Bismillahirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum,
Hei Kau,
Apa kau pernah marah
dengan Tuhan? Maaf, kalau pertanyaan ini konyol. Manusia marah kepada Tuhan
memang suatu yang tak ada gunannya. Tapi, itupun banyak terjadi dikalangan
manusia. Bahkan lebih ekstrim. Sebut saja Friedrich Nietzsche yang berani
mengatakan Tuhan telah mati. Kata-kata yang mucul atas kemuakannya atas perilaku
kalangan gereja. Ditambah para filosof sebelumnya yang tak mampu menjelaskan
sesuatu dibalik immaterial. Sehingga, menyebabkan mereka terjebak pada
keyakinan semu. Doktrin-doktrin agama menghalangi perkembangan filsafat untuk
menjadi manusia seutuhnya. Nietzsche pun menginspirasi Jean Paul Sartre untuk
memperkuat ide-ide paham kehendak bebas yang terkenal dengan eksistensialisme;
manusia bisa mengatur diri sendiri dengan eksistensinya tanpa perlu Tuhan yang
mengatur. “Manusia lahir untuk bebas. Manusia yang menentukan hidupnya sendiri.
Kalau ada Tuhan yang Maha Tahu dan mengatur masa depan manusia, buat apa
manusia diciptakan untuk bebas menentukan pilihan hidupnya?” Begitu katanya.
Melihat corak pemikiran para filosof kotemporer seolah ini
adalah perulangan dari kejadian-kejadian masa ribuan tahun yang lalu. Manusia
senang membentuk konsep berpikirnya sendiri. Tuhan pun ditantang. Konsep
berpikir yang hampir mirip dengan manusia jaman sekarang adalah seperti yang
dikatakan salah satu pemuka Kaum Ad’, “Kehidupan
itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia. Di sanalah kita mati dan hidup
dan tidak akan dibangkitkan lagi.” (Al-Mu’minun : 37) Sebuah gambaran yang
mana manusia pada saat itu tak percaya ada kehidupan setelah kematian.
Dari yang dituliskan Ibnu Katsir, Kaum Ad adalah kaum pertama
di muka bumi yang menyembah selain Allah setelah bencana banjir Nabi Nuh. Masa
waktu munculnya Kaum Ad dengan banjir Nabi Nuh kurang lebih 1.000 tahun. Dua
turunan anak Nuh, Yafits dan Ham, menyebar ke berbagai arah, baik utara timur,
dan barat. Berbeda dengan Sam yang menetap di sekitaran wilayah Timur Tengah.
Sebagian besar menuju wilayah Jazirah Arab. Turunan Sam inilah yang sering
disebut sebagai Rumpun Semit (berasal dari panggilan Sam atau Sem).
Kaum Ad sendiri adalah kelompok manusia yang berasal dari
moyang yang bernama Ad. Nasabnya adalah Ad bin Aush bin Iram bin Sam bin Nuh.
Anak turunan Ad ini menempati wilayah selatan Jazirah arab yang menurut catatan
sejarah tinggal di daerah al-ahqaf.
Satu hal yang spesial dari Kaum Ad ini adalah karunia Allah
yang diberikan kepada mereka berupa pengetahuan untuk membentuk masayarakat
berperadaban tinggi. Mereka membangun rumah dengan bangunan-bagunan yang
tinggi, perindustrian, dan pertanian yang subur. Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah berbuat kepada Kaum Ad?
Yaitu penduduk yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah
dibangun suatu jota seperti itu di negeri-negeri lain. (Al-Fajr 6-8)
Ingatkah kau dari yang aku tuliskan di Curhatan Tukang Kayu?
Kemajuan peradaban membuat manusia sibuk dengan kehidupan dunianya. Kemajuan
peradaban tidak berbanding lurus dengan peningkatan ketakwaan kepada Allah. Apa
sebab? Ya, itu. Keangkuhan berpikir. Berhasil membuat bangunan-bangunan tinggi
muncul rasa tinggi hati yang menutup ruang pemaknaan akan hakikat. Yang
terkadang, kita membentuk konsep berpikir sendiri terhadap kehidupan dunia ini.
Inilah yang terjadi pada kaum Ad. Dengan angkuhnya mereka berkata, “Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari
kami?” (Fussilat : 15)
Ditengah kesesatan berpikir, dan penyembahan ke banyak dewa,
Allah selalu menakdirkan munculnya sosok yang berhasil memaknai realitas
hidupnya. Itulah Nabi-nabi Allah. Seorang Nabi tidak muncul dengan sendirinya,
tapi ia adalah sosok manusia yang lahir melalui proses panjang dalam membentuk
dirinya menjadi sosok yang dimuliakan Allah. Allah mengkaruniai kelebihan yang
tidak dimiliki manusia lainnya. Ada alam spiritual yang hanya bisa ia pahami,
tetapi orang lain tidak. Di kalangan Kaum Ad ini Allah mengutus seorang nabi
yang bernama Hud. Lengkapnya Hud bin Abdullah bin Rabbah bin Al Jarud bin Ad
bin Aush bin Iram bin Sam bin Nuh. Ketika Nabi Hud mencoba mengajak untuk
menyembah kepada Allah semata, dijawablah oleh mereka, “Kami benar-benar memandang kamu
dalam keaadan kurang waras dan kami anggap kamu orang yang berdusta.”
(Al A’raf : 65) seperti itulah jawaban orang-orang yang tidak memahami ‘alam
Spiritual’ yang dimiliki para nabi.
Hud pun membalas, “Bukan
aku kurang waras, tapi aku ini adalah rasul dari Tuhan seluruh alam. Aku
menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan pemberi nasihat yang terpercaya
kepadamu. Herankah kamu ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang
laki-laki dari kalanganmu sendiri? Ingatlah ketika Dia menjadikanmu sebagai
khalifah-khalifah setelah Kaum Nuh, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh
dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung.”
(Al A’raf : 67 – 69)
Tapi penjelasan Hud itu tak membuat mereka yakin akan
kebenaran Hud. Justru mereka mempertanyakan bukti apa yang dimiliki Hud. Seperti
kata mereka, “Kamu tidak mendatangkan
kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami tidak akan meninggalkan sesembahan
kami karena perkataanmu.” (Hud : 50). Kemudian mereka juga menganggap bahwa
Hud hanya manusia biasa, tidak ada yang spesial. Mereka berpandangan bahwa
seorang Rasul harus dari sosok yang lebih dari manusia biasa, seperti kata
salah satu pemuka dari mereka, “Orang ini hanyalah manusia seperti kamu. Dia
makan apa yang kamu makan dan minum apa yang kamu minum.”( Al-Mu’minun :
33). Artinya, mereka tidak hanya mendustakan Allah, tapi mereka tidak mengakui
kenabian Hud. Mereka hanya bisa percaya jika mengalami sebuah pengalaman yang
bisa meyakini mereka kalau Hud adalah benar-benar Nabi Allah.
Keangkuhan dari merasa lebih unggul atas ilmu yang mereka
miliki menutup pandangan mereka pada cahaya kebenaran. Ini bukan soal mereka
tak mampu melihat bukti yang nyata atas kebenaran Allah, tapi soal diri mereka
yang tak mau membersihkan jiwa dari kekotoran hasrat yang jadi tersebab
keangkuhan. Akhirnya mereka pun menantang, “Datangkanlah
azab yang kamu ancamkan keoada kami jika kamu termasuk orang yang benar.”
(Al A’raf : )
Apa yang dilakukan pada kaum Ad juga dilakukan pada Kaum
Tsamud. Bahkan, kamu Tsamud secara terang-terangan ditunjukkan mukjizat dari
Allah sebagai bukti yang mereka inginkan. Kalau hati sudah tertutupi cahaya
kebenaran, bukti yang nampak pun tetap didustakannya.
Kaum Tsamud bermukim di daerah al-Hijr. Kalau kau mengerti
posisi Madinah ketika melihat peta Jazirah Arab, maka al-Hijr berada sedikit ke
utara Madinah. Mereka adalah kaum yang memiliki nenek moyang bernama Tsamud bin
Amir bin Iram bin Sam bin Nuh. Kelebihan yang dimiliki kaum Tsamud adalah mampu
memahat batu pegunungan menjadi rumah-rumah mereka. Mereka pun juga mampu
membangun istana-istana dari tanah datar. Kehidupan masyarakatnya pun makmur
secara ekonomi. Karena letak posisi mereka berada di jalur perdagangan antara Negeri
Kan’an (Syam) dan Negeri Hadramaut (Yaman).
Sebuah karunia yang tidak mereka sadari sebagai pemberian Allah.
Meski mengalami kenikmatan dunia, Kaum Tsamud sama halnya
Kaum Ad. Fitrah mereka untuk menyembah kepada Allah terhalang oleh tradisi dan
cara berpikir yang sesat. Penyembahan kepada berhala-berhala menjadi adat yang
sulit dilepas ketika diantara mereka hadir penyeru tauhid. Nabi Saleh
dihadirkan untuk mmeberikan peringatan. Secara silsilah, lengkapnya adalah
Saleh bin Ubaid bin Asif bin Masah bin Ubaid bin Hadzir bin Tsamud. Dilihat
dari panjangnya silsilah, menjadi salah satu bukti bahwa kaum Tsamud hadir
setelah kaum Ad. Seperti para nabi sebelumnya, perintah “Sembahlah Allah!” juga yang dilakukan Saleh.
Jawaban yang diterima Saleh sama seperti jawaban yang
diterima Hud, “Engkau hanyalah orang yang
terkena sihir. Engkau hanyalah manusia seperti kami.” (Asy-Syu’ara :
153-154) Mereka hanya melihat kebenaran jika bisa melihat manusia seperti Saleh
memiliki kekuatan dan kelebihan yangbisa memenuhi hasrat mereka. Mereka pun
menantang, “Datangkanlah mukjizat jika
engkau termasuk orang yangbenar.” (Asy-Syuara : 154)
Mereka pun menantang Saleh dengan menunjukkan bukti-bukti
kenabiannya. Dimintakanlah mengeluarkan seekor onta pada sebuah batu besar
dengan bentuk onta sesuai permintaan mereka. Bahkan permintaannya dibuat
berlebih-lebihan agar Saleh benar-benar tak mampu untuk melakukannya, seperti
Onta harus sedang hamil tua, memiliki warna ini dan itu, dan sebagainya.
“Jika aku bisa memenuhi tantangan kalian, apakah kalian mau
beriman kepada Allah?” tantang Saleh kepada kaumnnya.
Mereka pun menyatakan berjanji akan mengikuti ajaran Saleh
jika Saleh berhasil. Kemudian Saleh beribadah kepada Allah, berdoa memohon
untuk bisa mengabulkan permintaan kaumnya sebagai wujud untuk membuktikan
kebenarannya sebagai utusan-Nya. Ternyata Allah mengabulkannya.
Keluarlah Onta dari batu besar itu sesuai yang diminta.
Mereka menyaksikan sendiri mukjizat tersebut. Sebuah fenomena yang dahsyat. Bukti
sudah terlihat nyata. Sejumlah masyarakat kaumnnya pun akhirnya menyatakan diri
beriman. Namun sebagian yang lain tetap saja masih kufur dan ingkar.
“Inilah Onta betina yang kalian minta
sebagai tanda Kebesaran Allah.” Ucap Saleh lalu melanjutkan, “Berikanlah dia makan di Bumi Allah. Jangan diganggu dengan gangguan
yang bisa membuat kalian ditimpa azab.” (Hud : 64)
Dibuatlah kesepakatan agar Onta itu dijaga oleh orang yang
bisa dipercaya. Mereka pun diperintah Saleh untuk memberikan giliran minum di sumber
air yang biasa digunakan penduduk tsamud. Onta pun juga menghasilkan susu yang
bisa dikonsumsi ke hampir seluruh penduduk Tsamud.
Kehadiran Onta ini bukan saja sebagai bukti kebesaran Allah,
namun juga cobaan bagi kaum tsamud terhadap perlakuan kepada Onta tersebut.
Tidak hanya itu, kaum Tsamud juga diuji bagaimana keimanan mereka kepada Allah.
