Bisa dekat dengan
orang-orang shalih itu kerinduan. Rindu bahwa ada dunia yang tak ada
ketamakan. Ada dunia yang jauh dari bahasa kemunafikan. Bukan berarti
orang-orang shalih itu ma’shum, tetapi ada dunia dimana kita bisa
dekat dengan bahasa qalbu yang mengisi ruang-ruang kekosongan jiwa.
Meski secara badaniah tak bertemu, ada susunan bahasa yang terangkai
dalam kitab-kita ilmu mengajarkan bahwa rindu pun bisa dilepas dengan
tulisan para ulama. Hamka menjadi salah satu sosok yang kita rindukan
di era gadget ini.
Islam berumur
panjang karena ada generasi yang selalu merawat pikiran-pikiran para
ulama. Setiap ulama pun lahir pada konteks jaman yang berbeda. Dari
Imam syaf’i, Hambali, Hanafi, Gazali, Ibnu Taimmiyah, hingga ulama
besar dunia abad 19 yang berasal dari Nusantara, yakini Ahmad Khatib,
juga lahir dari dunia yang berbeda. Namun, semuanya tak ada yang
berbeda dalam urusan ushul. Semua itu dijaga karena dirawat.
Begitu juga Hamka,
ia lahir di era perubahan dunia yang begitu cepat. Ia lahir di masa
kolonialisme dan orang-orang yang sedang terbuai kagum dengan
modernitas. Dialah ulama peralihan jaman yang dihadirkan Allah Swt di
negeri ini untuk mengantarkan masa klasik ke masa modern. Ramuan
fikih kotemporer menghiasi tulisan-tulisannya yang tak kalah merdu
dengan balada melayu di jamannya. Tak heran, ketika dimasanya hidup,
begitu banyak tamu berkunjung untuk mempertanyakan masalah hidup
mereka. Pada ulama-lah ada jawaban yang mampu mengisi jiwa.
Ulama seperti Hamka
menjadi kerinduan. Rindu untuk dekat dengan pikirannya. Rindu
mengetahui bagamana ia hidup hingga menjadi sosok yang begitu
dirindukan. Maka rindu pun harus dilepaskan dengan merawat. Merawat
pikirannya. Merawat kisah hidupnya. Disitulah cara saya merawat
dengan berikhtiar mengumpuli jejak naskah Hamka dalam balutan jilid.
Mencari karya Hamka
tidak mudah. Waktu dan materi begitu terkuras. Waktu untuk menggali
informasi, lalu materi untuk memperoleh. Terutama lagi waktu untuk
membacanya. Kemudian waktu saya bisa menuliskan kembali pikirannya
agar bisa dirasakan oleh kalian-kalian yang (mungkin) tak peduli cara
untuk merawat ulama.
Memang secara
materi, buku-buku lama nan langka begitu mahal. Kalau menemukan lapak
buku yang baik hati bisa saja kita menemukan harga yang bersahabat.
Tapi jika benar-benar kita menginginkan buku tersebut, dan sudah
sulit dicari, mau tak mau membeli dengan harga sejagat pun terturuti.
Hanya karena ini, terkadang hampir setengah penghasilan bulanan habis
hanya untuk buku-buku seperti karya Hamka dan beberapa tokoh lainnya.
Tapi saya pun juga tak selalu memilih jalan ‘radikal’ soal buku
langka. Jika sudah ada yang memiliki dan bisa dipinjam untuk di foto
copy, bisa menjadi pilihan. Bagi saya tak harus soal fisik (karena
nilai bukunya itu) tapi lebih kepada isi. Isi yang bisa mengisi jiwa
yang rindu itu.
Begitu banyak jasa
yang sudah dilahirkan Hamka dalam mengisi jiwa masyarakat Indonesia.
Banyak pelajaran dari kaidah-kaidah ilmu yang di konstruksinya dalam
menjawab permasalahan-permasalahn jaman.
Adalah Hamka sosok
ulama yang tak hanya bicara fikih semata, tapi mampu mengurai
kelemahan-kelemahan pemikiran yang berkembang di masa pergulatan
ideologi di tanah Air. Adalah Hamka yang tak hanya menguasai
filsafat, tapi menguasai sejarah, budaya, dan sastra. Dan adalah
Hamka yang pada masa mudanya banyak tak menaruh harap, termasuk sang
Ayah, bahwa ia tak bakal menjadi ulama karena kenakalannya. Tapi,
Allah memberikan jalan atas doa sang Ayah. Di tengah kegalauan masa
muda, ditengah dirinya merasakan kejumutan ajaran Islam klasik di
surau-suraunya, jiwanya pun berontak untuk mencari sebuah jalan baru.
Ia pun menemukan makna. Makna yang merenggut jiwanya sehingga
menemukan “Islam yang hidup” (silakan baca autobiografinya yang
berjudul ‘Kenang-kenangan Hidup jilid 1’, menarik!).
Proses dia belajar,
proses dia berpikir, hingga caranya menghadapi hidupnya dan menjawab
permasalahan hidup orang lain, menjadi hikmah yang menarik untuk
dirawat. Agar kita belajar bagaimana kita bisa menemukan jawaban
kehidupan di masa setelah kematiannya.
Merawat Hamka adalah
salah satu ikhtiar untuk dekat dengan ulama.
Semoga ada
kawan-kawan yang bisa membantu melengkapi jilid-jilidnya baik berupa
informasi maupun materi :D

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.