Sabtu, 29 Juli 2017

Dunkirk: Tentang Pulang


Entah, apa yang dipikirkan Hitler waktu itu. Tentara Nazi Jerman sedang berada dalam kekuatan penuh. Tinggal menungguh perintah serang, sisa-sisa pasukan sekutu yang sudah terdesak di pantai Kota Dunkirk pada Mei 1940, bisa dihancurkan. Tapi rupanya Fuhrer memerintahkan menahan serangan. Perintah yang misterius ini membuat 300ribu pasukan sekutu yang terdiri dari pasukan Inggris, Perancis, Belgia dan Belanda berhasil dipulangkan dari medan tempur daratan Eropa Barat ke daratan Inggris.

Meski tak ada penyerangan darat, tetap saja segelintir pesawat dari Luftwaffe (nama untuk angkatan udara Jerman) melakukan pengeboman demi pengeboman ke barisan pasukan sekutu di pinggiran pantai yang sedang berharap kapal untuk pulang. Beberapa kapal perang inggris jadi sasaran pengeboman. Ada analisis yang mengatakan, bahwa Hitler memberi kesempatan pasukan Luftwaffe yang dipimpin Jenderal Herman Goering untuk menyelesaikan, karena selama ini hanya pasukan darat saja yang berhasil memenangkan pertempuran. Bukannya menyelesaikan, angkatan udara Inggris rupanya dikerahkan untuk melibas sayap-sayap tempur Luftwaffe sebagai operasi bantuan udara dalam proses pemulangan pasukan sekutu. Padahal, jika saja ke sepuluh divisi panser dan infantri itu dikerahkan, pembantaian masal bisa terjadi. Tak ada lagi cerita 300ribu pasukan sekutu selamat.

Para sejarawan berpendapat keputusan Hitler itu adalah sebuah kesalahan terbesar. Tentang kekalahan sekutu yang mundur di Dunkirk bisa menjadi anggapan subyektif saja. Sejarah membuktikan, keputusan Hitler yang salah menjadi takdir baik bahwa kepulangan pasukan adalah awal dari sebuah kemenangan. Dan benar terjadi, tahun 1945 Nazi Jerman tumbang oleh sekutu dan Uni Soviet.

Mungkin ini yang menarik Christoper Nolan membuat film berjudul Dunkirk. Tak ada cerita bahagia di sini. Apalagi aksi-aksi heroik kepahlawanan ala Holywood ketika mengangkat kisah PD 2. Karena kenyataannya, sejarah Dunkirk adalah kekalahan. Josep Gobels, sang mentri Propaganda Nazi sampai mengatakan kalau Dunkirk adalah tempat pelarian para pecundang. Bahkan perdana mentri Inggris, Winston Churcill mengakui tragedi Dunkirk adalah sebuah kekalahan. Dengan gaya yang berbeda dari film perang seperti biasanya, Nolan menampilkan film yang realistis. Fakta apa adanya bahwa ini adalah sebuah tragedi. Tumben-tumbennya Holywood melalui warner bros mau mengangkat kisah kekalahan ini.

Film Dunkirk yang baru diliris 21 Juli 2017 lalu menarik saya menginjakan XXI kembali. Lagi-lagi Nolan membuat saya tak sabar menunggu versi gratis di web streaming. Apalagi ini versi film sejarah pertama yang dibuatnya. Dan Dunkirk di tangan Nolan merajai box office dengan rat IMDb 8,5. Prestasi yang lagi-lagi didapatkan setelah The Dark Night, Inception, dan Interstellar.

Sebenarnya, apakah film Nolan ini menarik? Selama saya menonton alurnya datar. Sangat hemat dialog. Tak ada deru mesin perang dan pertumpahan darah, apalagi aksi heroik. Timing plotnya juga lambat. Setidaknya, adegan pertempuran udara cukup memberi efek hiburan. Bagi yang hanya menyukai film action, atau film yang alurnya penuh dengan gejolak emosi, atau melodramatis, pasti akan bosan. Tak heran, banyak komentar penonton orang-orang Indonesia yang menganggap film jelek.

Tapi bagi yang bener-bener melihat sebuah seni, mengamati substansi film dalam kacamata konteks sejarah, dan menakar sisi humanismenya, maka penilaian kita sama seperti para kritikus film yang memberikan rat 8,5. Aliran realisme benar-benar digunakan dalam menggarap seni film ini. Terutama pengungkapan sisi kejiwaan yang dialami oleh tokohnya. Bener-bener gaya Nolan.

Yang saya suka adalah caranya memainkan plot. Sejak memulai adegan kita diajak langsung berada di pusaran konflik pantai Kota Dunkirk. Tak ada adegan pembuka, termasuk adegan tentang konteks film ini; entah dialog yang menjelaskan tentang nama perang ini, atau adegan para tokoh elit seperti Hitler, winston churcill, atau Jenderal Heinz Guderian (Jenderal ahli strategi yang dimiliki Hitler dan perancang kemenangan hingga sekutu terpojok di Dunkirk) yang bisa mewakilkan konteks cerita. Tak ada. Cukup dari judul kita sudah harus mengerti. Mungkin hanya orang Inggris saja yang tau apa itu Dunkirk. Kalau tidak memahami latar dan konteks sejarahnya, akan terkesan membosankan. Film ini cukup membangkitkan ingatan kolektif rakyat Inggris, tentang sebuah nasionalisme dan evakuasi prajurit terbesar. Jadi, ini bukan film perang, tapi gambaran sebuah tragedi.

Ada tiga plot yang ditampilkan, pertama tentang prajurit Inggris yang sedang berusaha bertahan hidup dan mencari cara mendapatkan kapal tumpangan. Adegan yang menguras ketegangan. Kita diperlihatkan bagaimana berada di dalam situasi seorang prajurit yang merasa nasibnya tidak jelas, apakah akan ada kapal menjemput lalu pulang atau harus mati ditembak Jerman, sehingga kita diajak untuk keluar dari masalah itu. Rumah adalah tentang harapan. Kematian adalah ketakutan. Dan bertahan hidup adalah kesempatan.

Plot kedua adalah adegan 3 pesawat tempur dari Royal Air Force (RAF) yang mendapat tugas pengawalan udara dari proses evakuasi. Mereka harus berhadapan dengan pesawat-pesawat Jerman yang sedang melakukan pemboman di pantai dan ke kapal perang Inggris di lautan saat proses evakuasi itu. Plot ini sedikit manampilkan aksi heroik seorang pilot yang rela menjalankan tugas berat beresiko kematian dengan keterbatasan bahan bakar.

Plot ketiga adalah tentang seorang bapak nelayan beserta anak dan temannya menjadi relawan dari panggilan tugas angkatan laut Inggris untuk menjemput pasukan itu. Pesisir pantai Dunkirk merupakan perairan dangkal, sehingga kapal AL Inggris kesulitan berlabuh untuk memuat para pasukan itu. Kalaupun ada yang berhasil mendekati pantai, pesawat pembom Jerman siap menjatuhkan pelurunya. Lalu mereka memilih minta bantuan para nelayan secara sukarela untuk menjemput pasukan yang nyawanya sudah di ujung tanduk. Selain kapalnya yang kecil, ada etika perang jika kapal nelayan dilarang di bom.

Di plot ketiga ini kita diajak melihat kesungguhan seorang warga negara berprofesi nelayan yang terpanggil rasa kemanusiaannya. Plot ini juga bisa menggambarkan bahwa film ini membawa pesan kemanusiaan.

Dari ketiga plot itu tidak terjadi dalam rentang waktu bersamaan atau berurutan. Artinya, alur plot tidak lurus atau konvensional. Inilah menariknya. Nolan membuatnya seperti alur maju mundur tapi bertemu persinggungan waktu. Maksudnya, ke tiga plot ini berjalan dengan waktu yang berbeda, dan ketiga plot itu bertemu secara waktu (bersinggungan) diakhir cerita ketika salah satu pilot RAF yang pesawatnya jatuh ke laut, bersama dengan salah satu tokoh utama prajurit di plot pertama, berada di kapal nelayan di plot ketiga. Asik banget. Apalagi ditambah bumbu-bumbu musik latar dari Hans Zimmer yang bikin merinding. Sangat khas di film-film Nolan sebelumnya dengan composer yang sama.

Tak ada penokohan karakter di sini. Jadi tidak jelas siapa tokoh utamanya. Intinya adalah tentang manusia-manusia yang sedang berusaha pulang. Meski bercerita kekalahan, akhir cerita terlihat bahagia. Memang pada sejarah nyatanya semua pasukan berhasil dipulangkan. Bahkan mereka tidak dianggap sebagai pengecut maupun pecundang, tapi malah disambut bak pahlawan. Sejarawan menilai, mempulangkan para prajurit itu adalah kesempatan untuk mereka menjaga pulau Inggris yang kemungkinan menjadi sasaran serangan Nazi Jerman berikutnya. Tapi narasi sejarah yang besar ini bukan menjadi fokus Nolan di film Dunkirk.

Nolan lebih ingin menggambarkan Dunkirk ketika itu secara personal. Ia lebih ingin menampilkan sisi emosional kita ketika menghadapi ketegangan ditengah keterdesakan. Ada ketakutan, kemarahan, putus asa, bertahan hidup, semangat, harapan, dan keinginan segera pulang. Karena pulang, meski faktanya menyerah, adalah langkah awal menyusun strategi kemenangan bukan?  

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger