Sabtu, 09 Juli 2016

Ustad, benarkah Bumi Itu Datar?


Tidak. Saya tidak bermaksud membahas perosalan bumi itu datar atau bulat yang sedang ramai diperbincangkan. Judul ini hanyalah sebuah pertanyaan retorik yang sama halnya dengan pertanyaan pada judul tulisan Ustad Salim A. Fillah ‘KAPAN NIKAH?’. Pertanyaan yang sama-sama tak mudah di jawab. Sama seperti Ustad Salim, tulisan saya ini juga tak ada hubungannya dengan judul. Tapi ingin mencoba menanggapi tulisan Ustad itu. Semoga juga berkenan menjadi bacaan hiburan seperti indahnya balon-balon sabun yang hanya muncul sesaat.

Persoalan menikah tak selamanya harus dibawa ke wilayah idealis. Kalau mau pakai ke pendekatan empati, ada banyak alasan kenapa para kalangan muda menunggu mapan. Mapan di sini juga perlu didefinisikan atau diberi batasan tingakatan mapan itu. Mapan bukan persoalan harus punya mobil atau rumah dulu. Tetapi ke hal yang paling realistis: biaya acara pernikahan atau memiliki pekerjaan dengan gaji layak. Banyak kawan yang lebih memilih mapan dulu dengan mencoba mengisi tabungan, atau mendapat pekerjaan layak, dalam hal ini mencoba realistis: menikah itu butuh dana!

Ke-Maha Luar Biasanya Allah Swt itu menciptakan manusia dari suku, lingkungan, cara pandang, cara berpikir, cara berkembang, dan cara berbudaya yang berbeda-beda. Banyak juga dikalangan anak muda yang setuju dengan tulisan Ustad Salim itu tapi sulit lepas dari tekanan lingkungan. Ada yang bisa menyelenggarakan pernikahan dengan biaya seadanya karena lingkungan mendukung. Tetapi ada juga yang setengah mati untuk berkompromi dengan lingkungan atau kehidupan budaya keluarganya.

Pemuda yang memilih mapan bisa jadi salah satu alasannya tak berani membuat acara pernikahan seadanya karena berusaha tetap ingin menjaga silaturahmi ke para saudara, kerabat, tetangga, teman, dst dengan menyugguhkan acara yang bisa menaungi mereka dengan biaya tidak sedikit. Bisa juga, karena alasan tak mau membebani orang tua, sehingga lebih memilih biaya sendiri. Kalau mau pakai pendekatan empati, jangan kutuki mereka-mereka itu. Allah punya cara untuk menguji hamba-Nya. Lalu diberikan petunjuk sesuai kapasitas hamba-Nya. Beruntunglah kalian yang mampu berbiaya murah.

Sama halnya ketika ada seorang akhwat yang menolak lamaran ikhwan miskin lalu lebih memilih ikhwan mapan. Jangan kau kutuk akhwat tipe seperti itu wahai ikhwan-ikhwan miskin. Itu adalah hak mereka yang harus dihormati. Ada alasan realistis yang mengalahkan logika otak-otak idealis. Doakan saja, semoga pilihan itu tetap membawa kebarokahan bagi hidupnya dan tetap melahirkan generasi-generasi pejuang. Karena Allah lebih memilih bunga-bunga indah itu disemai di kamar nyaman yang tak mampu para ikhwan miskin lakukan. Bisa jadi, ikhwan mapan itu lebih sholeh, lebih penyabar, dan lebih penyayang dari kita, eh kalian maksudnya. Bisa jadi loh, soal kemungkinan saja.

Ada seorang kawan gagal melamar gadis Jawa Barat lantaran tak sanggup memenuhi besaran mahar yang diminta. Meski kecewa karena tak berhasil dalam negoisasi, saya salut ia tetap menghormati keputusan itu karena alasan pihak keluarga perempuan yang tak sanggup menghadapi tekanan budaya di lingkungan keluarga besarnya. Persoalan ini kembali lagi bahwa Allah menciptakan manusia sesuai kapasitas.

Jadi, para ikhwan-ikhwan miskin, janganlah kau kutuk gadis bermahar mahal itu. Karena Allah menginginkan bunga-bunga berharga mahal itu dibeli oleh orang yang mampu menjaga barang mahal. Bisa jadi, ikhwan yang sanggup memenuhi besaran mahar itu ternyata lebih sholeh, lebih penyabar, dan lebih penyayang dari kalian para ikhwan miskin. Menikah dengan mahar murah belum tentu meninggal dengan keadaan mulia. Bisa jadi. Ini soal kemungkinan. Jadi jangan GR dulu kalian para akhwat bermahar mahal. Kalau memegang kemungkinan saya ini, bisa jadi juga Anda justru mendapatkan ikhwan kaya yang ternyata gila kerja sehingga membuat kalian jarang diperhatikan. Masa depan itu soal kemungkinan.

Tidak ada maksud menafikan kepada kalian yang berani menikah tanpa harus mapan dahulu. Apa yang dituliskan Ustad Salim benar apa adanya. Tetapi, argumen-argumen subyektif tanpa data riset/statistik yang pasti (hanya perkiraan) kadang juga belum tentu pembenaran.

Banyak juga yang memulai pernikahan dalam kondisi mapan mampu berumah tangga dalam semangat perjuangan. Tak semua anak-anak yang dibesarkan dalam suasana mapan menjadi manja. Bisa jadi, anak-anak ini bisa mendapat pendidikan yang lebih tinggi sehingga sumber dayanya dibutuhkan; dokter misalnya. Hampir sebagian besar para dokter itu hadir dari keluarga yang mapan. Saya ada teman seorang dokter, lahir dari keluarga mapan, tapi jiwanya sosial sekali. Kekayaan keluarganya sudah lebih cukup memenuhi kebutuhan hidup, tak mendapat bayaran setelah mengobati pasien tak berduit tak masalah baginya.

Fakta historis menunjukkan para agen-agen perubahan dalam suatu negeri hadir dari kelangan kelas menengah (mapan), atau kelas yang sudah tak memikirkan lagi besok mau makan apa. Negeri ini merdeka dari para pejuang yang sebagian besar adalah kalangan ningrat atau pun kalangan yang orang tuanya adalah para pegawai negeri kolonial (kelompok mapan). Ada juga dari para saudagar muslim kaya. Karena kalangan ini adalah mereka-mereka yang anaknya berkesempatan mendapat pendidikan sehingga menjadi modal membangun kesadaran nasional. Nampak, ruh pejuang tidak hanya lahir dari keluarga tak mapan saja. Keluarga mapan pun juga bisa. Hanya soal probabilitas atas takdir Allah. Belum tentu rumah tangga tanpa kemapanan bisa melahirkan semangat perjuangan. Jika disimpulkan, lahirnya generasi perjuang bukan soal kemapanan pernikahan.

Sekali lagi, masa depan itu soal kemungkinan. Apa pun pilihan dalam hidup, selama semuanya karena Allah, Allah yang akan menjamin kehidupan masa depan. Yakinlah pada ayat: la yukallifullahu nafsan illa wus'aha.

Tak maksud membantah Ustad Salim, karena siapalah saya. Tulisan beliau hanyalah sebagai pertimbangan dan motivasi bagi para ikhwan miskin. Lalu saya mengambil sudut pandang lain. Juga tak bermaksud membela para orang-orang memilih jalan mapan, apalagi membela diri sendiri, ups. Tak sedikit orang-orang mapan itu sebenarnya memiliki kehidupan yang memuakan juga.

Tulisan saya ini juga tak bakal sepopuler tulisannya. Saya hanya seperti balon-balon sabun yang muncul sementara sekedar hiburan anak-anak lalu hilang di udara entah kemana. Atau kalau dianalogikan, bisa jadi posisi saya seperti kelompok penyanggah bumi itu bulat (Flat Earth Society) yang akan banyak tak sependapat. Entah bulat atau datar, yang jelas posisi saya bimbang.

Tapi sekali lagi, hanya mengambil posisi empati (diantara kemungkinan-kemungkinan) seperti sikap empati Ustad Salim yang telah membelikan saya baju koko lebaran setelah lebih dari 5 tahun tidak membeli baju lebaran. Jazakallah Ustad, semoga tahun depan dibelikan lagi. Amin.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger