| Pasar Bringharjo - asrarian.wordpress.com |
Kebetulan, adik yang sedang kuliah di Malang akan
menjalankan wisuda. Mama harus terbang dari Balikpapan (Kal-Tim) ke pulau Jawa.
Ternyata keluarga Banjar dari saudara-saudara almarhum Bapak ingin ikut. Mereka
ingin melihat-lihat seperti apa sih pulau Jawa itu, karena memang belum pernah menginjakan
kakinya di pulau yang padat penduduk ini. Terbanglah mereka bersama mamaku
dengan tujuan pertamanya ke Jogja, tempat saya masih menetap (hingga waktu yang belum ditentukan).
Jogja menjadi salah satu tujuan yang dikunjungi sebelum menuju kampung halaman
mamaku, Magetan, dan berakhir di Kota Malang.
Sayangnya, kehadiran mereka bertepatan waktu liburan. Jogja
benar-benar ‘Banjir Manusia’. Permintaannya untuk bisa dapat penginapan di
dekat Malioboro membuatku harus banting tulang. Semua penginapan penuh. Saya
harus muter-muter mencari sisa kamar kosong ditengah terik matahari siang pada
Sabtu kemarin. Alhamdulillah masih bisa mendapatkan kamar tepat di belakang Mall
Malioboro. Sengaja memang tidak aku ajak tinggal di rumah kontrakanku, karena
tidak mungkin. Rumah yang kutempati bukan lagi kapal pecah, tapi sudah kapal
meledak. Silakan bayangkan kayak apa kapal meledak.
Hari pertama, aku ajak saja muter-muter Jogja dan ke Borobudur.
Untungnya agenda muter-muter itu bisa meminjam
mobil beserta supir dari pemilik rumah ‘kapal meledak’ yang aku tempati (alias
sewa dengan tarif tertentu). Jadi tidak perlu lagi naik angkutan umum yang
kadang merepotkan juga membingungkan. Inilah, wisataku bersama keluarga
(khususnya mama) setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah berwisata bareng
sekeluarga. Kalau tidak salah terakhir kali berwisata bersama keluarga saat
masih SMP.
Itulah sedikit cerita pembukaan yang belum menyentuh
hubungannya dari judul di atas. Hubungannya adalah masalah wisata itu.
Ketika mengjungi Candi Borobudur, saya menyaksikan bagaimana
keramaian orang-orang yang mengunjunginya. Bukan saja candi megah itu yang saya
amati, namun orang-orang di sana juga saya amati. Hasilnya, kebanyakan para
pengunjung itu lebih banyak mengabadikan dirinya kalau pernah berkunjung. Dengan kata
lain lebih banyak berfoto-foto dari pada mengambil manfaat pendidikan atau memperoleh
pengetahuan dari hasil kunjungannya. Aksi jeprat-jepret dari kamera digital dan
handphone lebih banyak terlihat dari pada membaca papan yang bertuliskan
sejarah candi. Cobalah ke sana, dan lihat, papan besar yang banyak berceritakan
sejarah candi tersebut, hanya sedikit yang membaca. Paling-paling yang
membacanya para wisatawan manca atau orang-orang seperti saya (maaf kalau ada
yang tersinggung,).
Bukan hanya itu, kesempatan berkunjung itu juga di
manfaatkan untuk banyak berbelanja. Termasuk keluarga saya sendiri yang lebih
lama memilih-milih barang yang akan dibeli di area perbelanjaan dari pada
berlama-lama di tumpukan batu candi yang penuh dengan patung (berhala) yang bercerita. Berbagai
belanjaan yang dibeli pun juga menunjukkan bagian dari proses mengabadikan
dirinya pernah berkunjung. Karena, bukan
hanya untuk dirinya saja membeli barang namun juga untuk diberikan kepada orang-orang
terdekatnya sebagai oleh-oleh. Lebih tepatnya sebagai bentuk barang bukti bahwa
ia pernah kesana. Makanya, banyak ditemui para penjual souvenir dan berbagai produk
daerah dari semua tempat wisata di Indonesia (khususnya Jogja) untuk mencari kesempatan mendapatkan rupiah. Mental belanja dan narsis lebih dominan dari
pada mengambil nilai pendidikan di tempat wisata bersejarah.
Soal mengabadikan diri dan belanja saat berkunjung ke tempat
wisata memang bukan masalah bagi saya. Itu bagian dari sisi manusiawi yang
ingin menunjukkan kebutuhan aktualisasinya. Namun yang menjadi masalah adalah
dominanya aktivitas tersebut dari pada dimanfaatkan mencari nilai-nilai positif
dibalik kegiatan wisata. Alangkah lebih indahnya jika kunjungan wisata kita, apalagi
ke tempat bersejarah, memanfaatkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan.
Mental belanja itulah yang membuat Malioboro terkenal. Inti dari kunjungan ke
Malioboro apalagi kalau bukan belanja. Betul tidak?
Pengalaman masalah wisata bukan pada kasus ini saja. Ketika
SMA, saya pun pernah mengikuti kegiatan Study Tour yang diselenggarkan sekolah.
SMA saya di Balikpapan mengadakan kegiatan study tour ke empat kota besar di Pulau Jawa (termasuk
Jogja). Meski bernama study tour, agenda kunjungan ke kampus-kampus jumlah
persentasinya sangat sedikit dari pada berkunjung ke tempat wisata dan Mall.
Shopping Tour mungkin yang lebih enak saya namakan pada kegiatan itu. Tidak hanya
guru, para siswa pun menghabiskan nilai belanja hingga jutaan. Dari isi koper
kosong saat berangkat, pulang dengan isi penuh. Untung saja saya diberi sangu
sedikit, jadi belanjanya juga terbatas.
Itulah masyarakat kita. Kalau orang-orang bule berkunjung,
bukan sekedar mencari hiburan dari kegiatan wisatanya namun juga mencari nilai
pengetahuan dan budaya dari tempat yang ia kunjungi. Mereka lebih terpesona
dengan keunikan, kebudayaan, dan kehebatan seni yang kita miliki dari pada
sekedar belanja. Yah, mau gimana lagi ya, memang seperti itu mental mereka.
Mental pendidikan negera maju yang sudah di didik sejak kecil : mencari pengetahuan,
menambah wawasan.
NB,
Hingga saat ini, tempat wisata yang sangat
menyenangkan dan tidak pernah membosankan bagiku adalah mendaki gunung, hanya
itu.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.