| ilustrasi : http://sharetv.org/ |
Terlalu banyak kisah sentil menarik
dari kartun Spongebob. Salah satu edisi yang barusan saya lihat
adalah saat bocah sponge tersebut berubah profesi menjadi wartawan
(Edisi ini sebenarnya sudah sering ditayangkan). Awalnya Mr. Krabs
ingin mengiklankan Krabby Pretty-nya ke surat kabar. Ia pun mengecek
harga iklan ke koran yang ada di pusat keramaian warga Bikini bottom.
Mr. Krabs ternyata kaget ketika melihat
harga iklan koran yang begitu mahal. Bukan kaget karena merasa
kemahalan, tetapi kaget senang. Kaget yang penuh inspirasi. Insting
bisnisnya muncul. Mendirikan bisnis media bisa menjadi sumber uang.
Seperti itulah karakter kapitalis Mr. Krabs, melihat sesuatu yang
mahal langsung insting bisnisnya jalan. (silakan baca tulisan saya
yang berjudul Otak Kapitalis Mr. Krabs)
Bukan hanya itu, ia juga mengamati
koran yang banyak dibaca adalah Koran yang beritanya menarik. Segera
ia berinisiatif membangun bisnis media. Spongebob, pegawai setianya
yang biasa dibayar murah sebagai pembuat burger krabby patty,
disuruhnya berubah profesi menjadi wartawan surat kabar The Krabby
Kronicle.
Dengan dimodali mesin ketik dan kamera
dari Mr. Krabs, Spongebob mulai melakukan pekerjaan barunya. Ia
keliling kota untuk mencari berita menarik. Ternyata insting
jurnalisnya belum ada. Ketika ia menemukan kejadian perampokan pada
sebuah bank, ia hanya cuek. Baginya itu bukan hal yang menarik untuk
jadi berita. Ia pun menemukan kawannya, Patrick, yang sedang berdiri
dipinggir jalan di sebelah tiang listrik. Patrick yang dikira sedang
menunggu bus bisa menjadi berita menarik.
“Hei Patrick, kau sedang menunggu
bus?” Tanya spongebob
“Tidak,” Patrick menjawab, “aku
sedang perhatikan tiang ini. hoo… ” (kalau mengerti karakter
Patrick pasti ngakak melihat dialog ini)
Apa yang dilakukan Patrick ternyata
tidak sesuai yang diharapkan spongebob. Patrick heran dengan tiang
listrik yang diam tidak bergerak. Sampai, Patrick pun tidak mau
bergerak sebelum tiang itu bergerak. Akhirnya gambar Patrick yang
sedang perhatikan tiang listrik di potret Spongebob untuk dijadikan
berita tentang warga Bikini Bottom yang menunggu tiang listrik
bergerak.
Berita pun dicetak dan mulai diedarkan.
Ternyata Koran yang dijual di kasir Squidward
tidak ada yang mau membeli. Mr. krabs kebakaran jenggot dan
marah kepada wartawannya. Mengapa orang seperti patrick dijadikan
berita. Ia pun menceramahi Spongebob agar mencari berita yang unik
dan menjual sensasi.
“Cari berita sensasi yang disukai
masyarakat Spongebob, biar kita menghasilkan uang.” Begitu
kira-kira perintah Mr. Krabs.
“Berita yang seperti apa Tuan Krabs.”
“Cobalah ditulis pakai imajinasimu.”
“Aha.. Imajinasi.. Imajinasi…”
Spongobeb akhirnya dapat gambaran.
Spongebob mulai kembali mencari berita
untuk Koran hari berikutnya. Saat sedang berkeliling kota mencari
berita, ia menemukan Larry (tokoh lobster yang berbadan kekar dan
seorang binaragawan) sedang berjalan-jalan. Spongebob
memperhatikannya. Lalu Larry bertemu anak kecil yang kagum pada tubuh
kekarnya. Anak kecil pun meminta untuk memukul tubuh Larry. Saat anak
kecil memukul tubuh Larry, ia pura-pura meringis kesakitan untuk
menghibur sang anak. Spongebob mengambil gambar tersebut dengan
kameranya untuk dijadikan berita.
Lalu dituliskanlah berita tentang Larry
yang kalah berkelahi dengan anak kecil. Koran pun dicetak dan
diedarkan. Ternyata laris. Mr. Krabs senang dengan pemberitaan
tersebut. Tumpukan uang pun mulai mengisi ruang kantornya. Namun
sayang, akibat pemberitaan tersebut, Larry harus di pecat dari
pekerjaan binaraganya. Pemberitaan bohong ini dianggap oleh pimpinan
Larry telah mencemarkan nama baik federasi binaraga tempat Larry
bekerja.
Setelah korang The Krabby
Kronicle laris dengan
pemberitaan Larry, Spongebob terus di paksa oleh Mr Krabs untuk
mencari berita-berita yang lebih sensasi lagi. Spongebob pun bekerja
keras mencari dan menuliskan berita yang sensasional dari
gambar-gambar dengan pemberitaan yang dimanipulasinya. Krabby Patty
penuh dengan antrian orang yang ingin membeli surat kabarnya.
Tumpukan uang pun semakin memenuhi ruang kantor Mr. Krabs. Ia begitu
ceria dengan kehadiran tumpukan kertas hijau yang berlambang dollar.
Lama-kelamaan hati nurani Spongebob
mulai bicara. Banyak orang-orang yang tersakiti oleh pemberitaan yang
dibuatnya, khususnya teman-temannya sendiri seperti Sandy dan Sheldon
Plankton. Ia pun mengadu kepada bosnya. Namun tidak digubris. Mr.
Krabs sudah gila dengan uang. Ia tidak peduli dengan orang lain yang
dirugikan. Yang penting korannya bisa terjual. Spongebob terus
dipaksa mencari berita dengan ancaman pemecatan.
Sampai akhirnya Spongebob sudah tidak
tega dengan pemberitananya yang sudah menghancurkan kehidupan
orang-orang disekitarnya. Tidak hanya itu, ia pun sadar bekerja siang
malam dengan gaji kecil demi menambah kekayaan Mr. Krabs. Spongebob
melawan. Namun melawannya tidak ia hentikan dari aktivitas
Jurnalisnya. Ia tetap ditantang oleh Mr. Krab untuk membuat berita
yang lebih sensasional lagi. Entah apakah ini karena kejeniusannya
atau memang karena kepolosannya, ia membuat berita sensasional
tentang kejahatan bisnis medianya Mr. Krabs di korannya sendiri.
Diberitakan kalau Mr. Krabs telah mempekerjakan seorang anak siang
malam tanpa belas kasih dengan gaji kecil. Begitu Koran beredar,
diserbulah Krabby Pretty oleh warga Bikini Bottom. Warga protes dan
memarahi Mr. Krabs dari berita yang dituliskan Spongebob. Lalu para
warga tersebut mengambil uangnya. Tamatlah ia.
Meski bisnis medianya hancur akibat
ulah spongebob, Mr Krabs tidak kehabisan ide pada sikap oportunisnya.
Diakhir cerita, mesin printing yang biasa untuk cetak korannya kini
menjadi alat untuk mencetak uang untuk memperkaya dirinya. Dasar
konyol!
**
Begitulah kisah edisi Spongebob jadi
wartawan. Kelihatannya seperti kisah kartun lelucoan biasa saja.
Padahal kisah ini sangat terlihat di dunia nyata. Bisa dikatakan,
kartun ini benar-benar menunjukkan realitas sosial yang sebenarnya.
Banyak kisah-kisah kenyataan sosial yang diangkat dengan gaya
lelucoannya. Khususnya kisah tentang kelas pekerja dengan pemilik
modal. Inilah serial kartun yang sangat-sangat konyol, namun kritik
sosialnya dalam banget.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.