Sabtu, 29 September 2018

Soal Komunisme


Lagi ramai-ramai bahas komunisme, jadi ingin ikut-ikutan membahas juga. Siapa tau bisa menambah pengetahuan dan bermanfaat.

Sebelum bicara politik dan sejarahnya di Indonesia, saya jelaskan dulu apa itu komunisme.

Karl Mark hidup berada pada kondisi sosial dimana kaum kapitalisme begitu merajalela menindas kaum pekerja atau di isitilahkan proletar. Dia mengungkapkan teori bahwa semua penyebab adanya ketimpangan sosial ini adalah praktik kapitalisme dimana para pemilik modal bisa mengakumulasi modal dengan menindas para pekerja. Ketimpangan sosial tersebut yang juga menciptakan masyarakat berkelas.

Menggunakan konsep filsafat materialisme dialektika, dia menyimpulkan bahwa dunia ini tersusu oleh materi-materi saja. Tak ada yang namanya ruh, atau akherat. Tak percaya pada sesuatu yang abstrak. Materialisme (dari akar materi) menjadi pijakan filsafat mark untuk menilai dunia ini. Lalu materi-materi ini terus berubah dalam hukum-hukum dialektika. Ia meminjam teori dialektika dari tokoh filsafat bernama Hegel (padahal Hegel adalah penganut filsafat Idelisme: yakni dunia tak tersusun atas materi tetapi terbentuk dari ruang ide). Dengan menggunakan dialektika, bahwa sifat dunia, baik dalam hukum-hukum alam, maupun sosial, terus bergerak pada proses tesis, anti tesis, dan sintesis.

Dari pijakan materialisme dialektika tadi Mark melihat fenomena sosial seperti latar belakang masyarakat Eropa saat itu menyimpulkan bahwa kondisi-kondisi kaum proletar yang terus ditekan kaum kapitalis akan terjadi proses dialektika sosial, yaitu sebuah perlawanan dari kaum proletar untuk mencari keadilannya. Dalam hal ini, tesis adalah keadaan, anti tesis adalah pertentangannya, sedangkan sintesis adalah hasil dari perubahan itu. Sintesis juga tak berhenti, akan terus bergerak menjadi tesis, lalu ada anti tesis, menjadi sintesis lagi. Misal, dalam hukum alam air adalah tesis, lalu dipanaskan adalah anti tesis, menjadi uap adalah sintesis.

Disitulah Mark merumuskan cita-cita sebuah gerakan sosial bernama komunisme sebagai hasil sintesis dari rumusan dialektikanya. Komunisme adalah sebuah keadaan masyarakat yang tanpa kelas dimana semua barang-barang produksi adalah milik bersama. Tak ada kepemilikan pribadi. Tak ada pemilik modal. Tak ada tuan tanah. Semuanya rata. Semuanya bekerja. Tak ada kaya, dan tak ada miskin. Sehingga, bagi Mark, hasil sintesis ini adalah harapannya agar tak ada penindasan dari kaum pemilik modal, atau kaum dari strata/kelas paling atas.

Jadi, komunis itu bukan disederhanakan menjadi kelompok yang anti agama. Bukan. Anti agama istilah yang lebih tepat adalah ateis. Orang Ateis belum tentu komunis. Sedangkan orang komunis biasanya lebih cendrung ateis. Karena konsep dasar pijakan filsafatnya yang materialisme membuat mereka tak percaya pada Agama.

Agama dipandang mereka sebagai penyebab manusia suka berimajinasi tentang alam lain sehingga membuat kaum agamawan memaksa gagasan “iman”-nya yang membuat terjadinya konflik atau penindasan. Pendapat ini karena konteks pada masa itu Karl Mark hidup ketika kaum agamawan dari gereja di Eropa begitu berkuasa dan suka menindas kaum yang menolak pandangan gereja. Begitu juga banyak kaum agamawan yang berada dari kalangan borjuis atau kalangan kelas atas, pemilik modal, atau orang kaya-lah. Maka, Mark menyimpulkan bahwa agama adalah candu. Agama juga yang dapat menghalangi cita-cita komunis. Mungkin dulu Mark belum mengenal Islam kali ya.

Selain berpijak pada materialisme dialektika, marxisme juga menggunakan metodelogi materialisme historis dalam menyusun teorinya. Mark beranggapan bahwa terbentuknya sejarah (kejadian masa lampau) bukan karena kesadaran manusia yang membentuk kondisi sosial-ekonomi tetapi kondisi sosial-ekonomi (bisa juga disebut sistem sosial) yang membetuk kesadaran manusia. Ia melihat kejadian-kejadian yg dialami manusia secara material, tanpa melihat aspek non materil yg menjadi keyakinan manusia. Dalam hal ini, faktor-faktor produksi (atau disederhanakan bagaimana manusia itu hidup dan memenuhi kebutuhannya) yang menentukan jalannya sejarah manusia. Makanya, Mark termasuk seseorang penganut determinasi, atau bahasa agamanya takdir mutlak.

Dari metodelogi berpikirnya, ia menilai kondisi kaum proletar yg tertindas di masa itu karena terbentuk dari proses evolusi sejarah dengan bermunculannya faktor produksi berupa praktek kapitalisme. Seperti di tulisan di awal, kondisi sosial itu akan berdialektika menemukan sintesisnya. Sehingga bagi penganut teori marxis, agar tak sekedar teori, mereka mesti mewujudjan sintesis tersebut, yaitu terciptanya masyarakat komunis. Jalan yang diraih adalah proses perubahan yang total, atau disebut juga revolusi. Lahirlah kelompok-kelompok komunis revolusioner menggunakan perangkat Partai Komunis untuk mewujudkan ambisi tersebut. Teori marxis berkembang dengan kemunculan tokoh-tokoh yg terpengaruh, seperti marxisme-leninisme (marxis dari ajaran Lenin). Karl Mark pun bersama Friedrich Engel menyusun Manifesto Komunis.

Jadi sebenarnya, marxisme itu tak hanya sebuah teori filsafat tetapi berkembang menjadi teori sosial dan ekonomi, termasuk politik. Teori marxis begitu berpengaruh di abad 19 hingga 20 sehingga banyak intelektual masa itu termasuk di Indonesia sendiri menggunakan pendekatan marxis untuk menganalisis fenomena sosial dan menjalankan gerakan revolusioner.

Marxisme masuk ke Indonesia di bawa oleh tokoh partai sosialis Belanda bernama Sneevliet. Ia datang ketika Sarekat Islam (SI) sedang berada di puncak kebesarannya yang membuat pihak pemerintah Hindia Belanda harus berhati-hati bersikap terhadap SI. Rupanya kehadiran Sneevielt membuat anak-anak muda dari SI berguru kepadanya. Lahirlah sosok-sosok muda yang awalnya binaan Tjokroaminoto menjadi murid Sneevielt seperti Semaoen, Darsono, Muso, Tan Malaka, dll. Tak hanya mereka, tokoh-tokoh pengurus SI meski tak berguru langsung dengan Sneevielt juga terpengaruh ajaran Marxis, sebut saja Haji Misbach, Mas Marco, dll.

Mereka-mereka itu mengusulkan agar Sarekat Islam menggunakan pendekatan Marxis dan ideologi Komunis untuk melakukan gerakan revolusioner melawan Belanda. Mereka mengkritik para pimpinan SI yang bersikap terlalu lembut bahkan kooperatif terhadap Belanda. Mereka juga banyak mengkritik para ulama, terutama organisasi masyarakat Islam, seperti Muhammadiyah, dll, yang tak punya sikap terhadap penjajah. Mereka melihat Islam terlalu lemah. Tak punya alat dan teori untuk menghadapi imperialisme kapitalis. Bahkan banyak pula kalangan muslim yang dituduhkan mereka termasuk bagian dari kapitalisme itu sendiri. Karena memang pada masa itu kaum muslim banyak yang menjadi pedagang dengan kekayaan yang lumayan melimpah, seperti turunan arab, atau para ulama yang pedagang.

Terjadilah pergulatan ideologi di dalam tubuh SI. Ada dua kubu, pertama kubu yang ingin tetap mmeperjuangkan Islam sebagai dasar perjuangan, yakni Agus Salim, Abdul Moeis, Suryopranoto (Tokoh SI Yogya), Kartosuwiryo (yg nanti menjadi pimpinan DI/TII setelah merdeka), H. Fachrudin (tokoh Muhammadiyah). Kemudian ada kubu komunis yang nama-namanya sudah disebut di atas. Mereka tergabung dalam keanggotaan SI semarang (dikenal dg SI Merah) yang diketuai Semaoen. Semaoen (ketika itu umurnya baru 19-20 tahun) adalah tokoh yang dg lantang mengatakan hanya marxisme satu-satunya alat yang bisa menghancurkan kapitalisme. Sudah terbukti dengan kemenangan kaum buruh dalam revolusi Bholsevik 1917 yang meruntuhkan kekaisaran Tsar Rusia.

Tjokroaminoto sendiri mencoba mencari jalan tengah. Tapi ia termasuk sosok yang mencoba mengkritik marxisme. Seperti pada tokoh kubu Islamis lainnya, Tjokroaminoto beranggapan kalau marxisme tidak bisa dijadikan ideologi SI yang memegang ajaran Islam. Ia mengkritik teori materialisme-historis Karl Mark yang menolak adanya realitas non materi. Tapi prinsip-prinsip sosialisme; konsep sosial-ekonomi lebih moderat dari komunis, bisa diterima dan sesuai dengan ajaran Islam. Lalu ia menyusun buku Sosialisme dan Islam yang mengurai sejarah dan ajaran Islam yang terdapat prinsip-prinsip sosialisme. Ia menunjukan kepada kaum komunis itu bahwa Islam juga memiliki ajaran untuk melawan imperialisme kapitalis.

Sosialisme Islam menjadi dasar ideologi SI setelah terjadi perpecahan, atau lebih tepatnya setelah kelompok komunis diusir dari SI. SI yang awalnya hanya gerakan ekonomi dan sosial menjadi gerakan politik dengan merubah menjadi partai (PSI terbentuk tahun 1924 setelah PKI terbentuk dahulu tahun 1920). Inilah awal persaingan politik Islam dengan komunisme di nusantara. Mereka mulai merebut pengaruh dan saling bersaing merebutkan kaum proletar untuk melakukan gerakan revolusioner. Hanya saja bedanya PSI pada kebijakannya masih bersifat kooperatif dengan pemerintah Hindia Belanda dengan menghadirkan anggotanya di volksraad (dewan rakyat). Sedangkan PKI lebih memilih dengan jalan pemberontakan dan menyusun agenda revolusi.

Era 1920 - 1926, ketika masa-masa PKI menjadi legal di Hindia Belanda adalah masa dimana rakyat (terutama di Jawa) menjadi radikal. Kelompok-kelompok komunis itu menggerakan kaum buruh/proletar melakukan mogok kerja dengan beraneka ragam tuntutan kepada tuan modal. Puncaknya di tahun 1926 mereka melakukan pemberontakan atau “revolusi” namun gagal. Sehingga PKI menjadi partai terlarang dan tokoh-tokoh tadi ada yang dibuang ke Digul dan ada yang pelarian ke luar negeri. Sejarah lebih detail masa-masa radikalnya rakyat bersama komunis di tahun-tahun ini bisa baca buku hasil disertasi Takashi Shiraisi yang berjudul “Zaman Bergerak: Radikalisasi Rakyat Jawa 1912-1926”.

Yang menjadi menarik adalah meski ajaran marxis berpijak pada materialisme yang tak meyakini Tuhan, bukan berarti tokoh-tokoh tersebut menjadi Ateis. Mereka menilai bahwa ide marxisme hanya alat bergerak mereka untuk menghadapi imperialisme kapitalis Belanda. Seperti kata Soe Hok Gie dalam bukunya “Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan”, dikalangan komunis ditemukan berbagai macam tipe orang yang secara ideologis tak marxis-leninnisme. Seperti ada Mas Marco yang masih percaya dengan mistisme Jawa. Ada Haji Misbach yang mencoba mengintegrasikan ajaran Islam dengan Komunisme. Begitu juga Semaoen, Alimin, Muso, yang merupakan anak-anak Sarekat Islam, masih meyakini agamanya Islam, tetapi menggunakan ideologi komunis untuk melakukan perlawanan terhadap imperialisme kapitalis Belanda. Tak hanya di Indonesia, di negeri-negeri arab pun ketika komunis masuk terjadi persinggungan dengan Islam. Meski jatuhnya tetap menjadi sekuler, karena Islam hanya untuk urusan akherat, bukan untuk dunia.

Namun dalam persinggungan konsep agama Islam dari kalangan komunis cendrung melahirkan tafsir baru tentang ketauhidan yg bertentangan dengan ulama dari kalangan mazhab. Misalnya saja Tan Malaka, sosok intelektual terbaik yang pernah dimiliki negeri ini dari kalangan komunis, mencoba memahami Tuhan dalam pandangan filsafat materialisme. Tak usah dijelaskan, karena rumit sekali, sy juga belum paham. Meski seorang komunis, ia tetap menganggap dirinya muslim karena dibesarkan dari lingkungan yg taat beragama dan masih meyakini adanya Tuhan Allah Swt. Tan Malaka pernah berujar: di hadapan Tuhan aku muslim. Di hadapan manusia aku komunis. Di hadapan mantan aku hanya sebutir debu. (Yang terakhir cuma guyon)

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger