Menemukan akhwat
(baca : perempuan aktivis muslim yang berjilbab lebar) melaju di
jalan raya sering saya dapati. Soal beberapa kali saya disalip saat
berkendara motor pun juga sering dialami. Namun, ketika diserempet
(baca : disalip mepet) oleh akhwat yang sedang melaju kencang saat
jalan macet ternyata juga bukan hal yang jarang terjadi. Beberapa
hari lalu, kesekian harinya saya mengalami hal itu (yang akhirnya
menuliskan artikel ini). Lalu saya bertanya-tanya, mengapa kalau
dijalan para akhwat suka menjadi pembalap?
Ternyata masalah
soal akhwat yang suka ngebut di jalan raya bukan pertanyaan saya
saja. Beberapa kawan ikhwan pun juga pernah mengkaji masalah ini.
Berbagai hipotesis bermunculan. Mulai dari analisis ilmiah sampai
yang hanya senda gurau.
Pertanyaan-pertanyaan
itu sudah mulai muncul ketika saat saya masih aktif di kampus
beberapa tahun lalu, yaitu ketika seringnya terjadi kasus kecelakaan
motor yang dialami para akhwat. Rata-rata hampir tiap tahun berita
soal kecekalaan akhwat terdengar di kampus saya. Jarang mendengar
berita kecelakaan motor itu ikhwan. Awalnya berkesimpulan kalau
faktor desain motor menjadi kendala bagi para akhwat yang menggunakan
rok panjang. Namun kesimpulan itu coba disangkal. Nampaknya bukan
itu, kalau diperhatikan ternyata akhwat-akhwat yang pernah kecelakaan
saat berkendara motor adalah akhwat yang suka ngebut kalau berkendara.
Apa yang membuat
para akhwat suka ngebut dijalan menjadi suatu misteri (Mungkin bagi
para ikhwan seperti saya). Pernah saya bertanya kepada salah satu
kawan akhwat yang termasuk suka ngebut dijalan.
Jawabanya multi definisi, hanya tertawa.
Meski begitu, saya
tidak menyimpulkan semua akhwat adalah pembalap. Masih sering
ditemukan akhwat yang biasa saja ketika berkendara motor. Di sinilah
saya mencoba mengerucutkan bahwa hanya akhwat-akhwat dengan tipe
tertentu yang suka ngebut di jalan. Maksudnya, saya menemukan para
akhwat yang suka ngebut di jalan adalah akhwat yang memiliki
kemampuan konseptor yang baik dan cukup vokal dalam pergerakan dakwah
kampus. Tipe akhwat seperti ini biasanya memiliki kedudukan tinggi
dalam keorganisasian dakwah kampus. Memang kebanyakan, tipe-tipe
konseptor adalah pemimpin.
Lalu, bisakah
dihubungkan antara orang yang memiliki daya konsep yang bagus dengan
suka ngebut di jalan? Saya tidak mempunyai bukti atau data ilmiah
untuk menjawab pertanyaan ini. Namun saya pernah teringat dengan
perkataann dosen saat saya mengambil mata kuliah Psikologi manajerial. Dosen saya itu mengatakan bahwa seorang yang biasa lihai atau pintar mengambil
kesempatan di antara celah mobil dan motor saat ditengah kerumunan
kendaraan di jalan raya, ia memiliki kencedrungan menjadi pemimpin.
Sebab, perilaku di jalan tersebut dapat dilakukan oleh orang yang
memiliki kemampuan spasial yang baik. Dengan kata lain, daya spasial
yang baik melahirkan kemampuan konseptor yang biasa dimiliki oleh
pemimpin. Ditambah, keberaniannya mempercepat kendaraan di jalan
adalah bentuk dari keberaniannya mengambil resiko. Mereka bukan
orang yang memiliki tipe hati-hati.
Yang menjadi masalah
adalah saya tidak tahu sumber atau dasar ilmiah dari perkataan dosen
saya itu. Apakah hanya analisis pribadinya atau dari hasil kajian
ilmiah dari buku yang pernah dibacanya. Yang menjadi masalahnya lagi,
kasus yang saya bicarakan ini adalah perempuan (akhwat). Berbagai
kajian psikologi termasuk buku Psikologi Populer karya
Allan dan Barbara Pease mengatakan jika
perempuan tidak memiliki kencendrungan spasial yang baik dari pada
laki-laki. Pada buku itu juga menyebutkan
kalau perempuan memiliki kesulitan untuk memarkirkan mobilnya karena
keterbatasan kemampuan spasial tersebut.
Keahlian memakirkan
mobil atau kelihaian mengemudi -yaitu mampu menyalip di antara celah
ruang jalan yang sempit dengan kecepatan tinggi- sangat dipengaruhi
oleh tingkat spasial kita.
Maka, jika kita
berkiblat pada teorinya Allan dan Barbara Pease, akhwat
yang suka ngebut dijalan raya adalah tipe yang memiliki daya spasial
yang baik bisa terbantahkan. Kecuali diberi ruang toleransi dengan
membangun anggapan bahwa akhwat tersebut kita masukan kedalam
komunitas yang minoritas, yakni kelompok akhwat/perempuan dengan
kemampuan spasial yang baik.
Ketika saya bertanya
kepada seorang kawan akhwat, ia memiliki pandangan yang berbeda soal
ini. Jawabannya tidak skeptis, namun memiliki keyakinan bahwa para
akhwat yang suka ngebut memiliki kepribadian suka tergesa-gesa.
Menurutnya, orang-orang seperti ini memiliki kepribadian yang multi
task: ingin dikerjakan semua.
Kepribadian ini mempengaruhi faktor untuk berkeinginan bergerak
cepat. Juga, tipe perempuan yang suka mengerjai beberapa hal dalam
satu waktu beresiko melahirkan kebiasaan mepet waktu. Karena
kebiasaan mepet waktu inilah, ia cendrung mencoba mengejar untuk
pekerjaan berikutnya. Bisa jadi hal ini yang membuat para akhwat
tersebut berkendara dengan cepat.
Pendapat kawan saya
itu juga masih saya ragukan kekuatan ilmiahnya.
Apakah berasal dari analisis yang ia simpulkan sendiri dari hasil
bacaannya soal kepribadian atau berdasarkan pengalaman dan karakter
yang dimilikinya sendiri sehingga ia berkesimpulan seperti itu?
Meski begitu,
pendapat soal keinginan begegerak secara cepat dan tergesa-gesa bisa
jadi mendekati kebenaran. Faktor ini bisa bersumber dari kebiasaan
yang suka telat (mepet waktu) sehingga ngebut menjadi cara agar cepat
tiba ke lokasi tujuan. Karena hal itu sering terjadi, maka ngebut
telah menjadi kebiasaan dan membentuk karakter akhwat pembalap.
Wallahualam..
Assalamualaikum....
BalasHapuswell analisisnya keren juga. jarang lo ada yang nyadar. hehe...
ana udah biasa aja liat akhwat ngebut. ana juga suka ngebut :D
tapi analisa diatas banyak betulnya.
betul kami (akhwat racer) lebih cerdas sedikit dalam spacial. jangankan nyelip bapak2 lambat. truk aja lewat.
2. Beberapa dari kami emang suka waktu yg mepet2. :d
Wa'alaykumsalam,
BalasHapuskomentar di atas pengakuan, haha.. tambahan data pendukung klo hipotesis ini benar.