Senin, 15 Desember 2014

Surat untuk Kau - 4 : Para Penantang Tuhan


Bismillahirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum,

Hei Kau,

Apa kau pernah marah dengan Tuhan? Maaf, kalau pertanyaan ini konyol. Manusia marah kepada Tuhan memang suatu yang tak ada gunannya. Tapi, itupun banyak terjadi dikalangan manusia. Bahkan lebih ekstrim. Sebut saja Friedrich Nietzsche yang berani mengatakan Tuhan telah mati. Kata-kata yang mucul atas kemuakannya atas perilaku kalangan gereja. Ditambah para filosof sebelumnya yang tak mampu menjelaskan sesuatu dibalik immaterial. Sehingga, menyebabkan mereka terjebak pada keyakinan semu. Doktrin-doktrin agama menghalangi perkembangan filsafat untuk menjadi manusia seutuhnya. Nietzsche pun menginspirasi Jean Paul Sartre untuk memperkuat ide-ide paham kehendak bebas yang terkenal dengan eksistensialisme; manusia bisa mengatur diri sendiri dengan eksistensinya tanpa perlu Tuhan yang mengatur. “Manusia lahir untuk bebas. Manusia yang menentukan hidupnya sendiri. Kalau ada Tuhan yang Maha Tahu dan mengatur masa depan manusia, buat apa manusia diciptakan untuk bebas menentukan pilihan hidupnya?” Begitu katanya.

Melihat corak pemikiran para filosof kotemporer seolah ini adalah perulangan dari kejadian-kejadian masa ribuan tahun yang lalu. Manusia senang membentuk konsep berpikirnya sendiri. Tuhan pun ditantang. Konsep berpikir yang hampir mirip dengan manusia jaman sekarang adalah seperti yang dikatakan salah satu pemuka Kaum Ad’, “Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia. Di sanalah kita mati dan hidup dan tidak akan dibangkitkan lagi.” (Al-Mu’minun : 37) Sebuah gambaran yang mana manusia pada saat itu tak percaya ada kehidupan setelah kematian.

Dari yang dituliskan Ibnu Katsir, Kaum Ad adalah kaum pertama di muka bumi yang menyembah selain Allah setelah bencana banjir Nabi Nuh. Masa waktu munculnya Kaum Ad dengan banjir Nabi Nuh kurang lebih 1.000 tahun. Dua turunan anak Nuh, Yafits dan Ham, menyebar ke berbagai arah, baik utara timur, dan barat. Berbeda dengan Sam yang menetap di sekitaran wilayah Timur Tengah. Sebagian besar menuju wilayah Jazirah Arab. Turunan Sam inilah yang sering disebut sebagai Rumpun Semit (berasal dari panggilan Sam atau Sem).

Kaum Ad sendiri adalah kelompok manusia yang berasal dari moyang yang bernama Ad. Nasabnya adalah Ad bin Aush bin Iram bin Sam bin Nuh. Anak turunan Ad ini menempati wilayah selatan Jazirah arab yang menurut catatan sejarah tinggal di daerah al-ahqaf.

Satu hal yang spesial dari Kaum Ad ini adalah karunia Allah yang diberikan kepada mereka berupa pengetahuan untuk membentuk masayarakat berperadaban tinggi. Mereka membangun rumah dengan bangunan-bagunan yang tinggi, perindustrian, dan pertanian yang subur. Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah berbuat kepada Kaum Ad? Yaitu penduduk yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun suatu jota seperti itu di negeri-negeri lain. (Al-Fajr 6-8)

Ingatkah kau dari yang aku tuliskan di Curhatan Tukang Kayu? Kemajuan peradaban membuat manusia sibuk dengan kehidupan dunianya. Kemajuan peradaban tidak berbanding lurus dengan peningkatan ketakwaan kepada Allah. Apa sebab? Ya, itu. Keangkuhan berpikir. Berhasil membuat bangunan-bangunan tinggi muncul rasa tinggi hati yang menutup ruang pemaknaan akan hakikat. Yang terkadang, kita membentuk konsep berpikir sendiri terhadap kehidupan dunia ini. Inilah yang terjadi pada kaum Ad. Dengan angkuhnya mereka berkata, “Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” (Fussilat : 15)

Ditengah kesesatan berpikir, dan penyembahan ke banyak dewa, Allah selalu menakdirkan munculnya sosok yang berhasil memaknai realitas hidupnya. Itulah Nabi-nabi Allah. Seorang Nabi tidak muncul dengan sendirinya, tapi ia adalah sosok manusia yang lahir melalui proses panjang dalam membentuk dirinya menjadi sosok yang dimuliakan Allah. Allah mengkaruniai kelebihan yang tidak dimiliki manusia lainnya. Ada alam spiritual yang hanya bisa ia pahami, tetapi orang lain tidak. Di kalangan Kaum Ad ini Allah mengutus seorang nabi yang bernama Hud. Lengkapnya Hud bin Abdullah bin Rabbah bin Al Jarud bin Ad bin Aush bin Iram bin Sam bin Nuh. Ketika Nabi Hud mencoba mengajak untuk menyembah kepada Allah semata, dijawablah oleh mereka, “Kami benar-benar memandang kamu  dalam keaadan kurang waras dan kami anggap kamu orang yang berdusta.” (Al A’raf : 65) seperti itulah jawaban orang-orang yang tidak memahami ‘alam Spiritual’ yang dimiliki para nabi.

Hud pun membalas, “Bukan aku kurang waras, tapi aku ini adalah rasul dari Tuhan seluruh alam. Aku menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan pemberi nasihat yang terpercaya kepadamu. Herankah kamu ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri? Ingatlah ketika Dia menjadikanmu sebagai khalifah-khalifah setelah Kaum Nuh, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung.” (Al A’raf : 67 – 69)

Tapi penjelasan Hud itu tak membuat mereka yakin akan kebenaran Hud. Justru mereka mempertanyakan bukti apa yang dimiliki Hud. Seperti kata mereka, “Kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami tidak akan meninggalkan sesembahan kami karena perkataanmu.” (Hud : 50). Kemudian mereka juga menganggap bahwa Hud hanya manusia biasa, tidak ada yang spesial. Mereka berpandangan bahwa seorang Rasul harus dari sosok yang lebih dari manusia biasa, seperti kata salah satu pemuka dari mereka,  “Orang ini hanyalah manusia seperti kamu. Dia makan apa yang kamu makan dan minum apa yang kamu minum.”( Al-Mu’minun : 33). Artinya, mereka tidak hanya mendustakan Allah, tapi mereka tidak mengakui kenabian Hud. Mereka hanya bisa percaya jika mengalami sebuah pengalaman yang bisa meyakini mereka kalau Hud adalah benar-benar Nabi Allah.

Keangkuhan dari merasa lebih unggul atas ilmu yang mereka miliki menutup pandangan mereka pada cahaya kebenaran. Ini bukan soal mereka tak mampu melihat bukti yang nyata atas kebenaran Allah, tapi soal diri mereka yang tak mau membersihkan jiwa dari kekotoran hasrat yang jadi tersebab keangkuhan. Akhirnya mereka pun menantang, “Datangkanlah azab yang kamu ancamkan keoada kami jika kamu termasuk orang yang benar.” (Al A’raf :  )

Apa yang dilakukan pada kaum Ad juga dilakukan pada Kaum Tsamud. Bahkan, kamu Tsamud secara terang-terangan ditunjukkan mukjizat dari Allah sebagai bukti yang mereka inginkan. Kalau hati sudah tertutupi cahaya kebenaran, bukti yang nampak pun tetap didustakannya.

Kaum Tsamud bermukim di daerah al-Hijr. Kalau kau mengerti posisi Madinah ketika melihat peta Jazirah Arab, maka al-Hijr berada sedikit ke utara Madinah. Mereka adalah kaum yang memiliki nenek moyang bernama Tsamud bin Amir bin Iram bin Sam bin Nuh. Kelebihan yang dimiliki kaum Tsamud adalah mampu memahat batu pegunungan menjadi rumah-rumah mereka. Mereka pun juga mampu membangun istana-istana dari tanah datar. Kehidupan masyarakatnya pun makmur secara ekonomi. Karena letak posisi mereka berada di jalur perdagangan antara Negeri Kan’an (Syam)  dan Negeri Hadramaut (Yaman). Sebuah karunia yang tidak mereka sadari sebagai pemberian Allah.

Meski mengalami kenikmatan dunia, Kaum Tsamud sama halnya Kaum Ad. Fitrah mereka untuk menyembah kepada Allah terhalang oleh tradisi dan cara berpikir yang sesat. Penyembahan kepada berhala-berhala menjadi adat yang sulit dilepas ketika diantara mereka hadir penyeru tauhid. Nabi Saleh dihadirkan untuk mmeberikan peringatan. Secara silsilah, lengkapnya adalah Saleh bin Ubaid bin Asif bin Masah bin Ubaid bin Hadzir bin Tsamud. Dilihat dari panjangnya silsilah, menjadi salah satu bukti bahwa kaum Tsamud hadir setelah kaum Ad. Seperti para nabi sebelumnya, perintah “Sembahlah Allah!” juga yang dilakukan Saleh.

Jawaban yang diterima Saleh sama seperti jawaban yang diterima Hud, “Engkau hanyalah orang yang terkena sihir. Engkau hanyalah manusia seperti kami.” (Asy-Syu’ara : 153-154) Mereka hanya melihat kebenaran jika bisa melihat manusia seperti Saleh memiliki kekuatan dan kelebihan yangbisa memenuhi hasrat mereka. Mereka pun menantang, “Datangkanlah mukjizat jika engkau termasuk orang yangbenar.” (Asy-Syuara : 154)

Mereka pun menantang Saleh dengan menunjukkan bukti-bukti kenabiannya. Dimintakanlah mengeluarkan seekor onta pada sebuah batu besar dengan bentuk onta sesuai permintaan mereka. Bahkan permintaannya dibuat berlebih-lebihan agar Saleh benar-benar tak mampu untuk melakukannya, seperti Onta harus sedang hamil tua, memiliki warna ini dan itu, dan sebagainya.

“Jika aku bisa memenuhi tantangan kalian, apakah kalian mau beriman kepada Allah?” tantang Saleh kepada kaumnnya.

Mereka pun menyatakan berjanji akan mengikuti ajaran Saleh jika Saleh berhasil. Kemudian Saleh beribadah kepada Allah, berdoa memohon untuk bisa mengabulkan permintaan kaumnya sebagai wujud untuk membuktikan kebenarannya sebagai utusan-Nya. Ternyata Allah mengabulkannya.

Keluarlah Onta dari batu besar itu sesuai yang diminta. Mereka menyaksikan sendiri mukjizat tersebut. Sebuah fenomena yang dahsyat. Bukti sudah terlihat nyata. Sejumlah masyarakat kaumnnya pun akhirnya menyatakan diri beriman. Namun sebagian yang lain tetap saja masih kufur dan ingkar.

“Inilah Onta betina yang kalian minta sebagai tanda Kebesaran Allah.” Ucap Saleh lalu melanjutkan, “Berikanlah dia makan di Bumi Allah. Jangan diganggu dengan gangguan yang bisa membuat kalian ditimpa azab.” (Hud : 64)

Dibuatlah kesepakatan agar Onta itu dijaga oleh orang yang bisa dipercaya. Mereka pun diperintah Saleh untuk memberikan giliran minum di sumber air yang biasa digunakan penduduk tsamud. Onta pun juga menghasilkan susu yang bisa dikonsumsi ke hampir seluruh penduduk Tsamud.

