Selasa, 20 Juni 2017

Ingin Tetap Beramal di Literasi - Bag. 1

Akhirnya blog saya aktif lagi setelah sekian bulan berhibernasi. Sebelumnya menggunakan domain .com tapi ketika masa aktif habis saya kehabisan uang untuk memperpanjang. Hingga melewati habis masa tenggat untuk membayar perpanjangan saya lupa. Sehingga domain ridwanhidayat.com ter-disable. Untuk memperpanjang lagi mesti menunggu hingga 3 bulan. Eh, setelah lewat 3 bulan mau memperpanjang ternyata domain itu dibeli oleh registrar asing untuk di jual lagi dengan harga lebih mahal. Akhirnya saya ubah saja menjadi ridwanhidayat.id. Lumayan pas ada promo domain .id dengan harga 59ribu saja. Yang penting saya bisa mengaktifkan blog ini yang saya dirikan sejak 2006. Begitu sedikit cerita di awal.

Tapi intinya bukan itu. Blog bisa menjadi salah satu media untuk mengekspresikan tulisan kita. Sejak 3 tahun terakhir sudah agak jarang mengupdate tulisan di sini. Bukan berhenti menulis, tapi media tulisan saya sudah merambah ke berberapa media. Ada beberapa kali membantu artikel untuk Islampos.com. Menyumbang artikel ke buletin remaja di Jogja. Setahun lalu bersama beberapa kawan mencoba buat situs warta sendiri bergenre sejarah yang bernama akalsejarah.com yang akhirnya gak kuat juga untuk terus mengupdate rutin. Selain juga beberapa tulisan ringan bersifat aktual hanya di posting ke grup WA dan Facebook. Biarkan blog hanya tulisan curhat dan narsis saja. Yang serius-serius di ruang lain.

Tak hanya itu, setahun terakhir sedang menggarap naskah untuk diterbitkan di kantor lama (dulu berkerja di penerbitan). Naskah sudah masuk redaksi dan ternyata diminta revisi. Hingga kini masih sulit mencari waktu kembali merevisi karena sudah tersibukan dengan mencari sesuap emas. Bukan berarti ingin ditinggalkan, tetap ada keinginan untuk terus menyelesaikan naskah ini. Sudah banyak keluar modal waktu dan uang hingga jutaan membeli buku sebagai sumber data. Karena yang ditulis bener-bener merujuk pada data. Sayang kalau dihentikan. Hanya persoalan perbaiki manajemen waktu saja.

Dari aktivitas menulis saya ini bukan berarti profesi saya penulis. Saya memang tak ada cita-cita menjadi penulis. Apalagi mencari mata pencaharian dari menulis. Mungkin karena terlalu banyak baca (dan patah hati) membuat otak jadi terlalu banyak kata-kata. Sehingga kata-kata yang terkumpul di pikiran ingin dituangkan ke dalam tulisan dan disampaikan ke orang lain. Tidak baik memang kalau pengetahuan dipendam saja. Kalau pun suatu saat nanti bisa mendapat rupiah dari hasil menulis, semoga bisa menjadi rezeki tambahan sebagai jerih amal.

Bagi saya menulis hanyalah ruang amal untuk mengkomunikasikan gagasan dan pikiran. Untuk mencari penghasilan saya lebih suka dengan berdagang. Akademisi yang menulis, politikus yang menulis, itu sudah biasa. Tapi menjadi pedagang yang menulis itu masih jarang-jarang. Biarkan saya menjadi pedagang yang menulis. Hahaha

Soal pedagang memang sejak awal tahun ini ada peralihan profesi. 6 tahun bekerja kantoran seperti nampak ruang kreatifitas saya terkunci. 6 tahun itu juga saya tersibukan dengan rutinitas aktivitas mekanik, sehingga tanpa berpikir pun tangan terbiasa bergerak sendiri.

Bisa menjadi pedagang juga berkat permintaan ibu saya untuk pulang ke kota kelahiran ini. Dengan sedikit negoisasi halus, tak ingin kerja kantoran lagi. Tapi biarkan ingin mencari penghasilan non kantoran. Ditakdirkannya saya mengenal kopi dan membuka usaha warung kopi. Munculah merek warung kopi bernama Meracikopi.

Di masa kelahiran Meracikopi memang butuh perhatian serius. Waktu kerja gak menentu. Makan gak teratur. Tidur sengantuknya saja. 3 bulan pulang ke Balikpapan berat turun 4 kg. Waktu untuk menulis atau melanjutkan menggarap naskah juga berkurang. Sehingga menjadi tantangan saya agar menulis tetap bisa dilanjutkan. Salah satunya adalah mengaktifkan blog ini kembali. Selain juga, aktivitas menulis saya tuangkan ke social media Meracikopi yang bergaya narasi.

Sebenarnya banyak cerita menarik ditengah-tengah kesibukan berdagang warung kopi. Cerita-cerita menarik itu nanti yang ingin saya tuangkan ke dalam blog ini. Ada juga rencana ingin menghidupkan club menulis untuk adik-adik SMA dan Mahasiswa di Balikpapan yang bertempat di cafe saya. Semoga saja, tekad untuk terus beramal di literasi dimudahkan jalannya. Intinya jangan berhenti menulis saja. Trus pacu otak untuk berpikir dan bernarasi.

Bersambung..

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger