Sabtu, 05 Desember 2015

Merawat HAMKA


Koleksi yang baru dimiliki

Bisa dekat dengan orang-orang shalih itu kerinduan. Rindu bahwa ada dunia yang tak ada ketamakan. Ada dunia yang jauh dari bahasa kemunafikan. Bukan berarti orang-orang shalih itu ma’shum, tetapi ada dunia dimana kita bisa dekat dengan bahasa qalbu yang mengisi ruang-ruang kekosongan jiwa. Meski secara badaniah tak bertemu, ada susunan bahasa yang terangkai dalam kitab-kita ilmu mengajarkan bahwa rindu pun bisa dilepas dengan tulisan para ulama. Hamka menjadi salah satu sosok yang kita rindukan di era gadget ini.

Islam berumur panjang karena ada generasi yang selalu merawat pikiran-pikiran para ulama. Setiap ulama pun lahir pada konteks jaman yang berbeda. Dari Imam syaf’i, Hambali, Hanafi, Gazali, Ibnu Taimmiyah, hingga ulama besar dunia abad 19 yang berasal dari Nusantara, yakini Ahmad Khatib, juga lahir dari dunia yang berbeda. Namun, semuanya tak ada yang berbeda dalam urusan ushul. Semua itu dijaga karena dirawat.

Begitu juga Hamka, ia lahir di era perubahan dunia yang begitu cepat. Ia lahir di masa kolonialisme dan orang-orang yang sedang terbuai kagum dengan modernitas. Dialah ulama peralihan jaman yang dihadirkan Allah Swt di negeri ini untuk mengantarkan masa klasik ke masa modern. Ramuan fikih kotemporer menghiasi tulisan-tulisannya yang tak kalah merdu dengan balada melayu di jamannya. Tak heran, ketika dimasanya hidup, begitu banyak tamu berkunjung untuk mempertanyakan masalah hidup mereka. Pada ulama-lah ada jawaban yang mampu mengisi jiwa.

Ulama seperti Hamka menjadi kerinduan. Rindu untuk dekat dengan pikirannya. Rindu mengetahui bagamana ia hidup hingga menjadi sosok yang begitu dirindukan. Maka rindu pun harus dilepaskan dengan merawat. Merawat pikirannya. Merawat kisah hidupnya. Disitulah cara saya merawat dengan berikhtiar mengumpuli jejak naskah Hamka dalam balutan jilid.

Mencari karya Hamka tidak mudah. Waktu dan materi begitu terkuras. Waktu untuk menggali informasi, lalu materi untuk memperoleh. Terutama lagi waktu untuk membacanya. Kemudian waktu saya bisa menuliskan kembali pikirannya agar bisa dirasakan oleh kalian-kalian yang (mungkin) tak peduli cara untuk merawat ulama.

Memang secara materi, buku-buku lama nan langka begitu mahal. Kalau menemukan lapak buku yang baik hati bisa saja kita menemukan harga yang bersahabat. Tapi jika benar-benar kita menginginkan buku tersebut, dan sudah sulit dicari, mau tak mau membeli dengan harga sejagat pun terturuti. Hanya karena ini, terkadang hampir setengah penghasilan bulanan habis hanya untuk buku-buku seperti karya Hamka dan beberapa tokoh lainnya. Tapi saya pun juga tak selalu memilih jalan ‘radikal’ soal buku langka. Jika sudah ada yang memiliki dan bisa dipinjam untuk di foto copy, bisa menjadi pilihan. Bagi saya tak harus soal fisik (karena nilai bukunya itu) tapi lebih kepada isi. Isi yang bisa mengisi jiwa yang rindu itu.

Begitu banyak jasa yang sudah dilahirkan Hamka dalam mengisi jiwa masyarakat Indonesia. Banyak pelajaran dari kaidah-kaidah ilmu yang di konstruksinya dalam menjawab permasalahan-permasalahn jaman.

Adalah Hamka sosok ulama yang tak hanya bicara fikih semata, tapi mampu mengurai kelemahan-kelemahan pemikiran yang berkembang di masa pergulatan ideologi di tanah Air. Adalah Hamka yang tak hanya menguasai filsafat, tapi menguasai sejarah, budaya, dan sastra. Dan adalah Hamka yang pada masa mudanya banyak tak menaruh harap, termasuk sang Ayah, bahwa ia tak bakal menjadi ulama karena kenakalannya. Tapi, Allah memberikan jalan atas doa sang Ayah. Di tengah kegalauan masa muda, ditengah dirinya merasakan kejumutan ajaran Islam klasik di surau-suraunya, jiwanya pun berontak untuk mencari sebuah jalan baru. Ia pun menemukan makna. Makna yang merenggut jiwanya sehingga menemukan “Islam yang hidup” (silakan baca autobiografinya yang berjudul ‘Kenang-kenangan Hidup jilid 1’, menarik!).

Proses dia belajar, proses dia berpikir, hingga caranya menghadapi hidupnya dan menjawab permasalahan hidup orang lain, menjadi hikmah yang menarik untuk dirawat. Agar kita belajar bagaimana kita bisa menemukan jawaban kehidupan di masa setelah kematiannya.

Merawat Hamka adalah salah satu ikhtiar untuk dekat dengan ulama.
Semoga ada kawan-kawan yang bisa membantu melengkapi jilid-jilidnya baik berupa informasi maupun materi :D

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger