nabi yang ingin kita bahas.
Masih ingat tentang pembagian era manusia
dari jaman pra sejarah dan sejarah? Itu tuh, yang pernah kita pelajari saat
kelas 1 SMA. Ah, kau pasti lupa. Semoga saja masih ingat. Singkatnya, jaman pra
sejarah adalah jaman dimana manusia belum mengenal tulisan. Jaman sejarah
adalah dimana manusia telah mengenal tulisan. Menurut sebagian besar peneliti
sejarah, bahwa tingkat ilmu pengetahuan sebuah peradaban dilihat dari
perkembangan tulisan. Sebuah peradaban dikatakan maju jika terdapat bukti
berupa artefak yang terdapat tulisan. Keberadaan tulisanlah sebagai bukti hasil
dari sebuah pikiran manusia yang ingin diabadikan.
Masa sejarah peradaban mulai dibicarakan
dari tahun 2.900an SM, yaitu ketika muncul peradaban-peradaban kuno seperti
Sumeria dan Akadia di lembah Sungai Eufrat dan Trigis serta peradaban Mesir di
lembah sungai Nil. Alasan masa perhitungan sejarah sejak tahun-tahun tersebut
dikarena mulai munculnya artefal-artefak yang memuat tulisan tentang kehidupan
manusia saat itu. Masa sebelum itu, 5.000an - 3.000an SM tak ada catatan
tertulis. Kebanyakan pada masa itu kehidupan manusia hanya diyakini dari
kitab-kitab suci, termasuk Al-Quran. Makanya, menurut sebagian kalangan
sejarawan barat disebut sebagai era pra sejarah. Eranya keberadan manusia
purba.
Sengaja menyinggung soal masalah
tulis-menulis, sebab sejarah kenabian yang akan kita bahas sudah memasuki
dimana manusia mulai mengenal ilmu pengetahuan. Dialah Nabi Idris, yang menurut
riwayat dari Ibnu Ishaq, Idris adalah manusia pertama yang mulai menulis dengan
pena, menjahit pakaian dari kapas dengan jarum, dan yang sudah mempelajari ilmu
hitung, ilmu hisab, serta perbintangan.
Jika kita mengikuti pendapat dari riwayat
Ibnu Ishaq ini, maka, masa hidup Nabi Idris yaitu sekitar tahun 5.000an SM,
dapat dikatakan peradabannya sudah cukup maju. Teori keberadaan manusia purba yang
hidup belum beradab terbantahkan. Bisa jadi, catatan-catatan artefak pada masa
itu hancur akibat banjir besar yang terjadi di era Nabi Nuh, yaitu sekitar
tahun 3.000an SM. Wallahualam
Nabi Idris adalah turunan ke lima dari
Nabi Syits. Sedangkan Nabi Syits anak langsung dari Nabi Adam. Ketika Nabi Adam
meninggal, segara urusan kepemimpinan umat manusia diserahkan ke Nabi Syits.
Syits dianggap nabi berdasarkan riwayat yang diturunkan Ibnu Hibban yang
mengatakan bahwa Nabi Syits menerima suhuf sebagai ajaran yang diturukan Nabi
Adam. Ketika Nabi Syits meninggal, kepemimpinan umat diserahkan kepada anaknya
yang bernama Anusy. Kemudian Anusy meninggal, diserahkan kepada Qainan. Lalu,
setelah Qainan meninggal, kepemimpinan diserahkan kepada Mahlail. Menurut
riwayat dari orang Persia yang ditulis Ibnu Katsir, di masa Mahlail inilah Kota
Babylonia terbentuk. Kota-kota dan benteng yang besar dibangun. Setelah Mahlail
meninggal, kepemimpinan diturunkan kepada Yarid. Lalu, Yarid mempunyai anak
yang dikenal bernama Henokh atau Akhnukh. Dinamakan Henokh atau Akhnukh karena
merupakan sebutan dari Mbah Buyutnya Nabi Nuh. Dialah yang dikenal sebagai Nabi
Idris.
Meski semua para pemimpin manusia itu
turun menurun setelah kepergian pemimpin sebelumnya, mereka semua ketika hidup
masih bertemu dengan Nabi Adam. Umur manusia jaman dahulu panjang-panjang. Nabi
Adam berumur mencapai 960 tahun, artinya ia hidup sampai beberapa generasi.
Menurut Ibnu Katsir, Nabi Idris pernah bertemu dengan Nabi Adam ketika Nabi Adam
masih berumur 600an tahun.
Tak banyak ayat Al Qur’an yang
menceritakan tentang Nabi Idris. Dalam Al-Qur’an Nabi Idris hanya disebutkan 2
kali. Salah satunya adalah Surat Maryam 56-57, “Dan ceritakanlah kisah Idris
di dalam kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai
kebenaran dan seorang nabi, dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat)
yang tinggi.”
Banyak para ulama tafsir Al-Qur’an mencoba
memahami makna tempat yang tinggi. Makna yang petama, Allah memuliakan Nabi
Idris dengan kenabian dan menurunkan 30 shuhuf kepadanya. Selain itu, ilmu
pengetahuan yang dimiliki oleh Nabi Idris juga membuat ia mendapatkan martabat
yang tinggi. Keahliannya dalam menulis menggunakan pena, dan ilmu-ilmu yang
sudah disebutkan tadi membuat Nabi Idris mendapat kedudukan mulia di sisi
Allah. Karena ilmu pengetahuan ini, Nabi Idris merupakan manusia yang pada
jamannya berhasil membangun sebuah peradaban manusia yang maju.
Makna kedua, makna yang tinggi dalam ayat
tersebut adalah sebuah tempat yang sangat tinggi. Ada ulama yang berpendapat
bahwa Nabi Idris tidak meninggal, namun di angkat oleh Allah langsung ke surga
sehingga dimaknai sebagai manusia yang mendapat tempat yang tinggi di surga
Allah. Ada juga pendapat seperti yang di sampaikan Ibnu Abbas ketika bertanya
ke Ka’ab, beliau menjelaskan bahwa Nabi Idris diberi wahyu oleh Allah, “Sesungguhnya
Aku akan mengangkat amalanmu pada setiap hari seperti amalan anak Adam lainnya.”
Idris pun berusaha untuk menambahkan amalannnya. Ketika malaikat yang sering
mendampingi Nabi Idris datang menemui, ia meminta sang malaikat untuk
memberitahu malaikat maut agar menunda ajalnya. Sang malaikat menyetujui
permintaan Idris, lalu mengajak Idris menemui malaikat maut langsung ke langit.
Di terbangkanlah Idris oleh sang malaikat. Tak disangka, di langit ke empat
mereka bertemu malaikat pencabut nyawa. Ternyata, sang malaikat pencabut nyawa
baru saja diperintahkan Allah untuk mencabut nyawa Nabi Idris. Di tempat langit
ke empat itulah Nabi Idris dicabut nyawanya. Inilah yang dimaksud firman Allah
sebagai tempat yang tertinggi.
Kalaupun pendapat kedua itu shahih, aku
lebih suka memilih pendapat yang petama. Orang-orang yang berilmu jelas akan
dimuliakan oleh Allah sebagai orang yang bermartabat dan beradab.
Ada yang menarik diceritakan tentang Nabi
ini dari Tafsir Al-Azhar yang ditulis oleh ulama negeri kita, Buya Hamka.
Beliau mengutip dari Tafsir Jawahir yang ditulis oleh syeikh Thanthawi Jauhari
di awal abad 20, yang mengatakan bahwa Idris adalah Oziris. Idris nama dari
lafal bahasa arab, sama seperti Yesus yang dalam bahasa Arab adalah Isa.
Dalam sejarah peradaban Mesir yang kita
temukan dalam buku-buku sejarah, Oziris adalah sosok dewa maut Mesir
Kuno. Pada tafsir-tafsir sebelumnya, tidak ada yang menyebutkan tentang
kesamaan Oziris dengan Nabi Idris. Dari penjelasan Buya Hamka,
perkembangan ilmu pengetahuan di Abad 19 dalam penyelidikan kebudayaan
peradaban Mesir yang terkenal dengan nama Egyptologi, telah berhasil
membongkar rahasia huruf hieroglyph; huruf bangsa Mesir kuno. Dari
hasil penyelidikan yang baru berusia 165 tahun itulah didapat cerita tentang
orang besar Mesir yang bernama Oziris itu. Dan ajaran-ajaran Oziris yang
didapat dari huruf-huruf Kuno itu bertemu pokok ajaran Tauhid.
Menurut Syaikh Thanthawi, Oziris
atau Idris ini seorang Nabi yang diutus Allah kepada bangsa Mesir Kuno dan
membawa ajaran-ajaran dan perubahan. Tidak hanya sebagai Nabi, ia juga
sekaligus seorang raja yang berpengaruh, karena pada masa Mesir itu antara
kerajaan dan agama adalah satu. Menurut hasil sejarah itu juga, Idris meninggal
dibunuh oleh saudaranya karena dengki akan pengaruhnya yang besar. Lalu
jasadnya dibalsem.
Karena jasa kebaikan Oziris dan
pengaruhnya yang besar dalam membangun peradaban Mesir, ia dimuliakan oleh para
hakim dengan menempatkan sebagai manusia yang berhak berada di tempat yang
sangat tinggi, yaitu di alam lain. Namun, semakin lama, beberapa ratus tahun
kemudian dengan generasi turun menurun, Oziris malah dipertuhankan (Dewa
Oziris).
Di dalam kitab Qashash al-Anbiya
ada perdebatan soal dimana Idris di lahirkan dan dibesarkan. Ada yang
berpendapat di wilayah Mesir, tepatnya di Memphis. Ada juga yang berpendapat
Kota Babylon. Nabi Idris lalu diperintahkan Allah bersama pengikutnya untuk berpindah
ke Mesir. Di Mesir beliau berdakwah menyeru umat manusia menuju jalan Allah.
Dari pendapat Syeikh Thanthawi dengan
kitab Qashash al-Anbiya yang ditulis Ibnu Katsir ada kesamaan tentang
letak perintah dakwah Nabi Idris. Meski begitu, kita kembali semua kebenaran
itu pada Allah, Wallahualam.
Seru tidak? Seperti yang aku katakan pada
di awal surat, bahwa mempelajari sejarah kenabian sama halnya kita mempelajari
perkembangan kehidupan manusia. Semakin kita temukan penemuan-penemuan sejarah
yang saling berhubungan antara pendapat yang satu dengan yang lainnya, semakin
menarik kita kupas lebih dalam hikmahnya. Jadi, jaman pada kisah Nabi Idris ini
kalau direnungkan sudah kita bisa anggap sebagai jaman sejarah, bukan pra
sejarah lagi. Sebab, karya tulis sudah ada, diikuti pula dengan perkembangan
ilmu pengetahuan serta kemajuan peradaban.
Bagaimana dengan kau? Apakah suka membaca
dan menulis? Jika kau jauh dari kehidupan membaca dan menulis tak salah kalau
aku katakan kau manusia pra sejarah (baca: manusia purba), hahaha..
Maha besar Allah yang maha mengetahui dan
pemilik ilmu (Al ‘Aliim)
Wassalamu’alaikum,
Jogja, 6 Desember 2014
Bung H.d.
Baca,
Selanjutnya >> Surat untuk Kau - 3 : Curhatan Tukang Kayu
Sebelumnya >> Surat untuk Kau - 1 : Masalah-masalah Nabi Adam
Sebelumnya >> Surat untuk Kau - 1 : Masalah-masalah Nabi Adam

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.