Kamis, 20 Juli 2017

Belajar Membangkitkan Umat dari Era Imam Ghazali hingga Shalahuddin al Ayyubi

Foto: Shalat Jum'at di Masjid Istiqlal saat aksi 411 (dokumen pribadi)


Ketika pasukan salib berupaya menginfiltrasi berbagai daerah Muslim, Abu Hamid Al-Gazali adalah intelektual Muslim dan ulama terpandang pada jaman itu. Yerusalem pun takluk oleh pasukan Nasrani pada 1099 M, tapi tak ada dengungan jihad melawan para salibis dari mulut Al-Gazali. Banyak ulama sesudahnya menuduh sikap Al Gazali yang begitu acuh. Banyak pula yang memberikan tuduhan kepada Al Gazali yang dianggap lari dari dunia karena tenggelam di dalam kesufian.

Lalu, 50 tahun kemudian datang sosok Panglima perang tangguh bernama Shalahuddin Al Ayyubi. Namanya tenar sebagai pemimpin jihad dalam pembebasan tanah Palestina dari kekuasaan Pasukan Salib. Sejarah memuji-muji ke-pahlawanan Shalahuddin atas kerja “jihad”-nya. Umat Islam yang sempat jatuh marwahnya selama hampir 1 abad, bangkit kembali pasca kemenangan ini.
Yang jadi persoalan, apakah sejarah bergerak linier begitu saja?

Dr. Majid Irsan Al Kilani dalam bukunya berjudul Hakadza Zhahara Jil Shalahiddin wa Hakadza ‘adat Al Quds berhasil mengungkapkan bahwa sejarah tidak bergerak linier. Dibalik lahirnya kepahlawanan Shalahuddin ada kerja-kerja kolektif (berjamaah) yang dibentuk selama puluhan tahun.

Al Kilani dalam risetnya yang dituang di buku tersebut berusaha mengungkapkan bahwa peran Imam Al Ghazali tak bisa ditinggalkan. Di balik tuduhan-tuduhan kepada sosok Imam yang dikenal sebagai para guru tasawuf, sejarah juga mencatat Al Ghazali tak hanya lari dari dunia dan sembunyi di dalam kesufian, tetapi setelah itu ia melakukan reformasi pemahaman agama (purifikasi, atau upaya permurnian) yang pada masa itu berada di fase banyak penyimpangan pemikiran dan perdebatan antar mazhab.

Beranjak dari konsep filsafat sejarah dan Al Qur’an Surat Ar Raad ayat 11, al Kilani mencoba merekonstruksi pemikiran dan kondisi sosial yang berkembang pada masa-masa jatuhnya Yerusalem ke pasukan Salib Eropa.

Sebuah kekalahan, atau bisa dalam konteks keterjajahan sebuah masyarakat, baik keterjajahan dalam bidang politik, ekonomi, atau wilayah, tak bisa dilepaskan dari bagaimana cara berpikir dalam setiap individu dari masyarakat wilayah tersebut. Pikiran, tubuh, dan gerakan adalah komponen individual dalam kelompok sosial. Jika pikiran salah, menyimpang, atau sakit, tubuh juga bisa sakit, cara gerak juga menjadi salah. Individu-individu dalam komunitas sosial yang bermasalah dalam pola pikirnya akan melahirkan perilaku sosial yang salah juga. Perilaku sosial yang terbentuk secara kolektif menjadi sumber terjadinya kehancuran, kekalahan, keterjajahan, atapun kebangkitan dan kemenangan.

Hal ini yang menjadi kritik Al Kailani kepada para cendikiawan muslim yang sedang berupaya membangkitkan umat. Selama ini, upaya-upaya kesadaran kebangkitan umat dilakukan dengan cara menceritakan kehebatan para pahlawan Islam ketika menaklukan musuh. Seakan, kita diajak seperti membutuhkan sosok (individu) yang bisa membawa umat kita dari keterpurukan. Bagi al Kilani cara ini adalah kesalahan. Karena kita akan terus menyalahkan pihak lain (seperti musuh Islam) sebagai sumber penyebab ataupun menyalahkan kondisi yang ada. Umat pun menjadi pasif, hanya selalu menanti datangnya “sang penolong”, menjadi individualis, sehingga kerja-kerja kolektif untuk melakukan gerakan perubahan terabaikan.

Kebangkitan umat bukan terbentuk dari mukjizat atau munculnya pahlawan dengan sendirinya. Tetapi, kebangkitan umat adalah hasil dari sebuah perubahan sosial atas kerja-kerja kolektif umat.

Seperti yang ditulis di bab pendahuluan buku ini, Al Qur’an menunjukan sebuah perubahan akan mengikuti 3 pola ini;

Pola pertama, perubahan dimulai pada muatan dari diri manusia lalu akan diikuti oleh perubahan pada bidang sosial, ekonomi, politik, manajemen pemerintahan, hukum, hingga militer. Muatan pada diri manusia mencangkup pemikiran, nilai, budaya, kecendrungan, kebiasaan, tradisi. Ia juga mencangkup persepsi manusia tentang asal mula penciptaan, alam raya, kehidupan, dan tempat kembali. Selain itu juga mencangkup pada keinginan, apakah hanya sebatas pada keinginan menjaga kelanggenga fisik, atau keinginan memperoleh ihsan (kebaikan).

Pola kedua, keadaan untuk terjadinya perubahan lebih baik atau lebih buruk akan terjadi jika dilakukan oleh masyarakat secara kolektif, bukan individu. Artinya, suatu masyarakat bisa berubah jika keinginan itu secara bersama-sama. Jika hanya satu-dua orang saja yang memiliki konsep untuk berubah maka perubahan akan sulit terjadi.

Pola ketiga, perubahan akan berhasil jika masyarakat memulai perubahan dari diri mereka. Jika mereka berhasil dalam merubah pemikiran, maka nanti akan berefek pada perubahan yang efektif dalam bidang ekonomi, budaya, politik, hukum, dan militer.

Metodelogi ini yang menjadi cara al Kailani menuliskan sejarah kebangkitan Umat Islam atas kemenangan menguasai Al Quds masa Shalahuddin al Ayyubi.

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib; Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitan Umat dan Merebut Palestina. Penerjemahnya adalah Ustad Asep Sobari, LC. Pada bab pertamanya dijelaskan secara rinci bagaimana kondisi sosial umat Islam pada masa awal-awal terjajahnya Palestina oleh tentara salib.

Singkatnya, masa itu pemikiran filsafat begitu liar. Konsep-konsep pemikiran dan filsafat banyak yang menyimpang dari kaidah Al Qur’an, seperti perdebatan persoalan esensi dan eksistensi, hingga soal awal dan akhir. Konsepsi yang salah dalam memahami realitas berpengaruh dalam pemahaman agama ketika menyikapi dunia.

Begitu juga pertarungan antar mazhab yang begitu tak terkendali. Pertarungan antar mazhab ini bukan lagi perdebatan di dalam forum, tetapi sudah mencapai pertumpahan darah. Taklid pada mazhab menjadikan buta terhadap adanya perbedaan pemahaman dalam takwil dalil. Tak hanya itu, ada pula keinginan bermazhab karena tujuan pragmatis, seperti agar mendapat pangkat, mendapat kehormatan, atau tujuan materi lainnya.

Dalam bidang perpolitikan, antar sultan atau penguasa di sebuah wilayah sering terjadi cek-cok. Dalam bidang perdagangan ekonomi pun banyak terjadi kecurangan. Termasuk dalam bidang hukum, salah dan benar hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa.

Ditengah rusaknya umat Islam, di saat itu juga orang-orang Eropa di bawah panji salib berkeinginan merebut tanah Palestina. Di sinilah kita mendengar sejarah sadisnya tentara salib membantai warga Yerusalem. Problematika internal menjadi penyebab umat Islam tak mampu menghadapi serangan. Bahkan khalifah dan berbagai penguasa Muslim tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa tangis, pasrah, bahkan terlalu nyaman dengan kondisi yang sedang dinikmatinya. Tak ada bedanya dengan kondisi saat ini sebenarnya.

Bukan berarti tak ada upaya untuk mengatasi masalah tersebut, al Kailani dalam buku ini juga menjelaskan ada dua fase islah (reformasi) memperbaiki keadaan umat.

Fase pertama adalah upaya dalam politik. Tokoh pada fase ini bernama Nizham al-Mulk. Ia adalah pejabat kementrian dari kekhalifahan Abasiyah. Bani saljuk yang menganut paham asyariah-syafi’iyah berhasil menguasai pemerintahan Abasiyah dan melakukan upaya reformasi umat dengan melakukan perbaikan akidah. Banyak madrasah didirikan oleh pemerintah dengan nama Nizhamiyah melalui kebijakan pendidikan. Namun, gejolak politik dari perebutan kekuasan membuat mentri Nizham al-Mulk dikalahkan oleh kekuasaan Sultan Abasiyah yang baru. Upaya islah melalui politik itu mengalami hambatan dan kegagalan. Banyak ulama yang akhirnya menyerah pada keadaan. Ada yang pasrah dengan mengasingkan diri dan berharap datangnya “penolong”, ada pula yang mencoba mengasingkan diri, memilih jalan sufi, untuk mendapat petunjuk. Salah satu dari Ulama ini adalah Imam Ghazali yang sebelumnya menjabat sebagai guru besar di madrasah Nizhamiyah tersebut.

Fase kedua adalah apa yang dilakukan Imam Ghazali. Yaitu berusaha membenah diri, merekontruksi ulang pemikirannya untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah, menjalakan amal kezuhudan dan kesufian, lalu kemudian kembali ke masyarakat untuk melakukan gerakan islah.

Al Ghazali melakukan perubahan pada dirinya lalu merubah orang lain

Jika mempelajari perjalanan hidup Imam Ghazali, ia pernah mengalami fase hidupnya yang penuh dengan kegelisahan, keraguan, dan kebimbangan. Pada jamannya, ia adalah intelektual terpandang yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Ilmu kalam ia kuasai. Filsafat, fikih, batiniyah, tasawuf, adalah ilmu-ilmu yang menjadi santapan hausnya akan ilmu. Keintelektualannya itu pula yang membuat mentri Nizham al-Mulk mengangkatnya menjadi guru besar madrasah Nizhamiyah. Tapi rupanya, berbagai problematika sosial masa itu justru membuatnya menjadi gelisah. Ilmu-ilmu yang ia pelajari hanya membuat dirinya sombong, tidak merasakan adanya kebenaran, petunjuk (hidayah), dan kepuasan batin.

Kondisi-kondisi sosial masa itu yang digambarkan al-Kilani sejalan dengan kisah Imam Ghazali yang begitu gelisah atas kondisi umat Islam. Sejak mentri Nizham al Mulk mati terbunuh dan kekuasaan Bagdad diambil alih oleh penguasa zalim, ia melepaskan jabatan guru besar madrasah lalu menarik diri dari masyarakat dan melakukan aktivitas kezuhudan dan ke-sufian. Jalan tasawuf ditempuhnya untuk memperbaiki konsepsi dirinya. Ia mengevaluasi semua pemikiran, keyakinan, dan persepsi yang selama ini diterima di masyarakat yang penuh dengan berbagai mazhab dan aliran pemikiran. Ia juga mengevaluasi kecendurngan jiwa yang selama ini aktivitas keilmuannya hanya untuk tujuan dunia atau kecendrungan mazhab.

Kalau seorang filosof aliran rasionalis bernama Descrates terkenal dengan metodelogi “keragu-raguan” untuk memperoleh pengetahuan murni (kebenaran), maka Imam Ghozali sudah melakukan hal ini lebih dahulu beberapa abad sebelum munculnya pemikiran Descrates. Jalan skeptis menjadi metodelogi Ghazali untuk mengkritisi dan mendiagnosa kesalahan segala pemikiran yang berkembang saat itu.

Dalam fase perjalanannya mencari pengetahuan murni, melalui aktivitas kesufian, kejuhudan, dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), ia akhirnya mendapat petunjuk (hidayah). Bagi Ghazali, hidayah bukan berasal dari pengetahuan bersumber indra, atau bersumber akal, tetapi datangnya langsung dari Allah. Disitulah Ghazali meraskan mendapat kepuasan intelektual. Ia seperti merasa telah mencapai sebuah ma’rifat tertinggi dalam mengenal Allah sebagai sumber realitas mutlak. Kepuasan intelektual itu ia tuliskan di dalam kitab al-Munqidz min ad-Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan) untuk merevisi kesalahan-kesalahan pemikiran yang berkembang.

Proses pencarian al-Ghazali itu berlangsung selama hampir 10 tahun dengan hidup berpindah di negeri syam. Selama proses pengembaraan itu juga ia menulis kitab yang begitu populer hingga kini dan selalu menjadi rujukan, yaitu Ihya Ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama).

Setelah kembali dari pengembaraannya, ia kembali ke Bagdad dan mengajarkan kitab Ihya. Namun hanya sebentar, ia memilih kembali ke kota kelahiran dan mendirikan madrasah sendiri. al-Kilani menuliskan, sasaran dari usaha Al Ghazali melakukan pendidikan ini adalah dapat melahirkan ulama-ulama baru dan pemimpin baru yang memiliki persatuan pemikiran, tak terpecah-pecah ke berbagai mazhab. Kemudian memfokuskan perhatian untuk mengatasi penyakit-penyakit krusial yang menggerogoti umat dari dalam dari pada sibuk dengan gejala-gejala yang ditimbulkan akibat oleh penyakit tersebut.

Menariknya dari yang dituliskan al-Kailani lagi, ada 3 sifat istimewa dari usaha al-Ghazali dalam melakukan islah.

Pertama, tulisan-tulisan al-Ghazali tidak memuat ajakan untuk berjihad melawan agresor pasukan Salib. Selain itu juga tidak melakukan kecaman atas keganasan dan tindakan biadab para musuh itu.

Kedua, al-Ghazali lebih cendrung melakukan kritik atas diri sendiri. Dia tidak mencari-cari alasan untuk menjustifikasi kelemahan umat serta melemparkan tanggung jawab atas segala keterpurukan kepada kekuatan-kekuatan asing. Seperti prinsip Islam yang tertuang dalam Surat Asyuraa 30: apapun musibah yang menimpamu adalah hasil perbuatanmu sendiri.

Ketiga, titik tolak yang dilakukan al Ghazali adalah bersifat islami dan orisinil. Al Ghazali tidak bertolak dari reformasi politik dan militer atau semisalnya, tetapi menjadikan reformasi pemikiran dari diri manusia sebagai titik tolak usaha islah dan pembaruannya. Seperti tertuang dalam surat ar Rad 11: Allah tidak mengubah keadaan pada suatu kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.

Itulah mengapa kalau kita membaca kitab ihya, lebih banyak penjelasan tentang upaya memperbaiki diri. Pada bab pertamanya membahas tentang memperbaiki pemahaman terhadap makna ilmu. Kemudian pada bab-bab berikutnya lebih kental membahas aktivtas ibadah, perbaikan sifat/akhlak, dan ajaran perbuatan-perbuatan manusia untuk dekat dengan ketakwaan.

Setelah ia merubah dirinya, ia melakukan sebuah gerakan untuk merubah umat. Upaya pertama seperti yang ditulis sebelumnya yaitu dengan melakukan jalan pendidikan: mengajar dan mendirikan madrasah.

Madrasah al Ghazali berhasil menginspirasi madrasah-madrasah lainnya dalam hal kurikulum dan metode pengajaran. Salah satu ulama besar yang ikut serta mengikuti gerakan islah ini adalah Abdul Qadir al Jilani. Ia salah satu ulama besar pada jaman itu yang ikut terpengaruh dengan pemikiran al Ghazali dan ikut mengadopsi kurikulum pendidikannya. Melalui madrasah al Qadiriyah di Bagdad, al Jilani mengajarkan konsep al Ghazali selama 50 tahun lamanya. Madrasah ini banyak melahirkan pemimpin umat yang kelak mengisi jabatan-jabatan strategis di struktur sosial kemasyarakatan.

Buku al Kilani ini cukup detail menjelaskan proses gerakan Islah yang dilakukan al Ghazali sehingga membuatnya buku ini menjadi tebal. Secara beruntut ia menuliskan proses Islah itu dari gerakan pendidikan hingga terjadinya perubahan-perubahan dari berbagai sisi kehidupan, seperti politik, ekonomi, budaya, hingga militer.

Hasil dari pendidikan madrasah-madrasah inilah lahir kepemimpinan baru yang kemudian dikenal dengan sosok bernama Nurudin al Zanki. Tokoh ini mendirikan kesultanan baru yang sebagian besar para elit politiknya adalah jebolan madrasah hasil gerakan Islah.

Semangat jihad kembali hadir menghiasi kaum muslimin yang bercita-cita ingin membebaskan al Aqsho dari pasukan salib. Rupanya, Nurudin al Zanki ditakdirkan lebih cepat dipanggil Allah sehingga belum sempat menuntaskan misinya. Lalu naik salah satu panglimanya yang bernama Shalahuddin al Ayyubi. Melalui kepemimpinan Shalahuddin, tanah Palestina berhasil takluk di tangan kaum muslimin. Shalahuddin yang akhirnya tercatat sebagai pahlawan besar pembebas Al Aqsha Palestina.

Buku ini sangat-sangat menarik dibaca kaum muslimin, terutama para aktivis dakwah. Kalau tidak salah terbit cetaknya tahun 2007, lalu hingga saat ini belum ada terbit lagi.

Alhamdulillah setelah sekian lama mencari sudah ada yang mempublikasikan dalam bentuk eBook dan bebas disebarluaskan. Kabarnya akan ada penerbit yang mau menerbitkannya kembali dengan perbaikan terjemahan.

Semoga bermanfaat. Terimakasih buat yang sudah upload.

***
Tentang buku ini sudah sejak jaman kuliah saya mendengar. Dari cerita teman tentang kisah kepahlawanan Shalahuddin lahir dari gerakan purifikasi Islam yang dilakukan Imam al Ghazali. Tapi saat itu saya kesulitan untuk mencari buku ini. Judulnya juga tidak tahu. Sempat mendengar keberadaan buku ini ketika bekerja di ProU Media. Tapi ketika itu karena konsentrasi masih kepada hal lain membuat keinginan mendapat buku ini menjadi terabaikan. Akhirnya diingatkan kembali tentang buku ini ketika membaca buku Mas Yusuf Mualana yang berjudul Mufakat Firasat. Keinginan memiliki kembali muncul tapi sayang tidak dalam bentuk fisik buku melainkan ebook ini. Silakan pelajari, sungguh mengasikan bagi kita yang haus pengetahuan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger