![]() |
| Ilustrasi : inisajamostory.blogspot.com |
Drama Winter Sonata selesai dibuat pada tahun 2002, namun ketenarannya masih terasa sampai sekarang. Dulu, sebelum dijadikan setting drama tersebut, jumlah pengunjung hanya sampai pada angka 200.000 orang per tahun. Tidak dengan setelah film ini popular, jumlah pengunjungnya telah mencapai angka 1,6 juta orang per tahun. Sungguh angka yang fantastis. Ada kenaikan hingga delapan kali lipat. Keindahan pulai yang dipadukan dengan keindahan drama percintaan mampu menarik wisatawan asing untuk bisa merasakan keindahan romatisme pulau tersebut. Terlihat, adanya keberhasilan pemerintah Korea melalui citra budayanya mengangkat jumlah wisatawan berlibur menikmati keelokan romantisme Pulai Winter Sonata.
Keberhasilan menarik wisatawan asing ke negaranya melalui industri budaya pop bukan hal yang tak sengaja. Kim Hyuan-Ki, Direktur pusat kebudayaa Korea Selatan di Jakarta, bercerita bahwa pemerintah Korea berperan banyak menciptakan pasar industru budaya pop. Sekitar 20an tahun yang lalu, misalnya, pemerintah memberi beasiswa besar-besaran pada artis dari berbagai bidang seni untuk belajar ke Eropa dan Amerika Serikat. Dari program inilah dihasilkan artis-artis berpengalaman yang mengerti selera musik, gaya hidup, bahkan selera pasar.
Mereka juga tidak sekedar tenar, namun harus melalui proses pendidikan dan penataan wajah serta tubuh untuk menghasilkan produk artis yang berkualitas. Untuk satu orang artis, pemerintah bisa mengeluarkan biaya hingga US$ 400K atau sekitar Rp 3,7 Milyar.
Investasi untuk industriasi budaya pop tersebut ternyata tidak sia-sia. Mengutip data The Korea Creative Content Agency memprediksi pendapatan Korea dari ekspor budaya pop , musik, sinetron dan games di seluruh dunia tahun 2011 berjumlah 3,8 milyar atau 35 triliun, meningkat 14% dari tahun 2010.
Budaya Pop Agar Konsumtif
Nampaknya, mental kapitalis pemerintah negeri ginseng cukup tajam setelah mengenal budaya pop. Budaya pop tak lepas dari kepentingan industri. Budaya pop merupakan budaya yang sengaja diciptakan dari para elite, pemilik modal, dan penguasa untuk menciptakan pasarnya. Seperti yang dikatakan Yasraf, tujuan budaya pop bukanlah pencarian terhadap dimensi trasndental dan spiritual, melainkan dimensi-dimensi materialitas, kesenangan, dan profanitas. Dimensi-dimensi itulah yang menjadi perangkap para kapitalis untuk menciptakan tujuannya, yaitu masyarakat konsumtif. Terciptanya masyarakat konsumtif merupakan bagian dari upaya keberlangsungan industri. Pendekatan terbaik untuk menciptakan masyarakat yang konsumtif adalah melalui pembentukan budaya. Dengan dihadirkannya budaya pop, mendorong massa untuk menjadi pemuja, pengikut, peniru, pengopi, pengekor, imitator dan di saat bersamaan ia tidak menggugah mereka untuk mengembangkan sikap kritis, kreatif, dan inisiatif. Fetisisme komoditas hadir di sini. Tanpa sadar massa akan memuja ikon budaya mereka, bahkan harus mengikuti gayanya.
Inilah bagian dari upaya kapitalis negeri ginseng mengkontruksi gaya hidup agar mengiktui gaya yang mereka adobsi. Dengan begitu, produk-produk yang mereka lahirkan menjadi konsumsi pengikutinya. Tak heran jika nilai pendapatan industrisasi budaya mereka menikngkat secara signifikan.
Theodore Adorno, salah satu pakar budaya dari Frankurt menjelaskan bahwa elite kapitalis sengaja menciptakan budaya pop yang terstandarkan. Kita (secara tidak sadar) dipaksa untuk mengiktui gaya hidup yang terstandarisasi. Maka terciptalah masyarakat yang homogen, yaitu masyarakat konsumen dengan kesenangan yang homogen. Maksudnya homogen, masyarakat dipaksa menyukai, -contoh, music pop, drama percintaan, dsb. Padahal masih banyak jenis-jenis music dan seni kreatif lainnya, seperti dangdut (missal), angklung, rebbana, nasyid, dll. Sehingga, dengan adanyanya homogenitas selera, memudahkan bagi kapitalis menjaga pasarnya dari persaingan budaya lain.
Di sinilah mengapa lahirnya sikap fetisisme terhadap produk budaya tersebut mengikis ruang kreatif dari masyarakat kita untuk membentuk budayanya sendiri. Tidak heran jika anak muda kelas menengah begitu menggandrungi Budaya korea, dan melahirkan produk imitatif seperti Sm*sh dan cherry belle (yang terkesan norak). Ini baru contoh dalam konteks Korea. Masih banyak produk-produk budaya pop lainnya, terutama dari barat.
Sebuah Tantangan
Nampaknya, gemerlap budaya pop yang merasuk alam imajinasi anak muda belum terbaca oleh gerakan dakwah kita. Sektor budaya nampaknya perlu menjadi perhatian khusus. Ada sebuah tuntutan dakwah dalam pendekatan budaya, yaitu mengembalikan makna budaya itu sendiri. Dimensi-dimensi budaya yang bersifat meterialistis, konsumtif dan profanitas menjadi tantangan gerakan dakwah mengubahnya untuk tujuan budaya yang berdimensi trasedental, spiritual, idelaisme, dan seni murni. Seperti upaya wali songo untuk Islamisasi masyarakat Jawa dan sekitarnya. Wallahualam..

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.