Bismillahirrahmannirrahim,
Assalamu’alaikum,
Hei Kau,
Aku masih mau bercerita soal Nabi Ibrahim. Agak lama aku mencoba memikirkan tulisan yang satu ini. Aku mencoba mengkaji lebih dalam tentang kehidupan Ibrahim. Sampai-sampai, seorang kawan menegur gara-gara mencoba mengkaji Ibrahim secara rasional. Itulah yang membuat aku lama berpikir. Ingin sekali menunjukkan bahwa kejadian-kejadian yang dialami Ibrahim bisa ditunjukkan dengan logika rasio. Namun, itu ternyata mustahil. “Lah, kisahnya sendiri menujukkan pencarian nalar rasional Ibrahim. Itu pun mentok. Makanya Ibrahim berdoa minta petunjuk seperti di Surat A’ An’am 77-78.” begitu katanya. Tertulis dari Imam Ghazali dalam Kitab al-Munqidz min adh-Dhalal (Penyelamat dari kesesatan), “Siapa yang menyatakan bahwa alam gaib bisa terbuka dengan dalil-dalil rasional, ia berarti telah menyempitkan rahmat Tuhan yang luas.”
Ini yang aku pikirkan. Al-Qur’an menunjukkan kalau ayah Ibrahim termasuk golongan penyembah berhala. Artinya, pengetahuannya tentang Allah yang Esa tidak diajarkan dari orang tuanya. Wallahualam. Ibrahim pun juga hadir di sebuah peradaban dengan kebudayaan yang sangat maju pada jamannya. Tak ada satu pun yang meyakini keberadaan Allah. Pertanyaannya, siapakah yang memperkenalkan Tuhan yang Esa kepda Ibrahim? Apa dia bisa tahu dengan sendirinya? Bagaimana menurut kau, apa punya pertanyaan sama sepertiku?
Aku pun meyakini, inilah yang namanya karunia. Usaha dari Ibrahim untuk menemukan Tuhan dari sikap kritisnya atas sesembahan masyarakat disekitarnya yang tidak rasional, dijawab oleh Allah dengan petunjuknya. “Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk dan Kami mengetahui dia.” (Al-Anbiya 51). Maka, hidayah itu karunia. Hidayah pun juga tak bisa dijelaskan secara rasio. Berkali-kali Allah menyebutkannya di Al Qur’an bahwa Dia akan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Artinya, jika sudah kehendak Allah, maka rasio pun tak mampu menjelaskan. Kau setuju?
Satu fase kejadian yang dialami Ibrahim yang tidak bisa dijelaskan secara rasional adalah ketika ia dibakar. Secara hukum alam, api jelas panas. Ketika menyentuh bahan yang bisa terbakar, termasuk kulit, api akan membakarnya. Tapi, dalam kejadian saat itu, Ibrahim tidak terbakar. Sifat hukum alam api tidak berlaku untuk Ibrahim. Inilah kehendak Allah.
Satu hal lagi. Seperti yang aku tulis pada surat yang lalu, ketika Ibrahim mengajak sang ayah untuk beriman, Ibrahim berkata “Sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam : 43). Itulah ilmu yang diterima para nabi Allah. Ibrahim berhasil mencapai ruang realitas yang sesungguhnya. Ia berhasil menggapai realitas spiritualnya. Ia memahami alam realitas yang tak mudah dipahami orang-orang disekitarnya. Seperti kata M. Naquib Al-Attas, ilmu mengenai Allah adalah pengalaman ketika seseorang bersatu dengan realitas. Ilmu bukan hanya bersumber dari rasio (rasionalisme) dan pengalaman (emperisme), tapi ada sumber-sumber yang diperoleh dari intuisi. Ia diperoleh dari proses kesadaran di ruang realitas spiritualnya. Manusia yang hidup didunia tidak bisa hanya mengandalkan rasio dan pengalaman dalam proses mencari pengetahuannya (ilmu). Itulah mengapa sering terjadi kesesatan. Tapi manusia butuh bimbingan dari Tuhan. Tuhan memilih orang-orang yang spesial untuk menurunkan ajarannya dalam bentuk wahyu. Kemudian wahyu-wahyu itu, oleh para nabi akan diajarkan kepada manusia. Ibrahim inilah, setelah proses yang panjang, dipilih Allah untuk menjalankan sebuah misi ketauhidan.
Aku berkesimpulan, bahwa Allah menceritakan kepada kita tentang kisah Ibrahim melalui wahyunya di dalam Al-Qur’an memiliki dua misi agar kita bisa memaknai hakikat ketauhidan. Yaitu, pertama, misi ketauhidan tentang adanya kehendak Allah yang tidak bisa kita jelaskan secara rasio dari apa-apa yang dialami Ibrahim. Keyakinan kita diuji di sini. Kedua, memaknai misi ketauhidan Ibrahim dalam proses penegakkan risalah Allah di muka bumi. Setelah gagal dibakar oleh warga Kota Ur ia harus beranjak pergi menuju negeri yang diperintahkan Allah untuk di tuju, yaitu negri Kan'an (Wilayah Palestina dan Suriah saat ini). Inilah misi ketauhidan selanjutnya demi menjaga dan meneruskan risalah Allah agar tidak punah di muka bumi.
Ibrahim hijrah menuju Negeri Kan’an bersama sang istri bernama Sarah, dan keponakannya yang bernama Luth. Riwayat juga ada yang menyebutkan ia membawa seluruh keluarganya termasuk orang tua, kakak, dan para pengikutnya. Menurut sebagian ulama tafsir dan sejarawan, pada jaman itu manusia yang beriman kepada Allah hanya ada 3 orang saja. Ibrahim sendiri, Istrinya, dan Luth bin Haran. Luth adalah keponakan Ibrahim. Anak dari kakaknya Ibrahim yang bernama Haran. Luth ini yang nanti juga diangkat oleh Allah menjadi Nabi. Insya Allah surat berikutnya akan bercerita tentang Nabi Luth.
Para sejarawan mengakui bahwa Istri Ibrahim, Sarah, adalah wanita yang cantik pada jaman itu. Ia masih masuk dalam kerabat Ibrahim sendiri. Sejak menikah dengan Sarah, Ibrahim belum dikaruniai anak. Mereka tak pernah berhenti berdoa agar bisa diberikan keturunan untuk melanjutkan misi ketauhidannya. Hingga semakin berumur, jawaban doa belum juga terkabulkan.
Bagaimana mungkin, seseorang yang sangat dekat dengan Allah seperti Ibrahim ini doanya tak juga dikabulkan? Ketika Ibrahim muak, bisa saja kan ia marah dengan Tuhannya? Atau, ia menjadi Ingkar. Meski Allah memiliki takdir dan kehendak, manusia tetap diciptakan untuk memilih pilihan hidupnya. Tapi, Ibrahim yakin akan jalan hidup yang diberkan Allah buatnya. Inilah bagian misi ketauhidannya; ujian dalam menjalankan ketaatan. ‘Petunjuk’ yang diberikan Allah bukanlah ‘petunjuk’ yang penuh dengan kebahagiaan, tapi ‘petunjuk’ yang dari sebuah syair nasyid “Penuh onak dan duri.”
Allah membuat cerita kehidupan Ibrahim begitu menarik. Keinginan untuk mempunya turunan terkabulkan juga, namun bukan dari Sarah, tapi Istri kedua yang di dapatkan di Mesir. Karunia berupa Istri kedua itupun di dapatkan setelah mengalami kejadian yang unik ketika mereka hidup di Mesir.
Raja Mesir adalah raja yang bisa dikatakan termasuk penggila wanita cantik. Setiap ada wanita cantik di negeri itu selalu diminta oleh raja agar besedia datang ke istana. Entah untuk dinikahi atau hanya menjadi gundik. Kehadiran Sarah, istri Ibrahim, yang cantik itu diketahui oleh petugas kerajaan. Setelah informasi masuk ke telinga raja, dimintalah Sarah untuk datang ke Istana. Raja dan petugas kerajaan tidak mengerti jika itu adalah Istri Ibrahim. Memang sebuah kesengajaan yang diminta Ibrahim agar Sarah mengatakan kalau ia adiknya Ibrahim. Jika diketahui ia adalah istrinya, mungkin Ibrahim akan dibunuh. Diangkutlah Sarah ke Istana.
Sejarah menuliskan kalau memang Raja Mesir saat itu takjub dengan Sarah. Sang raja mencoba untuk menyentuh Sarah. Sarah hanya bisa berdoa kepada Allah agar terlindungi dari perbuatan buruk. Doa Sarah dikabulkan. Ia pun dilindungi Allah dari godaan raja. Setiap raja ingin menyentuh Sarah, badannya selalu menjadi kaku. Sampai akhirnya sang raja berkata kepada ajudan kerajaannya, “Kalian katakan bahwa kalian membawa seorang wanita cantik, tetapi apa, bukannnya manusia melainkan jelmaan setan.” Setelah itu Sarah di suruh pergi. Tidak hanya sekedar meninggalkan istana, Sarah pun diberi hadiah pelayan wanita yang bernama Hajar dan beberapa hewan ternak.
Setelah peristiwa itu, Ibrahim beserta keluarga dan pelayan wanita tadi yang bernama Hajar memutuskan untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke negeri Kan'an. Ibrahim mulai melanjutkan aktivitas dakwahnya di negeri ini. Untuk memudahkan pembagian tugas dakwahnya, Ibrahim meminta Luth untuk pergi ke negeri Gaur dan menetap di Kota Sadum (Juga ada yang menuliskan Soddom). Luth diperintah ke kota tersebut agar bisa berdakwah di sana.
Sudah 10 tahun di Kan'an, Sarah belum juga bisa mengandung. Padahal umur semakin tua. Sampai-sampai Sarah menvonis dirinya sebagai wanita yang mandul. Agak berat hati, demi melanjutkan turunan Ibrahim, ia merelakan pelayan wanitanya, Hajar, agar bersedia menikah dengan Ibrahim. Hajar adalah wanita dari bangsa Qibti, yang merupakan suku asli Mesir. Ibrahim pun bersedia atas permintaan Sarah.
Setelah menikah dengan Hajar, tak lama kemudian Hajar hamil. Karunia Allah yang bernama Ismail itu lahir. Ismail lair ke dunia saat Ibrahim telah berumur 86 tahun. Bisa kau bayangkan bukan, Allah menganugerahkan Ibrahim ketika umur sudah senja. Tapi cerita kebahagiaan itu belum selesai.
Hadirnya Ismail dari Hajar membuat Sarah cemburu. Atas permintaan Sarah dan juga menjaga perasaan Sarah, Ibrahim mengajak Hajar beserta Ismail pergi dari tempatnya tinggal. Dibawalah mereka ke sebuah lembah padang pasir yang tandus dan gersang tanpa ada mata air. Setelah tiba di tujuan yang dipilih Ibrahim atas petunjuk Allah, berdiamlah mereka di situ. Kemudian Ibrahim atas perintah Allah meninggalkan Hajar dan Ismail untuk kembali bertolak ke negeri Kan’an.
Ibrahim diuji lagi. Meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi sungguh memberatkan Ibrahim. Bertahun-tahun mengharapkan anak, hanya sebentar ia melihat, harus ditinggal. Saat beranjak meninggalkan mereka di lembah yang tandus itulah Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakna shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, muda-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim 37)
Keberadaan Hajar dan bayi Ismail di lembah yang tandus membuat mereka kepayahan dan berusaha bertahan hidup. Setelah berputar-putar ke dua bukit (Shafa dan Marwah) untuk mencari air, ternyata air itu muncul dari kaki Ismail. Hajar segera membuat kolam dengan tangannya, lalu meciduk air dan memasukannya ke dalam geriba. Namun, air itu tetap memancar. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Semoga Allah menyayangi Ummi Ismail, seandainya dia membiarkan sumur Zam zam (tidak menciduk air), pasti Zamzam menjadi sumber air yang terbatas.” Setelah itu Hajar minum dan menyusui Ismail. Air Zamzam bukan sembarang air. Tanpa makan, mereka bisa hidup beberapa bulan lamanya hanya dengan minum air Zamzam.
Selang beberapa lama, datanglah sekelompok keluarga dari daerah Yaman melihat adanya mata air di lembah tersebut. Mereka meminta Hajar agar boleh bertempat tinggal disitu. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Ibunda Ismail merasa senang dengan kedatangan orang-orang itu, karena ia menyukai mereka (untuk meramaikan daerah tersebut).” Riwayat menyebutkan mereka berasal dari daerah Jurhum. Mulai sejak itu, lembah tandus dengan mata air Zamzam menjadi sebuah kota yang mulai ramai dikunjungi karena keberadaan mata airnya. Di sinilah awal turunan Ismail yaitu bangsa Arab lahir. Nanti kita akan bercerita khusus tentang Ismail di surat berikutnya.
Selama Hajar dan Ismail menetap di lembah tandus yang selanjutnya menjadi kampung, Ibrahim sesekali menjumpai mereka. Lagi-lagi Ibrahim diuji oleh Allah. Dalam kesempatan mengunjungi mereka, Ibrahim mendapat perintah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail. Satu-satunya anak yang dimilikinya saat itu. Ini bukan sembarang perintah. Lagi, ada maksud dibalik ujian. Ibrahim dengan kesungguhannya tetap menjalakan perintah tersebut meski sebelumnya sempat ragu. Ismail dengan yakin mengatakan, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepdamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat 102)
Kau sudah sering ya mendengar kisah ini? Sering sekali para khotib kita bercerita tentang kisah ini dalam khutbahnya di Idhul Adha. “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Ash-Shaffat 107)
Kisah penyembelihan Ismail ini juga termasuk salah satu bagian yang sulit dijelaskan secara rasio. Makna ketauhidan yang bisa aku ambil dari kejadian ini adalah misi tauhid yang ingin dijalankan Ibrahim. Di bawanya Hajar dan Ismail ke tanah haram adalah bagian dari misi Ibrahim untuk melanjutkan tradisi ketauhidan yang gagal di Kota Ur. Terucap doa dalam misinya, "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ibrahim : 36 – 37). Ibrahim mencoba memulai misi ketauhidannya dari turunan dan orang-orang yang jauh dari kemapanan peradaban.
Saat Ismail sudah dewasa, Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk mendirikan Baitullah (Ka’bah). Kembali Ibrahim mengunjungi keluarganya di lembah tandus tersebut. “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (Ali Imran 96).
Baitullah adalah masjid pertama yang didirikan yang digunakan untuk kepentingan orang banyak dan digunakan untuk menyembah Allah. Posisi Baitullah ketika didirikan Ibrahim juga mendapat petunjuk dan bimbingan langsung dari Allah. Bersama Ismail, mereka membangun pondasi bangunan, hingga tingginya melebihi tinggi Ibrahim.
“Ya Tuhan kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan jadikanlah diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (Al-Baqarah 128). Inilah menjadi doa agar yang mendiami Baitullah adalah anak cucu turunan yang akan patuh pada Allah. Juga mendoakan agar para penduduknya dilimpahi keberkahan dan diberi rizki seperti buah-buahan di tengah wilayah yang gersang, sedikit air, tiada pohon dan tanaman. “Dan (ingatlah) tatkala berkata Ibrahim : Ya Tuhanku. Jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan karuniakanlah kepada penduduknya dari berbagai buah-buahan,(yaitu) barangsiapa yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian.”
Allah mengabulkan doa-doa Ibrahim. Kota Mekkah adalah kota yang diberkahi. Selama berpuluh-puluh abad lamanya, kota ini selalu dijaga Allah. Meski sempat munculnya penyembahan berhala di kalangan penduduk Makkah, namun masih ada sekelompok orang yang masih menjaga kemurnian tauhid hingga Nabi Muhammad Saw hadir.
Berbagai peradaban penguasai dunia mulai Babilonia, Assyiria, Persia, Macedonia, Romawi, hingga peradaban barat saat ini, tiada satupun bala tetara yang berani menduduki Mekkah kecuali umat Islam sendiri. Mekkah pernah dicoba diserang oleh Abrahah, Gubernur Raja Habasyi di yaman, Allah pun melindungi Makkah dari pasukan, yang dikenal dengan pasukan gajah, dengan burung ababil. Inilah hasil doa-doa Ibrahim.
Misi Ibrahim juga tak berhenti di Makkah saja. Setelah 13 tahun kelahiran Ismail, Ibrahim mendapatkan karunia yang luar biasa dari Allah yang dikabarkan melalui beberapa malaikat yang berkunjung secara misterius ke rumahnya. Karunia itu adalah akan lahirnya anak Ibrahim dari Sarah. Sarah sempat tidak percaya akan bisa hamil, mengingat umur merka sudah cukup tua untuk bisa mempunyai anak. Malaikat berkata kepadanya, “Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? Itu adalah rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu.” (Hud : 73)
Lahirlah anak ke dua Ibrahim dan diberi nama Ishaq. Dari Ishaq ini nanti akan lahir turunan-turunannya yang menjadi para nabi dari kalangan Bani Ya’qub atau Bani Israel, seperti Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Ilyas, hingga Isa. Kalau tadi Ismail sebagai penerus misi ketauhidan di negeri jazirah Arab, maka Ishaq dan turunannya merupakan penerus misi ketauhidan dari negeri Kan’an. Yaqub bin Ishaq yang tercatat sebagai nabi pendiri tempat ibadah setelah Baitullah. Tempat Ibadah itu nanti akan dikembangkan lagi oleh Nabi Sulaiman. Inilah yang natinya dikenal sebagai Kuil Sulaiman, atau Baitul Maqdis, yang terletak di Kota Yerusalem.
Bisa kau bayangkan bukan? Proses dalam misi ketauhidan Ibrahim penuh dengan berbagai ujiannya, namun berakhir dengan berbagai karunia-Nya. “Dan Ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, sesungguhnya aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia.” (Al-Baqarah 124). Berbagai ujian itulah Allah mengankat Ibrahim sebagai Imam bagi umat manusia. Imam di sini, seperti yang ditulis HAMKA dalam tafsir Al Azhar, adalah imam dalam agama, bukan pemimpin politik atau klan. Ketika Allah mengangkat kedudukan Ibrahim, beliau bertanya, “Dan apakah juga turunanku?” Allah berfirman, “Janji-Ku tidak mengenai orang zalim.” (Al Baqarah 124). Allah pun mengkaruniakan kepada Ibrahim berupa keberlanjutan kepemimpinan umat berada pada keturunannya. Allah mengabulkan dengan menjadikan beberapa keturunannya adalah seorang nabi, kecuali keturunannya yang zalim. Seperti yang ditulis HAMKA; Keutamaan budi, ketinggian agama dan ibadat bukanlah didapat karena keturunan. Yang akan naik hanyalah orang yang sanggup menghadapi ujian, sebagaimana Ibrahim juga. Dan kita tahu, nabi-nabi setelah masa Ibrahim adalah turunannya. Makanya ia disebut juga sebagai bapak para nabi.
Ibrahim menjadi sosok manusia yang paling mulia. Allah pun memberinya gelar khalilullah yang artinya kekasih Allah. ”Dan siapakah yang lebih baik agamanya dariapa orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama nabi Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (An-Nisa : 125). Secara teks terjemahan Khalilullah memang diartikan sebagai kesayangan atau kekasih (Mahabbah). Tapi satu hal yang perlu kau ketahui, makna Khalilullah itu tak bisa disamakan dengan Mahabbah. Khalilullah lebih tinggi dari Mahabbah. Gelar ini hanya dimiliki oleh dua manusia; Ibrahim dan Muhammad, yang ajaran-ajarannya telah mempesona orang-orang yang tersentuh cahaya-Nya. Masya Allah.
Maha Besar Allah yang Maha Memuliakan (Al Mu’izz)
Wassalamu’alaikum,
Jogja, 20 Desember 2014
@RidwanHd
Baca,
Selanjutnya >> Surat untuk Kau - 7 : Hari yang Sulit Nabi Luth
Sebelumnya >> Surat untuk Kau - 5 : Pertarungan Nabi Ibrahim
Baca,
Selanjutnya >> Surat untuk Kau - 7 : Hari yang Sulit Nabi Luth
Sebelumnya >> Surat untuk Kau - 5 : Pertarungan Nabi Ibrahim
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.