“Mas sudah biasa kopi hitam atau masih suka campuran?” Itu pertanyaan yang biasa kami lakukan kepada pembeli yang sedang bingung memilih menu di Meracikopi. Biasanya kami lakukan untuk mengetahui sejauh mana ketertarikan atau antusiasnya terhadap kopi. Juga menjadi kesempatan kami untuk memperkenalkan menu utama: kopi single origin.
Jika pembeli itu adalah coffee lover dan sudah biasa dengan single origin biasanya obrolan berlanjut tentang dunia perkopian. Banyak diantara pelanggan ini yang ternyata adalah juga pegiat kopi, seperti pemilik usaha kopi sebelah, ada juga pekerja cafe yang sedang libur lalu “nyicip” di tempat kami, tapi lebih banyak sebagai coffee enthusiast yang sudah biasa menyediakan waktu ke coffee shop. Di situ kadang kami berbagi cerita tentang pengalaman ngopinya. Kalau sudah bisa nyeduh, kami persilakan seduh sendiri. Diantara mereka ada yang benar-benar coffee master, tak jarang diantara mereka memberi masukan terutama soal memilih bean dan teknik seduh. Di sini teman baru dari kesamaan minat bermunculan.
Kalau pembeli belum mengenal single origin, selain kami kenalkan menu tersebut juga kami tawarkan kopi campuran lainnya. Beberapa diantaranya ada yg penasaran dengan kopi origin ini. Ada yang akhirnya mental, belum siap dengan rasa murninya kopi. Nah, biasanya kalau sudah begini kami tawarkan gula saja.
Ada juga yang tak mental. Pelanggan-pelanggan yang menerima kopi origin ini mengaku tak merasakan adanya pahit yang dominan. Alhamdulillah, tak sedikit kami mendapat pelanggan yang mendapatkan pengalaman pertamanya menyicipi kopi origin di tempat kami. Ketika berkunjung lagi, tetap memilih kopi hitam asli ini.
Kami memang bukan warung kopi idealis seperti beberapa warung kopi yang ada di Malang atau Jogja yang hanya ada menu single origin. Buat yang belum siap dengan kopi murni, ada tawaran alternatif dengan kopi-kopi campuran susu, susu kental manis, bahkan minuman non kopi. Dan kami tetap tersedia gula. Tidak seperti warung kopinya si mas di Jogja yang tertulis “tiada gula di antara kita”, hahaha.
Edukasi marketing kami tetap kopi origin. Kopi seperti inilah yang lebih bermanfaat buat tubuh dari pada kopi campuran. Adanya mitos atau efek samping kopi sumber masalahnya bukan pada kopinya, tapi sajian campurannya atau cara seduhnya. Apalagi gula adalah sumber penyakit. Sama halnya makan kambing. Yang buat kolestrol bukan kambingnya, tapi gulainya. Beberapa riset kesehatan di beberapa kampus di Eropa dan Amerika Serikat sudah banyak buktikan bahwa kopi origin lebih banyak berikan manfaat kesehatan dari pada kerugiannya bagi tubuh. Silakan google saja.
Upaya-upaya edukasi ini memunculkan obrolan dengan para pelanggan kami. Jika tidak ramai, atau saya sendiri tidak sibuk menyeduh, biasanya obrolan itu bisa berlanjut kemana-mana. Menciptakan kedekatan dengan pelanggan rupanya bisa berefek dengan terjadinya pembelian ulang. Tak sedikit yang datang beberapa kali. Pelanggan yang datang tiap hari dari kami buka sampai hari ini juga ada loh, beneran serius.
Sebut saja Mas Hendy, pelanggan unik kami. Dia itu pelanggan loyalisnya meracikopi. Bisa dibilang, hampir tiap hari datang. Tapi anehnya tidak pernah pesan kopi. Alasan penyakit yang dideritanya beserta keengganan merasakan pahit membuatnya hanya memesan susu atau teh. Meski bukan pengkonsumsi kopi, tapi giat mempromosikan warung kami.
Karyawan kami bernama Rastra awalnya adalah pelanggan. Mahasiswa STT Balikpapan ini dari keluarga berada. Kehadiran pertamanya di Meracikopi juga pertama kalinya menyicipi kopi hitam single origin. Kunjungan kedua, saya melihat anak ini ada ketertarikan tentang kopi. Saya persentasikan saja tentang kopi mulai dari pengenalan asal kopi hingga metode seduh. Kedekatan kami dengan Rastra mebuatnya sering datang. Saat kami dalam posisi crowded karena banyaknya kunjungan anak ini ikut membantu kami. Kami memang sedang mencari tambahan karyawan saat itu. Ia pun menawarkan diri. Ya sudah kalo begitu. Kita rekrut saja. Anaknya cukup rajin. Kerjanya cepat. Meski kalau datang “kerja” bawaannya mobil, ia mau berlelah cuci piring, masak, nyapu, ngepel, bahkan proaktif merapikan meja bar kami.
Kami juga punya pelanggan yang namanya Mba Lidi. Dalam seminggu mungkin bisa tiga sampai empat kali datang. Kalau datang dan kami ada kopi single origin baru pasti dia kunyah dulu biji kopinya, maksudnya untuk mengecek apa biji kopinya ini bagus atau enggak. Kalau menurutnya bagus, baru ia pilih kopi itu. Dan seringnya minta diseduh tubruk. Mba Lidi ini memang seorang coffee adict. Senang dengan dunia sastra. Kalau bawa buku, bacaannya termasuk berat. Mungkin ia salah satu wanita “smart” di kota ini juga aktivis. Tapi sayang, perokok. Senangnya, kalau datang ia suka bawa teman-temannya. Alhamdulillah, tempat kami sering jadi tempat kumpul kelompok “ngobrolnya” Mba Lidi.
Ada lagi keluarga Ibu Kanza. Keluarga ini memang hobinya hang out. Ia, suami, dan ke dua anaknya termasuk keluarga yang sering meramaikan meracikopi. Seminggu bisa 2 - 3 kali datang. Sekali datang selalu membuat kami sibuk di meja bar dan dapur belakang, karena kalo pesan satu orang bisa 2 sampai 3 menu. Sampai hafalnya menu kami, kalau datang tak perlu buka buku menu lagi, dan akhir-akhir ini pesannya cukup lewat WA agar jika sudah di meracikopi menu sudah hidang.
Masih banyak kalau mua diceritakan satu-satu. Masih ada cerita dari kawan-kawan jurnalis yang hobi ngopi di tempat kami. Ada kawan-kawan dari Dilo Telkom tempat aktivitas adik ipar saya yang juga ikut mengurus Meracikopi. Dari adik kelas SMA yang memang belum pernah bertemu tapi saya getol promosi di grup-grup alumni rohis SMA sehingga membuat mereka tertarik kemari.
Tak menyangka juga, sebagian kawan-kawan meng-endorse ke kawan-kawan mereka tentang keberadaan kami. Hampir 3 bulan kami berdiri belum ada keluar modal besar untuk promosi. Yang membuat kami ramai hingga saat ini adalah promosi dari mulut-ke mulut. Tak sedikit, kawan-kawan yang pernah ke meracikopi datang lagi dengan membawa temannya.
Sering kami tanyakan pada setiap orang yang datang, “tahu kami dari mana?” Ada yang bilang di infokan dari saudara atau kawannya. Banyak pula dari seringnya lewat di depan ruko kami, sehingga membuat mereka penasaran untuk menyicip.
Karyawan kami yang pegang meja bar juga termasuk tipikal orang yang senang bercerita. Tak sedikit juga, anak-anak seumurannya yang datang di tempat kami menjadi kawan akrabnya.
Berkawan dari meja bar adalah salah satu cara untuk menciptakan loyalitas pelanggan. Bisnis warung kopi bukan sekedar bagaimana kita menyediakan produk yang diinginkan konsumen, tetapi juga menjalin komunikasi. Komunikasi tak selalu soal kopi atau produk-produk yang kami jual.
Pernah waktu itu kami berbincang dengan seorang pelanggan awalnya soal kopi. Perbincangan itu mengalir sampai soal makanan lalu pembahasannya masuk ke soal fikih halal dan haram. Salah satu pengunjung yang lain mendengar perbincangan kami ikut menyaut. Ternyata, pengunjung lain itu mengerti tentang fikih. Obrolan pun masuk ke ranah ilmu agama hingga larut malam. Dari yang awlanya tak saling kenal, bisa berkenalan. Dari yang tak tahu menahu, jadi ada ruang berbagi informasi. Dari meja bar ini, saya mempunyai teman-teman baru. Tak hanya saya, antar pengunjung juga ada yang awalnya hanya ikut nimbrung ngobrol juga menjalin pertemanan. Menariknya, ada juga yang awalnya tak saling kenal, setelah berteman ternyata tetangganya sendiri.
Nampaknya saya menikmati masa-masa menjadi tukang seduh. Karakter saya yang pada dasarnya introvet mesti mencoba bergaul dengan berbagai orang dengan berbagai karakter.
Pada pekerjaan sebelumnya saya juga banyak berbincang dan berteman dengan banyak orang. Namun hanya melalui perangkat seluler. Dari job marketing online di penerbitan buku di Jogja tempo lalu hampir tiap hari berkomunikasi dengan banyak pelanggan, namun komunikasinya hanya sebatas soal penjualan dan distribusi, gak lebih. Bahkan hanya dibalik layar ponsel. Meski ada juga yang melanjutkan pertemanan di facebook. Tapi tetap saja, pertemanan media social bukan pertemanan sesungguhnya. Virtual tetap virtual. Tatapan wajah lebih berarti dalam membina hubungan.
Tapi tak semua pengunjung yang datang kami ajak ngobrol. Ada kondisi kami kesulitan untuk berbincang. Ada juga tipikal pelanggan yang hanya sebut menu langsung cari kursi di luar. Apalagi ikut nimbrung ngobrol dengan anak-anak yang ngumpul di kursi luar sambil merokok, saya kurang menyukai. Asap rokok harus saya hindari.
Pernah datang dua orang wanita jilbab (akhwat). Salah satunya setelah sebut menu langsung duduk menghadap tembok. Saya agak pangling, sekilas melihat seperti pernah mengenal. Ketika menu sudah saya sajikan dan bertanya apakah kita kenal dan pernah bertemu, akhwat itu hanya diam dengan terus menatap tembok. Temannya juga hanya cengar-cengir. Saat membayar baru saya sadar, ternyata dia adalah… (skip, sensor)
Setelah sekian tahun hanya berbincang di WA, pernah melihat sekali tapi waktu itu belum kenal, dan pernah menyatakan ingin me****** tapi ditolak (wkwkwkwk), akhirnya bisa melihatnya dari meja bar. Sayangnya hanya berbincang sekilas. Apakah akhwat itu akan kembali lagi? Jawabannya seperti kalimat mengakhiri tulisan ini, wallahu’alam bishowab.

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.