Senin, 15 Desember 2014

Surat untuk Kau - 5 : Pertarungan Nabi Ibrahim



Bismillahirrahmannirrahim,
Assalamu’alaikum,

Hei Kau,

Terimakasih masih setia megikuti surat-suratku. Sekarang kita bahas Nabi Ibrahim. Kau perlu tahu, salah satu pertarungan dakwah terbesar yang dihadapi Nabi Ibrahim adalah ketika berhadapan dengan raja yang sangat angkuh di muka bumi. Berdasarkan riwayat Israliyat ataupun kitab Injil, keangkuhannya itu tergambarkan atas usahanya untuk melawan Tuhan. Ia menantang Tuhan setelah kalah beradu dengan sosok cerdas dari rakyat negerinya. Bentuk keangkuhannya adalah dengan membangun menara Babel. Konon, menara tersebut sangat tinggi. Menara itu sengaja dibangun untuk membunuh Tuhan di langit dengan bermodal panah. Ia ingin menantang, apakah Tuhannya Ibrahim mampu ia kalahkan.   Raja itu dikenal dengan nama Namrudz, atau juga sering ditulis Nimrod.

Tuhanku adalah Allah. Dia bisa menghidupkan dan mematikan.” Ucap Ibrahim ketika ditanya tentang Tuhannya oleh si Raja Namrudz setelah ia berbuat ulah kepada dewa-dewanya.

Mendapat jawaban itu, Namrud memanggil dua orang tawanannya. Ada upaya ingin mematahkan argumen Ibrahim dengan keangkuhannya. “Aku pun bisa menghidupkan dan mematikan. Lihat ini!” terang Namrud yang langsung membunuh salah satu tawanan tersebut dan membiarkan hidup tawanan yang lain.

Namrudz mengaku dirinya sebagai jelmaan dewa. Keberhasilannya membangun kekuasaan yang besar dan sebagai orang yang peling cerdas di kerajaannya membuat ia merasa lebih dari umat manusia yang lain. Konon, Sang ibu, Ratu Serimanis, melahirkan Namrudz tanpa ayah. Ada juga yang menceritakan Namrudz lahir ketika ayahnya telah wafat. Karena tanpa ayah, ibunya pun berkata kepada Namrudz bahwa ia lahir dari seorang dewa. Mungkin itu yang membuat ia merasa sebagai orang yang berkuasa seperti tuhan.

Sebenarnya, ketika Ibrahim mau mengakui sang raja, ia bisa terselamatkan dari hukuman. Namun, Ibrahim tetaplah Ibrahim. Tak ada cerita sejarah yang akan aku tuliskan seperti ini kalau ia menyerah. Ia tetap ingin menujukkan bahwa Tuhannya lebih unggul dari Namrudz sekalipun. Ia serahkan hidup dan matinya hanya untuk Allah.  Apa yang dilakukan  Namrudz itu sangat mudah dibantah oleh Ibrahim. Mungkin, karena kekalutan Namrudz, logikanya tidak sesuai dengan apa yang dinyatakan Ibrahim, bahwa Tuhannya bisa menghidupkan dan mematikan. Maka, Ibrahim membuat pernyataan lain,  “Tuhanku bisa menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkannya ke barat. Bisakah kau menerbitkan matahari itu dari timur?” Sederhana, tapi lugas. Bingunglah Namrud. Contoh apa yang bisa ia lakukan untuk menjawab tantangan Ibrahim itu. Ibrahim menang. Perintah eksekusi kepada Ibrahim pun dilakukan. Bakar!

Secara Silsilah, Ibrahim adalah turunan yang berujung pada Sam bin Nuh. Kalau kau mau menghafal, begini silsilahnya : Ibrahim bin Terah bin Nahor bin Serug bin Rehu bin Peleg bin Eber bin Selah bin Arpakhsad bin Sam bin Nuh. Secara silsilah, sangat cukup jauh dari dua nabi yang kita bahas sebelumnya. Kalau Ibrahim dari turunan anak Sam yang bernama Arpakhsad, maka Nabi Hud dan Saleh dari anak Sam yang bernama Iram. Jarak tahun pengutusannya juga jauh, sekitar 200-500 tahubn dari nabi Hud dan Saleh. Tepatnya para ulama sejarawan mengatakan pengutusan Ibrahim sekitar tahun 2.000 – 1900an SM.

Ibrahim lahir dan besar disebuah peradaban yang cukup maju pada jamannya, yaitu peradaban Mesopotamia. Lebih tepatnya ia besar di kota yang bernama Ur. Sebuah kota metropolitan terbesar pada jamannya. Awalnya, Peradaban Mesopotamia diisi oleh bangsa Sumeria. Namun, di pertengaham milenium ke dua sebelum masehi, ada sebuah imigrasi besar-besaran dari bangsa Akkadia, yaitu bangsa yang awalnya mendiami Jazirah Arab. Selama berpuluh-puluh tahun bangsa Akkadia terus berimigrasi ke wilayah Mesopotamia dan membentuk koloni-koloni negara kota. Hingga akhirnya muncul sosok yang memiliki misi menyatukan seluruh wilayah Mesopotamia menjadi satu wilayah politik. Dibentuklah kekuasaan kerajaan dengan raja yang sangat dikenal, yaitu Sargon yang berkuasa antara tahun 2.360 – 2.112 SM. Semenjak itu, Bangsa Akkadia sudah hidup menetap bersama bangsa sumeria.

Seiring melemahnya kekuasaan Sargon, wilayah Mesopotamia mendapat serangan dari Bangsa Guti, yaitu bangsa yang berasal dari timur laut atau dikenal dengan wilayah Persia. Serangan Bangsa Guti melemahkan kekuasaan politik Kerajaan Akkadia. Melemahnya kekuasaan politik di Mesopotamia membuat arus imigrasi baru dari Jazirah Arab, masuklah Bangsa Amurru atau Amoriah. Bangsa Amurru dengan Akkadia tidak memiliki perbedaan. Bahasa sama kebudayaan juga sama. Hanya jarak dan waktu yang membuat berbeda. Sejarah mencatat, Ibrahim masuk dalam kelompok Bangsa Amurru.

Serangan Bangsa Guti tidak berhasil menguasai politik di Mesopotamia, disinilah muncul penguasa baru dari kalangan Bangsa Sumeria yang mampu menyingkirkan Bangsa Guti, penguasa ini dikenal dengan nama Ur-Nammu. Dia membangun kerajaan dari sisa-sisa peninggalan Sargon. Masa kekuasaan Ur-Nammu hampir sama dengan masa hidup Ibrahim. Apakah Ur-Nammu sama dengan Raja Namrudz menjadi sebuah tesis yang belum bisa dibuktikan. Ur-Nammu dikenal dengan bangunan tempat ibadah yang ia dirikan, yaitu Ziggurat. Sedangkan Ziggurat diakui sebagai bangunan ibadah yang dimiliki Kerajaan Babilonia. Apakah mungkin Ur-Nammu itu Raja Babilonia (Kuno) pertama?

Lepas Ur-Nammu itu Namrudz atau bukan, ketika itu Raja Namrud mengeluarkan kebijakan untuk membunuh semua anak laku-laki yang lahir di negerinya. Kebijakan itu muncul setelah ia bermimpi yang diartikan oleh peramalnya akan datang seorang anak laki-laki yang akan mengakibatkan kehancuran bagi negerinya. Kebijakan itulah membuat ibu Ibrahim lari ke pegunungan dan tinggal di gua saat dirinya hamil hingga melahirkan. Selama kecil hingga anak-anak, Ibrahim hidup di alam bebas. Hingga waktunya menjelang dewasa ia diajak orang tuanya kembali ke kota.

Terah nama ayahnya. Kalau di Al-Qur’an disebutkan bernama Azar. Tapi dikalangan ulama ada perbedaan pendapat. Azar bisa bermaksud julukan atau panggilan. Namun para sejarawan bersepakat naman Ayahnya adalah Terah. Terah ini adalah pengusaha yang bergerak dibidang pembuatan jasa patung sebagai simbol dewa-dewa sesembahan masyarakat di Kota Ur saat itu. Ketika Ibrahim masih muda, ia sering diminta sang ayah untuk menjualkan patungnya. Berkat karunia Allah pada dirinya, ia selalu merasa risih ketika menjualkan patung-patung karya ayahnya. Ia merasa orang yang akan membelinya adalah orang-orang bodoh. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa, patung hasil karya ayahnya harus disembah dan dipelihara layaknya makhluk hidup. “Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk dan Kami mengetahui dia.” (Al-Anbiya 51)

Ibrahim hadir ditengah peradaban yang telah mapan dalam kehidupan spiritualitas dan kebudayaan. Dewa-dewa yang dianut oleh masyarakat disekitar Ibrahim sudah hadir sejak beberapa abad sebelumnya ketika wilayah Mesopotamia yang ia tempati masih dikuasai oleh bangsa sumeria. Keberadaan alam seperti angin, bulan, matahari, sangat nyata memberikan manfaat bagi mereka justru membangun pola berpikir bahwa benda-benda itu layak disembah. Inilah sebuah personifikasi kekuatan alam terutama dengan bentuk manusia. Lahirlah mitos-mitos tentang makhluk (sosok manusia unggul) yang ada dibalik hakikat keberadaan benda-benda alam. Seperti inilah agama pagan. Patung-patung yang mereka buat sebagai bentuk fetisisme.

Ada beberapa Tuhan dalam sejarah peradaban Mesopotamia. Pertama bernama Anu, ini adalah Tuhan tertinggi diantara tuhan-tuhan yang lain atau juga disebut bapak para tuhan. Kemudian Enlil, sebagai tuhan angin badai. Enki, adalah tuhan air tawar dalam tanah yang datang ke permukaan sungai, rawa, dan kolam. Ki, adalah tuhan bumi atau juga disebut sebagai tuhan kesuburan. Kemudian juga ada tiga tuhan langit yang menjadi sesembahan: Nanna; tuhan bulan, Utu; tuhan matahari, dan Inanna; ratu khayangan.

Diantara ratusan ribu masyarakat Mesopotamia, hanya Ibrahim yang mendapat anugerah bisa mengenal tuhan yang satu, tuhan bagi semesta alam, yaitu Allah Swt. Al-Qur’an memang tidak meceritakan bagaimana proses Ibrahim bisa mengenal Tuhannya. Bisa jadi, ketika ia hidup di alam bebas ketika masih kecil, di situ ia menemukan hakikat kehidupan. Ketika berbenturan dengan realitas masyarakat Kota Ur yang memuja banyak dewa, daya kritisnya muncul. Turunlah karunia Allah kepadanya. Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan di langit dan di bumi, agar dia termasuk orang-orang yang yakin. (Al-An’am : 75)

Karunia Ibrahim tidak hanya sebatas itu. Allah pun memberikan karunianya yang lebih besar lagi. Seperti yang tertulis dalm Al Baqarah : 260, Ia meminta diperlihatkan bagaimana menghidupkan yang mati. Atas permintaan itu Allah menjawabnya, “Belum percayakah engkau kepada-Ku?” Bukan, bukan Ibrahim tak percaya. Ia sangat yakin atas kekuasaan Allah. Iya percaya atas ke-Mahaperkasaan Allah, namun ia ingin melihat kekuasaan Allah sebagai pelajaran buat anak manusia yang akan mempelajari kitab-kitab Allah.

Permintannya dikabulkan. “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu potong-potonglah. Kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, lalu panggilah mereka. Mereka nanti akan datang kepadamu.” Terang Allah dalam firmannya.  Dilakukanlah perintah itu, dan Ibrahim menyaksikan sendiri apa yang diminta Allah.

Atas kelebihan ilmu dan karunia yang dimiliki Ibrahim, ia mulai mencoba mengenalkan Allah. Ayah Ibrahim menjadi target dakwah pertama. Keluarga adalah awal pertarungan Ibrahim memperkenalkan Tuhan yang nyata. Dengan lembut, Ibrahim mencoba menyadarkan soal ini kepada sang ayah. Ia ingin sang ayah mengikuti keyakinan Ibrahim.

Wahai Ayahku,“ Ibrahim mencoba mengatakan kepada ayahnya, “Sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam : 43)

Dijawab oleh ayahnya, “Bencikah kau dengan tuhan-tuhanku?” (Maryam : 46) Sang ayah bersikukuh ingin tetap mengikuti tradisi nenek moyangnya. Sang ayah belum pernah mengalami pengalaman spiritualitas yang dialami Ibrahim, sehingga pernyataan Ibrahim telah mendapatkan sebagian ilmu tidak disambut dengan baik. Bisa jadi juga, sang ayah memang tidak mau kehilangan lahan usahanya. Wallahualam.

Misi untuk menyadarkan ayahnya gagal, ia tak habis semangat untuk mencoba ke masyarakat disekitarnya. Pertarungan berikutnya ia coba menghadapi kemapanan tradisi lokalitas setempat. Tantangan terbesarnya adalah merubah pola pikir yang sudah lama terbentuk dikalangan mereka. Ibrahim pun berkata, “Apakah tuhan-tuhanmu mendengarmu ketika kamu berdoa? Atau dapatkan tuhan-tuhanmu memberi manfaat atau mencelakakanmu?” Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami dapati nenek moyang kami berbuat begitu.” (Asy-Syu’araa : 72-74)

Pembahasan soal usaha Ibrahim mengubah pola pikir kaumnya yang sesat, juga seperti pada firman Allah,  “Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang lalu ia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam.’ Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak member petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.’ Kemudian ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, ‘Inilah Tuhanku, ini lebih besar.’ Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, ‘Waha kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.’ Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan mengkuti agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”(Al-An’am 76 – 78)

Jika kau perhatikan dalam kitab-kitab tafsir, penjelasan ayat-ayat ini ada dua pendapat yang menjadi perdebatan. Pendapat pertama dimaknai sebagai usaha Ibrahim ketika sedang mencari tuhannya. Sebagian ulama menyebutkan ada fase dimana Ibrahim berusaha menemukan Tuhan dari kejadian-kejadian alam yang muncul. Ia pernah menyembah bintang, ternyata bintang itu tenggelam. Lalu bulan, juga hilang. Kemudian matahari, dan juga terbenam. Hingga akhirnya ia meyakini bahwa ada Tuhan yang menciptakan semua ini.

Pendapat kedua, bahwa ayat ini berupa penjelasan yang digunakan oleh Ibrahim sebagai cara memutar logika para kaumnya yang menyembah bintang, bulan, dan matahari. Mungkin juga yang dimaksud dari penyembahan benda-benda langit itu adalah para dewa-dewa langit yang sudah aku sebutkan tadi.

Secara fitrah, manusia lahir sudah memiliki Tuhan yang bernama Allah. Orang tua dan lingkungannyalah yang menyesatkan. Berbeda dengan Ibrahim, sejak lahir ia sudah mendapat petunjuk bahwa satu-satunya Tuhan yang layak disembah adalah Allah. Para ulama dari sebagian yang lain menyangkal bahwa para Nabi pernah menyembah selain Allah seperti pendapat pertama tadi. Seperti kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya, mustahillah Nabi Ibrahim (maksudnya pernah menyembah selain Allah) —kekasih Allah yang dijadikanNya sebagai panutan umat manusia, taat kepada Allah, cenderung kepada agama yang benar, dan bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Kembali ke soal usaha dakhwahnya ke masyarakat. Ibrahim selalu mengunakan pertanyan-pertanyaan untuk mengetes logika target dakwahnya. “Apa mereka mendengarmu ketika kamu berdoa kepadanya?” begitu Ibrahim kepada para penyembah berhala itu. “Dapatkah mereka memberikan manfaat atau mencelakaimu?”

“Kami mengikuti nenek moyang kami seperti ini. Jangan paksa kami tinggalkan warisan nenek moyang kami!” seperti itu jawaban mereka. Tradisi menutup pintu logika mereka. Mereka sebenarnya paham, bahwa patung-patung tersebut tidak mampu mendengar, tidak mampu bicara, apalagi manfaat. Tradisi selalu menjadikan alasan untuk tidak mau merubah kebiasaan hidupnya yang sudah mapan.

Karena itu Ibrahim berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku. Lain halnya Tuhan seluruh alam.” (Asy-Syu’araa 75-77)

Apapun argumentasi yang selogis apapun dari Ibrahim, tetap saja mereka bertahan pada kekufurannya. Justru mereka mengalihkan kesalahan pada Ibrahim. Ada juga yang menganggap Ibrahim hanya bercanda. Seperti kata kaumnya, “Apakah Engkau datang kepada kami membawa kebenaran atau engkai main-main?” (Al-Anbiyaa 55). Ibrahim pun sampai batas kemuakannya. Ia harus punya cara yang lebih agresif lagi untuk menunjukkan ia serius. Sampai suatu ketika ada saat yang tepat untuk sebuah rencana besar merubah paradigma masyarakat setempat terhadap tradisi kesyirikannya. Dalam sejarah perjuangan dakwah Ibrahim sering kita dengar bagaimana ia mencoba merubah pola pikir penduduk kotanya dengan menghancurkan patung-patung di sebuah tempat peribadatan ketika warga kota sedang berkumpul disebuah perayaan hari besar kerajaan. Kau bisa baca di Surat Al-Anbiya ayat  57 – 66.

Apa yang dilakukan Ibrahim ini membuat geger penduduk kota. Semua terfokus kepada Ibrahim. Apa yang telah dilakukannya seperti misi bunuh diri. Tapi ia seorang petarung. Keyakinannya pada Allah tak memperdulikan akibat dari apa yang ia lakukan. Mati pun siap. Gerakan agresif Ibrahim ini pun akhirnya terdengar ke telinga penguasa. Berhadapanlah ia dengan raja angkuh itu.

Tak berhasilnya raja Namrudz menjawab tantangan Ibrahim untuk menerbitkan matahari dari barat menjadi sebuah kemenangan Ibrahim dalam sebuah pertarungan perdebatan. Masyarakat kota tak dapat berkutik, raja pun takluk. Maka, cara menaklukan Ibrahim dengan kekuasaan fisik mereka. Bakar! Namun, ucapan Ibrahim, “Hasbunallah wa ni’mal wakil (Cukup Allah menjadi penolong dan sebaik-baik pelindung)”, atas kekuasaan Allah, Api tak membakar tubuhnya. Semua warga kota tertegun dan kecewa, kekuatan mereka pun tak mampu menghabisi Ibrahim. Atas kekuasaan Allah Ibrahim menang lagi sebagai pertarung tauhid. Bahkan Ayahnya pun mengakui kekuasaan tuhan Ibrahim, seperti yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Kalimat yang terbaik saat itu adalah kalimat yang di ucapkan ayah Ibrahim, karena ketika ia melihat anaknya dalam perlindungan seperti itu ia berkata, ‘Sebaik-baik Tuhan adalah Tuhanmu wahai Ibrahim’.”

Semenjak kejadian itu, situasi Ibrahim sudah tidak aman. Allah memerintahkan ia hijrah meninggalkan Kota Ur menuju kota yang dijanjikan menjadi wilayah anak turunannya kelak, yaitu negeri Kan’an (wilayah syam atau palestina sekarang).

Apa yang dilakukan Ibrahim itu mengingatkan Namrudz akan mimpinya yang memiliki arti akan ada seorang yang akan menghancurkan kerajaannya. Apa yang diramalkan itu pun benar terjadi. Setelah peninggalan Ibrahim, kekuasaan Namrudz khususnya ibu kota kerajaan yaitu Kota Ur mengalami gejolak. Salah satunya adalah ambisi Namrudz yang ingin membunuh tuhannya Ibrahim. Ia pun menggerakan seluruh bala tentaranya. Seperti yang aku tulis di awal, ambisinya itu sampai mendirikan menara yang dikenal dikalangan orang nasrani adalah menara babel.

Dari yang ditulis Ibnu Katsir, berdasarkan riwayat Ibnu Jarir Ath-Tahabri dalam tafsirnya, ketika Namrudz menggerakan seluruh tentaranya untuk melawan Allah, Dia mengirimkan pasukan lalat  dan nyamuk hingga mereka tak dapat melihat matahari karena langit tertutup oleh jutaan lalat dan nyamuk. Lalat dan nyamuk ini memakan daging mereka hingga tersisa tulang belulang. Salah satu dari lalat masuk ke dalam otak Namrudz melalui hidung. Lalat itu pun hidup di dalam otak Namrudz sampai ia akhirnya meninggal karena berusaha mengeluarkan lalat dengan selalu memukul-mukul kepalanya.

Menurut Dr. Jamal Abdul Hadi, yang aku kutip dari Athlas Tarikh al-Anbiya karya Sami bin Abdullah al-Maghluts, menyebutkan di dalam kitabnya, Jazirah al-Arab bahwa naskah-naskah Sumeria kuno telah menceritakan tentang berakhirnya kota Ur yang diperintah Raja Namrudz, yaitu saat kepergian Ibrahim bersama pengikutnya. Ur mengalami gejolak setelah terjadi pemberontakan bangsa Amorite (Atau Amurru) dan bangsa Ailam (atau Elam). Gejolak tersebut menyebabkan banyaknya penduduk yang mati berserakan dijalan karena saling membunuh dan yang hidup menjadi hina dan kelaparan.

Hal ini senada seperti yang dituliskan sejarawan Arnold Toynbee dalam bukunya Mankind And Mother Eart yang diterjemahkan menjadi Sejarah Umat Manusia. Toynbee menuliskan, Dinasti ketiga Ur (yaitu raja dari bangsa Sumeria; Ur-Nammu) digulingkan oleh pemberontakan orang-orang Elam sebagai koloninya. Kota Ur direbut sehingga menjadi malapetaka yang membuat Ur tidak pernah pulih kembali. Kerajaannya pun pecah menjadi negara-negara kota. Hingga kemudian, dari kalangan  turunan bangsa Amurru (Amoriah) berhasil menyatukan kembali kekuasaan yang pernah dibangun Ur-Nammu dan mendirikan Kerajaan yang berpusat di Kota Babil, yaitu Kerajaan Babilonia dengan rajanya yang cukup terkenal; Raja Hammurabi (berkuasa tahun 1792 – 1750 SM). Keterangan dari Toynbee inilah yang sedikit menambah keyakinanku kalau Ur-Nammu ini adalah Raja Namrudz. Wallahualam.

Kisah Ibrahim belum selesai. Insya Allah akan dilanjutkan surat berikutnya. Semoga kau tetap tertarik mengikuti cerita-cerita suratku. Karena setalah ini, aku akan terus bercerita tentang para nabi turunan Ibrahim hingga salah satu turunannya menjadi raja penguasa dunia yang tidak ada tandingannya hingga saat ini. Siapakah dia? Kau sudah tau pasti. Jika belum ikuti saja.

Maha Besar Allah yang Maha Pemberi Petunjuk (Al Haadii)
Wassalamu’alaikum,

Jogja, 15 Desember 2014
@RidwanHd


Baca,
Selanjutnya >> Surat untuk Kau - 6 : Misi Ketauhidan Sang Bapak Para Nabi

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger