Minggu, 19 November 2017

Dari Underground Rapper ke Coffee Roaster


Di zaman saya kuliah nama Thufail al Ghifari gak asing bagi yang mengerti dunia nasyid (baca: senandung islami). Sebab, nama tersebut sering menghiasi di beberapa majalah Islam populer kala itu. Lagu-lagunya pun, meski bergenre rap tapi kualitas liriknya cukup kritis dan berpesan dakwah. 

Saya baru sadar beberapa pekan lalu kalau pernah me-review salah satu judul lagunya di blog ini saat masih kuliah. Judul tulisannya Hentakan Syair untuk Sang Ibu Bisa di baca di sini

Bukan hanya soal kepopulerannya di dunia rapper muslim underground, tetapi ada cerita haru di kisah perjalanan mualafnya yang cukup menarik diangkat oleh berbagai media cetak Islam masa itu. Bagi yang belum mengenal, cek saja di google, masih ada beberapa blog atau media islam online yang masih menayangkan kisahnya.

Berkenalan dengan beliau beberapa bulan lalu saat acara kopi di Temanggung. Nama aslinya Richard. Di lingkungan teman-teman kopi tetap memanggilnya Richard. Tidak Thufail lagi, yaitu nama setelah proses mualafnya. Ternyata ada cerita menarik kenapa kembali ke nama Richard.

***

Pada 18 – 19 November 2017 ini saya mengikuti pelatihan roasting yang diadakan oleh AEKI Jakarta. Berkesempatan ke Jakarta tak ingin melewatkan kesempatan mampir sejenak ke Bekasi melihat kedai kopi yang bernama Ngopiiesme. Kedai kopi ini yang digerakan oleh Bang Richard. Rasa penasaran saya berkunjung bukan hanya soal bagaimana penampakan warung kopinya, tetapi ingin melihat bagaimana ia meroasting kopi. Alhamdulillah, diberi kesematan melihat bagaimana ia meroasting kopi dengan mesin merek Uncle John.

Rasa penasaran itu muncul sejak pertama kenal. Sepertinya ia sudah menguasai sekali tehnik roasting. Padahal ia belajarnya otodidak. Banyak rumus dan teori yang ia bangun untuk melahirkan kopi yang nyaman di lidah. Sehingga melahirkan banyak pertanyaan bagaimana ia meroasting. Alhamdulillah, baru berapa minggu ini saya baru saja memiliki mesin roasting kecil sederhana hampir seharga motor. Hanya untuk belajar mengenal karakter kopi. Sebelum berguru ke Pak Eris Sunandar dari AEKI, saya juga berguru ke Bang Ricard.

Memang, menyangrai kopi itu tidak sekedar membuatnya matang. Kita harus menyusun rencana dan target dari asal biji kopi mentah yang kita peroleh untuk menghadirkan kopi seperti apa yang dinginkan, baik dari kadar keasamannya, kadar kekentalan rasanya (body) dan tingkat aroma atau flavor yang ditargetkan. Semua itu dihitung ukuran dari power api, strategi pengaturan suhu mulai dari biji masuk hingga keluar, dan waktu lama proses menyangrai. Sebab, perbedaan teknik, meski dari biji yg sama juga akan menghasilkan rasa yang berbeda. Makanya sering saya katakan kopi itu seni. Memang ada teknik rumus matematis, tapi insting “rasa” juga bermain. Tak ada salah dan benar di kopi. Kalau kata Bang Richard, “Agama itu bisa hitam putih dan jelas dalilnya, tapi di kopi itu liberal.”

Mesin Roasting Uncle John yang dibelinya seharga 30 juta
Rumitnya dalam menyangrai kopi membuat saya memilih jalan berguru. Selama ini untuk belajar ilmu kebaristaan dan manual brewing secara otodidak. Begitu juga membangun kedai kopi lebih banyak pengetahuannya secara otodidak. Tapi ketika mencoba menyangrai, memang perlu guru. Terutama soal teknik. Soal insting dan menciptakan rasa itu bagaimana nanti saya secara pribadi mengolahnya. Artinya, meski saya berguru dengan seseorang bukan berarti harus mengikuti rasa kopi yang dibuat si guru. Setiap mesin roasting dan tangan tiap orang pasti beda gen-nya. Meski tekhnik yang diikuti sama. Tapi bagaimana kita bisa menyusun rasa sendiri. Menciptakan karakter sendiri. Lalu bagaimana membuat orang suka dengan kopi kita. Itu tantangannya. Begitu saran Bang Richard.

“Antum berguru ke Pak Eris gak salah orang. Dia yang tepat” kata Bang Richard. Pak Eris memang salah satu master roasting yang dimiliki negeri ini. Jam terbang perkopiannya luar biasa. Pernah menggarap Caswell dan Anomali Coffee. Pernah bekerja di Coffee Shop di Singapura, meneliti ke Jepang, dan bekerja di Bahrain untuk sekedar meneliti kopi. Hingga kini dipercaya sebagai Kepala Pelatih di AEKI. Dan alhamdulillah, insya Allah juga termasuk orang yang shaleh. Terlihat waktu pelatihan, ketika masuk jam break zuhur ia mempersilakan sholat.

Sambil melihat Bang Richard roasting obrolan kami tak hanya soal kopi. Kisahnya ketika masih menjadi wartawa Hidayatullah ia ceritakan. Terutama pengalamannya ketika ia sempat populer menjadi rapper yang berlirik dakwah. Rupanya dia sempat stres dan merasa belum siap menjadi populer. Ketika banyak yang memanggilnya Ustad, dia seperti tersinggung. Tak suka dipanggil ustad karena merasa belum bisa menjadi teladan sebagai juru dakwah.

Cerita singkatnya, sejak 2010 dia memutuskan lari dari dunia kepopuleran. Menjauh dari lingkungan aktivis dakwah. Seperti mencoba me-formulasikan lagi dirinya. Dan akhirnya dia bertemu dunia kopi, mendirikan kedai kopi sebagai lahan penghasilan. Kemudian kini cukup dikenal sebagai seorang roaster yang rasa kopinya cukup banyak dipuji.

Cobalah kalau ke Bekasi main-main ke kedai Ngopiisme, di Jalan Agus Salim.


Nb:
ditulis dari Kereta Api Taksaka: Jakarta – Jogja, 19 November 2017.
Menyempatkan nulis di perjalanan, karena nanti kalau udah pulang mesti bakal sulit cari waktu menulis. Kalau ke kedai sibuk layani pelanggan, kalau di rumah diganggu ponakan yang masih balita. Ngajak main terus.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger