Selasa, 09 Desember 2014

Surat untuk Kau - 3 : Curhatan Tukang Kayu


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum,

Hei Kau,

Sosok yang akan aku ceritakan kali ini adalah seorang tukang kayu. Sebenarnya ia adalah penerus keturunan para pemimpin umatnya. Tapi jaman telah berubah. Umat manusia menuju tahun 3.000 sebelum masehi mulai tak mengikuti risalah kehidupan yang diajarkan para pemimpin agama tauhid. Ia adalah cicit dari Nabi Idris. Dia juga masih satu garis keturunan dari Syits bin Adam. Ketika masa Nabi Idris, umat manusia masih menyembah Tuhan Allah. Namun, seiring waktu, jarak ribuan tahun membuat umat manusia tergelincir dari tradisi yang awalnya berniat untuk tujuan penyembahan ke tuhan yang esa, menjadi tradisi yang jauh dari tujuan tauhid. Sehingga, dewa-dewa bermunculan dalam bentuk berhala. Munculan koloni-koloni manusia dan para raja-raja baru. Sejak itulah, yang seharusnya tukang kayu itu mewarisi kepemimpinan risalah ajaran ketauhidan sudah tidak dianggap lagi.

Kau sudah tahu siapa sang tukang kayu itu? Kalau sudah tahu, baguslah. Jika belum berarti akan aku ajak main tebak-tebakan. Baca dulu secara berurutan, jangan langsung cari jawabannya di bawah ya.

Allah tetap menakdirkannya sebagai penerus risalah ketauhidan. Ia diangkat sebagai Rasul oleh Allah. Dialah Rasul pertama di muka bumi ini. Jangan bangga dulu jika mendapat kedudukan spesial oleh Allah, sebab ada ujian yang menantinya. Mengembalikan umat manusia ke jalan tauhid yang benar adalah tugasnya. Ia mendapat tugas sekaligus tantangan dari Allah demi sebuah kemuliaan di akherat kelak. Sebuah tugas yang sangat tidak mudah.

Wahai kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Kalau kalian tidak menyembah Allah, aku takut kalian akan ditimpa azab yang besar.” (Al A’raaf : 59) Seru sang tukang kayu itu pada kaumnnya.

Seperti yang aku katakan tadi bahwa jaraknya waktu dari era Adam, Idris, hingga sang tukang kayu ini membuat tradisi yang dahulunya diniatkan untuk jalan yang benar, berubah menjadi jalan yang salah. Tradisi yang dahulunya memiliki tujuan kepada ketauhidan, karena jarak waktu, terjadi kehilangan esensi pemaknaan. Sehingga, ritual-ritual yang dilakukan hanya sebatas kewajiban yang kehilangan tujuan bahkan menuju kesesatan. Kesyirikan pun muncul akibat kebodohan-kebodohan itu. Ditambah juga, kemajuan peradaban yang membuat manusia hanya disibukkan dengan aktivitas keduniaan. Terlalu nikmat dengan kenyamanan dunia, lupa perenungan.

Nah, parahnya, kemajuan peradaban (adakalanya) memunculkan manusia-manusia  yang men-tuhankan pikiran dan perasaan akibat jiwa tertutup oleh nafsunya. Maksudnya, manusia hanya menggunakan sebatas pikirannya untuk membuktikan kebenaran. Manusia hanya ingin mempercayai kebenaran dari apa yang dilihatnya dan apa yang sesuai dengan kemampuan akalnya. Bukankah kemampuan akal untuk melihat kebenran itu terbatas? Pada akhirnya, mereka membuat tuhan-tuhan baru yang sesuai jalan pikirannya. Tuhan-tuhan yang menyenangkan hasratnya. Lalu menolak tuhan yang tak nampak, Tuhan yang mereka rasa justru menyusahkan mereka. Munculah dewa-dewa yang disaksikan dalam bentuk berhala. Kehancuran terjadi dimana-mana. Ketika hawa nafsu merajalela, berbagai macam kerusakan seperti fitnah, pertempuran, perebutan kekuasaan, hingga kerakusan dalam memanfaatkan alam menjadi kenyataan sehari-hari.

Jadi, tugas sang tukang kayu ini sangat berat. Ia tak hanya sekedar menjelaskan ancaman Allah terhadap dosa-dosa umatnya, tapi berupaya bagaimana merubah tradisi, cara berpikir dan mengembalikan keyakinan mereka kepada Tuhan yang benar. Tahukah kau, apa tanggapan kaumnya? Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata,Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan.” (Al A’raaf : 60)

Sang tukang kayu itu membalas, “Tak ada padaku kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta Alam.” (Al A’raaf : 61)

Kesesatan mereka tidak hanya segelintir orang, namun hampir seluruh umat manusia pada jaman itu. Kesyirikan merajalela dimana-mana. Tidak hentinya-hentinya sang tukang kayu berucap, “Sembahlah Allah, karena tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.” (Al-Mukminun 23). Atas seruan itu, salah satu pemuka mereka mengatakan kepada pengikut-pengikut mereka, “Orang ini hanya manusia seperti kamu yang ingin menjadi orang yang lebih mulia dari pada kamu. Seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan seperti ini pada masa nenek moyang kami dahulu. Dia hanyalah seorang laki-laki yang gila.” (Al-Mukminun 24)

Buya Hamka, di tafsir Al Azhar-nya menjelaskan ayat ini dengan menarik. Ia menuliskan, ayat ini memberi kita pelajaran yang mendalam tentang dasar-dasar ilmu masyarakat. Suatu masyarakat yang telah membeku dengan susunannya yang lama akan dipertahankan dengan keras. Benci menerima perubahan. Seorang yang belum dikenal, jika tampil ke muka membawa ide atau cita-cita yang baru, senantiasa akan mendapat penolakan.

Inilah yang aku sebut tadi sebagai tradisi. Manusia jika sudah terjebak pada tradisi sulit untuk merubahnya. Soal tradisi bukan lagi soal mana benar dan mana salah. Terkadang, orang yang sudah terjebak pada tradisi pun mengerti kalau ia salah. Hanya saja, untuk berhenti dari tradisi itu banyak hambatan yang membuat mereka enggan meninggalkan. Sampai-sampai mereka mengatakan kepada tukang kayu itu, “Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apapun atas kami. Bahkan kami menganggap kamu adalah orang pendusta.” (Hud : 27).

Bisakah kau rasakan, perasaan sang tukang kayu itu? Bisakah kau rasakan, jika kau yakin apa yang kau sampaikan itu benar, tapi malah dituduh pendusta? Rasa tulusnya di durhakai oleh kaumnnya. Dalam catatan kisahnya di dalam Al-Qur’an, nampak kalau ia lelah dalam deritanya. Ia sampaikan perasaanya kepada Allah. Hanya Allah tempat curhatnya. “Ya Allah, aku telah menyeru mereka siang dan malam, namun seruanku hanyalah menambah mereka lari dari kebenaran.”

Tak kuasa ia menahan sedih. Ia sampaikan gundahan hatinya pada Sang Khalik, “Setiap kali aku menyeru mereka untuk beriman agar Engkau mengampuni mereka, malah mereka menutup telinganya. Mereka juga menutup baju ke wajahnya. Mereke menunjukkan kesombongannya, Ya Allah!” Lalu ia lanjutkan, “Aku juga menyeru mereka ada yang secara terang-terangan, terbuka. Kadang, aku juga menjelaskan perihal ini secara diam-diam. Aku mengatakan kepada mereka, ‘minta ampunlah kepada Allah atas kelakukan kalian. Karena Ia Maha Pengampun. Dia bisa menurunkan hujan yang lebat sebagai karunia buat kalian. Dialah yang memperbanyak harta dan anak-anakmu, menghadirkan kebun-kebun untukmu, dan mengalirkan sungai-sungai untuk kelangsungan hidupmu. Mengapa kalian tidak takut akan kebesaran Allah?’ Seperti itu yang sudah aku katakan kepada merkea, Ya Allah! Lalu juga aku katakan, ‘Coba kau perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis. Ia menciptakan bulan yang bercahaya, menjadikan matahari sebagai pelita. Dia yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian kamu akan kembali ke tanah.’”

Semua yang sudah ia dakwahkan kepada kaumnya ia katakan kepada Allah. Tapi, apa yang ia dakwahkan hanya kesia-siaan. Ia berharap belas kasih Allah. Ia terus mengadu kepada Allah, “Ya Allah, mereka telah durhaka kepadaku.” Lanjutnya ia mengadu, “Ya Allah, mereka mengikuti para pemimpin yang sesat. Mereka juga mengajarkan anak turunannya kesesatan. Mereka benar-benar melakukan tipu daya.” Kesesatan mereka bukan untuk mereka sendiri, tapi juga mengajarkan kesesatan kepada orang lain dan anak cucu mereka. Perlu kau tahu, ia berdakwah selama beberapa ratus tahun. Ia berdakwah kepada kaumnya sampai beberapa generasi. Ia berdakwah selama 950 tahun. Maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. (Al-Ankabut : 14) Selama beratus-ratus tahun itulah ia berusaha, dengan berbagai cara pendekatannya, merubah manusia agar kembali ke jalan Allah.

Seperti tulis Ath-Thabari dalam kitab Tarikhnya, sering kandas usaha dakwah sang tukang kayu ini di setiap generasi juga akibat para orang tua mereka. Para orang tua selalu mengajarkan kepada turunannya agar menjauhi sang tukang kayu. Menjauhi ajarannya. Hanya demi menjaga kelestarian tradisi mereka. Didikan kesesatannya itu turun menurun. Inilah ujian yang sangat besar. Kesabaran dan ketawakalannya kepada Allah-lah yang menguatkannya.

Ia juga belum berhenti mengadu, “Ya Allah, para pemimpin mereka juga berkata kepada pengikutnya, ‘Jangan kalian meninggalkan kebiasaan kita mengaggungkan kepada Wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq, dan nasr.’ ” Semua perbuatan kaumnnya ia adukan kepada Allah. Termasuk nama-nama sesembahan kaumnnya ia sebutkan. Ia berharap akan keputusan Allah ap ayang harus ia lakukan.

Dari riwayat Ibnu Abbas, nama-nama sesembahan yang ada dalam doanya itu sebenarnya berasal dari nama orang-orang sholeh pada jamannya. Setelah  mereka meninggal setan membisiki kepada kaum mereka untuk membuat patung-patung di tempat mereka beribadah dengan nama-nama itu untuk mengingatkan kesalehan mereka. Pada awalnya bukan untuk disembah, karena jarak waktu patung-patung itu akhirnya dijadikan sesembahan oleh orang yang hidup setelah mereka.

Semua ucapan-ucapan curhatnya sang tukang kayu ini aku olah dari ayat Al-Qur’an yang tertuang di Surat Nuh ayat 5 - 23. Jadi kau sudah tahu bukan sang tukang kayu ini. Dialah Nabi Nuh. Lengkapnya Nuh bin Lamekh bin Metusalah bin Henokh/Akhnukh (Nabi Idris). Ayah, kakek, dan buyutnya adalah para pemimpin umat manusia pada jaman sebelumnya. Kelihatannya jarak antara Nabi Idris dengan Nuh begitu dekat. Kemungkinan hanya ratusan tahun. Tapi itu belum tentu juga, ada kemungkinan mencapai angka lebih dari seribu tahun. Mengingat, manusia jaman dahulu umurnya panjang-panjang, bisa mencapai ratusan tahun. Wallahualam.

Kemudian Allah menenangkannya dengan berfirman, “Janganlah engkau bersedih hati  tentang apa yang mereka perbuat.” (Hud : 36) Ibnu katsir menjelaskan dalam tafsirnya, “janganlah kamu terlarut dalam kesedihan karena melihat keingkaran kaummu. Akan nada peristiwa dahsyat yang akan terjadi.”

Di akhir pengaduannya, ia memanjatkan permohonan, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seseorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur.” (Nuh: 26-27)

Doa Nuh dikabulkan oleh Allah. Ini bukan sikap menyerah Nuh atas gagalnya mengubah umat manusia. Bukan pula sikap pengecut. Tapi sikap tawakal Nuh kepada Allah atas kaumnya yang sudah tidak bisa diubah lagi. Dari pada akan terus merusak generasi setelahnya yang berefek pada kehancuran alam, maka oleh Allah “habisi” saja (di azab).

Lalu turun perintah untuk membuat kapal. Menenggelamkan seluruh umat manusia adalah cara Allah yang dikehendaki-Nya. Dengan keahliannya sebagai tukang kayu, Nuh membangun kapal tersebut selama beberapa ratus tahun atas petunjuk Allah. Ia membangunnya mulai dari menanam pohon sebagai bahan baku untuk bahteranya. Sekali lagi, inilah bentuk tawakal Nuh. Sebuah bahtera super besar yang dipersiapkan untuk mengikuti rencana Allah selanjutnya.

Setelah kapal berhasil dibangun, Nuh mendapat perintah selanjutnya, yaitu membawa beberapa spesies hewan yang berpasang-pasangan untuk kelangsungan hidup serta berbagaimacam tumbuhan. Aku yakin, kapal yang dibangun Nuh bukan sembarang kapal. Kapal ini memiliki teknologi yang mukhtahir pada jamannya. Ketika memasukan beragam spesies hewan, tidak semudah yang dibayangkan. Ruang-ruang di dalam kapal pun pasti akan dibentuk sesuai kondisi yang dibutuhkan oleh hewan-hewan dan tumbuhan agar tetap hidup.

Lalu kami bukakan pintu-pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah. Dan kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air maka bertemulah air-air itu sehingga meluap menimbulkan bencana yang telah ditetapkan. (Al-Qamar 11-12)

Ada yang menarik dari ayat ini. Beberapa ulama sepakat bahwa banjir beasar pada jaman ini bukan banjir lokal, namun banjir yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan bumi. Dari ayat ini tertulis bahwa sumber air berasal dari air yang dicurah dari langit, bisa kita sebut sebagai hujan. Allah juga menambahkan penjelasannya, bahwa bumi menyemburkan mata-mata airnya. Sumber banjir ini tidak hanya dari hujan, namun dari dalam bumi itu sendiri. Apa kau pikir laut? atau air tanah? Apa itu cukup untuk menelan bumi?

Baru-baru ini, beberapa ilmuan mempublikasikan adanya termuan samudera di dalam perut bumi berkedalaman 600an KM. Samudera tersebut tiga kali lebih luas dari samudera yang ada di permukaan bumi. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan (HR Abu Daud). Ada dugaan, banjir jaman Nabi Nuh berasal dari air yang keluar dari perut bumi melalui aktivitas vulkanik, sehingga air bah itu menutup permukaan bumi sampai menutup gunung yang paling tinggi sekalipun.

Apa kau bisa membayangkan kondisi saat itu? Pasti bumi benar-benar dalam kondisi yang mengerikan. Tak ada tempat bagi manusia untuk menghindari banjir, kecuali orang-orang yang masih mau beriman mengikuti Nuh. Dan itupun sangat sedikit.

Jangan kita bayangkan Nuh dan umatnya di dalam kapal merasa lega karena berhasil selamat. Jangan kita bayangkan seperti film holywood yang judulnya 2012. Difilmkan manusia-manusia angkuh di dalam kapalnya merasa bersyukur bisa terselamatkan, karena mereka adalah orang-orang yang punya uang dan jabatan sehingga memiliki ticket untuk naik kapal. Juga jangan kita bayangkan Nuh seperti tokoh utama di Film Noah yang merasa menyesal ketika telah terselamatkan oleh kapalnya. Ia merasa salah membuat kapal, sebab, di film itu menceritakan Noah seharusnya mengikuti keinginan Tuhan yang sedang marah sehingga menenggelamkan seluruh manusia di muka bumi tanpa tersisa, termasuk dirinya.

Tidak. Tidak seperti itu Nuh yang asli dalam sejarah sesungguhnya. Justru ia bersedih karena tidak berhasil menyelamatkan umatnya dari azab Allah. Raut kecewa yang mungkin ia tampakkan ketika gemuruh ombak mengombang-ambingkan kapalnya tanpa arah. Tapi itu sudah keputusan Allah. Kata-kata curhatnya dijawab Allah dengan ketentuan-Nya. Nuh tidak salah. Ia berhasil dalam proses. Hasil urusan Allah.

Yang paling menyesal lagi, Nuh tidak berhasilnya menyelamatkan sang anak yang bernama Yam. “Wahai anakku! Naiklah ke kapal bersama kami. Janganlah kamu bersama orang-orang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan dari banjir ini.” Nuh pun berucap, “Tak ada yang melindungi dari siksaan Alla pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.” (Hud : 42-43) Benar-benar drama yang menyedihkan.

Tapi Allah punya kehendak, masih menyisakan tiga anak Nuh yang ikut diselamatkan di dalam kapal karena masih mau mengikuti ajaran Nuh. Mereka adalah Sam, Ham dan Yafits. Mereka bertiga juga beserta istri-istrinya.

Ketika banjir reda, kapal terdampar di pegunungan Judiy. Banyak sejarawan yang mencoba menafsirkan dimana posisi gunung Judiy tersebut. Penerlitian sementara membuktikan bahwa pegunungan tersebut terletak di perbatasan antara Iran dan Turki, karena ditemukannya bentuk menyerupai kapal yang besar.

Setelah banjir besar ini Nuh berdoa, agar tidak terjadinya kembali azab seperti ini. Cukup hanya pada masa hidup Nuh saja. Dan sejarah pun mencatat, sampai ke jaman Nabi Muhammad, azab Allah kebanyakan hanya diturunkan kepada bangsa-bangsa dari kaum Nabi tertentu.

Inilah banjir yang membuat seluruh umat manusia punah. Tak ada lagi peradaban. Hanya yang berada di atas kapal Nuh saja yang tersisia. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang beriman. Dari keluarga Nuh pun, yaitu anak-anaknya hanya yang beriman saja yang selamat.

Selama hidupnya, Nuh mempunyai 4 putera, yaitu Sam, Ham, Yafits dan Yam (ada yang menyebutkan Kan’an). Yam ini yang diceritakan di dalam Al Qur’an tadi yang mencoba berlindung di gunung, namun akhirnya ikut tenggelam. Dari berbagai riwayat dan literatur sejarah mengatakan bahwa seluruh umat manusia yang ada di bumi hingga saat ini adalah keturunan dari tiga anak Nuh tersebut. Para sejarawan juga sepakat, seluruh ras manusia setelah Nuh bukan berasal dari umat yang bersamanya di dalam perahu. Mereka semua atas kehendak Allah tidak memiliki keturunan. Keturunan umat manusia hanya dari tiga anak Nuh saja.

Imam Ahmad meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Sam adalah bapak orang Arab, Ham adalah bapak orang Habsyi, dan Yafits adalah bapak orang Romawi.” Jadi, setelah kejadian bencana besar umat manusia ini, Nuh adalah nenek moyang kita. Nenek moyang seluruh manusia di muka bumi. Anak-anaknya beranak-pinak menyebar keseluruh penjuru dunia menjadi bangsa-bangsa setelahnya. Contohnya, bangsa Yunani diturunkan dari Yunan bin Yafits (termasuk menurunkan orang-orang romawi atau orang-orang eropa), bangsa Cina diturunkan dari Shini bin Maghugh bin Yafits. Bangsa Persi diturunkan dari Faris bin Lawud bin Sam. Bangsa az-Zanj (negro), Sind dan Habsy (kulit hitam) diturunkan dari Kusy bin Ham. Dan Arab berasal dari Sam. Dan seterusnya.

Para anak turunan mereka bercerita secara turun menurun tentang bencana maha dahsyat ini. Sebagian besar dari turunan mereka menciptakan agama-agama baru yang jauh dari ajaran tauhid sehingga lahirlah mitos. Begitu juga agama-agama samawi menceritakan tentang banjir ini disetiap kitab yang diturunkan para Rasul sebelum Rasulullah Saw. Kita sebagai muslim meyakini Al-Qur’an sebagai risalah kebenaran, maka kita yakin bahwa kisah yang diceritakan Allah ini adalah kebenaran. Tinggal menunggu waktu ilmu pengetahuan akan membuktikan kebenaran yang kita yakini ini.

Seperti inilah curhat tukang kayu yang pembawa risalah. Curhatnya dijawab dengan pemusnahan umat manusia. Bagaimana dengan curhat-curhat kita kepada Allah? Tunggu saja kejutan dari-Nya.

Maha Besar Allah yang Maha Memutuskan (Al-Hakam)

Wassalammu’alaikum

Jogja 9 Desember 2014
@RidwanHd

Baca,

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger