Bismillahirrahmannirrahim,
Assalamu’alaikum,
Hei Kau,
Terimakasih masih setia megikuti surat-suratku. Sekarang kita bahas Nabi Ibrahim. Kau perlu
tahu, salah satu pertarungan dakwah terbesar yang dihadapi Nabi Ibrahim adalah ketika berhadapan dengan raja yang sangat angkuh di muka bumi.
Berdasarkan riwayat Israliyat ataupun kitab Injil, keangkuhannya itu
tergambarkan atas usahanya untuk melawan Tuhan. Ia menantang Tuhan setelah
kalah beradu dengan sosok cerdas dari rakyat negerinya.
Bentuk keangkuhannya adalah dengan membangun menara Babel. Konon, menara
tersebut sangat tinggi. Menara itu sengaja dibangun untuk
membunuh Tuhan di langit dengan bermodal panah. Ia ingin menantang, apakah
Tuhannya Ibrahim mampu ia kalahkan. Raja itu dikenal dengan nama Namrudz, atau juga sering ditulis Nimrod.
“Tuhanku adalah Allah.
Dia bisa menghidupkan dan mematikan.” Ucap Ibrahim ketika ditanya tentang
Tuhannya oleh si Raja Namrudz setelah ia berbuat ulah kepada dewa-dewanya.
Mendapat jawaban itu, Namrud memanggil dua orang tawanannya.
Ada upaya ingin mematahkan argumen Ibrahim dengan keangkuhannya. “Aku pun bisa
menghidupkan dan mematikan. Lihat ini!” terang Namrud yang langsung membunuh
salah satu tawanan tersebut dan membiarkan hidup tawanan yang lain.
Namrudz mengaku dirinya sebagai jelmaan dewa. Keberhasilannya
membangun kekuasaan yang besar dan sebagai orang yang peling cerdas di
kerajaannya membuat ia merasa lebih dari umat manusia yang lain. Konon, Sang
ibu, Ratu Serimanis, melahirkan Namrudz tanpa ayah. Ada juga yang menceritakan
Namrudz lahir ketika ayahnya telah wafat. Karena tanpa ayah, ibunya pun berkata
kepada Namrudz bahwa ia lahir dari seorang dewa. Mungkin itu yang membuat ia
merasa sebagai orang yang berkuasa seperti tuhan.
Sebenarnya, ketika Ibrahim mau mengakui sang raja, ia bisa
terselamatkan dari hukuman. Namun, Ibrahim tetaplah Ibrahim. Tak ada cerita
sejarah yang akan aku tuliskan seperti ini kalau ia menyerah. Ia tetap ingin
menujukkan bahwa Tuhannya lebih unggul dari Namrudz sekalipun. Ia serahkan hidup
dan matinya hanya untuk Allah. Apa yang
dilakukan Namrudz itu sangat mudah
dibantah oleh Ibrahim. Mungkin, karena kekalutan Namrudz, logikanya tidak
sesuai dengan apa yang dinyatakan Ibrahim, bahwa Tuhannya bisa menghidupkan dan
mematikan. Maka, Ibrahim membuat pernyataan lain, “Tuhanku
bisa menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkannya ke barat. Bisakah
kau menerbitkan matahari itu dari timur?” Sederhana, tapi lugas. Bingunglah
Namrud. Contoh apa yang bisa ia lakukan untuk menjawab tantangan Ibrahim itu.
Ibrahim menang. Perintah eksekusi kepada Ibrahim pun dilakukan. Bakar!
Secara Silsilah, Ibrahim adalah turunan yang berujung pada
Sam bin Nuh. Kalau kau mau menghafal, begini silsilahnya : Ibrahim bin Terah
bin Nahor bin Serug bin Rehu bin Peleg bin Eber bin Selah bin Arpakhsad bin Sam
bin Nuh. Secara silsilah, sangat cukup jauh dari dua nabi yang kita bahas
sebelumnya. Kalau Ibrahim dari turunan anak Sam yang bernama Arpakhsad, maka
Nabi Hud dan Saleh dari anak Sam yang bernama Iram. Jarak tahun pengutusannya
juga jauh, sekitar 200-500 tahubn dari nabi Hud dan Saleh. Tepatnya para ulama
sejarawan mengatakan pengutusan Ibrahim sekitar tahun 2.000 – 1900an SM.