Kehadiran Onta ini bukan saja sebagai bukti kebesaran Allah, namun juga cobaan bagi kaum tsamud terhadap perlakuan kepada Onta tersebut. Tidak hanya itu, kaum Tsamud juga diuji bagaimana keimanan mereka kepada Allah. Apakah semakin taat atau kembali ingkar. “Sesungguhnya Kami akan mengirimkan onta betina sebagai cobaan bagi mereka.” (Al-Qamar : 27)

Ternyata sebagian dari kaum Tsamud ada yang tidak puas dan tidak sabar terhadap kehadiran Onta karena aturan pembagian jatah air. Awalnya, Onta itu sering menghabiskan air di tempat yang menjadi sumber air mereka. Lalu Saleh membuat kesepakatan agar ada pembagian waktu antara Onta dan warga dalam mengkonsumsi air agar bisa terbagi semua. Tapi ternyata ada pihak yang tak puas terhadap pembagian jatah tersebut. Ini yang disebut cobaan dari Allah atas mukjizat yang telah diberikan. Apakah mereka tetap mempertahankan janji taatnya atau mungkar. Pihak-pihak yang tidak puas itulah akhirnya melakukan persengkongkolan untuk membunuh sang Onta. “Kemudian mereka sembelih Onta betina itu dan berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya. Mereka berkata, “Wahai Saleh! Buktikanlah ancaman kami kepada kami, jika benar engkau salah seorang Rasul.” (Al-A’raf : 77) Mereka kembali menantang.

Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebh menyukai kebutaan (kesesatan) dari pada petunjuk itu. (Fussilat : 17)

Satu hal yang perlu kau tahu dari pendapat  Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an tentang para nabi ini adalah, bahwa Para rasul ini menawarkan kepada kaumnya sebuah hakikat yang tidak pernah berganti, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain Dia." Akan tetapi mereka ditentang oleh kaumnnya dalam masalah mengesakan uluhiyyah untuk Allah. Kaum itu menolak kalau hak Rububiyyah hanya untuk Allah. Kaum itu juga membantah kalau Allah mengutus manusia menjadi rasul untuk menyampaikan risalah. Sebagian mereka menolak kalau agama  ini mengatur urusan kehidupan dunia dan mengatur sistem muamalah duniawi dan perniagaan sebagaimana sikap manusia jahiliyah di jaman modern sekarang mengenai masalah ini. Sebuah sikap yang sudah diimplementasikan kaum jahiliyah temo dulu sejak berpuluh-puluh abad yang lalu, dan mereka sekarang menamakannya dengan "kebebasan" dan "kemajuan". Pada akhir setiap cerita ditampilkan akibat yag diderita oleh orang-orang yang mendustakan rasul-rasul itu

Dan memang, pada akhirnya kaum Ad dan kaum Tsamud diberi azab oleh Allah dengan menghabisi semua penduduknya tanpa sisa sedikit pun kecuali para Nabi Allah dan orang-orang yang menjadi pengikut mereka. Mereka di azab dengan bencana alam yang menimpa mereka. Kaum Ad dalam bentuk angin topan yang dingin yang bertiup selama 7 hari 7 malam. Dan kaum Tsamud di ajab dengan petir atau ledakan yang meruntuhkan negerinya. Wallahualam

Kisah kaum Ad dan Tsamud di dalam Al-Qur’an adalah bukti bagaiman manusia sudah berani menantang Tuhannya. Azab yang diberikan adalah cara Allah untuk memberikan pelajaran kepada manusia setelahnya, termasuk kita yang hidup di akhir jaman. Namun sayang, pelajaran-pelajaran yang Allah timpakan mulai dari Banjir Nabi Nuh hingga yang terjadi pada dua kaum ini terus dilupakan oleh-oleh kaum setelahnya.

Cerita kehidapan perjalanan manusia memang belum selesai. Selanjutnya kita akan bertemu lagi dengan para nabi yang berhadapan dengan manusia-manusia angkuh penantang Tuhan. Ada sebuah episode perjalanan antar para nabi yang semua saling berkait dan berhubungan. Meski mereka adalah manusia “bebas” dalam menentukan pilihan hidupnya, seperti ide-ide filosof yang aku tulis di awal, namun pilihan-pilihan hidup mereka seolah memiliki susunan cerita yang sudah diatur sehingga menjadi perjalanan kehidupan umat manusia yang memiliki cerita sejarah. Sejarah yang mempengaruhi jalan hidup kita saat ini.

Maha Besar Allah yang Maha Nyata (Al-Zhaahir)
Semoga kau semakin tertarik mengkaji sejarah yang aku tuliskan.

Wassalamu’alaikum,
Jogja, 14 Desember 2014  




Baca,

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger