Saya pernah berbincang
dengan salah satu pelanggan. Dia bercerita bahwa Indonesia ini terkenal dengan
berbagai rempah-rempah dan bumbu masakan. Kehadiran berbagai jenis rempah dan
bumbu membuat berbagai aneka masakan dalam negeri juga penuh dengan rasa yang
beraneka ragam. Rasa yang muncul bukan dari jenis makananya, tapi banyak berasa
dari bumbu. Misalnya kita makan daging kambing atau sapi. Kebanyakan diolah
dengan berbagai macam bumbu sehingga kehilangan rasa asli dari daging itu.
Cara makanan seperti ini
berbeda dengan negeri-negeri utara, baik dari Eropa hingga Jepang. Kebanyakan
warga di negeri tersebut tetap menjaga rasa asli dari makanannya. Misalnya
orang Jepang makan ikan, mereka tetap menjaga bagaimana rasa ikan murni tetap
muncul. Jika ada tambahan biasanya berupa cuka dan tidak pernah dimasak
menggunakan minyak goreng sampai matang. Berbeda dengan kita yang penuh dengan
racikan bawang dan di masak hingga matang. Rasa yang muncul lebih banyak rasa
bumbunya.
Apakah kebiasaan penuh
campuran bahan sampingan itu menjadi tradisi yang tidak bisa dilepas di negeri
ini sehingga minum kopi juga begitu?
Sudah menjadi tradisi minum kopi bercampur dengan pemanis. Starbuck
dari negeri asalnya saja masih menjaga kualitas kopi dan berusaha menyajikan
kopi semurni mungkin, ketika masuk ke Indonesia harus bernegoisasi dengan
pasar.
Lalu salahkah jika minum
kopi pakai gula?
Sebenarnya ini masalah
selera. Tidak harus disalahkan juga. Setiap orang punya cara masing-masing
untuk menikmati kopinya. Hanya saja, jangan sampai menyalahkan kopi jika
mengalami efek yang ditimbulkan. Bisa jadi penyebab asalnya dari bahan campuran
itu. Apalagi kopi saset pabrikan yang penuh dengan campuran kimia. Konon,
kandungan kopinya tak lebih dari 10%.
Sama hal seperti makan gulai
kambing. Jangan salahkan kambingnya sebagai penyebab kolestrol, tapi silakan
salahkan cara memasak dan bahan dari gulainya.
Kopi murni tanpa campuran
apapun, terutama dari jenis arabika justru memiliki dampak kesehatan yang lebih
besar dari pada kekurangannya. Sudah banyak dituliskan di berbagai surat kabar
online dan hasil penelitian ilmiah, rutin minum kopi tanpa campuran gula justru
bisa menjadi cara menghindar dari penyakit jantung, diabetes, kolestrol, juga
sakit ginjal. Berbeda dengan gula yang justru menjadi penyebab penyakit itu.
Di kedai kopi kami,
Meracikopi, menghadirkan menu kopi dengan gula terpisah adalah bagian dari
edukasi. Kami tetap ingin menghadirkan gaya kedai kopi yang menyajikan cita
rasa kopi asli dengan beragam karakternya. (Baca Juga: Single Origin dan KopiGelombang Ketiga)
Awalnya kami berniat
membuka kedai kopi tanpa mengikuti tradisi ada gula. Seperti kedai kopi
langganan saya di Jogja dulu. Tapi setelah melihat kondisi pasar di kota saya,
nampaknya bergaya yang idealis itu masih sulit. Kalau pun berani, kemungkinan
hanya konsumen terkhusus saja yang jumlahnya masih kecil. Memang banyak peminum
kopi di sini, tapi masih menggunakan tradisi bercampur susu kental manis. Mau
tak mau, kami juga mesti realistis.
Dalam perjalanannya banyak
produk-produk minuman kami yang mengikuti apa yang diminta pembeli. Contohnya
saja menu kopi susu klasik, atau vietnam drip, yang terdapat susu kental
manisnya. Awalnya kami tidak memasukan menu tersebut. Sebulan berbuka para
pelanggan yang datang banyak yang menanyakan model kopi begitu. Ya sudah, kami
buka saja menu kopi susu dengan kental manis untuk pelanggan yang ingin
nongkrong saja, bukan pelanggan yang benar-benar ingin “ngopi”. Sembari kami
tetap memberikan edukasi tentang kopi kami.
Intinya, kami tetap
melakukan edukasi terhadap kopi trend “Gelombang Ketiga” di kota ini, tapi
tetap menyediakan varian kopi dengan berbagai campuran pemanis dan minuman non
kopi. Sebagaimana tempat yang bernama cafe dan pengunjung yang ingin kumpul-kumpul
saja dari pada yang namanya ngopi, kami tetap menyediakan varian itu. (Baca
Juga: Berkawan dari Meja Bar)
Tinggal persoalanya
bagaimana menyusun strategi komunikasi di arena pemasaran edukasi terhadap kopi
single origin. Ada salah satu contoh menarik kedai kopi di Jakarta yang
melakukan edukasi dengan cara membuat satu haru tertentu tidak menyediakan
gula” “No Sugar Day”. Asik juga kalau bisa diterapkan. Sebab bagi kami, menjual
kopi yang sesunggunya kopi adalah bentuk kepuasan sebagai tukang seduh sekaligus
mendidik pelanggan agar berupaya menjauh dari yang namanya gula. Karena gula
adalah penyebab rusaknya tubuh di masa depan. Waspadalah!
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.