Adalah Dr. Soekiman Wirjosandjojo sang tokoh Masyumi itu. Sayang, namanya tak begitu
populer di buku-buku sejarah pelajaran sekolah. Sama halnya dengan Natsir,
perannya dalam sejarah kemerdekaan begitu besar. Tapi bagi generasi sekarang,
hanya segelintir orang yang mengenal perjuangannya.
Mempelajari tokoh-tokoh Masyumi dan Sarekat Islam menjadi suatu yang
menarik, setidaknya buat saya untuk setahun ini. Sudah satu tahun ini
kegemaran mencari buku-buku para tokoh Masyumi dan Sarekat Islam saya lakoni. Kebanyakan
adalah buku-buku terbitan lama, antara tahun 1950an hingga 1980an, tahun dimana mereka masih hidup. Jangan
dikira buku-buku tersebut dibeli dengan harga kiloan, justru semakin populer si
penulis atau tokoh yang dibahas, harga akan semakin mahal meski buku tersebut sudah
menguning dan kondisi jilid yang sedikit rapuh. Dari penghasilan yang saya
peroleh, belanja buku-buku ini seperti belanja barang
sekunder atau tersier meski saya anggap sebagai sesuatu primer.
Kembali lagi,
Proses berislam para tokoh Masyumi dan Sarekat Islam adalah cerita yang menarik. Mereka adalah hasil didikan sekolah-sekolah
Belanda. Bukan dari didikan lingkungan tradisonal seperti pesantren-pesantren
dan surau. Masa remaja mereka hidup lingkungan yang mengajarkan budaya barat
dan mordernisme. Tapi lingkungan itu tak membuat mereka hanyut seperti kalangan
tokoh lain yang akhirnya memilih berjuang di jalan Nasionalis Sekuler. Mereka
tetap memilih bahwa Islam adalah jalan perjuangan mereka. Ini yang menarik
mengapa saya ingin mencari Ketua Masyumi pertama itu yang adalah Dr. Soekiman.
Dari beberapa tokoh inti Sarekat Islam hingga Masyumi, literatur tentang
Soekiman masih sulit saya akses. Kumpulan tulisannya yang dibukukan ke dalam
judul Wawasan Politik Seorang Muslim Patriot saya temukan secara tak sengaja.
Awalnya agak berat membeli buku itu dengan harga Rp 75.000, tapi mau
gimana lagi, belum ada lapak buku langganan yang menjualnya. Begitu melihat ada
yang menjualnya di facebook dengan harga Rp 115.000, saya merasa beruntung.
Kemudian sedikit menyesal ketika ada kawan yang juga mendapatkan dengan harga
sekitar Rp 40an ribu.
Buku Wawasan Politik Seorang Muslim
Patriot merupakan kumpulan tulisannya sejak era tahun 1923 saat ia menjadi
pengurus Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, hingga tahun 1969. Bisa kita
saksikan, dengan latar belakang seorang dokter, kualitas wacana politik dan
pemikiran Soekiman di buku ini yang tak kalah dengan Natsir, Soekarno dan
Hatta. Berbeda sekali dengan tokoh-tokoh partai politik saat ini yang
kebanyakan muncul dari kalangan pebisnis oportunis ketimbang aktivis ideologis.
Tak hanya soal wacana politik, wacana keislaman juga tak kalah. Dia juga turut
andil dalam memperjuangan Islam menjadi dasar negara di sidang BPUPKI.
Membaca tulisannya saja tak cukup puas. Ketika saya mendalami pemikiran
dan wacana yang dimiliki para ulama maupun tokoh, saya berusaha untuk tak
meninggalkan kisah bagaimana sang tokoh atau ulama tersebut memperoleh proses
pengetahuannya. Siapa gurunya. Bagaimana lingkungannya. Apa latar belakangnya.
Hingga, apa motivasinya. Pertanyaan-pertanyaan ini yang belum saya dapat dari
Pak Dokter. Kata Mohamad Roem, kalau di Masyumi ada disebut nama Pak Dokter itulah
panggilan akrab Soekiman, meski juga banyak dokter di Masyumi.
Berbeda dengan pimpinan Masyumi seperti Natsir, Roem, Sjafruddin, Kasman
atau Prawoto yang berawal dari Jong
Islamites Bond/JIB (kecuali Prawoto, kisah-kisah mereka sudah pernah saya
tuliskan untuk IslamPos.Com), karir pergerakan Soekiman bermula dari Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia
Belanda), yaitu perkumpulan para pelajar
dan mahasiswa pribumi yang sedang bersekolah atau kuliah di negeri Belanda.
Tahun 1923 ia memimpin perhimpunan tersebut. Salah satu staf kepengurusannya adalah Mohammad Hatta yang kelak nanti menjadi tokoh Proklamator
dan Wakil Presiden.
Di masa kepemimpinannya terjadi perubahan revolusioner, yaitu merubah
nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan
Indonesia/PI). Inilah organisasi pertama di muka bumi yang menyebut nama
Indonesia sebagai sebuah tempat, tanai air, atau asal mereka. Berbondong-bondong
di tanai air mengikuti jejak perhimpunan ini untuk menggunakan nama Indoesia;
seperti Partai Sarekat Islam Indonesia/PSII (Sebelumnya hanya Partai Sarekat
Islam/PSI), di tahun 1925 kepanduan JIB yang didirikan Kasman juga menggunakan
nama Indonesische (NATIPIJ: Nationale
Indonesische Padvedrij), kemudian Soekarno mendirikan Partai Nasionalis
Indonesia, hingga terikrar pernyataan sebagai “Bangsa Indonesia” di Kongres
Pemuda II tahun 1928 yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Selesai sekolah di negeri Belanda lalu pulang ke tanah air, ia
tidak bergabung dengan kelompok Nasionalis Sekuler seperti teman-temannya yang
lain. Ia lebih memilih bergabung ke PSII dan sempat menjadi salah satu
pimpinannya. Perpecahan didalam tubuh PSII membuatnya memilih keluar dan mendirikan
Partai baru yang diberi nama Partai Islam Indonesia/PII.
Ketika Masyumi berdiri di bulan November 1945, Soekiman dipilih menjadi
Ketua Umum yang juga Ketua pertama partai politik satu-satunya aspirasi umat
Islam. Di tahun 1951-1952 menjabat Perdana Mentri menggantikan Natsir.
Berpendidikan tinggi di negeri Belanda tapi memilih bergabung dengan
gerakan Islam menjadi pertanyaan saya, apa alasan dan motivasi Soekiman.
Bagaimana latar belakangnya? Lanjut pertanyaan-pertanyaan seperti yang sudah
saya sebutkan di atas. Kalau kisah seperti Tjokroaminoto, Agus Salim, Natsir dsb, sudah banyak dituliskan di buku-buku yang beredar, tapi bagaimana dengan Soekiman? Sudah hampir satu bulan ini saya terus mencari Soekiman.
Mencari buku biografinya. Tapi hasil masih nihil. Kalau ada kawan-kawan ada
yang tahu mohon bantuan informasinya.

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.