Kamis, 30 November 2017

Tentang Harapan

Ilustrasi: Matahari terbit di Ranukumbolo, Gn. Semeru, 25 September 2015 pakai Canon EOS 550D


Sekali lagi, saya ingin mereview kembali film ini. Lebih asik membacanya sambil mendengarkan lagu Bob Marley yang judulnya Redemption Songs. Cocok gitu.. :D
***

The Shawshank Redemption adalah film drama sederhana. Hampir 90% gambar bersetting di satu tempat. Biaya pembuatannya juga tak terlalu besar. Teknologi gambar CGI juga tak ada. Sejak rilis tahun 1994 telah menduduki film terbaik sepanjang sejarah perfilman. Di rate IMDb menduduki peringkat 1 dari 250 film terbaik dunia dengan nilai 9,2. Mengalahkan film-film legendaris seperti The God Father dan Starwars.

Mungkin, saya dan para penikmat film yang menilai film ini memiliki kertertarikan yang sama, yaitu pada ceritanya yang kuat. Kokoh; menusuk sisi manusia kita. Roger Ebert, kritikus film dari Chicago Sun-Time mengatakan, The Shawshank Redemption adalah alegori untuk mempertahankan harga diri seseorang saat ditempatkan dalam posisi tanpa harapan.

Tepat. Seperti pikiran saya menilai film ini sebelum mendengar perkataan kritikus tersebut. Bukan sekedar cerita yang berjalan dalam plot-plot adegan, pun bukan sekedar hiburan pengisi luang dan refresing pikiran. Tapi lebih dari itu: adanya pemaknaan di setiap perkataan dari karakter tokohnya yang ingin mendefinisikan sebuah kata bernama harapan. Lalu menjadi cerita dengan plot-plot dramatik bersetting penjara yang penuh dengan penderitaan.

Empat tahun lalu saya sudah pernah mereview di blog ini. Silakan bisa baca: Harapan di Penjara. Film ini memang tak pernah bosan di tonton seperti halnya film Band of Brother (Baca: Band of Brother, Film Serial yang Tak Pernah Bosan Ditonton). The Shawsank Redemption memang belum sampai ada belasan kali nonton seperti Band of Brother, film perang yang membuat saya tegila-gila.

Entah mengapa, saya ingin menonton film ini lagi sekedar memotivasi diri, dan mereview kembali. Kemarin (sehari sebelum saya menulis ini), ada yang ke 5 kalinya mengulang kisah tentang harapan ini. Film yang berkesan, yang selalu saya maknai setiap kata-kata tokohnya. Yang kemudian menginspirasi ke dalam analogi kehidupan saya dari pesan-pesannya yang universal, tak bertentangan dengan agama. Betul kata Roger Ebert, film ini bersifat alegori.

Takdir itu apakah pilihan Tuhan? Atau manusia sendiri yang membentuknya? Bagi kita yang beragama Islam jelas jawabannya. Film ini, bagi saya pribadi, tak terlihat mengajarkan pemikiran eksistensialisme, bahwa manusia dikutuk untuk bebas: bebas menentukan nasibnya tanpa campur tangan Tuhan. Bukan berarti menyerah kepada keadaan, justru itu cara Tuhan untuk mendidik manusia agar memiliki harapan dan usaha untuk lepas dari keterpurukan yang diderita. Bahwa keadaan yang diberikan Tuhan dan upaya manusia memilih jalan hidupnya adalah sebuah persinggungan hidup bernama takdir.

Pembuat cerita menyusun alur di awal bawah sang tokoh utama, Andy Dufresne, tak bisa mengelak takdir yang sudah ditetapkannya: yaitu menjadi narapidana kasus pembunuhan yang tak dilakukannya. Ia tak mampu mengelak karena bukti-bukti begitu kuat mengarahkan kalau ia yang membunuh istrinya bersama selingkuhan. Lalu kita diajak melihat di fase-fase sulit Dufresne di hari-hari pertama kehidupan penjara.

Sebagai orang yang berlatar belakang direktur sebuah bank dan berpendidikan, menjadi narapidana dengan dengan masa hukuman 30 tahun penjara adalah seperti manusia yang sudah kehilangan masa depan. Bagi tafsiran saya pribadi, pembuat cerita menunjukan bahwa seorang Dufresne tak mampu menghadapi kondisi (baca: takdir) yang telah menimpanya. Bukan hanya soal karir yang hancur, apalagi soal masa depannya, tapi kita diajak melihat jiwanya. Jiwa yang hancur karena ketidakadilan yang menimpa. Dan orang-orang disekelilingnya yang mengalami nasib yang sama. Jalan cerita mulai menarik ketika Dufresne menunjukan diri bahwa ia harus bertahan dan menghadapi apa yang dialaminya. Karakternya pendiam, tapi penuh perhitungan.

Berteman dengan seorang sesama narapidana bernama Red menjadi awal cerita tentang bangunan harapan. Red memiliki keahlian mendatangkan barang apapun ke dalam penjara. Dufresne mencoba meminta Red mendatangkan sebuah martil kecil. Apa gunanya?
Silakan tonton (buat yang belum), akhir cerita akan terungkap bahwa ia mampu membuktikan harapannya.

sumber: www.scoopwhoop.com
Bagi seorang narapidana, harapannya adalah bebas dan menjalani kehidupan normal. Yang menarik lagi, film ini menunjukan bahwa narapidana yang sudah cukup lama dipenjara tak ada lagi memiliki harapan tentang makna ‘bebas’. Seperti kata Red kepada Dufresne, “Penjara ini lucu. Pertama, kau membencinya. Lalu kau terbiasa dengan tempat ini. Dan seiring waktu, kau jadi bergantung pada tempat ini.”  

Ada kondisi dimana penjara membuat penghuninya menjadi ketergantungan. Tempat yang mereka benci, tempat yang menyengsarakan, tapi karena sudah menjadi kebiasaan, menjadi rutinitas, akhirnya mereka nikmati juga hidup sengsara itu. Seperti tokoh bernama Brooks, setelah masa hukuman 50 tahun habis di usianya yang telah tua, justru ia tak ingin bebas. Keterpaksaan kehidupan diluar penjara justru menakutinya. Dunia telah berubah. Dan ia tak memiliki ‘pegangan’ untuk merasakan kebebasan. Justru dunia luar menjadi penjara baginya. Ia tak tahan, lalu bunuh diri.

Mendengar apa yang dialami Brooks, harapan Dufresne agak sedikit goyah. Yang saya sukai dari film ini adalah menciptakan tokoh yang tak individualis. Dufresne diciptakan sebagai tokoh yang berusaha meyakinkan agar setiap individu di dalam penjara berhak memiliki harapan. Upayanya adalah membangun perpustakaan, yang sebelumnya dikelola Brooks, agar hadir buku-buku bacaan baru yang lebih banyak dan para narapidana mau datang ke perpustakaan tersebut. Film ini menunjukan, jika pendidikan atau pengetahuan dari buku-buku bacaan dapat membantuk membangun kesadaran masa depan seseorang.

Tak hanya itu, ia juga mengadakan sekolah beserta ujian berijazah setaraf SMA untuk narapidana yang membutuhkan. Agar kelak ketika mereka bebas nanti memiliki modal melanjutkan hidup.

Tapi upaya untuk melakukan itu tak mudah. Ia butuh waktu bertahun-tahun. Ia manfaatkan keahliannya sebagai bankir untuk membantu para sipir penjara mengelola keuangan, pajak, dan asuransi mereka. Kepala penjara juga ikut memanfaatkan jasa Dufresne untuk kelola keuangannya. Dengan imbalan, Dufresne memiliki akses untuk melakukan hal-hal tadi.

sumber: www.scoopwhoop.com
Ditengah tekanan takdir yang menimpa, justru ia berusaha ‘berbuat’. Nampak film ini memberi pesan: dibalik keterpurukan ada ruang kesempatan untuk bersifat ‘memberi’. Sifat ‘memberi’ merupakan bagian dari bangunan harapan. Bagi Dufresne, setiap manusia berhak memiliki harapan: “menikmati kehidupan, bukan menikmati kesengsaraan” salah satu ucapannya.

Karakter Dufresne yang selalu mengagungkan harapan, berhadapan dengan Red yang selalu berpikir realistis, menerima kenyataan apa adanya. Ketika Dufresne mencoba menceritakan impiannya ia menganggap Dufresne hanya memiliki angan-angan gila. “Harapan adalah hal yang berbahaya. Harapan bisa membuat seseorang menjadi gila.” kata Red. Tapi, film ini melalui karakter Dufresne di desain bukan tentang angan-angan atau impian. Ada rumusan makna  bahwa harapan adalah sinonim dari kalimat ‘jangan putus asa!’

Karakter Dufresne yang pendiam dan perhitungan membuktikan apa yang menjadi harapannya terbukti. Ketidakadilan yang menimpanya menjadikan kabur dari penjara adalah jalan yang ditempuh. Ia berhasil kabur setelah 20 tahun mengalami masa-masa penderitaan. Cara kaburnya juga sederhana, masuk akal, tidak dibuat-buat dan hasil kerja kerasnya selama 20 tahun itu. Menunjukan ia adalah seorang yang cerdas, penuh perhitungan, hati-hati, dan tak ada kata putus asa untuk meraih harapan mendapat kebebasannya.

Disitulah cerita film ini begitu mengagumkan di akhir. Tak tertebak. Dan benar nilai pesan yang universal itu: matinya harapan yang membuat manusia ‘terpenjara’ di dalam hidupnya.

Karena harapan adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia agar tetap ingin hidup, tetap berusaha dan beramal, serta cara beribadah kepada-Nya. Harapan dapat terwujud jika ada upaya untuk mengejarnya. Dan sekecil-kecilnya ikhtiar dari harapan adalah doa.

“Harapan adalah mimpi yang nyata” kata Aristoteles.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger