Jumat, 15 Desember 2017

Katakan: IN SYA ALLAH

Ruang Tunggu Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan

Saya pernah ‘disemprot’ senior ketika mahasiswa. Ceritanya dia mengajak rapat dengan waktu yang sudah ditetapkan, lalu saya mengucapkan insya Allah untuk hadir. Saya kena semprot karena jawaban itu tidak memberikan kepastian buatnya. Ia meminta saya agar yakin bisa hadir. Padahal saya memang yakin jam dan hari yang ditetapkan saya benar-benar bisa. Mengucapkan kalimat tersebut hanya ingin menyandarkan kepada Allah saja. Tapi rupanya bagi sebagian kalangan, ucapan Insya Allah adalah suatu jawaban keraguan.

Kalau dia tahu, Rasulullah Saw pernah hampir putus asa, bahkan pernah dengar dalam suatu riwayat lainnya, Rasulullah hampir ingin bunuh diri karena merasa ditinggalkan Allah, hanya karena lupa mengatakan Insya Allah. Begitulah kalau Allah Yang Maha Suci sudah menguji nabi-Nya. Beda dengan senior saya itu, mungkin belum paham agama, menegur saya hanya karena mengucapkan Insya Allah.

Saat itu masih di fase dakwah Mekkah, dua orang Quraisy diutus bertemu Rabii Yahudi di Madinah untuk mempertanyakan kenabian Muhammad. Mereka diutus oleh kalangan petinggi kaum kafir Quraisy karena gusar dengan sosok yang bernama Muhammad mengaku sebagai Nabi Allah. Salah satu cara mereka agar yakin bahwa Muhammad adalah seorang Nabi yaitu mencoba mencari jawaban kepada seorang Rabbi Yahudi.

“Tanyakanlah tiga hal yang apabila ia dapat menjawabnya maka benar ia seorang nabi. Tapi jika tidak maka ia hanya mengaku-ngaku saja.” begitu kata Rabbi Yahudi itu.

Tiga pertanyaan itu adalah tentang kisah pemuda mulia, tentang seorang penguasa yang berhasil mengembara dari barat ke timur, dan tentang roh. Setelah para utusan tiba di Mekkah dan bertemu Rasulullah Saw ditanyakan ketiga pertanyaan itu. Tapi rupanya Nabi Muhammad belum tahu jawabannya dan berharap mendapat jawaban dari Wahyu Allah. “Aku jawab besok.” kata Rasul kepada mereka.

Keesokan harinya pertanyaan itu ditagih dan wahyu belum turun, kembali Rasul berkata “Aku jawab besok pagi.”

Masuk hari ke tiga hingga ke empat, ke lima dan seterusnya, selalu saja kaum Quraisy itu menagih jawabannya. Selalu juga Rasulullah berkata “aku jawab besok pagi.”

Hingga lewat 10 hari wahyu belum juga turun. Kaum kafir Quraisy semakin senang dan mulai menyebarkan tentang palsunya Muhammad sebagai Nabi. Fitnah mulai menyebar dengan tuduhan pendusta. Sampai-sampai yang sudah beriman menjadi ragu dengan kenabian Muhammad. Kredebelitasnya sebagai seorang Nabi sedang dipertaruhkan. Padahal Rasulullah sudah tiap hari berdoa, berharap turunnya jawaban dari Malaikat Jibril yang membawakan Wahyu Allah. Tapi hingga masuk hari ke 15 belum juga turun. Seakan-akan hubungan beliau dan langit terputus. Nabi sempat sedih, galau, putus asa, tak tahu lagi apa yang harus dikatakan kepada mereka.

Masuk hari ke 15 barulah wahyu itu turun, “... dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “In sya' Allah” dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” Surat Al Kahfi 18:23-24

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengenai ayat ini mengatakan bahwa perintah ini adalah bimbingan adab dari Allah kepada Rasulullah jika hendak melakukan pada masa yang akan datang hendaklah mengembalikan kepada kehendak Allah yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang ghaib.

Tak hanya Nabi Muhammad Saw, Ibnu Katsir juga mengutip hadist dari Abu Hurairah tentang Nabi Sulaiman yang juga mendapat ujian karena tidak mengatakan Insya Allah.

“Sulaiman bin Dawud pemah berkata: ‘Aku akan berkeliling mendatangi tujuh puluh isteriku (yang dalam riwayat lain disebutkan, sembilan puluh isteri, dan dalam riwayat lainnya disebutkan seratus isteri) dalam satu malam, yang masing-masing akan melahirkan satu orang anak laki-laki yang berperang di jalan Allah.’ Kemudian dikatakan kepadanya, (dalam sebuah riwayat disebutkan, salah satu Malaikat berkata kepadanya) ‘Katakanlah, Insya Allah (jika Allah menghendaki).’ Tetapi Sulaiman tidak mengucapkannya. Kemudian ia berkeliling mendatangi isteri-isterinya itu. Maka tidak seorang pun dari mereka yang melahirkan anak kecuali seorang wanita raja yang melahirkan setengah orang.”

Selanjutnya, Rasulullah bersabda: “Demi Allah, seandainya ia (Sulaiman) berkata: ‘Insya Allah’, niscaya ia tidak berdosa dan demikian itu sudah cukup untuk memenuhi hajatnya (terkabulkannya harapannya).”

Wahyu Allah yang menjadi teguran buat Rasulullah Saw adalah awal turunya Surat Al Kahfi yang kemudian memberikan jawaban dari 3 pertanyan Rabbi Yahudi tadi untuk membuktikan kenabian Muhammad. 3 kisah dalam surat Al Kahfi begitu menarik dipelajari kalau mau membaca tafsir surat Al Kahfi baik dari karya Ibnu Katsir maupun Ath-Thabari yang banyak menukil kisahnya lebih detail dari riwayat hadist.

Sayangnya, makna Insya Allah kini sering kali diartikan sebagai jawaban keraguan atau sesuatu ungkapan yang tak menunjukan kepastian, bukan karena berserah diri kepada Allah melainkan ungkapan ketidakpastian kita sebagai manusia memenuhi sesuatu.

Misalnya, “Insya Allah deh, kalau memungkinkan.” ini yang tidak tepat. Yang tepat begini, “Insya Allah, bisa!”

Kalau memang ragu, tidak yakin, tidak pasti, untuk bisa memenuhi sebuah hajat, janji, atau target, katakan saja ragu dengan alasan yang jelas. Kalau pun tidak mampu, katakan saja tidak mampu. Tapi kalau yakin bisa menepatinya, berdasar kemampuan kita sebagai manusia, barulah berkata Insya Allah, semoga Allah akan memudahkan jalan menepatinya. Karena ucapan Insya Allah adalah cara kita untuk tidak sombong kepada Allah.

Begitulah. Kalau kita menyandarkan impian, harapan, dan target-target masa depan kita kepada Allah Azza wa Jalla, semoga akan dimudahkan jalanya. Wallahualam,

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger