Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat tahun 1953 melaporkan kepada Gedung Putih adanya ancaman serius pada rezim Soekarno di Indonesia. Pasalnya, CIA mencium aroma penyusupan komunis di tubuh pemerintahan RI.
Direktur Mutual Security Agency Harold Stassen meminta kepada Richard Nixon yang saat itu menjabat wakil presiden AS dapat melakukan langkah-langkah strategis menyingkirkan Presiden Soekarno. Bahkan berdasar data dari Tim Weiner dalam buku Membongkar Kegagalan CIA, akan direncanakan agenda pembunuhan terhadap Presiden Soekarno.
Seperti ingin mengkonfirmasi laporan CIA tersebut, Nixon mengunjungi Indonesia pada Oktober 1953. Tiba di Indonesia wakil presiden AS itu tak hanya disambut dalam seremonial kenegaraan tetapi juga diajak untuk mengenal Indonesia. Salah satunya diajak jalan-jalan oleh Soekarno ke area wisata Puncak dan melihat kehidupan rakyat.
Dalam perjalanan itu pula dengan tanpa rencana Soekarno mengajak wakil presiden AS itu berhenti di pinggir jalan menikmati kopi di warung kopi. Gaya kepemimpinan egaliter yang dimiliki Soekarno membuat hubungan mereka sangat cair. Bagaimana tidak, pejabat sekelas mereka mau menikmati kopi di warung pinggir jalan.
Kembali ke AS, Nixon melaporkan ke pejabat CIA dan mengatakan bahwa Sukarno “mendapat dukungan luar biasa dari rakyat, sama sekali antikomunis, dan tidak ada keraguan bahwa dia adalah ‘kartu’ utama Amerika Serikat.”
Hingga tahun 1960-an rencana pembunuhan tersebut tidak terlaksana. Tahun 1956 Soekarno berkunjung ke negeri paman sam dengan sambutan yang luar biasa. Malah ketika Presiden AS John F. Kennedy, hubungan dengan AS semakin akrab.

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.