Senin, 28 Maret 2016
Doakanlah Anak Itu
with
Tidak ada komentar
Menariknya dari membaca kehidupan para ulama adalah asal-usul keluarga. Mereka terbentuk tidak hanya bakat ataupun motivasi yang muncul dalam diri, tetapi ada peran masa lalu yang menjejak dalam tabiat. Teringat perkataan guru ngaji saya, yang kurang lebih begini: "kalian-kalian yang masih mau mengaji, mendalami agama, atau pun menjaga sholat, kemunkinan besar ada orang tua, saudara, kakek, ataupun buyut yang pernah mendoakan kalian."
Saya termasuk percaya dengan tabiat yang terbentuk dari keshalihan turun-menurun. Dalam sejarah para ulama ataupun pejuang Islam, rupanya mereka kebanyakan memiliki trah atau turunan para ulama. Sebut saja Tjokroaminoto. Pimpinan Sarekat Islam yang berhasil membuka mata para pemuda waktu itu untuk bergerak menentang penjajahan melalui gerakan moderen masih satu garis turunan dari Kiyai Agung Kesan Besari. Kiyai ini merupakan tokoh ulama dari pesantren Tegalsari, Ponorogo. Hidup sejaman dengan Pangeran Diponegoro. Ada yang menganggap masuk generasi 10 walisongo. Tjokroaminoto sendiri, meski mendapat pendidikan sekolah Belanda, pernah mendapat pendidikan agama di pesantren milik kakek canggahnya ini, sehingga membentuk sikap keislamannya dalam perjuangan di Sarekat Islam.
Cerita menarik juga ada pada kisah Agus Salim. Seperti yang pernah saya tuliskan di sebuah media, Agus Salim adalah anak didik Belanda yang pernah mengalami sikap agnostik, yaitu tak percaya pada satu agama pun. Didikan sekolah Belanda membuatnya berpikir rasioanalis-empiris sehingga tak percaya pada sesuatu yang tak masuk akal. Kewajiban agama pernah ia tinggalkan. Ia menemukan hidayahnya ketika bekerja di Jeddah dan berhasil bertemu dengan pamannya yang seorang Imam Besar Masjdil Haram sekaligus Mufti Mazhab Imam Syafii. Pamannya bernama Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Hidayah itu tak lepas dari peran ibunya yang meninggal beberapa bulan sebelum akhirnya memutuskah berangkat ke Jeddah. Ibunya memaksa agar Agus Salim mau menerima tawaran pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja sebagai konsulat di Jeddah agar bisa bertemu sang paman dan mendapatkan pendidikan agama. Meski tak diceritakan, saya yakin, ada doa ibu dan doa sang paman yang merubah jalan hidup Agus Salim. Ia memang tidak dikatakan sebagai ulama, tetapi dianggap sebagai intelektual muslim di kalangan Islam Mordenitas yang berhasil menyelamatkan beberapa pemuda didikan sekolah Belanda agar tak jauh dari Islam. Para pemuda itu terkumpul di organisasi Jong Islamiten Bond (JIB) yang kelak para pemuda ini menjadi pejuang politik Islam di Partai Masyumi.
Agus Salim memang turunan para ulama dari Gerakan Padri di Minangkabau. Berasal dari Ulama berpaham Wahabi bernama Tuanku Nan Rancak. Tuanku Nan Rancak memiliki anak perempuan bernama Limbak Urai yang dinikahkan dengan Abdulatif Khatib Nagari. Pernikahan ini melahirkan diantaranya Ahmad Khatib, yang jadi Imam Masjidil Haram tadi. Lalu anak lainnya bernama Sutan Muhammad Salim, adalah ayah dari Agus Salim.
Sama halnya dengan Haji Abdul Malik Kalim Amrullah atau HAMKA, ia juga turunan dari ulama yang pernah terlibat Gerakan Padri. Tuanku Pariaman yang merupakan salah satu panglima perang Tuanku Imam Bonjol memiliki putra bernama Abdullah Saleh yang menjadi ulama di Nagari Danau Maninjau. Abdullah Saleh melahirkan anak bernama Muhammad Amrullah. Muhammad Amrullah ini pernah belajar ke Mekkah bersama Ahmad Khatib, hanya saja Ahmad Khatib menetap di Mekkah sedangkan Muhammad Amrullah pulang ke Minangkabau. Salah satu dari anak Muhammad Amrullah adalah Abdul Karim Amrullah atau nama kecilnya Muhammad Rasul. Dikenal juga dengan sebutan Haji Rasul. Haji Rasul merupakan murid istimewa dari Ahmad Khatib ketika dikirim orang tuanya belajar di Makkah. Haji Rasul ini yang mempunyai putera bernama Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka.
Dalam cerita otobiografi Hamka di Kenang-kenangan Hidup jilid 1, ia sempat mengalami konflik dengan sang ayah karena tak suka dengan cara mengajar yang keras. Masa anak-anak hingga remaja ia dikenal sebagai anak nakal yang selalu membuat resah kampung. Ayahnya punya cita-cita besar untuk menjadikan si anak itu ulama seperti dirinya dan kakek-buyut. Sekolah-sekolah agama yang ada di Padang Panjang hingga Parabek, Bukittinggi, dimasuki namun tetap saja ia tak tertarik sama sekali dengan pelajaran-pelajaran agama. Haji Rasul sampai batas pasrahnya kalau Hamka kexil itu sudah tak bakal menjadi ulama.
Kata Hamka, orang tuanya itu tak menyelami jiwa dirinya. Hamka berada di jaman dimana kemodernan mulai merasuk. Hiburan budaya barat seperti roman dan bioskop sudah masuk menjangkit kehidupan anak muda. Ia ikut terpesona dengan budaya itu. Ia lebih tertarik membaca roman daripada kitab-kitab nafwu, fikih ataupun hadist. Tapi ada yang membuatnya lebih tertarik, yaitu dunia pergerakan yang ada di Jawa. Dengan alasan belajar agama, ia di izinkan sang ayah mengembara ke Jawa. Ketika di Yogya, Hamka masuk Sarekat Islam dan ikut kelas pengkaderannya. Ia mendapat pelajaran dari Tjokroaminoto langsung.
Rupanya, pemimpin Sarekat Islam ini membuka mata Hamka. Ia menemukan, "Islam yang hidup" dari Tjokroaminoto. Sejak itu, Hamka mulai serius mempelajari agama ini dengan cara yang baru. Ia juga mengembara ke Mekkah tanpa sepengtahuan ayahnya. Sejak pulang dari Mekkah dan mendapat gelar Haji, sejak itu juga Haji Rasul mulai mempercayai anaknya akan melanjutkan misi ke-Ulama-an dirinya. Di masa dewasanya, anak itu benar-benar menjadi Ulama yang berpengaruh di negeri ini melanjutkan trah nenek moyangnya. (Insya Allah akan saya kisahkan tentang Hamka).
Agus Salim dan Hamka ada kesamaan, yaitu sama-sama merasakan jumud dari didikan agama yang pernah diperolehnya. Tapi, sudah jadi kehendak Allah, ada keputusan hidup baik secara keterpaksaan maupun kemauan sendiri yang merubah jalan hidup mereka. Ada doa dari orang tua yang menghendaki anaknya bisa kembali ke jalan yang benar.
Agus Salim dan Hamka hanya salah satu contoh dari berbagai kisah tokoh lainnya yang berhasil menjadi perjuang Islam karena doa. Saya punya keyakinan, para ulama dan tokoh-tokoh pejuang Islam hadir dari sebuah doa. Sebab, doa yang bisa merubah takdi seseorang. Adalah doa yang menjadikan cita-cita menjadi sebuah kenyataan. Seperti kata guru ngaji saya tadi, ada doa yang membuat kita masih mau mempelajari agama ini.
Mendoakan orang lain, entah orang tua, anak, saudara, teman, dan yang tak kenal sekali pun memang merupakan sunnah dalam agama ini. Teringat hadist yang menjelaskan bahwa mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan termasuk doa yang mustajab. Hadist ini memberi semangat bahwa perlu sekali mendoakan orang-orang yang seperti kita anggap memiliki sikap buruk yang sudah tak bisa diperbaiki lagi.
Bagi saya, mendoakan anak-anak kecil yang kita temui bisa menjadi cara nyata untuk merubah negeri ini menjadi negeri yang lebih baik di masa depan. Apalagi anak-anak itu lahir di keluarga yang belum memegang erat agama, siapa tau doa yang kita berikan merubah masa depan anak itu. Kalau semakin banyak anak-anak kecil masa ini kita doakan, Insya Allah di masa depan nanti akan semakin banyak orang-orang shalih yang bisa merubah negeri ini menjadi lebih baik.
Jadi, kalau bertemu anak kecil, baik anak sendiri, anak saudara, atau anak orang, tak hanya menggemasi kelucuannya saja, tapi doakanlah anak itu menjadi orang yang shalih.

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.