Apakah semakin taat atau kembali ingkar. “Sesungguhnya
Kami akan mengirimkan onta betina sebagai cobaan bagi mereka.” (Al-Qamar :
27)
Ternyata sebagian dari kaum Tsamud ada yang tidak puas dan
tidak sabar terhadap kehadiran Onta karena aturan pembagian jatah air. Awalnya,
Onta itu sering menghabiskan air di tempat yang menjadi sumber air mereka. Lalu
Saleh membuat kesepakatan agar ada pembagian waktu antara Onta dan warga dalam
mengkonsumsi air agar bisa terbagi semua. Tapi ternyata ada pihak yang tak puas
terhadap pembagian jatah tersebut. Ini yang disebut cobaan dari Allah atas
mukjizat yang telah diberikan. Apakah mereka tetap mempertahankan janji taatnya
atau mungkar. Pihak-pihak yang tidak puas itulah akhirnya melakukan
persengkongkolan untuk membunuh sang Onta. “Kemudian
mereka sembelih Onta betina itu dan berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya.
Mereka berkata, “Wahai Saleh! Buktikanlah ancaman kami kepada kami, jika benar
engkau salah seorang Rasul.” (Al-A’raf : 77) Mereka kembali menantang.
Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah
Kami beri petunjuk tetapi mereka lebh menyukai kebutaan (kesesatan) dari pada
petunjuk itu.
(Fussilat : 17)
Satu hal yang perlu kau tahu dari pendapat Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an
tentang para nabi ini adalah, bahwa Para rasul ini menawarkan kepada kaumnya
sebuah hakikat yang tidak pernah berganti, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain Dia."
Akan tetapi mereka ditentang oleh kaumnnya dalam masalah mengesakan uluhiyyah
untuk Allah. Kaum itu menolak kalau hak Rububiyyah hanya untuk Allah. Kaum itu
juga membantah kalau Allah mengutus manusia menjadi rasul untuk menyampaikan
risalah. Sebagian mereka menolak kalau agama
ini mengatur urusan kehidupan dunia dan mengatur sistem muamalah duniawi
dan perniagaan sebagaimana sikap manusia jahiliyah di jaman modern sekarang
mengenai masalah ini. Sebuah sikap yang sudah diimplementasikan kaum jahiliyah
temo dulu sejak berpuluh-puluh abad yang lalu, dan mereka sekarang menamakannya
dengan "kebebasan" dan "kemajuan". Pada akhir setiap cerita
ditampilkan akibat yag diderita oleh orang-orang yang mendustakan rasul-rasul
itu
Dan memang, pada akhirnya kaum Ad dan kaum Tsamud diberi azab
oleh Allah dengan menghabisi semua penduduknya tanpa sisa sedikit pun kecuali
para Nabi Allah dan orang-orang yang menjadi pengikut mereka. Mereka di azab
dengan bencana alam yang menimpa mereka. Kaum Ad dalam bentuk angin topan yang
dingin yang bertiup selama 7 hari 7 malam. Dan kaum Tsamud di ajab dengan petir
atau ledakan yang meruntuhkan negerinya. Wallahualam
Kisah kaum Ad dan Tsamud di dalam Al-Qur’an adalah bukti
bagaiman manusia sudah berani menantang Tuhannya. Azab yang diberikan adalah
cara Allah untuk memberikan pelajaran kepada manusia setelahnya, termasuk kita
yang hidup di akhir jaman. Namun sayang, pelajaran-pelajaran yang Allah
timpakan mulai dari Banjir Nabi Nuh hingga yang terjadi pada dua kaum ini terus
dilupakan oleh-oleh kaum setelahnya.
Cerita kehidapan perjalanan manusia memang belum selesai. Selanjutnya
kita akan bertemu lagi dengan para nabi yang berhadapan dengan manusia-manusia
angkuh penantang Tuhan. Ada sebuah episode perjalanan antar para nabi yang
semua saling berkait dan berhubungan. Meski mereka adalah manusia “bebas” dalam
menentukan pilihan hidupnya, seperti ide-ide filosof yang aku tulis di awal,
namun pilihan-pilihan hidup mereka seolah memiliki susunan cerita yang sudah
diatur sehingga menjadi perjalanan kehidupan umat manusia yang memiliki cerita
sejarah. Sejarah yang mempengaruhi jalan hidup kita saat ini.
Maha Besar Allah yang Maha Nyata (Al-Zhaahir)
Semoga kau semakin tertarik mengkaji sejarah yang aku tuliskan.
Wassalamu’alaikum,
Jogja, 14 Desember 2014
Baca,
Baca,
Selanjutnya >> Surat untuk Kau - 5 : Pertarungan Nabi Ibrahim
Sebelumnya >> Surat untuk Kau - 3 : Curhatan Tukang Kayu
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.