Rabu, 21 Juni 2017
Ingin Tetap Beramal di Literasi - bag. 2
Posted under cerita ku with
Tidak ada komentar
Bersambung dari Ingin Tetap Beramal di Literasi bagian 1
Iklim intelektual & literasi Jogja dengan Balikpapan memang beda. Hampir 6 bulan di Balikpapan, jarang ada kawan yang bisa diajak sharing tentang wacana & filsafat. Lebih banyak bincangkan uang dan bisnis.
Dulu waktu bekerja di penerbitan, bisa terlihat penyerapan penjualan buku selain Jogja lebih banyak di wilayah Jawa Barat termasuk Jabodetabek, Sulawesi Selatan, dan Sumatera. Kalimantan Timur termasuk jarang.
Diskusi dengan kawan tempo hari, Balikpapan ternyata masih menjadi kota yang belum menghargai karya tulis. Memuat tulisan opini di Kaltim Post misalnya, tak ada honor terimakasih seperti layaknya surat kabar yang ada di kota-kota di Jawa. Bukan soal bayarannya, atau menulis demi serupiah, tapi soal penghargaan kepada karya. Tak hanya itu, konon kabarnya toko buku sekelas Gramedia seperti harus bernafas berat karena rendahnya penjualan. Seakan, buku bukan salah satu komoditas yang dibutuhkan di kota ini.
“Semuanya karena social media.” kata kawan yang lain. Bisa iya, bisa juga tidak. Memang social media membuat informasi serba cepat. Informasi begitu banyak beredar. Waktu untuk menyaring berita terlalu payah. Social media menciptakan kenyamanan tersendiri sehingga ruang untuk menambah kapasitas pengetahuan terabaikan.
Berkembangnya social media dengan seiring perkembangan teknologi membuat kehidupan jadi serba instant. Dengan lingkungan sudah menjadi instant, orientasi hidup kita bukan lagi bersabar pada proses, tapi bagaimana menyegerakan hasil. Yang kemudian berpengaruh pada insting manusia dalam mengelola kehidupanhnya: selalu mengejar keabsurdan zona nyaman.
Lihat saja, banyak program aneh-aneh dengan orientasi pasar agar masyarakat mau bertindak instan dan pragmatis. Seperti munculnya program-program bisnis cepat kaya, cara cepat jadi penulis terkenal, menghafal alqur’an dalam waktu berapa jam, dan program-program "cara mudah" atau "agar cepat-cepat" lainnya. Pada dasarnya, program-program pelatihan itu untuk mencari keuntungan buat penyelenggara saja, bukan murni bertujuan edukatif atau sosial.
Apalagi dengan maraknya program-program training hypno. Training hypno itu sebenarnya mendidik orang agar melupakan "proses" dalam mencapai tujuan hidupnya. Sampai urusan ibu melahirkan saja sudah ada program hypno-nya agar melahirkan tidak sakit. Bukannya ini akan meninggalkan masalah “proses sakit/penderitaan”? Padahal ajaran agama sendiri akan memberi pahala besar yang pada ibu yang berjuang (mengalami proses sakit & penderitaan) dalam melahirkan. Belum lagi adanya kesesatan akidah dibalik gerakan orang-orang hypno.
Kembali ke topik. Nah, bisa jadi kurang bersabarnya pada proses mempengaruhi generasi kini tak tertarik lagi membaca. Baca buku adalah soal bagaimana kita bersabar pada proses dalam memahami pengetahuan yang ingin dicari. Karena membaca adalah kegiatan “proses”.
Faktor lain yang berpengaruh besar adalah karakter sosial masyarakat. Balikpapan jangan dibandingkan dengan Jogja. Sebagian masyarakat Jogja pada umumnya tidak dibebani oleh kesibukan kantoran. Waktu luang menuntut mereka menghasilkan produk-produk kreatif, makanya banyak seniman. Di satu sisi banyak waktu untuk membaca. Berbeda dengan Balikpapan yang sebagian besar (pada umumnya) adalah pendatang dan pekerja. Faktor waktu luang untuk membaca bisa menjadi kendala. Keberadaan manusia-manusia mekanik yang hidupnya hanya dituntut menjalankan rutinitas harian (pekerjaan) bisa jadi membuat lemahnya kreatifitas.
Di Balikpapan ekonomi dimanjakan dari hasil tambang. Berbeda dengan Jogja, Malang, atau pun Bandung yang menuntut masyarakatnya kreatif agar bertahan hidup. Makanya, jarang ada seniman di Balikpapan atau pun produk-produk kreatif yang bisa menghasilkan nilai budaya. Jadi kedekatan dengan literasi juga mempengaruhi kreatifitas suatu kota.
Tapi faktor yang terpenting adalah persoalan pendidikan. Pendidikan kita kurang menciptakan pematik agar anak didiknya haus ilmu. Kita hanya didikte agar memahami kurikulum yang telah disusun. Karena orientasinya jelas, tujuan pendidikan saat ini adalah melahirkan para ahli untuk menjalankan mesin-mesin industri, bahasa lainnya tenaga kerja. Bukannya melahirkan manusia-manusia kreatif dan beradab, justru kurikulum kita untuk menciptakan manusia-manusia mekanik. Terasa sekali waktu sekolah dahulu kita di dikte untuk menghafal pelajaran dari pada “pemaknaan”. Itulah kenapa dalam rangking minat baca dan pendidikan negeri ini berada di urutan hampir buncit dari 190an negara di dunia.
Persoalan rendahnya literasi tak hanya masalah keengganan membaca atau malasnya berkegiatan menulis. Tapi literasi adalah juga soal cara kita menyikapi arus informasi dengan nalar kritis dan sarat verifikatif. Sehingga, rendahnya aktivitas intelektual melahirkan generasi bernalar pendek. Lemah dalam analisa, tak mampu berpikir mendalam(kontemplasi), maka yang terjadi adalah kalau enggak mudah terpengaruh isu ya tak punya sikap atas arus fenomena yang hadir. Bisa juga mudah membebek. Memang, aktivitas berpikir mendalam dan menganalisa suatu masalah adalah pekerjaan yang rumit. Buat yang hidupnya pragmatis, gak mau rumit, bakal menghindar aktivitas beginian.
Literasi juga persoalan kemampuan seseorang dalam memahami ide-ide yang beredar secara visual, baik dalam bentuk gambar, film/adegan, video. Jadi bagaimana segala citra visual, dari apa yang kita pandang, dari film yang kita tonton, mampu kita pahami secara kritis juga. Kritis bukan berarti sifat suka kritik, bukan. Kritis di sini adalah seperti yang dijelaskan tadi, kemampuan menganalisa secara kritis dan kontemplasi. Mana yang bisa diambil hikmah, mana yang menyesatkan. Sehingga tak mudah terpengaruh atau membebek. Misal dalam 10 tahun terakhir ini masuknya trend K-Pop yang mempengaruhi generasi muda tanpa sikap kritis. Kalau kita memiliki kesadaran pengetahuan "wacana sosial" ingin ikut tergila-gila dengan artis Korea akan berpikir ulang.
Wah, 11 paragraf di awal cuma bahas permasalahan. Oke, kita ke intinya.
Intinya adalah, bagaimana saya sebagai pegiat literasi sejak Sekolah hingga bekerja lalu pulang ke Balikpapan menjadi pedagang kopi, bisa tetap beramal di dunia literasi.
Pertama, seperti yang saya tuliskan di bagian pertama artikel ini, ditengah kesibukan berdagang ber-azam tetap bisa menghasilkan karya tulis.
Kedua, ingin melibatkan diri dalam membangun kesadaran literasi bagi generasi muda yang ada di kota tempat saya tinggal saat ini. Kerja-kerja ini seperti membangun harapan di tengah ketidakmungkinan. Tapi apa salahnya dicoba.
Saya ingin memanfaatkan ruang kedai kopi saya untuk kegiatan yang produktif. Salah satu program yang sedang direncanakan adalah membuat semacam club menulis atau diskusi literasi buat segmen adik-adik mahasiswa dan SMA yang ingin bisa menulis. Kebetulan senior saya ketika di kampus dahulu pernah menggarap kegiatan club menulis bersama saya sedang bekerja di sini. Saya ajak kembali untuk membuat program ini sebagai pembimbing.
Kemungkinan, aktivitas di program ini masih tak jauh-jauh dari apa yang kami lakukan waktu di kampus. Yakni, berusaha memantik anak-anak agar mau membaca. Kegiatannya seperti diskusi rutin bertema aktual, mengajak mendiskusikan atau review buku-buku yang menarik, dan memberi tugas menulis lalu kita beri penilaian bersama hasilnya.
Dari pegalaman kami saat itu, mengajarkan menulis tidak sekedar aspek teknis bagaimana membuat kalimat yang benar tapi bagaimana seseorang memiliki konsep, ide, atau gagasan dipikirannya. Yang terpenting bukan tehnik menulis, tapi pengetahuan apa yang bisa dituliskan. Kalau kita sudah terbiasa membaca otomatis kosakata di kepala ada, menulis juga mudah. Sayangnya, banyak pelatihan menulis yang lebih kepada aspek teknis saja. Padahal persoalan menulis itu pada ide dan pengetahuan.
Program ini lebih bersifat amal saja. Atau bisa dianggap sebagai program CSR dari Meracikopi. Sapa tau kawan-kawan yang hadir dalam club ini juga sekaligus ikut membeli kopi, hehe.
Program ini inginnya ke depan tak hanya kumpul-kumpul diskusi, tapi bisa menjadi komunitas dengan berbagai kegiatannya yang kreatif dengan berbagai produk literasinya.
Harapanya, tujuan dari program ini tidak hanya melahirkan para penulis baru, tapi juga membuka cakrawala berpikir agar terbuka kesadarannya terhadap fenomena. Dapat bersikap kritis terhadap unsur gagasan yang masuk. Sekaligus menjadi lahan dakwah kita juga dengan membangun kesadaran keislaman. Tinggal soal bagaimana mengorganisasikan program ini bisa dapat berjalan.
Memang sih, kelihatannya sudah ada beberapa komunitas kepenulisan di kota ini yang sudah berjalan. Rencana saya ini bukan untuk mengajak bersaing, tapi ingin ikut memperbanyak komunitas beginian dan ingin ikut andil dalam cita-cita yang sama. Kalau komunitas yang lain ingin memakai tempat di meracikopi juga dipersilakan.
Rencana lainnya adalah mencari usaha sampingan dari menulis. Ada rencana ingin menawarkan jasa menulis untuk instansi, yayasan, atau perusahaan yang memiliki program CSR untuk membuat buku. Tinggal mencari kawan yang bisa memasarkan jasa ini, atau memiliki link. Tim membuat buku dari konsep, penulis, desain cover, layout, hingga cetak bisa saya siapkan.
Nah, saat ini memang sedang mencari tim untuk mengeksekusi rencana ini. Jika ada kawan-kawan yang membaca ini ikut berminat bergabung silakan saja. Semoga bisa menjadi amal-amal kita untuk terus memajukan semangat literasi di negeri ini meski hasilnya tak seberapa. Karena salah satu anugerah yang diciptakan Allah Swt untuk manusia adalah harapan. Dan harapan adalah modal untuk semangat dalam kerja-kerja sebuah “proses”. Hasil biar Allah yang menentukan.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.