Ibrahim lahir dan besar disebuah peradaban yang cukup maju
pada jamannya, yaitu peradaban Mesopotamia. Lebih tepatnya ia besar di kota
yang bernama Ur. Sebuah kota metropolitan terbesar pada jamannya. Awalnya,
Peradaban Mesopotamia diisi oleh bangsa Sumeria. Namun, di pertengaham milenium
ke dua sebelum masehi, ada sebuah imigrasi besar-besaran dari bangsa Akkadia,
yaitu bangsa yang awalnya mendiami Jazirah Arab. Selama berpuluh-puluh tahun
bangsa Akkadia terus berimigrasi ke wilayah Mesopotamia dan membentuk
koloni-koloni negara kota. Hingga akhirnya muncul sosok yang memiliki misi
menyatukan seluruh wilayah Mesopotamia menjadi satu wilayah politik.
Dibentuklah kekuasaan kerajaan dengan raja yang sangat dikenal, yaitu Sargon
yang berkuasa antara tahun 2.360 – 2.112 SM. Semenjak itu, Bangsa Akkadia sudah
hidup menetap bersama bangsa sumeria.
Seiring melemahnya kekuasaan Sargon, wilayah Mesopotamia
mendapat serangan dari Bangsa Guti, yaitu bangsa yang berasal dari timur laut
atau dikenal dengan wilayah Persia. Serangan Bangsa Guti melemahkan kekuasaan
politik Kerajaan Akkadia. Melemahnya kekuasaan politik di Mesopotamia membuat
arus imigrasi baru dari Jazirah Arab, masuklah Bangsa Amurru atau Amoriah.
Bangsa Amurru dengan Akkadia tidak memiliki perbedaan. Bahasa sama kebudayaan
juga sama. Hanya jarak dan waktu yang membuat berbeda. Sejarah mencatat,
Ibrahim masuk dalam kelompok Bangsa Amurru.
Serangan Bangsa Guti tidak berhasil menguasai politik di
Mesopotamia, disinilah muncul penguasa baru dari kalangan Bangsa Sumeria yang
mampu menyingkirkan Bangsa Guti, penguasa ini dikenal dengan nama Ur-Nammu. Dia
membangun kerajaan dari sisa-sisa peninggalan Sargon. Masa kekuasaan Ur-Nammu
hampir sama dengan masa hidup Ibrahim. Apakah Ur-Nammu sama dengan Raja Namrudz
menjadi sebuah tesis yang belum bisa dibuktikan. Ur-Nammu dikenal dengan
bangunan tempat ibadah yang ia dirikan, yaitu Ziggurat. Sedangkan Ziggurat
diakui sebagai bangunan ibadah yang dimiliki Kerajaan Babilonia. Apakah mungkin
Ur-Nammu itu Raja Babilonia (Kuno) pertama?
Lepas Ur-Nammu itu Namrudz atau bukan, ketika itu Raja Namrud
mengeluarkan kebijakan untuk membunuh semua anak laku-laki yang lahir di
negerinya. Kebijakan itu muncul setelah ia bermimpi yang diartikan oleh
peramalnya akan datang seorang anak laki-laki yang akan mengakibatkan
kehancuran bagi negerinya. Kebijakan itulah membuat ibu Ibrahim lari ke
pegunungan dan tinggal di gua saat dirinya hamil hingga melahirkan. Selama
kecil hingga anak-anak, Ibrahim hidup di alam bebas. Hingga waktunya menjelang
dewasa ia diajak orang tuanya kembali ke kota.
Terah nama ayahnya. Kalau di Al-Qur’an disebutkan bernama
Azar. Tapi dikalangan ulama ada perbedaan pendapat. Azar bisa bermaksud julukan
atau panggilan. Namun para sejarawan bersepakat naman Ayahnya adalah Terah.
