Minggu, 20 Mei 2012

Orang Indonesia Itu Berwisata Adalah Belanja


Pasar Bringharjo - asrarian.wordpress.com
Alhamdulillah, seharian tadi bisa mengajak keluarga dari Banjar (Kalimantan Selatan) beserta mamaku muter-muter keliling Jogja (ketika menuliskan artikel ini di waktu menjelang tidur, 20/05/12). Meski terasa lelah, mencoba sempatkan mengisi tulisan ringan untuk blog sambil memberikan kesan setelah berwisata bareng keluarga yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak seperti ini.

Kebetulan, adik yang sedang kuliah di Malang akan menjalankan wisuda. Mama harus terbang dari Balikpapan (Kal-Tim) ke pulau Jawa. Ternyata keluarga Banjar dari saudara-saudara almarhum Bapak ingin ikut. Mereka ingin melihat-lihat seperti apa sih pulau Jawa itu, karena memang belum pernah menginjakan kakinya di pulau yang padat penduduk ini. Terbanglah mereka bersama mamaku dengan tujuan pertamanya ke Jogja, tempat saya masih  menetap (hingga waktu yang belum ditentukan). Jogja menjadi salah satu tujuan yang dikunjungi sebelum menuju kampung halaman mamaku, Magetan, dan berakhir di Kota Malang.

Sayangnya, kehadiran mereka bertepatan waktu liburan. Jogja benar-benar ‘Banjir Manusia’. Permintaannya untuk bisa dapat penginapan di dekat Malioboro membuatku harus banting tulang. Semua penginapan penuh. Saya harus muter-muter mencari sisa kamar kosong ditengah terik matahari siang pada Sabtu kemarin. Alhamdulillah masih bisa mendapatkan kamar tepat di belakang Mall Malioboro. Sengaja memang tidak aku ajak tinggal di rumah kontrakanku, karena tidak mungkin. Rumah yang kutempati bukan lagi kapal pecah, tapi sudah kapal meledak. Silakan bayangkan kayak apa kapal meledak.

Hari pertama, aku ajak saja muter-muter Jogja dan ke Borobudur.  Untungnya agenda muter-muter itu bisa meminjam mobil beserta supir dari pemilik rumah ‘kapal meledak’ yang aku tempati (alias sewa dengan tarif tertentu). Jadi tidak perlu lagi naik angkutan umum yang kadang merepotkan juga membingungkan. Inilah, wisataku bersama keluarga (khususnya mama) setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah berwisata bareng sekeluarga. Kalau tidak salah terakhir kali berwisata bersama keluarga saat masih SMP.

Itulah sedikit cerita pembukaan yang belum menyentuh hubungannya dari judul di atas. Hubungannya adalah masalah wisata itu.

Ketika mengjungi Candi Borobudur, saya menyaksikan bagaimana keramaian orang-orang yang mengunjunginya. Bukan saja candi megah itu yang saya amati, namun orang-orang di sana juga saya amati. Hasilnya, kebanyakan para pengunjung itu lebih banyak mengabadikan dirinya kalau pernah berkunjung. Dengan kata lain lebih banyak berfoto-foto dari pada mengambil manfaat pendidikan atau memperoleh pengetahuan dari hasil kunjungannya. Aksi jeprat-jepret dari kamera digital dan handphone lebih banyak terlihat dari pada membaca papan yang bertuliskan sejarah candi. Cobalah ke sana, dan lihat, papan besar yang banyak berceritakan sejarah candi tersebut, hanya sedikit yang membaca. Paling-paling yang membacanya para wisatawan manca atau orang-orang seperti saya (maaf kalau ada yang tersinggung,).

Bukan hanya itu, kesempatan berkunjung itu juga di manfaatkan untuk banyak berbelanja. Termasuk keluarga saya sendiri yang lebih lama memilih-milih barang yang akan dibeli di area perbelanjaan dari pada berlama-lama di tumpukan batu candi yang penuh dengan patung (berhala) yang bercerita. Berbagai belanjaan yang dibeli pun juga menunjukkan bagian dari proses mengabadikan dirinya pernah berkunjung. Karena,  bukan hanya untuk dirinya saja membeli barang namun juga untuk diberikan kepada orang-orang terdekatnya sebagai oleh-oleh. Lebih tepatnya sebagai bentuk barang bukti bahwa ia pernah kesana. Makanya, banyak ditemui para penjual souvenir dan berbagai produk daerah dari semua tempat wisata di Indonesia (khususnya Jogja) untuk mencari kesempatan mendapatkan rupiah. Mental belanja dan narsis lebih dominan dari pada mengambil nilai pendidikan di tempat wisata bersejarah.

Soal mengabadikan diri dan belanja saat berkunjung ke tempat wisata memang bukan masalah bagi saya. Itu bagian dari sisi manusiawi yang ingin menunjukkan kebutuhan aktualisasinya. Namun yang menjadi masalah adalah dominanya aktivitas tersebut dari pada dimanfaatkan mencari nilai-nilai positif dibalik kegiatan wisata. Alangkah lebih indahnya jika kunjungan wisata kita, apalagi ke tempat bersejarah, memanfaatkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Mental belanja itulah yang membuat Malioboro terkenal. Inti dari kunjungan ke Malioboro apalagi kalau bukan belanja. Betul tidak?

Pengalaman masalah wisata bukan pada kasus ini saja. Ketika SMA, saya pun pernah mengikuti kegiatan Study Tour yang diselenggarkan sekolah. SMA saya di Balikpapan mengadakan kegiatan study tour  ke empat kota besar di Pulau Jawa (termasuk Jogja). Meski bernama study tour, agenda kunjungan ke kampus-kampus jumlah persentasinya sangat sedikit dari pada berkunjung ke tempat wisata dan Mall. Shopping Tour mungkin yang lebih enak saya namakan pada kegiatan itu. Tidak hanya guru, para siswa pun menghabiskan nilai belanja hingga jutaan. Dari isi koper kosong saat berangkat, pulang dengan isi penuh. Untung saja saya diberi sangu sedikit, jadi belanjanya juga terbatas.

Itulah masyarakat kita. Kalau orang-orang bule berkunjung, bukan sekedar mencari hiburan dari kegiatan wisatanya namun juga mencari nilai pengetahuan dan budaya dari tempat yang ia kunjungi. Mereka lebih terpesona dengan keunikan, kebudayaan, dan kehebatan seni yang kita miliki dari pada sekedar belanja. Yah, mau gimana lagi ya, memang seperti itu mental mereka. Mental pendidikan negera maju yang sudah di didik sejak kecil : mencari pengetahuan, menambah wawasan.


NB,
Hingga saat ini, tempat wisata yang sangat menyenangkan dan tidak pernah membosankan bagiku adalah mendaki gunung, hanya itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger