![]() |
| Foto: Pendakian Gn. Merapi dalam rangka merayakan 17 Agustus tahun 2015 |
Bagi banyak orang, mendaki gunung itu hanyalah kegiatan yang tidak penting, bahkan bodoh. Selalu muncul pertanyaan, ngapain buang-buang waktu habisi tenaga ke tempat seperti itu.
Bagi saya ini hanya soal cara pandang saja. Banyak cara yang dilakukan orang-orang kota untuk memaknai hidupnya. Selama kegiatan itu tidak ada dalil yg mengharamkan dalam agama ya sah-sah saja. Artinya, jelimetnya kehidupan keduniawian selain di refresing dengan ibadah-ibadah wajib kepada Tuhan pencipta alam ada juga dengan menyaksikan alam pegunungan.
Mendaki gunung itu bukan sekedar berwisata menikmati keindahan alamnya. Tapi adalah cara menguji ego kita. Rasakan saja, ketika awal berencana dan mulai perjalanan ada rasa menggebu ingin segera mengejar impian berada di puncak. Namun, saat berada di perjalanan pendakian, rasa menyesal pun hinggap. Dalam situasi yang begitu lelah dan harapan bisa sampai tujuan selalu menjadi pertanyaan, selalu kembali bertanya, “buat apa kita melakukan ini semua?” rasa-rasanya lebih nyaman di rumah sambil berbaringan di kasur empuk.
Itu lah konsekuensi dari keputusan yang telah kita pilih. Ego kita di uji. Kalau kita telah memilih jalan untuk menuju ke tempat itu dan sudah terlanjur berada di perjalanan, akan diuji sebuah dilema ketika kesulitan itu hinggap: terus jalan atau mundur?
Memang sangat lelah. Itu dia nikmatnya. Nikmat ketika berhasil melawati masa-masa lelah itu lalu mencapai puncak pendakian. Hadiah besar dari rasa lelah itu adalah pemandangan alam yang menakjubkan.
Filosofi nikmatnya mendaki kembali teringat ketika mendapat kesempatan menonton film dokumenter berjudul Negeri Dongeng di Bioskop 21 Balikpapan 22 Oktober 2017 kemarin. Filmnya hanya tayang sekali. Tiket pun juga tak murah, harus mengeluarkan biaya Rp 75.000.
Negeri Dongeng hanyalah film dokumenter dari kisah nyata yang dibuat anak-anak sinematografi dari Institut Seni Jakarta. Mereka yang menamakan diri komunitas Aksa 7 melakukan perjalanan dari Barat ke Timur mendaki gunung tertinggi dari setiap pulau besar yang ada di Indonesia. Gunung Kerinci di Sumatera, Semeru di Jawa, Rinjani di Lombok, Bukit Raya di Kalimantan, Latimojong di Sulawesi, Binaiya di Kepulauan Maluku, dan Cartenz Jayawijaya di Papua. Semua gunung itu dikenal sebagai The Seven Summits of Indonesia.
![]() |
| Diantara 7 summits of Indonesia baru Puncak Mahameru |
| yang berhasil saya gapai. Menanti Gn. Rinjani & Kerinci. |
Juga ceritanya tidak datar seperti film dokumenter pada umumnya. Nampaknya sih tidak memakai skenario. Mungkin mereka juga hebat di editingnya. Sisi konflik, alur perjalanan, dan permainan plot sinematografi cukup bagus. Perkataan-perkataan dialog mereka yang penuh dengan makna filosofis dimainkan penuh emosi.
“Gunung itu ibarat mimpi, mimpinya gak kemana-mana seperti gunung. Tapi gimana cara kita mengejar mimpi itu.” ucap salah satu dari mereka. Kalimatnya sederhana. Tapi sesuai makna filosofis yang sering saya ucapkan untuk memaknai pendakian. Karena puncak adalah tujuan dari mimpi itu, dan perjalanan adalah cara kita menggapainya. Fillm ini juga menunjukan perjalanan pendakian tak semenyenangkan seperti yang dikira. Mereka harus banyak mengalami kesulitan, tantangan, cobaan, yang selalu menjadi dilema ketika dihadapi sebuah keputusan. Seperti proses kita menggapai mimpi itu, tak ada perjalanan yang menyenangkan untuk mengejar mimpi. Semuanya selalu berhadapan dengan kesulitan.
| Cover Film Negeri Dongeng |
Begitulah seninya naik gunung. Jangan cari senang-senangnya saja. Jaga ego kita. Nikmati kesulitannya. Dan Syukuri keindahan ciptaan-Nya.
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
― Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran


0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.