Terah ini adalah pengusaha yang bergerak dibidang pembuatan jasa patung sebagai
simbol dewa-dewa sesembahan masyarakat di Kota Ur saat itu. Ketika Ibrahim
masih muda, ia sering diminta sang ayah untuk menjualkan patungnya. Berkat
karunia Allah pada dirinya, ia selalu merasa risih ketika menjualkan
patung-patung karya ayahnya. Ia merasa orang yang akan membelinya adalah
orang-orang bodoh. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa, patung hasil karya
ayahnya harus disembah dan dipelihara layaknya makhluk hidup. “Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun)
telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk dan Kami mengetahui dia.”
(Al-Anbiya 51)
Ibrahim hadir ditengah peradaban yang telah mapan dalam
kehidupan spiritualitas dan kebudayaan. Dewa-dewa yang dianut oleh masyarakat
disekitar Ibrahim sudah hadir sejak beberapa abad sebelumnya ketika wilayah
Mesopotamia yang ia tempati masih dikuasai oleh bangsa sumeria. Keberadaan alam
seperti angin, bulan, matahari, sangat nyata memberikan manfaat bagi mereka
justru membangun pola berpikir bahwa benda-benda itu layak disembah. Inilah
sebuah personifikasi kekuatan alam terutama dengan bentuk manusia. Lahirlah
mitos-mitos tentang makhluk (sosok manusia unggul) yang ada dibalik hakikat
keberadaan benda-benda alam. Seperti inilah agama pagan. Patung-patung yang
mereka buat sebagai bentuk fetisisme.
Ada beberapa Tuhan dalam sejarah peradaban Mesopotamia.
Pertama bernama Anu, ini adalah Tuhan tertinggi diantara tuhan-tuhan yang lain
atau juga disebut bapak para tuhan. Kemudian Enlil, sebagai tuhan angin badai.
Enki, adalah tuhan air tawar dalam tanah yang datang ke permukaan sungai, rawa,
dan kolam. Ki, adalah tuhan bumi atau juga disebut sebagai tuhan kesuburan.
Kemudian juga ada tiga tuhan langit yang menjadi sesembahan: Nanna; tuhan
bulan, Utu; tuhan matahari, dan Inanna; ratu khayangan.
Diantara ratusan ribu masyarakat Mesopotamia, hanya Ibrahim
yang mendapat anugerah bisa mengenal tuhan yang satu, tuhan bagi semesta alam,
yaitu Allah Swt. Al-Qur’an memang tidak meceritakan bagaimana proses Ibrahim
bisa mengenal Tuhannya. Bisa jadi, ketika ia hidup di alam bebas ketika masih kecil,
di situ ia menemukan hakikat kehidupan. Ketika berbenturan dengan realitas
masyarakat Kota Ur yang memuja banyak dewa, daya kritisnya muncul. Turunlah karunia
Allah kepadanya. Dan demikianlah Kami
memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan di langit dan di bumi, agar dia
termasuk orang-orang yang yakin. (Al-An’am : 75)
Karunia Ibrahim tidak hanya sebatas itu. Allah pun memberikan
karunianya yang lebih besar lagi. Seperti yang tertulis dalm Al Baqarah : 260,
Ia meminta diperlihatkan bagaimana menghidupkan yang mati. Atas permintaan itu
Allah menjawabnya, “Belum percayakah
engkau kepada-Ku?” Bukan, bukan Ibrahim tak percaya. Ia sangat yakin atas
kekuasaan Allah. Iya percaya atas ke-Mahaperkasaan Allah, namun ia ingin
melihat kekuasaan Allah sebagai pelajaran buat anak manusia yang akan
mempelajari kitab-kitab Allah.
Permintannya dikabulkan. “Kalau
begitu, ambillah empat ekor burung, lalu potong-potonglah. Kemudian letakkan di
atas masing-masing bukit satu bagian, lalu panggilah mereka. Mereka nanti akan
datang kepadamu.” Terang Allah dalam firmannya. Dilakukanlah perintah itu, dan Ibrahim
menyaksikan sendiri apa yang diminta Allah.
Atas kelebihan ilmu dan karunia yang dimiliki Ibrahim, ia
mulai mencoba mengenalkan Allah. Ayah Ibrahim menjadi target dakwah pertama.
Keluarga adalah awal pertarungan Ibrahim memperkenalkan Tuhan yang nyata.
Dengan lembut, Ibrahim mencoba menyadarkan soal ini kepada sang ayah. Ia ingin
sang ayah mengikuti keyakinan Ibrahim.
“Wahai Ayahku,“
Ibrahim mencoba mengatakan kepada ayahnya, “Sungguh
telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka
ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”
(Maryam : 43)
Dijawab oleh ayahnya, “Bencikah
kau dengan tuhan-tuhanku?” (Maryam : 46) Sang ayah bersikukuh ingin tetap
mengikuti tradisi nenek moyangnya. Sang ayah belum pernah mengalami pengalaman
spiritualitas yang dialami Ibrahim, sehingga pernyataan Ibrahim telah
mendapatkan sebagian ilmu tidak disambut dengan baik. Bisa jadi juga, sang ayah
memang tidak mau kehilangan lahan usahanya. Wallahualam.
Misi untuk menyadarkan ayahnya gagal, ia tak habis semangat
untuk mencoba ke masyarakat disekitarnya. Pertarungan berikutnya ia coba
menghadapi kemapanan tradisi lokalitas setempat. Tantangan terbesarnya adalah
merubah pola pikir yang sudah lama terbentuk dikalangan mereka. Ibrahim pun
berkata, “Apakah tuhan-tuhanmu
mendengarmu ketika kamu berdoa? Atau dapatkan tuhan-tuhanmu memberi manfaat
atau mencelakakanmu?” Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami dapati nenek moyang
kami berbuat begitu.” (Asy-Syu’araa : 72-74)
Pembahasan soal usaha Ibrahim mengubah pola pikir kaumnya
yang sesat, juga seperti pada firman Allah,
“Ketika malam telah menjadi gelap,
dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang lalu ia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Maka
ketika bintang itu terbenam dia berkata, ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam.’
Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi
ketika bulan itu terbenam dia berkata, ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak member
petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.’ Kemudian
ketika dia melihat matahari terbit dia berkata, ‘Inilah Tuhanku, ini lebih
besar.’ Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, ‘Waha kaumku! Sungguh,
aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.’ Aku hadapkan wajahku kepada
Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan mengkuti agama
yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”(Al-An’am 76
– 78)
Jika kau perhatikan dalam kitab-kitab tafsir, penjelasan
ayat-ayat ini ada dua pendapat yang menjadi perdebatan. Pendapat pertama
dimaknai sebagai usaha Ibrahim ketika sedang mencari tuhannya. Sebagian ulama
menyebutkan ada fase dimana Ibrahim berusaha menemukan Tuhan dari
kejadian-kejadian alam yang muncul. Ia pernah menyembah bintang, ternyata
bintang itu tenggelam. Lalu bulan, juga hilang. Kemudian matahari, dan juga
terbenam. Hingga akhirnya ia meyakini bahwa ada Tuhan yang menciptakan semua
ini.
Pendapat kedua, bahwa ayat ini berupa penjelasan yang digunakan
oleh Ibrahim sebagai cara memutar logika para kaumnya yang menyembah bintang,
bulan, dan matahari. Mungkin juga yang dimaksud dari penyembahan benda-benda
langit itu adalah para dewa-dewa langit yang sudah aku sebutkan tadi.
Secara fitrah, manusia lahir sudah memiliki Tuhan yang
bernama Allah. Orang tua dan lingkungannyalah yang menyesatkan. Berbeda dengan
Ibrahim, sejak lahir ia sudah mendapat petunjuk bahwa satu-satunya Tuhan yang
layak disembah adalah Allah. Para ulama dari sebagian yang lain menyangkal
bahwa para Nabi pernah menyembah selain Allah seperti pendapat pertama tadi.
Seperti kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya, mustahillah Nabi Ibrahim (maksudnya
pernah menyembah selain Allah) —kekasih Allah yang dijadikanNya sebagai panutan
umat manusia, taat kepada Allah, cenderung kepada agama yang benar, dan bukan
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Kembali ke soal usaha dakhwahnya ke masyarakat. Ibrahim
selalu mengunakan pertanyan-pertanyaan untuk mengetes logika target dakwahnya.
“Apa mereka mendengarmu ketika kamu berdoa kepadanya?” begitu Ibrahim kepada
para penyembah berhala itu. “Dapatkah mereka memberikan manfaat atau
mencelakaimu?”
“Kami mengikuti nenek moyang kami seperti ini. Jangan paksa
kami tinggalkan warisan nenek moyang kami!” seperti itu jawaban mereka. Tradisi
menutup pintu logika mereka. Mereka sebenarnya paham, bahwa patung-patung
tersebut tidak mampu mendengar, tidak mampu bicara, apalagi manfaat. Tradisi
selalu menjadikan alasan untuk tidak mau merubah kebiasaan hidupnya yang sudah
mapan.
Karena itu Ibrahim berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyang
kamu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku.
Lain halnya Tuhan seluruh alam.” (Asy-Syu’araa 75-77)
Apapun argumentasi yang selogis apapun dari Ibrahim, tetap
saja mereka bertahan pada kekufurannya. Justru mereka mengalihkan kesalahan
pada Ibrahim. Ada juga yang menganggap Ibrahim hanya bercanda. Seperti kata
kaumnya, “Apakah Engkau datang kepada
kami membawa kebenaran atau engkai main-main?” (Al-Anbiyaa 55). Ibrahim pun
sampai batas kemuakannya. Ia harus punya cara yang lebih agresif lagi untuk
menunjukkan ia serius. Sampai suatu ketika ada saat yang tepat untuk sebuah
rencana besar merubah paradigma masyarakat setempat terhadap tradisi kesyirikannya.
Dalam sejarah perjuangan dakwah Ibrahim sering kita dengar bagaimana ia mencoba
merubah pola pikir penduduk kotanya dengan menghancurkan patung-patung di
sebuah tempat peribadatan ketika warga kota sedang berkumpul disebuah perayaan
hari besar kerajaan. Kau bisa baca di Surat Al-Anbiya ayat 57 – 66.
Apa yang dilakukan Ibrahim ini membuat geger penduduk kota.
Semua terfokus kepada Ibrahim. Apa yang telah dilakukannya seperti misi bunuh
diri. Tapi ia seorang petarung. Keyakinannya pada Allah tak memperdulikan
akibat dari apa yang ia lakukan. Mati pun siap. Gerakan agresif Ibrahim ini pun
akhirnya terdengar ke telinga penguasa. Berhadapanlah ia dengan raja angkuh itu.
Tak berhasilnya raja Namrudz menjawab tantangan Ibrahim untuk
menerbitkan matahari dari barat menjadi sebuah kemenangan Ibrahim dalam sebuah
pertarungan perdebatan. Masyarakat kota tak dapat berkutik, raja pun takluk.
Maka, cara menaklukan Ibrahim dengan kekuasaan fisik mereka. Bakar! Namun,
ucapan Ibrahim, “Hasbunallah wa ni’mal
wakil (Cukup Allah menjadi penolong dan sebaik-baik pelindung)”, atas
kekuasaan Allah, Api tak membakar tubuhnya. Semua warga kota tertegun dan
kecewa, kekuatan mereka pun tak mampu menghabisi Ibrahim. Atas kekuasaan Allah
Ibrahim menang lagi sebagai pertarung tauhid. Bahkan Ayahnya pun mengakui
kekuasaan tuhan Ibrahim, seperti yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Kalimat yang
terbaik saat itu adalah kalimat yang di ucapkan ayah Ibrahim, karena ketika ia
melihat anaknya dalam perlindungan seperti itu ia berkata, ‘Sebaik-baik Tuhan
adalah Tuhanmu wahai Ibrahim’.”
Semenjak kejadian itu, situasi Ibrahim sudah tidak aman.
Allah memerintahkan ia hijrah meninggalkan Kota Ur menuju kota yang dijanjikan
menjadi wilayah anak turunannya kelak, yaitu negeri Kan’an (wilayah syam atau
palestina sekarang).
Apa yang dilakukan Ibrahim itu mengingatkan Namrudz akan
mimpinya yang memiliki arti akan ada seorang yang akan menghancurkan
kerajaannya. Apa yang diramalkan itu pun benar terjadi. Setelah peninggalan
Ibrahim, kekuasaan Namrudz khususnya ibu kota kerajaan yaitu Kota Ur mengalami
gejolak. Salah satunya adalah ambisi Namrudz yang ingin membunuh tuhannya
Ibrahim. Ia pun menggerakan seluruh bala tentaranya. Seperti yang aku tulis di
awal, ambisinya itu sampai mendirikan menara yang dikenal dikalangan orang
nasrani adalah menara babel.
Dari yang ditulis Ibnu Katsir, berdasarkan riwayat Ibnu Jarir
Ath-Tahabri dalam tafsirnya, ketika Namrudz menggerakan seluruh tentaranya
untuk melawan Allah, Dia mengirimkan pasukan lalat dan nyamuk hingga mereka tak dapat melihat
matahari karena langit tertutup oleh jutaan lalat dan nyamuk. Lalat dan nyamuk
ini memakan daging mereka hingga tersisa tulang belulang. Salah satu dari lalat
masuk ke dalam otak Namrudz melalui hidung. Lalat itu pun hidup di dalam otak
Namrudz sampai ia akhirnya meninggal karena berusaha mengeluarkan lalat dengan
selalu memukul-mukul kepalanya.
Menurut Dr. Jamal Abdul Hadi, yang aku kutip dari Athlas Tarikh al-Anbiya karya Sami bin
Abdullah al-Maghluts, menyebutkan di dalam kitabnya, Jazirah al-Arab bahwa naskah-naskah Sumeria kuno telah menceritakan
tentang berakhirnya kota Ur yang diperintah Raja Namrudz, yaitu saat kepergian
Ibrahim bersama pengikutnya. Ur mengalami gejolak setelah terjadi pemberontakan
bangsa Amorite (Atau Amurru) dan bangsa Ailam (atau Elam). Gejolak tersebut
menyebabkan banyaknya penduduk yang mati berserakan dijalan karena saling
membunuh dan yang hidup menjadi hina dan kelaparan.
Hal ini senada seperti yang dituliskan sejarawan Arnold
Toynbee dalam bukunya Mankind And Mother Eart yang diterjemahkan menjadi
Sejarah Umat Manusia. Toynbee menuliskan, Dinasti ketiga Ur (yaitu raja dari
bangsa Sumeria; Ur-Nammu) digulingkan oleh pemberontakan orang-orang Elam
sebagai koloninya. Kota Ur direbut sehingga menjadi malapetaka yang membuat Ur
tidak pernah pulih kembali. Kerajaannya pun pecah menjadi negara-negara kota.
Hingga kemudian, dari kalangan turunan
bangsa Amurru (Amoriah) berhasil menyatukan kembali kekuasaan yang pernah
dibangun Ur-Nammu dan mendirikan Kerajaan yang berpusat di Kota Babil, yaitu
Kerajaan Babilonia dengan rajanya yang cukup terkenal; Raja Hammurabi (berkuasa
tahun 1792 – 1750 SM). Keterangan dari Toynbee inilah yang sedikit menambah
keyakinanku kalau Ur-Nammu ini adalah Raja Namrudz. Wallahualam.
Kisah Ibrahim belum selesai. Insya Allah akan dilanjutkan
surat berikutnya. Semoga kau tetap tertarik mengikuti cerita-cerita suratku.
Karena setalah ini, aku akan terus bercerita tentang para nabi turunan Ibrahim
hingga salah satu turunannya menjadi raja penguasa dunia yang tidak ada
tandingannya hingga saat ini. Siapakah dia? Kau sudah tau pasti. Jika belum
ikuti saja.
Maha Besar Allah yang Maha Pemberi Petunjuk (Al Haadii)
Wassalamu’alaikum,
Jogja, 15 Desember 2014
@RidwanHd
Baca,
Baca,
Selanjutnya >> Surat untuk Kau - 6 : Misi Ketauhidan Sang Bapak Para Nabi
Sebelumnya >> Surat untuk Kau - 4 : Para Penantang Tuhan

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.