Kamis, 03 Agustus 2017

Menghadapi Tradisi Kopi Bergula



Saya pernah berbincang dengan salah satu pelanggan. Dia bercerita bahwa Indonesia ini terkenal dengan berbagai rempah-rempah dan bumbu masakan. Kehadiran berbagai jenis rempah dan bumbu membuat berbagai aneka masakan dalam negeri juga penuh dengan rasa yang beraneka ragam. Rasa yang muncul bukan dari jenis makananya, tapi banyak berasa dari bumbu. Misalnya kita makan daging kambing atau sapi. Kebanyakan diolah dengan berbagai macam bumbu sehingga kehilangan rasa asli dari daging itu.

Cara makanan seperti ini berbeda dengan negeri-negeri utara, baik dari Eropa hingga Jepang. Kebanyakan warga di negeri tersebut tetap menjaga rasa asli dari makanannya. Misalnya orang Jepang makan ikan, mereka tetap menjaga bagaimana rasa ikan murni tetap muncul. Jika ada tambahan biasanya berupa cuka dan tidak pernah dimasak menggunakan minyak goreng sampai matang. Berbeda dengan kita yang penuh dengan racikan bawang dan di masak hingga matang. Rasa yang muncul lebih banyak rasa bumbunya.

Apakah kebiasaan penuh campuran bahan sampingan itu menjadi tradisi yang tidak bisa dilepas di negeri ini sehingga minum kopi juga begitu?

Sudah menjadi tradisi minum kopi bercampur dengan pemanis. Starbuck dari negeri asalnya saja masih menjaga kualitas kopi dan berusaha menyajikan kopi semurni mungkin, ketika masuk ke Indonesia harus bernegoisasi dengan pasar.

Lalu salahkah jika minum kopi pakai gula?

Sebenarnya ini masalah selera. Tidak harus disalahkan juga. Setiap orang punya cara masing-masing untuk menikmati kopinya. Hanya saja, jangan sampai menyalahkan kopi jika mengalami efek yang ditimbulkan. Bisa jadi penyebab asalnya dari bahan campuran itu. Apalagi kopi saset pabrikan yang penuh dengan campuran kimia. Konon, kandungan kopinya tak lebih dari 10%.

Sama hal seperti makan gulai kambing. Jangan salahkan kambingnya sebagai penyebab kolestrol, tapi silakan salahkan cara memasak dan bahan dari gulainya.

Kopi murni tanpa campuran apapun, terutama dari jenis arabika justru memiliki dampak kesehatan yang lebih besar dari pada kekurangannya. Sudah banyak dituliskan di berbagai surat kabar online dan hasil penelitian ilmiah, rutin minum kopi tanpa campuran gula justru bisa menjadi cara menghindar dari penyakit jantung, diabetes, kolestrol, juga sakit ginjal. Berbeda dengan gula yang justru menjadi penyebab penyakit itu.

Di kedai kopi kami, Meracikopi, menghadirkan menu kopi dengan gula terpisah adalah bagian dari edukasi. Kami tetap ingin menghadirkan gaya kedai kopi yang menyajikan cita rasa kopi asli dengan beragam karakternya. (Baca Juga: Single Origin dan KopiGelombang Ketiga)

Awalnya kami berniat membuka kedai kopi tanpa mengikuti tradisi ada gula. Seperti kedai kopi langganan saya di Jogja dulu. Tapi setelah melihat kondisi pasar di kota saya, nampaknya bergaya yang idealis itu masih sulit. Kalau pun berani, kemungkinan hanya konsumen terkhusus saja yang jumlahnya masih kecil. Memang banyak peminum kopi di sini, tapi masih menggunakan tradisi bercampur susu kental manis. Mau tak mau, kami juga mesti realistis.

Dalam perjalanannya banyak produk-produk minuman kami yang mengikuti apa yang diminta pembeli. Contohnya saja menu kopi susu klasik, atau vietnam drip, yang terdapat susu kental manisnya. Awalnya kami tidak memasukan menu tersebut. Sebulan berbuka para pelanggan yang datang banyak yang menanyakan model kopi begitu. Ya sudah, kami buka saja menu kopi susu dengan kental manis untuk pelanggan yang ingin nongkrong saja, bukan pelanggan yang benar-benar ingin “ngopi”. Sembari kami tetap memberikan edukasi tentang kopi kami.

Intinya, kami tetap melakukan edukasi terhadap kopi trend “Gelombang Ketiga” di kota ini, tapi tetap menyediakan varian kopi dengan berbagai campuran pemanis dan minuman non kopi. Sebagaimana tempat yang bernama cafe dan pengunjung yang ingin kumpul-kumpul saja dari pada yang namanya ngopi, kami tetap menyediakan varian itu. (Baca Juga: Berkawan dari Meja Bar)

Tinggal persoalanya bagaimana menyusun strategi komunikasi di arena pemasaran edukasi terhadap kopi single origin. Ada salah satu contoh menarik kedai kopi di Jakarta yang melakukan edukasi dengan cara membuat satu haru tertentu tidak menyediakan gula” “No Sugar Day”. Asik juga kalau bisa diterapkan. Sebab bagi kami, menjual kopi yang sesunggunya kopi adalah bentuk kepuasan sebagai tukang seduh sekaligus mendidik pelanggan agar berupaya menjauh dari yang namanya gula. Karena gula adalah penyebab rusaknya tubuh di masa depan. Waspadalah!

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger