Rabu, 24 Desember 2014

Pengamen Jogja yang Memikat

Pengamen yang biasa nampak di perempatan lampu merah Jogja.
sumber : http://jogja.tribunnews.com

“Kami itu ga mau terima uang sebelum selesai main.” dengan senangnya kawanku bercerita tentang masa lalunya, “Kalau mereka bayar di awal lalu menyuruh kita pergi, kami kembalikan saja uangnya. Kita itu ngamen bukan soal uang saja, tapi juga penghargaan atas performance kami.” lanjutnya. Pengalamannya menjadi pengamen di sekitar Alun-alun Kidul Yogyakarta menjadi pembicaraan yang menarik denganku tempo hari. Baginya, mengamen bukan soal mencari nafkah, bukan juga semata memberi hiburan, tapi tuntutan kualitas diri dan bersama teman-temannya demi melahirkan “desingan” yang artistik dan berciri. Itulah mengapa, tingkat penghargaan kepada pengamen di Jogja lebih tinggi dibanding daerah lain. Meski ia berlatar pemusik indie, menunjukkan performance bukan hanya panggung, memutar irama dengan alat musik seadanya di keramaian warung-warung sekitaran Alun-alun kidul juga sarana yang tepat.

Memang beda merasakan musik jalanan Jogja. Terutama wilayah wisata di pusat-pusat kota. Contohnya saja di Ankringan Tugu. Tempat ini menjadi favorit saya bersama kawan-kawan kampus untuk berkumpul di waktu senggang. Entah memperbincangkan suatu yang tak penting, hingga ngobrol berbahasa filsafat dan pemikiran. Desain latar yang nyaman dengan berbagai iringan pengamen yang mampir mencirikan bahwa Ankringan Tugu adalah tempat yang tepat untuk rasakan santai. Di sinilah saya sering perhatikan para musisi jalanan menunjukkan kemampuan seninya. Mereka bekerja juga beraktualisasi. Meski recehan yang kami kasih, semangat menujukkan dirinya mampu bermusik dengan baik tak hilang. Meski uang diberi di awal, mereka nyanyi hingga selesai. Bagi yang berduit dan senang dengan gaya mereka, hitungan pemberiannya bisa sampai lembaran uang ungu hingga hijau. Beberapa pengunjung banyak yang meminta lagu yang diinginkan, lalu bernyanyi bersama.

Dari pengalaman kawan saya itu, permintaan lagu adalah hal yang cukup sering. Inilah tantangannya. Seperti yang saya katakan tadi, mengamen bagi mereka bukan sekedar memberikan hiburan, tapi tuntutan aktualisasi. Mereka tertantang menyayikan lagu yang diminta pendengar. Semua jenis lagu harus mereka pelajari, namun tetap mempertahankan ciri khas mereka. Apapun jenis lagunya, jika ciri khas mereka menggunakan angklung ya tetap bermain dengan alat itu. Atau, jika menggunakan gitar, calung, perkusi, harmonika, sampai violin pun, mereka tetap gunakan meski beragam jenis musiknya berbeda-beda, seperti; pop, rock, dangdut, dsb. Inilah yang menjadi menarik melihat performace musisi-musisi jalanan Jogja.

Mendengar lagu rock dengan permainan anklung itu menarik sekali. Coba saja ke perempatan-perempatan lampu merah di jalan-jalan besar Kota Jogja, banyak seniman aklung dan calung bermusik dengan berbagai lagu pop dan rock. Mereka menghibur bagi pengguna jalan ketika tertahan lampu merah. Itulah ciri khas yang membuat menarik.

Yang menarik lagi seniman-seniman jalanan yang kadang muncul untuk menghibur di dalam-dalam bus pariwisata. Kebanyakan mereka menggunakan gitar atau ukulele (gitar kecil dengan empat senar). Tapi bukan alat musiknya yang menarik. Mereka bernyanyi dengan lirik yang menghibur. Kebanyakan musiknya ciptaan mereka sendiri. Musiknya pun kebanyakan bernada mayor dengan kord-kord standar. Cukup mudah dimainkan. Tapi sekali lagi, bukan musiknya. Ciri khas ada pada liriknya. Lirik-lirik yang dibuat dagelan, kritik sosial, atau menyinggung diri, kalah dengan lirik-lirik melankolis komersil yang sering dinyanyikan band-band mendadak terkenal.

Maaf narsis :D
Foto lama, ketika terobsesi jadi musisi jalanan :p
Kembali soal permintaan lagu, kawan saya pernah mengalami kasus dimana lagu yang diminta pendengar belum bisa dimainkan. Bukan karena tidak bisa, tapi lagu yang diminta bukan lagu yang mereka suka. Sehingga grup kawan saya itu meminta dua hari kedepan akan memainkan lagi lagu yang di minta itu. Mereka mencari alasan agar sang pendengar tidak lagi melanjutkan permintaannya. Tapi ternyata pendengar itu serius akan permintaannya. Dua hari kemudian, ketika si pendengar itu kembali mengunjugi alun-alun kidul, ia mencari grup ngamen kawan saya tadi. Ketika melihat grup ngamen kawan saya, dipanggilan mereka dari kejauhan. Mereka pun kaget. Ternyata apa yang mereka nyatakan dua hari sebelumnya ditanggapi serius. Mereka pun meminta permohonan lagi, lalu serius mempelajari lagu yang dimintakan untuk ditampilan dua hari kemudian.

Pernah juga grup ngamen kawan saya datang ke warung makan yang ternyata ada salah satu personelnya Seventeen. Mereka pura-pura tidak tahu jika ada si personil tersebut. Dinyanyikanlah lagu populernya Seventeen, tiba-tiba terdengar suara “Hoi.. yang lain hooiii.. Bosan!!” teriaknya si personil itu.

Pernah ketika setelah menyelesaikan lagu di sebuah warung ada bapak-bapak yang tak mau memberinya uang. Kalau tidak memberi tak ada masalah, tapi ini sang bapak ini menegur, “Kalian itu mengamen minta duit buat apa? Pasti buat mabuk-mabukan ya?” Dikirannya si bapak, mereka adalah anak jalanan yang hobi nongkrong, mabuk, dan merokok. Tidak mengerti tentang latar belakang mereka. “Bukan pak, untuk makan.” jawab salah satu dari mereka. “Ya sudah, kalau gitu saya bayar saja dengan makanan.” ucap si bapak. Lalu mereka pun akhirnya ikut makan bersama si bapak sambil bernyanyi bersama hingga larut.

Pengalaman menarik para pendengar permainan musiknya memang beragam. Selain dari bapak tadi, ada lagi dari seorang perempuan. Ketika ia sedang mengamen membawa lagu minor, tiba-tiba salah satu perempuan dari pendengarnya menangis. Mereka pun bingung. Lagu selesai, dicobalah lagu lain. Si perempuan kembali nampak biasa. Lalu, setelah lagu lain selesai, yang menemani si perempuan nangis tadi minta di ulang lagu sebelumnya. Dinyanyikanlah. Perempuan itu nangis lagi, dan semakin menjadi nangisnya, cukup keras. Lalu ditanyalah alasan menangis mendengar lagu itu. Di jawablah kalau lagu itu adalah lagu kenangan ketika pernah hidup bersama kekasihnya dulu.

Pengalaman kawan saya berbeda dengan pengalaman kawannya kawan saya itu yang juga pengamen di seputaran alun-alun kidul. Orang ini tampak tampan dan memikat. Permainan lagunya cukup disukai orang-orang yang mendengarnya. Saking memikatnya, para perempuan pendengarnya banyak yang jatuh hati. Kawan saya itu heran, “ada ya kejadian seperti di film-film sinetron atau FTV.”

Yang menyebabkan kisahnya seperti layaknya sinetron, sebab banyak yang suka dan mau jadi pacar si pengamen itu adalah perempuan-perempuan muda dari kalangan borjois para pengunjung Alun-alun Kidul. Mereka adalah para mahasiswi Jogja yang bawannya mobil. Pengamen itu terbilang beruntung. Para perempuan yang jadi pacarnya kebanyakan tipe-tipe yang menerima si pengamen itu apa adanya. Ketika hubungan mereka putus, kebanyakan ceritanya sama, yaitu gara-gara pihak keluarga perempuan tidak menyetujui hubungan mereka karena status si pengamen. Kisah itu selalu berulang terjadi. Ada perempuan kaya terpikat, jadian sama si pengamen, lalu putus karena tak ada dukungan keluarga. Kata kawan saya, kejadian itu tidak hanya satu atau dua kali, tapi lebih dari tiga kali. Selalu begitu. Dan serunya, identitas si pengamen itu tidak diketahui oleh kebanyakan keluarga si perempuan, kalau dia sebenarnya adalah mahasiswa yang kuliah di Jogja. Mengamen hanyalah keisengan mengisi waktu luangnya untuk berkarya musik. Pengamen itu kini sudah tak ada lagi. Setelah lulus kuliah, ia berhasil bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional.

Pengamen memang manusia. Dibalik kesungguhan untuk melahirkan karya terbaiknya yang patut kita teladani, juga tak semua kisah hidup adalah contoh yang baik. Tapi, keunikan cerita menjadi sebuah kesadaran bahwa kehidupan mempunyai jalan cerita yang menarik untuk dikaji dan direnungi. Mereka juga manusia-manusia yang layak dijadikan teman untuk mengejar surga. Seperti kawan saya kini sudah berhenti dari dunia musik dan dunia jalanan. Setelah menikah, ia merubah hidupnya demi penghidupan keluarga dengan kerja yang lebih layak. Perlahan, Islam mulai dipelajari dan diamalkan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger