Di zaman saya kuliah nama Thufail al
Ghifari gak asing bagi yang mengerti dunia nasyid (baca: senandung
islami). Sebab, nama tersebut sering menghiasi di beberapa majalah
Islam populer kala itu. Lagu-lagunya pun, meski bergenre rap tapi
kualitas liriknya cukup kritis dan berpesan dakwah.
Saya baru sadar beberapa pekan lalu
kalau pernah me-review salah satu judul lagunya di blog ini saat
masih kuliah. Judul tulisannya Hentakan Syair untuk Sang Ibu Bisa di baca di sini.
Bukan hanya soal kepopulerannya
di dunia rapper muslim underground, tetapi ada cerita haru di kisah
perjalanan mualafnya yang cukup menarik diangkat oleh berbagai media
cetak Islam masa itu. Bagi yang belum mengenal, cek saja di google,
masih ada beberapa blog atau media islam online yang masih
menayangkan kisahnya.
Berkenalan dengan beliau beberapa bulan
lalu saat acara kopi di Temanggung. Nama aslinya Richard. Di
lingkungan teman-teman kopi tetap memanggilnya Richard. Tidak Thufail
lagi, yaitu nama setelah proses mualafnya. Ternyata ada cerita
menarik kenapa kembali ke nama Richard.
***
Pada 18 – 19 November 2017 ini saya
mengikuti pelatihan roasting yang diadakan oleh AEKI Jakarta.
Berkesempatan ke Jakarta tak ingin melewatkan kesempatan mampir
sejenak ke Bekasi melihat kedai kopi yang bernama Ngopiiesme. Kedai
kopi ini yang digerakan oleh Bang Richard. Rasa penasaran saya
berkunjung bukan hanya soal bagaimana penampakan warung kopinya,
tetapi ingin melihat bagaimana ia meroasting kopi. Alhamdulillah,
diberi kesematan melihat bagaimana ia meroasting kopi dengan mesin
merek Uncle John.
Rasa penasaran itu muncul sejak pertama
kenal. Sepertinya ia sudah menguasai sekali tehnik roasting. Padahal
ia belajarnya otodidak. Banyak rumus dan teori yang ia bangun untuk
melahirkan kopi yang nyaman di lidah. Sehingga melahirkan banyak
pertanyaan bagaimana ia meroasting. Alhamdulillah, baru berapa minggu
ini saya baru saja memiliki mesin roasting kecil sederhana hampir
seharga motor. Hanya untuk belajar mengenal karakter kopi. Sebelum
berguru ke Pak Eris Sunandar dari AEKI, saya juga berguru ke Bang
Ricard.
Memang, menyangrai kopi itu tidak
sekedar membuatnya matang. Kita harus menyusun rencana dan target
dari asal biji kopi mentah yang kita peroleh untuk menghadirkan kopi
seperti apa yang dinginkan, baik dari kadar keasamannya, kadar
kekentalan rasanya (body) dan tingkat aroma atau flavor yang
ditargetkan. Semua itu dihitung ukuran dari power api, strategi
pengaturan suhu mulai dari biji masuk hingga keluar, dan waktu lama
proses menyangrai. Sebab, perbedaan teknik, meski dari biji yg sama
juga akan menghasilkan rasa yang berbeda. Makanya sering saya katakan
kopi itu seni. Memang ada teknik rumus matematis, tapi insting “rasa”
juga bermain. Tak ada salah dan benar di kopi. Kalau kata Bang
Richard, “Agama itu bisa hitam putih dan jelas dalilnya, tapi di
kopi itu liberal.”
| Mesin Roasting Uncle John yang dibelinya seharga 30 juta |
Rumitnya dalam menyangrai kopi membuat
saya memilih jalan berguru. Selama ini untuk belajar ilmu kebaristaan
dan manual brewing secara otodidak. Begitu juga membangun kedai kopi
lebih banyak pengetahuannya secara otodidak. Tapi ketika mencoba
menyangrai, memang perlu guru. Terutama soal teknik. Soal insting dan
menciptakan rasa itu bagaimana nanti saya secara pribadi mengolahnya.
Artinya, meski saya berguru dengan seseorang bukan berarti harus
mengikuti rasa kopi yang dibuat si guru. Setiap mesin roasting dan
tangan tiap orang pasti beda gen-nya. Meski tekhnik yang diikuti
sama. Tapi bagaimana kita bisa menyusun rasa sendiri. Menciptakan
karakter sendiri. Lalu bagaimana membuat orang suka dengan kopi kita.
Itu tantangannya. Begitu saran Bang Richard.
“Antum berguru ke Pak Eris gak salah
orang. Dia yang tepat” kata Bang Richard. Pak Eris memang salah
satu master roasting yang dimiliki negeri ini. Jam terbang
perkopiannya luar biasa. Pernah menggarap Caswell dan Anomali Coffee.
Pernah bekerja di Coffee Shop di Singapura, meneliti ke Jepang, dan
bekerja di Bahrain untuk sekedar meneliti kopi. Hingga kini dipercaya
sebagai Kepala Pelatih di AEKI. Dan alhamdulillah, insya Allah juga
termasuk orang yang shaleh. Terlihat waktu pelatihan, ketika masuk
jam break zuhur ia mempersilakan sholat.
Sambil melihat Bang Richard roasting
obrolan kami tak hanya soal kopi. Kisahnya ketika masih menjadi
wartawa Hidayatullah ia ceritakan. Terutama pengalamannya ketika ia
sempat populer menjadi rapper yang berlirik dakwah. Rupanya dia
sempat stres dan merasa belum siap menjadi populer. Ketika banyak
yang memanggilnya Ustad, dia seperti tersinggung. Tak suka dipanggil
ustad karena merasa belum bisa menjadi teladan sebagai juru dakwah.
Cerita singkatnya, sejak 2010 dia
memutuskan lari dari dunia kepopuleran. Menjauh dari lingkungan
aktivis dakwah. Seperti mencoba me-formulasikan lagi dirinya. Dan
akhirnya dia bertemu dunia kopi, mendirikan kedai kopi sebagai lahan
penghasilan. Kemudian kini cukup dikenal sebagai seorang roaster yang
rasa kopinya cukup banyak dipuji.
Cobalah kalau ke Bekasi main-main ke
kedai Ngopiisme, di Jalan Agus Salim.
Nb:
ditulis dari Kereta Api Taksaka:
Jakarta – Jogja, 19 November 2017.
Menyempatkan nulis di perjalanan,
karena nanti kalau udah pulang mesti bakal sulit cari waktu menulis. Kalau ke kedai sibuk layani pelanggan, kalau di rumah diganggu ponakan yang masih balita. Ngajak main terus.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.