Rabu, 17 Februari 2016

Gara-gara Media Mengedukasi Soal Gerhana

Gambar: blog.detik.com

Gerhana Matahari Total atau kita singkat saja GMT memang mempesona. Itulah mengapa di tulisan pertama saya menulis Pesona Gerhana Matahari Total. Rasa terpesona itu tak lepas dari histerianya para media yang memberitakan fenomena alam yang akan terjadi pada 9 Maret 2016.

Memang, media kita sering sekali memberitakan kejadian secara histeris, seperti kasus politik, hukum, bencana, dan isu sosial lainnya. Bertubi-tubi kabar dijejali ke konsumen media, terkadang sampai pusing melihatnya. Berbeda dengan histeria GMT, justru semakin dibaca semakin memikat dan menambah pengetahuan. Saya yang awalnya kurang tertarik masalah antronomi jadi terpikat. Saya jadi ikut-ikutan histeris!

Beruntungnya, media kita yang hadir di masyarakat yang kebanyakan masih memegang erat tradisi lokal yang penuh mitos dan tahayul tak terbawa arus pemahaman tersebut. Justru berupaya mengedukasi kita agar melihat fenomena alam ini secara rasional. Beberapa pengetahuan baru saya dapatkan selama mengikuti pemberitaan GMT dari media-media mainstream.

Contohnya soal pembuktian teori relativitas umum Einstein. Menjadi menarik karena salah satu cara untuk membuktikan pembelokan cahaya bintang yang melewati benda bermassa besar sebagai impikasi dari teori relativitas Einstein adalah saat terjadi gerhana matahari. Inilah sebuah pelajaran fisika yang tak luput dibahas oleh media jelang GMT. Seperti yang saya baca di Koran Kompas, 17 Februari 2015, fisikawan Athur Eddington mencoba membuktikan teori tersebut ketika terjadi GMT pada 1919. Para peneliti akan melihat besarnya pergeseran cahaya dari posisi cahaya bintang ketika berada di belakang matahari saat terjadi GMT dengan cahaya bintang ketika tidak ada matahari. Ternyata teori tersebut terbukti. Sejak saat itu, setiap terjadi gerhana para peneliti selalu mencoba mengukurnya. Baca juga: Gara-gara Einstein, Gerhana 1929 di Indonesia Diburu.

Melalui corong media juga, masyarakat diajak untuk meneliti alam, tidak hanya melihat keindahan bentuk matahari dan bulan, tetapi juga fenomena lainnya saat bertepatan GMT berlangsung. Seperti berita menggelitik ini: Ketika Kelelawar Terkena Jebakan Gerhana. Mungkin pada masa lalu, di peradaban yang penuh mitos, orang-orang akan mengira perubahan perilaku hewan tersebut merupakan tanda-tanda mistis sebuah kabar buruk, misalnya. Tetapi kini, para ilmuan kita ingin mengajarkan bahwa hal itu merupakan masalah ilmu pengetahuan. Berkat media ini juga saya baru tahu, jika kelelawar itu bisa kena jebakan batmen, eh, jebakan gerhana. Sebagai hewan malam, sudah kebiasaan jika mereka bakal keluar dari rumah ketika sudah tak ada cahaya. Begitu saat GMT berlangsung, hilangnya cahaya membuat kelelawar keluar kandang. Ternyata tiba-tiba hanya beberapa menit saja alam terang kembali. Di sinilah para peneliti, entah mencari moment lucu atau melihat keunikan, akan mempelajari hewan tersebut yang sudah terlanjur keluar rumah ketika matahari nampak. Ini sebagai salah satu contoh fenomena efek GMT, masih banyak kasus lain yang menarik diketahui dari berbagai pemberitaan media.

Tak hanya berita edukatif, yang lebih menarik lagi hingga saya ikut-ikutan berpartisipasi ketika detik.com menyelenggarakan kontes Laskar Gerhana. Kontes ini berhadiah perjalanan wisata gerhana matahari ke Belitung dan Ternate. Baca : Ribuan Pembaca Detikcom Ikut Kontes Laskar Gerhana Matahari Total. Kontes ini bagi saya salah satu cara edukatif media untuk lebih melihat fenomena alam secara ilmiah. Juga, menjadi bukti bahwa GMT tak perlu ditakutkan seperti GMT yang pernah terjadi pada 1983. Entah mengapa, ketika GMT yang melewati Pulau Jawa pada 1983, pemerintah melarang masyarakat untuk keluar rumah dan melakukan berbagai aktivitas mendidik. Padahal, banyak orang asing yang kebanyakan adalah ilmuan datang ke negeri ini untuk mengamati. Berbeda dengan saat ini, masyarakat justru diajak untuk mengamati sambil berwisata.

Di dalam Islam sendiri juga tak menjadikan GMT sebagai mitos. Dalam sebuah riwayat, kebetulan saat terjadi GMT di tanah Arab pada masa hidup Rasulullah Saw, anak beliau yang bernama Ibrahim meninggal. Orang-orang Arab ketika itu menduga-duga munculnya gerhana karena meninggalnya anak Rasulullah. Tapi Rasulullah sendiri melarang, "Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena meninggalnya seseorang. Tetapi, keduanya adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah." sabda beliau seperti yang disampaikan Abu Masud yang kemudian ditulis di dalam Shahih Bukhari Bab Kitab Kusuf hadits nomor 548.

Lalu Rasullulah mengajak untuk Shalat Sunnah Gerhana sebagai bentuk dzikir pengaggungan atas kebesaran Allah. Alasan shalat gerhana ini juga saya singgung di tulisan Pesona Gerhana Matahari Total.

Meski pada saat itu (mungkin) belum ada pengetahuan untuk memprediksi akan munculnya gerhana, umat Islam sudah mengenal pengetahuan tentang peredaran bulan dan matahari. Buktinya adalah digunakannya peredaran bulan sebagai penanggalan Hijriah, meski saat itu peradaban Romawi sudah menggunakan kalender masehi berdasar peredaran matahari. Mereka sudah mengerti bahwa GMT hanyalah fenomena alam yang pasti terjadi karena efek peredaran bulan dan matahari. Sebagai bukti juga, Agama Islam sejalan dengan ilmu pengetahuan yang mengedepankan rasionalitas.

Semoga, kawan-kawan yang membaca tulisan saya ini juga tertarik mempelajari ilmu pengetahuan dalam fenomena GMT. Jangan lewatkan event karya kebesaran Allah swt ini, karena akan mampir lagi ke Indonesia tahun 2023. Selamat berburu Gerhana Matahari Total.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger