Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum,
Hei Kau,
Sosok yang akan aku ceritakan kali ini adalah seorang
tukang kayu. Sebenarnya ia adalah penerus keturunan para pemimpin umatnya. Tapi
jaman telah berubah. Umat manusia menuju tahun 3.000 sebelum masehi mulai tak
mengikuti risalah kehidupan yang diajarkan para pemimpin agama tauhid. Ia
adalah cicit dari Nabi Idris. Dia juga masih satu garis keturunan dari Syits
bin Adam. Ketika masa Nabi Idris, umat manusia masih menyembah Tuhan Allah.
Namun, seiring waktu, jarak ribuan tahun membuat umat manusia tergelincir dari
tradisi yang awalnya berniat untuk tujuan penyembahan ke tuhan yang esa,
menjadi tradisi yang jauh dari tujuan tauhid. Sehingga, dewa-dewa bermunculan
dalam bentuk berhala. Munculan koloni-koloni manusia dan para raja-raja baru.
Sejak itulah, yang seharusnya tukang kayu itu mewarisi kepemimpinan risalah
ajaran ketauhidan sudah tidak dianggap lagi.
Kau sudah tahu siapa sang tukang kayu itu? Kalau sudah
tahu, baguslah. Jika belum berarti akan aku ajak main tebak-tebakan. Baca dulu
secara berurutan, jangan langsung cari jawabannya di bawah ya.
Allah tetap menakdirkannya sebagai penerus risalah
ketauhidan. Ia diangkat sebagai Rasul oleh Allah. Dialah Rasul pertama di muka
bumi ini. Jangan bangga dulu jika mendapat kedudukan spesial oleh Allah, sebab
ada ujian yang menantinya. Mengembalikan umat manusia ke jalan tauhid yang
benar adalah tugasnya. Ia mendapat tugas sekaligus tantangan dari Allah demi
sebuah kemuliaan di akherat kelak. Sebuah tugas yang sangat tidak mudah.
“Wahai kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada
Tuhan bagimu selain-Nya. Kalau kalian tidak menyembah Allah, aku takut kalian
akan ditimpa azab yang besar.” (Al A’raaf : 59) Seru sang tukang kayu itu
pada kaumnnya.
Seperti yang aku katakan tadi bahwa jaraknya waktu
dari era Adam, Idris, hingga sang tukang kayu ini membuat tradisi yang dahulunya
diniatkan untuk jalan yang benar, berubah menjadi jalan yang salah. Tradisi
yang dahulunya memiliki tujuan kepada ketauhidan, karena jarak waktu, terjadi
kehilangan esensi pemaknaan. Sehingga, ritual-ritual yang dilakukan hanya
sebatas kewajiban yang kehilangan tujuan bahkan menuju kesesatan. Kesyirikan
pun muncul akibat kebodohan-kebodohan itu. Ditambah juga, kemajuan peradaban
yang membuat manusia hanya disibukkan dengan aktivitas keduniaan. Terlalu
nikmat dengan kenyamanan dunia, lupa perenungan.
Nah, parahnya, kemajuan peradaban (adakalanya)
memunculkan manusia-manusia yang men-tuhankan pikiran dan perasaan akibat
jiwa tertutup oleh nafsunya. Maksudnya, manusia hanya menggunakan sebatas pikirannya
untuk membuktikan kebenaran. Manusia hanya ingin mempercayai kebenaran dari apa
yang dilihatnya dan apa yang sesuai dengan kemampuan akalnya. Bukankah
kemampuan akal untuk melihat kebenran itu terbatas? Pada akhirnya, mereka
membuat tuhan-tuhan baru yang sesuai jalan pikirannya. Tuhan-tuhan yang
menyenangkan hasratnya. Lalu menolak tuhan yang tak nampak, Tuhan yang mereka
rasa justru menyusahkan mereka. Munculah dewa-dewa yang disaksikan dalam bentuk
berhala. Kehancuran terjadi dimana-mana. Ketika hawa nafsu merajalela, berbagai
macam kerusakan seperti fitnah, pertempuran, perebutan kekuasaan, hingga
kerakusan dalam memanfaatkan alam menjadi kenyataan sehari-hari.
Jadi, tugas sang tukang kayu ini sangat berat. Ia tak
hanya sekedar menjelaskan ancaman Allah terhadap dosa-dosa umatnya, tapi
berupaya bagaimana merubah tradisi, cara berpikir dan mengembalikan keyakinan
mereka kepada Tuhan yang benar. Tahukah kau, apa tanggapan kaumnya? Pemuka-pemuka
dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam
kesesatan.” (Al A’raaf : 60)
Sang tukang kayu itu membalas, “Tak ada padaku
kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta Alam.”
(Al A’raaf : 61)
Kesesatan mereka tidak hanya segelintir orang, namun
hampir seluruh umat manusia pada jaman itu. Kesyirikan merajalela dimana-mana.
Tidak hentinya-hentinya sang tukang kayu berucap, “Sembahlah Allah, karena
tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.” (Al-Mukminun 23). Atas
seruan itu, salah satu pemuka mereka mengatakan kepada pengikut-pengikut
mereka, “Orang ini hanya manusia seperti kamu yang ingin menjadi orang yang
lebih mulia dari pada kamu. Seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus
malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan seperti ini pada masa nenek moyang
kami dahulu. Dia hanyalah seorang laki-laki yang gila.” (Al-Mukminun 24)
Buya Hamka, di tafsir Al Azhar-nya menjelaskan ayat
ini dengan menarik. Ia menuliskan, ayat ini
memberi kita pelajaran yang mendalam tentang dasar-dasar ilmu masyarakat. Suatu
masyarakat yang telah membeku dengan susunannya yang lama akan dipertahankan
dengan keras. Benci menerima perubahan. Seorang yang belum dikenal, jika tampil
ke muka membawa ide atau cita-cita yang baru, senantiasa akan mendapat
penolakan.
Inilah yang aku sebut tadi sebagai
tradisi. Manusia jika sudah terjebak pada tradisi sulit untuk merubahnya. Soal
tradisi bukan lagi soal mana benar dan mana salah. Terkadang, orang yang sudah
terjebak pada tradisi pun mengerti kalau ia salah. Hanya saja, untuk berhenti
dari tradisi itu banyak hambatan yang membuat mereka enggan meninggalkan.
Sampai-sampai mereka mengatakan kepada tukang kayu itu, “Kami tidak melihat
kamu memiliki suatu kelebihan apapun atas kami. Bahkan kami menganggap kamu
adalah orang pendusta.” (Hud : 27).
Bisakah kau rasakan, perasaan sang tukang kayu itu?
Bisakah kau rasakan, jika kau yakin apa yang kau sampaikan itu benar, tapi
malah dituduh pendusta? Rasa tulusnya di durhakai oleh kaumnnya. Dalam catatan
kisahnya di dalam Al-Qur’an, nampak kalau ia lelah dalam deritanya. Ia
sampaikan perasaanya kepada Allah. Hanya Allah tempat curhatnya. “Ya Allah,
aku telah menyeru mereka siang dan malam, namun seruanku hanyalah menambah
mereka lari dari kebenaran.”
Tak kuasa ia menahan sedih. Ia sampaikan gundahan
hatinya pada Sang Khalik, “Setiap kali aku menyeru mereka untuk beriman agar
Engkau mengampuni mereka, malah mereka menutup telinganya. Mereka juga menutup
baju ke wajahnya. Mereke menunjukkan kesombongannya, Ya Allah!” Lalu ia
lanjutkan, “Aku juga menyeru mereka ada yang secara terang-terangan,
terbuka. Kadang, aku juga menjelaskan perihal ini secara diam-diam. Aku
mengatakan kepada mereka, ‘minta ampunlah kepada Allah atas kelakukan kalian.
Karena Ia Maha Pengampun. Dia bisa menurunkan hujan yang lebat sebagai karunia
buat kalian. Dialah yang memperbanyak harta dan anak-anakmu, menghadirkan
kebun-kebun untukmu, dan mengalirkan sungai-sungai untuk kelangsungan hidupmu.
Mengapa kalian tidak takut akan kebesaran Allah?’ Seperti itu yang sudah aku
katakan kepada merkea, Ya Allah! Lalu juga aku katakan, ‘Coba kau perhatikan
bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis. Ia menciptakan bulan
yang bercahaya, menjadikan matahari sebagai pelita. Dia yang menciptakan kamu
dari tanah, kemudian kamu akan kembali ke tanah.’”
Semua yang sudah ia dakwahkan kepada kaumnya ia
katakan kepada Allah. Tapi, apa yang ia dakwahkan hanya kesia-siaan. Ia
berharap belas kasih Allah. Ia terus mengadu kepada Allah, “Ya Allah, mereka
telah durhaka kepadaku.” Lanjutnya ia mengadu, “Ya Allah, mereka
mengikuti para pemimpin yang sesat. Mereka juga mengajarkan anak turunannya
kesesatan. Mereka benar-benar melakukan tipu daya.” Kesesatan mereka bukan
untuk mereka sendiri, tapi juga mengajarkan kesesatan kepada orang lain dan
anak cucu mereka. Perlu kau tahu, ia berdakwah selama beberapa ratus tahun. Ia
berdakwah kepada kaumnya sampai beberapa generasi. Ia berdakwah selama 950
tahun. Maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh
tahun. (Al-Ankabut : 14) Selama beratus-ratus tahun itulah ia berusaha,
dengan berbagai cara pendekatannya, merubah manusia agar kembali ke jalan
Allah.
Seperti tulis Ath-Thabari dalam kitab Tarikhnya,
sering kandas usaha dakwah sang tukang kayu ini di setiap generasi juga akibat
para orang tua mereka. Para orang tua selalu mengajarkan kepada turunannya agar
menjauhi sang tukang kayu. Menjauhi ajarannya. Hanya demi menjaga kelestarian
tradisi mereka. Didikan kesesatannya itu turun menurun. Inilah ujian yang
sangat besar. Kesabaran dan ketawakalannya kepada Allah-lah yang menguatkannya.
Ia juga belum berhenti mengadu, “Ya Allah, para
pemimpin mereka juga berkata kepada pengikutnya, ‘Jangan kalian meninggalkan
kebiasaan kita mengaggungkan kepada Wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq, dan nasr.’
” Semua perbuatan kaumnnya ia adukan kepada Allah. Termasuk nama-nama
sesembahan kaumnnya ia sebutkan. Ia berharap akan keputusan Allah ap ayang
harus ia lakukan.
Dari riwayat Ibnu Abbas, nama-nama sesembahan yang ada
dalam doanya itu sebenarnya berasal dari nama orang-orang sholeh pada jamannya.
Setelah mereka meninggal setan membisiki kepada kaum mereka untuk membuat
patung-patung di tempat mereka beribadah dengan nama-nama itu untuk
mengingatkan kesalehan mereka. Pada awalnya bukan untuk disembah, karena jarak
waktu patung-patung itu akhirnya dijadikan sesembahan oleh orang yang hidup
setelah mereka.
Semua ucapan-ucapan curhatnya sang tukang kayu ini aku
olah dari ayat Al-Qur’an yang tertuang di Surat Nuh ayat 5 - 23. Jadi kau sudah
tahu bukan sang tukang kayu ini. Dialah Nabi Nuh. Lengkapnya Nuh bin Lamekh bin
Metusalah bin Henokh/Akhnukh (Nabi Idris). Ayah, kakek, dan buyutnya adalah
para pemimpin umat manusia pada jaman sebelumnya. Kelihatannya jarak antara
Nabi Idris dengan Nuh begitu dekat. Kemungkinan hanya ratusan tahun. Tapi itu
belum tentu juga, ada kemungkinan mencapai angka lebih dari seribu tahun.
Mengingat, manusia jaman dahulu umurnya panjang-panjang, bisa mencapai ratusan
tahun. Wallahualam.
Kemudian Allah menenangkannya dengan berfirman, “Janganlah
engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat.” (Hud : 36)
Ibnu katsir menjelaskan dalam tafsirnya, “janganlah kamu terlarut dalam
kesedihan karena melihat keingkaran kaummu. Akan nada peristiwa dahsyat yang
akan terjadi.”
Di akhir pengaduannya, ia memanjatkan permohonan, “Ya
Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seseorang pun di antara orang-orang kafir itu
tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya
mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka hanya akan melahirkan
anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur.” (Nuh: 26-27)
Doa Nuh dikabulkan oleh Allah. Ini bukan sikap
menyerah Nuh atas gagalnya mengubah umat manusia. Bukan pula sikap pengecut.
Tapi sikap tawakal Nuh kepada Allah atas kaumnya yang sudah tidak bisa diubah
lagi. Dari pada akan terus merusak generasi setelahnya yang berefek pada
kehancuran alam, maka oleh Allah “habisi” saja (di azab).
Lalu turun perintah untuk membuat kapal.
Menenggelamkan seluruh umat manusia adalah cara Allah yang dikehendaki-Nya.
Dengan keahliannya sebagai tukang kayu, Nuh membangun kapal tersebut selama
beberapa ratus tahun atas petunjuk Allah. Ia membangunnya mulai dari menanam
pohon sebagai bahan baku untuk bahteranya. Sekali lagi, inilah bentuk tawakal
Nuh. Sebuah bahtera super besar yang dipersiapkan untuk mengikuti rencana Allah
selanjutnya.
Setelah kapal berhasil dibangun, Nuh mendapat perintah
selanjutnya, yaitu membawa beberapa spesies hewan yang berpasang-pasangan untuk
kelangsungan hidup serta berbagaimacam tumbuhan. Aku yakin, kapal yang dibangun
Nuh bukan sembarang kapal. Kapal ini memiliki teknologi yang mukhtahir pada
jamannya. Ketika memasukan beragam spesies hewan, tidak semudah yang
dibayangkan. Ruang-ruang di dalam kapal pun pasti akan dibentuk sesuai kondisi
yang dibutuhkan oleh hewan-hewan dan tumbuhan agar tetap hidup.
Lalu kami bukakan pintu-pintu langit dengan menurunkan
air yang tercurah. Dan kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air maka
bertemulah air-air itu sehingga meluap menimbulkan bencana yang telah
ditetapkan. (Al-Qamar 11-12)
Ada yang menarik dari ayat ini. Beberapa ulama sepakat
bahwa banjir beasar pada jaman ini bukan banjir lokal, namun banjir yang
menenggelamkan hampir seluruh permukaan bumi. Dari ayat ini tertulis bahwa
sumber air berasal dari air yang dicurah dari langit, bisa kita sebut sebagai
hujan. Allah juga menambahkan penjelasannya, bahwa bumi menyemburkan mata-mata
airnya. Sumber banjir ini tidak hanya dari hujan, namun dari dalam bumi itu
sendiri. Apa kau pikir laut? atau air tanah? Apa itu cukup untuk menelan bumi?
Baru-baru ini, beberapa ilmuan mempublikasikan adanya
termuan samudera di dalam perut bumi berkedalaman 600an KM. Samudera tersebut
tiga kali lebih luas dari samudera yang ada di permukaan bumi. Sesungguhnya
di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan (HR Abu
Daud). Ada dugaan, banjir jaman Nabi Nuh berasal dari air yang keluar dari
perut bumi melalui aktivitas vulkanik, sehingga air bah itu menutup permukaan
bumi sampai menutup gunung yang paling tinggi sekalipun.
Apa kau bisa membayangkan kondisi saat itu? Pasti bumi
benar-benar dalam kondisi yang mengerikan. Tak ada tempat bagi manusia untuk
menghindari banjir, kecuali orang-orang yang masih mau beriman mengikuti Nuh.
Dan itupun sangat sedikit.
Jangan kita bayangkan Nuh dan umatnya di dalam kapal
merasa lega karena berhasil selamat. Jangan kita bayangkan seperti film holywood yang judulnya 2012. Difilmkan manusia-manusia angkuh di dalam kapalnya merasa bersyukur
bisa terselamatkan, karena mereka adalah orang-orang yang punya uang dan jabatan
sehingga memiliki ticket untuk naik kapal. Juga jangan kita bayangkan Nuh
seperti tokoh utama di Film Noah yang merasa menyesal ketika telah
terselamatkan oleh kapalnya. Ia merasa salah membuat kapal, sebab,
di film itu menceritakan Noah seharusnya mengikuti keinginan Tuhan yang sedang
marah sehingga menenggelamkan seluruh manusia di muka bumi tanpa tersisa, termasuk dirinya.
Tidak. Tidak seperti itu Nuh yang asli dalam sejarah
sesungguhnya. Justru ia bersedih karena tidak berhasil menyelamatkan umatnya
dari azab Allah. Raut kecewa yang mungkin ia tampakkan ketika gemuruh ombak
mengombang-ambingkan kapalnya tanpa arah. Tapi itu sudah keputusan Allah.
Kata-kata curhatnya dijawab Allah dengan ketentuan-Nya. Nuh tidak salah. Ia
berhasil dalam proses. Hasil urusan Allah.
Yang paling menyesal lagi, Nuh tidak berhasilnya
menyelamatkan sang anak yang bernama Yam. “Wahai anakku! Naiklah ke kapal
bersama kami. Janganlah kamu bersama orang-orang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku
akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan dari banjir ini.”
Nuh pun berucap, “Tak ada yang melindungi dari siksaan Alla pada hari ini
selain Allah yang Maha Penyayang.” (Hud : 42-43) Benar-benar drama yang
menyedihkan.
Tapi Allah punya kehendak, masih menyisakan tiga anak
Nuh yang ikut diselamatkan di dalam kapal karena masih mau mengikuti ajaran
Nuh. Mereka adalah Sam, Ham dan Yafits. Mereka bertiga juga beserta
istri-istrinya.
Ketika banjir reda, kapal terdampar di pegunungan
Judiy. Banyak sejarawan yang mencoba menafsirkan dimana posisi gunung Judiy
tersebut. Penerlitian sementara membuktikan bahwa pegunungan tersebut terletak
di perbatasan antara Iran dan Turki, karena ditemukannya bentuk menyerupai
kapal yang besar.
Setelah banjir besar ini Nuh berdoa, agar tidak
terjadinya kembali azab seperti ini. Cukup hanya pada masa hidup Nuh saja. Dan
sejarah pun mencatat, sampai ke jaman Nabi Muhammad, azab Allah kebanyakan
hanya diturunkan kepada bangsa-bangsa dari kaum Nabi tertentu.
Inilah banjir yang membuat seluruh umat manusia punah.
Tak ada lagi peradaban. Hanya yang berada di atas kapal Nuh saja yang tersisia.
Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang beriman. Dari keluarga Nuh pun,
yaitu anak-anaknya hanya yang beriman saja yang selamat.
Selama hidupnya, Nuh mempunyai 4 putera, yaitu Sam,
Ham, Yafits dan Yam (ada yang menyebutkan Kan’an). Yam ini yang diceritakan di
dalam Al Qur’an tadi yang mencoba berlindung di gunung, namun akhirnya ikut
tenggelam. Dari berbagai riwayat dan literatur sejarah mengatakan bahwa seluruh
umat manusia yang ada di bumi hingga saat ini adalah keturunan dari tiga anak
Nuh tersebut. Para sejarawan juga sepakat, seluruh ras manusia setelah Nuh
bukan berasal dari umat yang bersamanya di dalam perahu. Mereka semua atas
kehendak Allah tidak memiliki keturunan. Keturunan umat manusia hanya dari tiga
anak Nuh saja.
Imam Ahmad meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Sam
adalah bapak orang Arab, Ham adalah bapak orang Habsyi, dan Yafits adalah bapak
orang Romawi.” Jadi, setelah kejadian bencana besar umat manusia ini, Nuh
adalah nenek moyang kita. Nenek moyang seluruh manusia di muka bumi.
Anak-anaknya beranak-pinak menyebar keseluruh penjuru dunia menjadi
bangsa-bangsa setelahnya. Contohnya, bangsa Yunani diturunkan dari Yunan bin
Yafits (termasuk menurunkan orang-orang romawi atau orang-orang eropa), bangsa
Cina diturunkan dari Shini bin Maghugh bin Yafits. Bangsa Persi diturunkan dari
Faris bin Lawud bin Sam. Bangsa az-Zanj (negro), Sind dan Habsy (kulit hitam)
diturunkan dari Kusy bin Ham. Dan Arab berasal dari Sam. Dan seterusnya.
Para anak turunan mereka bercerita secara turun
menurun tentang bencana maha dahsyat ini. Sebagian besar dari turunan mereka
menciptakan agama-agama baru yang jauh dari ajaran tauhid sehingga lahirlah
mitos. Begitu juga agama-agama samawi menceritakan tentang banjir ini disetiap
kitab yang diturunkan para Rasul sebelum Rasulullah Saw. Kita sebagai muslim
meyakini Al-Qur’an sebagai risalah kebenaran, maka kita yakin bahwa kisah yang
diceritakan Allah ini adalah kebenaran. Tinggal menunggu waktu ilmu pengetahuan
akan membuktikan kebenaran yang kita yakini ini.
Seperti inilah curhat tukang kayu yang pembawa
risalah. Curhatnya dijawab dengan pemusnahan umat manusia. Bagaimana dengan
curhat-curhat kita kepada Allah? Tunggu saja kejutan dari-Nya.
Maha Besar Allah yang Maha Memutuskan (Al-Hakam)
Wassalammu’alaikum
Jogja 9 Desember 2014
@RidwanHd
Baca,
Selanjutnya >> Surat untuk Kau - 4 : Para Penantang Tuhan
Sebelumnya >> Surat untuk Kau - 2 : Yang Bermartabat Tinggi Nabi Idris
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.