Senin, 15 Februari 2016

Pesona Gerhana Matahari Total

Gambar: blog.detik.com

Memang, pesona itu selalu dicari. Kehadirannya langka. Jika ia muncul, ada rasa ingin dekat, merasakan, memandang, ataupun menyentuh. Meski kehadiran bisa diramalkan, namun ada kehendak diluar kemampuan manusia untuk mengendalikan kehadirannya. Adalah Gerhana Matahari Total, atau kita sebut GMT, pesona yang akan hadir di Indonesia itu. Iya, hanya hadir di Indonesia dan sebagian wilayah pasifik bagian barat. Tidak ada di negara lain. Kehadiran yang sudah ditunggu bertahun-tahun oleh pecintanya.

Memang, pesona itu hadir dalam gerakan hukum kausalitas. Bergerak dalam hukum-hukum alam yang teratur secara sempura. Kita yang berada di dalam kausalitas alam itu merasakan hasil geraknya. Ada siang, malam, musim, dan waktu. Namun, ada satu waktu dimana gerakan itu diluar kebiasaan keseharian manusia. Bukan menyimpang, tetapi struktur tetap yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu, yaitu suatu posisi bulan yang menutup cahaya matahari di sebagian wilayah bumi. Manusia menyebutnya fenomena. Di peradaban manusia yang berpikir, di sinilah ilmu pengetahuan bekerja. Fenomea menjadi ilmu pengetahuan. Karena berada pada hukum kausalitas yang pasti, fenomena tersebut dapat dihitung untuk diprediksi kehadirannya. Kausalitas, ilmu pasti, dan takdir menjadi kesatuan ilmu pengetahuan. Disitulah pesonanya, yang hadirnya langka. Fenomena itu kini berubah menjadi wisata. Lebih tepatnya wisata berburu gerhana.

Dalam sejarahnya pun, sebagian kalangan manusia sudah mentradisikan berburu Gerhana Matahari. Cara berburu gerhana yang unik pernah dilakukan pada Juni 1973. Seperti yang diberitakan detik di sini: Berburu Gerhana Sudah Mentradisi Sejak 1851, sebuah pesawat jet Concorde dimodifikasi khusus di bagian atas dengan dibuat jendela atap sehingga bisa melihat langit di atas dari dalam kabin. Lalu pesawat tersebut terbang dengan kecepatan 2.400 km/jam di ketinggian 17.000 meter dengan mengejar gerhana. Dengan kecepatan itu, pesawat bisa terus berada di daerah GMT yang gelap selama 74 menit.

GMT yang akan terjadi pada 9 Maret 2016 di beberapa bagian Indonesia bakal menjadi tempat pemburu gerhana. Berbagai media memberitakan tempat-tempat penginapan habis di booking para wisatawan. Bisa dikatakan, ini menjadi keberuntungan bagi Indonesia. Peningkatan pendapatan dari pariwisata bakal naik. Semoga saja, pemerintah mampu memfasilitasi para pemburu gerhana itu dengan baik.

Saya pun akhirnya terikut histeria GMT. Meski bukan pecinta dunia astronomi, bisa menyaksikan GMT, baik melihat matahari tertutup bulan dengan menggunakan alat atau hanya menyaksikan suasana remang-remangnya, menjadi sebuah keinginan tersendiri. Ini langka. Pesona GMT ini harus diburu. Seumur hidup pun belum tentu bisa melihat. Bisa menyaksikan fenomena ini bakal menambah catatan sejarah hidup kita.
Gambar: news.detik.com
Ah, ternyata pesona itu tertakdirkan di Balikpapan. Kota kelahiran saya dan tempat tinggal orang tua berada di kota ini. Balikpapan menjadi salah satu kota yang akan dilewati bayangan bulan yang menutupi matahari. (Baca: Aneka Acara Seru Sambut Gerhana Matahari di Balikpapan) Rencana pulang kampung menjadi agenda pada Maret nanti. Saya tak ingin ketinggalan menjadi bagian dari para pemburu gerhana. Pemburu yang tak hanya ingin menyaksikan tetapi juga ingin menjalankan sunnah Nabi Saw ketika terjadi gerhana, yaitu Shalat Gerhana.

Di dalam Islam, di sunnahkannya shalat saat terjadi gerhana bukan sebuah masalah takhayul atau mistis. Tetapi, ini adalah bentuk zikir, yaitu pengingat dan penghambaan atas kebesaran Allah Swt. Hukum alam terjadi tak lepas dari kehendak Tuhan yang Maha Kuasa. Fenomena itu tak hanya disikap dengan memahami kebenaran secara empiris, tetapi dengan ajakan ibadah sebagai upaya untuk mendapatkan proses iluminasi yang sifatnya abstrak metafisik. Artinya, sikap penghambaan dan penganggungan terhadap Tuhan secara tak langsung akan berefek pada sikap kita terhadap alam. Bagaimana berperilaku pada alam, dan sikap bijak pada alam.

Itulah mengapa, kausalitas alam, takdir, dan ilmu pengetahuan tak bisa dilepaskan dari agama. Jika lepas, pemburuan fenomena alam ini terasa lepas makna. Ada hakikat yang hilang. Dalam kasus lain, ilmu pengetahuan yang lepas dari agama, akan kehilangan nilai spiritual yang mampu menjaga sikap bijak terhadap alam. Ilmu pengetahuan yang tak ada pengaggungan terhadap Tuhan, sifatnya hanya menjadi tujuan-tujuan materi yang cendrung mengarah kerusakan (alam dan sosial). Maka, pesona GMT akan semakin mempesona jika spiritualitas menjadi bagian para pemburu gerhana.

Sebenarnya jika ada modal lebih, ingin saja mengunjungi tempat seperti Ternate dan Belitung yang waktu gerhana totalnya lebih dari 2 menit. Sayangnya, modal si pemburu ini hanya sanggup ke Balikpapan saja. Semoga kita terus menjadi orang-orang yang bersyukur atas hadirnya Pesona milik Allah Swt yang Maha Agung ini.

Selamat berburu Gerhana Matahari Total.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger