Minggu, 20 Desember 2015

Berbincang dengan Penerbang Sukhoi Su-30 MK2 TNI AU

Saya dan Lettu Pnb. Sang Made Yogi A.P.

“Mas, enggak aoerobatik lagi?” sapaku pertama kali kepada pilot itu.
“Enggak mas. Sudah Close.” jawabnya
“Gara-gara kecelakaan tadi?”
“Iya, kita masih masa berkabung gak mungkin terbang.”

Kecelakaan yang dialami T-50 Golden Eagle padi tadi di area komplek AAU merubah rencana kegiatan Gebyar Dirgantara Yogyakarta yang berlangsung 19-20 Desember 2015. Ada sedikit kecewa karena tidak bisa menyaksikan manuver-manuver F-16 dan Sukhoi S-30 MK2 milik TNI AU.

Agak terlambat juga datang ke acara ini. Tepat jam 10.00 WIB, saya sudah berada di depan pintu barat AAU Adisucipto. Beberaa pintu masuk ternyata sudah ditutup. Petugas melarang warga masuk. Hanya jalur keluar saja yang dibuka. Sehingga banyak pengunjung yang terdiam di luar sehingga membuat kemacetan luar biasa. Ketika saya tanya ada apa kepada petugas, di jawab, “Ada insiden mas. Maaf.”

Curiga, kejadian terulang lagi. Memang sering setiap acara seperti ini ada saja pesawat TNI AU yang jatuh. Saya cek di social media dari Hp, ternyata memang benar. Ada kecelakaan pada sesi akrobatik tadi pagi.

Saya pun tetap nekat masuk. Melalui rute komplek perumahaan TNI AU saya mendapat jalur masuk. Kemudian memarkir motor di sekitar perumahan yang sudah ramai motor para pengunjung parkir, lalu jalan ke hanggar kurang lebih ada setengah kilometer.

Ternyata di dalam masih ramai. Satu T-50, dua F-16 dan dua Su-30 masih terparkir di lapangan. Di bawah terik yang menghitamkan kulit, tak menjadi halangan untuk mengitari area hanggar AAU yang begitu luas dan panas. Para pilot dengan khas baju oranyenya tetap setia menyambut para pengujung dengan ramah. Banyak sekali para pengunjung yang meminta foto dengan sang pilot, bak artis idola.

Pesawat berbaling jenis KT-IB Wong Bee dari Tim Jupiter siap masuk ke hanggar
Tidak bisa lagi menyaksikan akrobatik sangat disayangkan. Kekecewaan itu sedikit terobati ketika bisa mengobrol panjang dengan salah satu pilot Sukhoi tersebut. Awalnya si pilot terlalu sibuk melayani pengunjung yang meminta foto bareng. Setelah agak menganggur, saya dekati dan mulai percakapan di atas.

Saya memang tidak sendiri berbincang. Bersama pengujung lain, kami saling berbincang hangat apalagi kalau bukan soal pesawat. Pertanyaan yang diajukan tidak sedikit, mulai dari seorang bapak-bapak yang masih awam soal dunia penerbangan, hingga saya dan salah seorang anak muda yang cukup nyambung ketika berbincang dengan si pilot.Dengan ramah dan tak sungkan menjawab pertanyaan yang remeh temeh, hingga yang membingungkan. Terkadang, ia berusaha mencari bahasa yang bisa dipahami kepada penanya yang masih awam dengan istilah penerbangan.

Salasatu penerbang Sukhoi menyambut ramah pengunjung
Yang menjadi perhatian menarik saya adalah soal rudal yang sedang nyantol. “Itu sidewinder mas?” tanya saya sok tahu. Karena bentuknya mirip dengan AIM-9 Sidewinder yang biasa nyantol di sayap F-16 milik TNI AU. Si pilot menjawab dengan cepat nama varian rudal itu dengan spesifik, tapi saya sulit mengingat. Yang saya mengerti adalah jenis R-73, salah satu rudal udara ke udara jarak pendek andalan Rusia. “Kalau versi Amerika namanya sidewinder, sedangkan ini versi Rusia.” jelasnya.

Saya baru 'ngeh'. R-73 merupakan rudal yang berkomparasi dengan AIM-9 Sidewinder, hanya saja R-73 merupakan standar rudal yang biasa dipakai Sukhoi. “Keren juga TNI AU punya rudal ini.” pikirku. Sudah lama tidak mengikuti perkembangan dunia tempur TNI AU, jadi tidak paham jika Indonesia telah membeli rudal jenis ini. Setahu saya, Indonesia membeli Sukhoi tanpa senjata.

Tak hanya R-73, R-77 juga ikut nyantol di bagian bawah tabung Air Intake. Kalau R-73 ini disanding dengan AIM-9 Sidewinder, maka R-77 penyandingnya AIM-120 AMRAAN, rudal canggih yang biasa nyantol di F-15 Eagle dan F-18 Hornet hingga F-22 Raptor milik AS.
R-73 tanpa sirip. Mungkin hanya tampilan belum untuk dijatuhkan
Pertanyaan juga menjurus soal perbandingan varian dengan produk AS. Misal, Su-30 ini bisa disandingkan dengan F-15 Eagle dan F-18 Hornet. Rencana TNI -AU ingin membeli Su-35 dianggap bisa disandingkan dengan F-22 Raptor, jet tempur tercanggih andalan AS dengan konsep stealth-nya. Tapi menurut si pilot tersebut, pesawat yang di produksi sesuai dengan fungsinya.
Dia menjelaskan, konsep tempur saat ini lebih cendrung pertempuran dengan kemampuan teknologi. Pesawat tempur yang diproduksi masa kini bukan lagi untuk pertempuran satu lawan satu (dogfight) seperti jaman dulu, tetapi lebih ke pertarungan elektronik dengan media radar untuk saling mengunci sasaran. Artinya, pesawat yang ingin diserang tidak harus berada di depan si penyerang tetapi bisa di posisi mana saja untuk mengunci sasaran. Jadi menurut sang pilot, konsep stealth ketika di adu dogfight dengan jet tempur yang secara aerodinamis lebih baik dalam manuver, seperti F-16 atau Su-27 Flanker, bisa saja pesawat stealth itu kalah. Karena beberapa jenis stealth dengan tekhnologi secanggih apapun belum tentu menang kekita diadu dogfight.

Penjelasan sang pilot ini mengarah ke penjelasan mengapa ada kokpit yang memiliki 2 kursi dan ada 1 kursi. Begitu juga mengapa ada yang 2 sirip tegak dan ada 1 sirip tegagk. Perbedaan itu menyangkut tujuan pesawat dibuat. Penjelasan itu membuat saya baru paham. Su-30 misalnya memiliki 2 kursi, sedangkan Su 27 hanya 1 kursi. Meski Su-30 secara teknologi lebih unggul dari pada Su-27, tetapi untuk Dogfight Su-27 yang unggul. Adanya konsep satu kursi dengan dua kursi berpengaruh pada kemampuan manuver pesawat.

Bedanya lagi, pilot Su-27 memiliki kemampuan khusus dibanding Su-30. Pilot Su-27 selain harus memiliki sertivikasi jam terbang yang tinggi, juga harus memiliki kemampuan menerbangkan pesawat sekaligus mengurusi navigasi. Tidak dengan Su-30 yang tugas itu bisa dibagi; kursi depan khusus untuk mengendalikan pesawat, sedanggkan kursi belakang khusus navigasi.

“Biaya operasional Sukhoi ini termasuk paling boros.” cerita pilot itu kemudian, “rata-rata dalam satu jam terbang bisa menghabiskan biaya 500 juta.”

Kaget juga mendengarnya. Dia menambahkan, setiap terbang ada biaya yang dikeluarkan, baik dari bahan bakar, masa aus mesin, dan sebagainya. Dia juga mengatakan, Sukhoi termasuk pesawat tempur milik TNI AU yang paling cepat mengganti suku cadang.

Soal biaya operasional hingga anggaran belanja militer sampai masalah kemampuan TNI AU disandingkan negara tetangga seperti Malaysia, ditanyakan. Ternyata, sang pilot itu dengan jujur mengakui TNI-AU masih kalah dengan AU-nya Malaysia. Ia menjelaskan, kalahnya pada urusan jumlah pesawat dan teknologi radar yang dimiliki. Jadi bukan soal kemampuan pesawat tempur, namun kemampuan Angkatan Udara dalam menjaga wilayah sangat dipengaruhi oleh kerja radar. Kerja radar TNI hingga kemampuan-kecepatan pesawat bertindak dalam jangkauan udara masih kalah dengan Mayasia.

Remove Before Flight, jepretan iseng.
Obrolan hangat itu lalu saya selingi dengan mencoba mengenal namanya. Ia menyebutkan nama sambil menunjukkan tanda nama di baju oranye itu yang tertulis Sang Made Yogi A.P. Ketika saya tanya pangkatnya, dia menjawab Lettu (letnan satu), saya kaget. Biasanya untuk sekelas pesawat seperti ini pangakt minimal adalah Kapten. Ternyata dengan pangkat yang masih lettu ia sudah bertugas menerbangkan Sukhoi. Dilihat dari wajahnya nampak masih muda. Mungkin umurnya di bawah saya.

Ia lulus dari AAU tahun 2011 kemudian lanjut Sekbang TNI AU selama 1,5 tahun. Lulus Sekbang ia mengaku bertugas pada F-5E Tiger, yang kini sudah dipensiunkan. Lanjut, ia mendapat tugas menerbangkan Su-30 MK2.

Ketika menulis ini saya coba search di google nama pilot itu. Muncul situs dari tni-au.mil.id yang memberitakan pada bulan Oktober 2015, bahwa Lettu Pnb. Made Yogi adalah salah seorang penerbang muda Su-30MK2 yang berhasil lulus terbang solo dengan pesawat tersebut. Keberhasilan itu dirayakan dengan upacara tradisi pemecahan telur dan siram bunga. Sejak lulus AAU tahun 2011 ia sudah mengantongi 519 jam terbang. Kalau sekarang mungkin sudah lebih.

Berbincang dengan pilot tempur juga sudah pernah saya lakukan dulu. Ketika itu masih SMA. Lagi ramai-ramai kasus Ambalat di kalimantan Timur, 2 jet tempur F-16 membuat pangkalan di Bandara Sepinggan. Seorang teman SMA mempunyai paman yang kerja sebagai teknisi pesawat tersebut. Setelah pulang sekolah, diajaklah kami untuk mendatangi pangkalan itu. Sebenarnya itu bukan Air Show atau pameran, tapi persiapan perang. Juga sebenarnya tak boleh ada pengunjung datang, tapi ketika kami masuk mendekati hanggar yang di sambut paman si teman, tiba-tiba si pilot F-16 yang lagi menganggur datang menghampiri. Dengan ramah ia menyambut lalu diajak mendekat ke pesawatnya. “Tenang saja, saya yang bertanggung jawab.” katanya yang saya ingat. Pada saat itu, saya bisa memegang rudal AIM-9 Sidewinder yang tertempel di ujung sayap F-16, dengan izin sang pilot tentunya.
Foto bersama Pilot F-16 dan teman-teman waktu SMA yang masih saya simpan
Pilot itu seorang kapten penerbang, tetapi saya lupa namanya. Cerita pengalaman sebagai seorang pilot membuat kami antusias mendengarkan. Ia juga menunjukkan kamera digital saku yang ia bawa setiap terbang. Dari kamera itu banyak foto-foto narsis selama mengudara. Ternyata pilot juga bisa narsis.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger