Rabu, 09 Maret 2016

Satu Menit yang Gelap

Gerhana sebagian yang berhasil saya bidik dengan Canon 550D
Niat awalnya ingin sholat Gerhana di Masjid Istiqomah, Balikpapan. Kemacetan yang panjang dari Kelandasan menuju Lapangan Merdeka tempat masjid itu berada membuat motor jalan merayap. Butuh waktu kira-kira 1 jam dari rumah (Poka, Sepinggan) hingga bisa parkir di sekitar lapangan. Padatnya manusia di sekitar lapangan juga membuat jalan kaki begitu lambat. Sampa di masjid, ternyata yang shalat penuh sekali hingga ke halaman parkir masjid. Shalat sudah mulai. Mau cari shaf jama'ah laki-laki begitu sulit menemukan jalannya. Bacaannya sholatnya juga panjang. Ada sekitar 15 menit-an di depan masjid bacaan Al Qur'an sang imam gak selesai-selesai. Berharap ada pergiliran shalat. Tapi kaki ingin terus bergerak mengambil gambar suasana keramaian.

Sengaja ingin ke Masjid Istiqomah sambil membawa 550D karena tertarik mengambil gambar keramaian di "Alun-alun"-nya Kota Balikpapan. Tidak punya kaca mata gerhana juga membuat diri urung menyaksikan gerhana. Himbauan yang pernah saya dengar di TV tidak boleh melihat gerhana dengan mata telanjang. Maka dari itu, saya datang ke lapangan merdeka hanya ingin shalat dan menyaksikan keramaian. Tapi karena kondisi yang dijelaskan di atas, shalat gerhana pun menjadi urung. Kaki tergerak melangkah ke kerumunan manusia yang ada di lapangan. Kamera mulai memainkan jepretan suasana-suasana yang menarik. "Setengah jam lagi." pekik salah satu orang dari kerumunan mengingatkan gerhana sebentar lagi.

Saya terus bergerak mengitari lapangan. Mencari gambar apapun dari sisi human interest masyarakat yang menyaksikan fenomena alam ini. Kalau ada jasa touring menawarkan paket wisata gerhana di beberapa kota, di lapangan ini masyarakat sudah menganggap sedang berwisata. Beberapa ditemukan sekempok keluarga menggelar tikar sambil membawa hidangan dari rumah. Muda-mudi hingga orang tua sibuk memainkan gadget yang diarahkan ke langit. Beberapa memanfaatkan kertas film foto untuk membatu pencahayaan kamera. Ditemukan pula beberapa kelompok orang yang membawa teleskop bak pengamat.
salah satu kelompok yang menggunaka teleskop di Lap. Merdeka
Kaki terus melangkah hingga tergerak ke tempat yang lebih ramai lagi. Di sekitar lapangan Heliped Banua Patra dan Pantai Kilang Mandiri menjadi tempat pusat acara Gerhana di kota ini. Dari suara-suara pembawa acara, hadir pula Walikota Balikpapan dan Gubernur Kaltim. Kaki memilih melangkah ke tempat itu untuk mengambil gambar suasana keramaian acara yang begitu meriah. Masya Allah, Ribuan orang memadati tempat ini demi melihat kejadian satu menit.

Di tempat ini saya memperhatikan salah satu pengunjung yang memegang kamera yang sama dengan saya. Saya lihat dari belakang, ia berhasil mendapat gambar matahari yang sudah tertutup bulan sebagian. Saya tanya saja, “Gimana mas setting manual untuk bisa seperti itu?” Lalu saya di suruh maksimalkan saja Shutter Speed menjadi 1/4000, Aperture sekitar f/20 – f/35, dan ISO 100. Maklum, saya belum begitu familiar menggunakan kamera ini. Jadi setting dengan intesitas cahaya yang berbeda perlu petunjuk. Saat itu gerhana sudah mulai sebagian. Cahaya langit sudah mulai redup. Dengan bantuan kamera ini, saya sudah bisa menyaksikan kondisi matahari yang sudah tertutup bulan sebagian. Beberapa kali juga saya jepret. Kalau dari kamera ini saja bisa melihat matahari sedang tertutup bulan, buat apa ada kaca mata gerhana. Saya jadi bersemangat ingin menyaksikan matahari yang sebelumnya merasa tidak mungkin bisa melihat.
Ribuan warga Balikpapan padati Heliped Banua Patra dan Pantai Kilang Mandiri
Orang yang saya tanya tadi juga selalu merubah komposisi aperture agar bisa mendapatkan gambar yang bagus. Saya juga ikut-ikutan mengatur, syukur-syukur bisa dapat gambar bagus saat total. Insting fotografer saya masih belum main. Belum dapat “feel” dan keahlian mengatur cahaya yang terus berubah. Kondisi matahari yang tertutup bulan seperempat, setengah, dan seperenam selalu menghasilkan intesitas cahaya berbeda-beda. Perbedaan ini yang membuat jari selalu mengatur Aperture agar mendapatkan hasil sesuai feel. Beberapa jepretan saat gerhana sebagian berhasil saya dapatkan.

Pembawa acara di tempat ini sudah memberi aba-aba, “gerhana total satu menit lagi!” begitu katanya. Aba-aba itu disertai langit yang mulai remang-remang seperti mendung. Padahal sedikit awan di langit. Hati menjadi deg-deg-an menanti kejadian, yang mungkin, hanya bisa dilihat sekali atau dua kali dalam seumur hidup. Jari terus merubah Aperture untuk melihat sejauh mana bulan menutup matahari.

Lalu langit pun menjadi gelap. “Inilah saatnya saudara-saudara suasana gelap gerhana matahari total yang hanya bisa disaksikan di tempat yang sama 350 tahun sekali.” begitu kira-kira kata pembawa acara. Gelapnya langit membuat saya gagal memainkan kamera. Cahaya dikamera menjadi gelap. Tak ada cahaya matahari yang nampak dalam layar DSLR. Saya jadi panik. Panik takut ketinggalan moment, dan panik memilih aperture yang tepat dalam kondisi cahaya yang seperti ini.
Seorang bapak yang mecoba mengabdikan dengan kamera ponselnya
Ah, muak. Saya dongkak-an saja kepala ke atas lalu melihat gerhana dengan mata. Ternyata bisa melihat secara langsung dengan mata telanjang. Saya lihat langsung tanpa peran kaca mata gerhana. Masya Allah. Sejak itu, saya melupakan kamera. Saya perhatikan suasana sekitar yang gelap seperti malam, bukan senja. Orang-orang riuh dan bertepuk tangan. Sekali lagi kepala saya dongkak ke atas melihat langsung selama beberapa detik. Saya hanya melihat sebentar seperti malu-malu takut bisa merusak mata. Tetap, selalu ingin melihat lagi, melihat lagi. Mata saya tetap tidak masalah. Bisa dilihat dengan jelas.

Saat pembawa acara tadi mengatakan sudah terjadi gerhana cincin saa kembali mendongak ke atas dan melihat. Sunguh sangat jelas. Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Pemandangan yang benar-banar cantik.

Di situlah saya baru tahu, kalau melihat langsung gerhana matahari total tanpa bantuan kaca mata atau alat pembantu lainnya tidak merusak mata. Mata bisa rusak kalau dilihatnya saat masih gerhana separo.

Hanya satu menit beberapa detik saja melihat kejadian yang rupawan nan gelap itu. Masya Allah.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger