![]() |
| Saya dan Lettu Pnb. Sang Made Yogi A.P. |
“Mas, enggak
aoerobatik lagi?” sapaku pertama kali kepada pilot itu.
“Enggak mas. Sudah
Close.” jawabnya
“Gara-gara
kecelakaan tadi?”
“Iya, kita masih
masa berkabung gak mungkin terbang.”
Kecelakaan yang
dialami T-50 Golden Eagle padi tadi di area komplek AAU merubah
rencana kegiatan Gebyar Dirgantara Yogyakarta yang berlangsung 19-20
Desember 2015. Ada sedikit kecewa karena tidak bisa menyaksikan
manuver-manuver F-16 dan Sukhoi S-30 MK2 milik TNI AU.
Agak terlambat juga
datang ke acara ini. Tepat jam 10.00 WIB, saya sudah berada di depan
pintu barat AAU Adisucipto. Beberaa pintu masuk ternyata sudah
ditutup. Petugas melarang warga masuk. Hanya jalur keluar saja yang
dibuka. Sehingga banyak pengunjung yang terdiam di luar sehingga
membuat kemacetan luar biasa. Ketika saya tanya ada apa kepada
petugas, di jawab, “Ada insiden mas. Maaf.”
Curiga, kejadian
terulang lagi. Memang sering setiap acara seperti ini ada saja
pesawat TNI AU yang jatuh. Saya cek di social media dari Hp, ternyata
memang benar. Ada kecelakaan pada sesi akrobatik tadi pagi.
Saya pun tetap nekat
masuk. Melalui rute komplek perumahaan TNI AU saya mendapat jalur
masuk. Kemudian memarkir motor di sekitar perumahan yang sudah ramai motor para pengunjung parkir, lalu jalan ke hanggar kurang lebih ada setengah
kilometer.
Ternyata di dalam
masih ramai. Satu T-50, dua F-16 dan dua Su-30 masih
terparkir di lapangan. Di bawah terik yang menghitamkan kulit, tak
menjadi halangan untuk mengitari area hanggar AAU yang begitu luas
dan panas. Para pilot dengan khas baju oranyenya tetap setia
menyambut para pengujung dengan ramah. Banyak sekali para pengunjung
yang meminta foto dengan sang pilot, bak artis idola.
| Pesawat berbaling jenis KT-IB Wong Bee dari Tim Jupiter siap masuk ke hanggar |
Tidak bisa lagi
menyaksikan akrobatik sangat disayangkan. Kekecewaan itu sedikit
terobati ketika bisa mengobrol panjang dengan salah satu pilot Sukhoi
tersebut. Awalnya si pilot terlalu sibuk melayani pengunjung yang
meminta foto bareng. Setelah agak menganggur, saya dekati dan mulai
percakapan di atas.
Saya memang tidak
sendiri berbincang. Bersama pengujung lain, kami saling berbincang
hangat apalagi kalau bukan soal pesawat. Pertanyaan yang diajukan
tidak sedikit, mulai dari seorang bapak-bapak yang masih awam soal
dunia penerbangan, hingga saya dan salah seorang anak muda yang cukup
nyambung ketika berbincang dengan si pilot.Dengan
ramah dan tak sungkan menjawab pertanyaan yang remeh temeh, hingga yang
membingungkan. Terkadang, ia berusaha mencari bahasa yang bisa
dipahami kepada penanya yang masih awam dengan istilah penerbangan.
| Salasatu penerbang Sukhoi menyambut ramah pengunjung |
Yang menjadi
perhatian menarik saya adalah soal rudal yang sedang nyantol. “Itu
sidewinder mas?” tanya saya sok tahu. Karena bentuknya mirip dengan
AIM-9 Sidewinder yang biasa nyantol di sayap F-16 milik TNI AU. Si
pilot menjawab dengan cepat nama varian rudal itu dengan spesifik,
tapi saya sulit mengingat. Yang saya mengerti adalah jenis R-73,
salah satu rudal udara ke udara jarak pendek andalan Rusia. “Kalau
versi Amerika namanya sidewinder, sedangkan ini versi Rusia.”
jelasnya.
Saya baru 'ngeh'.
R-73 merupakan rudal yang berkomparasi dengan AIM-9 Sidewinder, hanya
saja R-73 merupakan standar rudal yang biasa dipakai Sukhoi. “Keren
juga TNI AU punya rudal ini.” pikirku. Sudah lama tidak mengikuti
perkembangan dunia tempur TNI AU, jadi tidak paham jika Indonesia
telah membeli rudal jenis ini. Setahu saya, Indonesia membeli Sukhoi
tanpa senjata.
Tak hanya R-73, R-77
juga ikut nyantol di bagian bawah tabung Air Intake. Kalau R-73 ini
disanding dengan AIM-9 Sidewinder, maka R-77 penyandingnya AIM-120
AMRAAN, rudal canggih yang biasa nyantol di F-15 Eagle dan F-18
Hornet hingga F-22 Raptor milik AS.
| R-73 tanpa sirip. Mungkin hanya tampilan belum untuk dijatuhkan |
Pertanyaan juga
menjurus soal perbandingan varian dengan produk AS. Misal, Su-30 ini
bisa disandingkan dengan F-15 Eagle dan F-18 Hornet. Rencana TNI -AU
ingin membeli Su-35 dianggap bisa disandingkan dengan F-22 Raptor,
jet tempur tercanggih andalan AS dengan konsep stealth-nya.
Tapi menurut si pilot tersebut, pesawat yang di produksi sesuai
dengan fungsinya.
Dia menjelaskan,
konsep tempur saat ini lebih cendrung pertempuran dengan kemampuan
teknologi. Pesawat tempur yang diproduksi masa kini bukan lagi untuk
pertempuran satu lawan satu (dogfight) seperti jaman dulu, tetapi
lebih ke pertarungan elektronik dengan media radar untuk saling
mengunci sasaran. Artinya, pesawat yang ingin diserang tidak harus
berada di depan si penyerang tetapi bisa di posisi mana saja untuk
mengunci sasaran. Jadi menurut sang pilot, konsep stealth ketika di
adu dogfight dengan jet tempur yang secara aerodinamis lebih baik
dalam manuver, seperti F-16 atau Su-27 Flanker, bisa saja pesawat
stealth itu kalah. Karena beberapa jenis stealth dengan tekhnologi
secanggih apapun belum tentu menang kekita diadu dogfight.
Penjelasan sang
pilot ini mengarah ke penjelasan mengapa ada kokpit yang memiliki 2
kursi dan ada 1 kursi. Begitu juga mengapa ada yang 2 sirip tegak
dan ada 1 sirip tegagk. Perbedaan itu menyangkut tujuan pesawat dibuat. Penjelasan
itu membuat saya baru paham. Su-30 misalnya memiliki
2 kursi, sedangkan Su 27 hanya 1 kursi. Meski Su-30 secara teknologi
lebih unggul dari pada Su-27, tetapi untuk Dogfight Su-27 yang
unggul. Adanya konsep satu kursi dengan dua kursi berpengaruh pada
kemampuan manuver pesawat.
Bedanya lagi, pilot
Su-27 memiliki kemampuan khusus dibanding Su-30. Pilot Su-27 selain
harus memiliki sertivikasi jam terbang yang tinggi, juga harus
memiliki kemampuan menerbangkan pesawat sekaligus mengurusi navigasi.
Tidak dengan Su-30 yang tugas itu bisa dibagi; kursi depan khusus
untuk mengendalikan pesawat, sedanggkan kursi belakang khusus
navigasi.
“Biaya operasional
Sukhoi ini termasuk paling boros.” cerita pilot itu kemudian,
“rata-rata dalam satu jam terbang bisa menghabiskan biaya 500
juta.”
Kaget juga
mendengarnya. Dia menambahkan, setiap terbang ada biaya yang
dikeluarkan, baik dari bahan bakar, masa aus mesin, dan sebagainya.
Dia juga mengatakan, Sukhoi termasuk pesawat tempur milik TNI AU yang
paling cepat mengganti suku cadang.
Soal biaya
operasional hingga anggaran belanja militer sampai masalah kemampuan
TNI AU disandingkan negara tetangga seperti Malaysia, ditanyakan.
Ternyata, sang pilot itu dengan jujur mengakui TNI-AU masih kalah
dengan AU-nya Malaysia. Ia menjelaskan, kalahnya pada urusan jumlah
pesawat dan teknologi radar yang dimiliki. Jadi bukan soal kemampuan
pesawat tempur, namun kemampuan Angkatan Udara dalam menjaga wilayah
sangat dipengaruhi oleh kerja radar. Kerja radar TNI hingga
kemampuan-kecepatan pesawat bertindak dalam jangkauan udara masih
kalah dengan Mayasia.
| Remove Before Flight, jepretan iseng. |
Obrolan hangat itu
lalu saya selingi dengan mencoba mengenal namanya. Ia menyebutkan
nama sambil menunjukkan tanda nama di baju oranye itu yang tertulis
Sang Made Yogi A.P. Ketika saya tanya pangkatnya, dia menjawab Lettu
(letnan satu), saya kaget. Biasanya untuk sekelas pesawat seperti ini
pangakt minimal adalah Kapten. Ternyata dengan pangkat yang masih lettu ia sudah
bertugas menerbangkan Sukhoi. Dilihat dari wajahnya nampak masih
muda. Mungkin umurnya di bawah saya.
Ia lulus dari AAU tahun
2011 kemudian lanjut Sekbang TNI AU selama 1,5 tahun. Lulus Sekbang
ia mengaku bertugas pada F-5E Tiger, yang kini sudah dipensiunkan.
Lanjut, ia mendapat tugas menerbangkan Su-30 MK2.
Ketika menulis ini
saya coba search di google nama pilot itu. Muncul situs dari
tni-au.mil.id yang memberitakan pada bulan Oktober 2015, bahwa Lettu
Pnb. Made Yogi adalah salah seorang penerbang muda Su-30MK2 yang
berhasil lulus terbang solo dengan pesawat tersebut. Keberhasilan itu
dirayakan dengan upacara tradisi pemecahan telur dan siram bunga.
Sejak lulus AAU tahun 2011 ia sudah mengantongi 519 jam terbang.
Kalau sekarang mungkin sudah lebih.
Berbincang dengan pilot tempur juga sudah pernah saya lakukan dulu. Ketika
itu masih SMA. Lagi ramai-ramai kasus Ambalat di kalimantan Timur, 2
jet tempur F-16 membuat pangkalan di Bandara Sepinggan. Seorang teman
SMA mempunyai paman yang kerja sebagai teknisi pesawat tersebut.
Setelah pulang sekolah, diajaklah kami untuk mendatangi pangkalan
itu. Sebenarnya itu bukan Air Show atau pameran, tapi persiapan
perang. Juga sebenarnya tak boleh ada pengunjung datang, tapi ketika
kami masuk mendekati hanggar yang di sambut paman si teman, tiba-tiba
si pilot F-16 yang lagi menganggur datang menghampiri. Dengan ramah
ia menyambut lalu diajak mendekat ke pesawatnya. “Tenang saja, saya
yang bertanggung jawab.” katanya yang saya ingat. Pada saat itu,
saya bisa memegang rudal AIM-9 Sidewinder yang tertempel di ujung
sayap F-16, dengan izin sang pilot tentunya.
Pilot itu seorang
kapten penerbang, tetapi saya lupa namanya. Cerita pengalaman sebagai
seorang pilot membuat kami antusias mendengarkan. Ia juga menunjukkan
kamera digital saku yang ia bawa setiap terbang. Dari kamera itu
banyak foto-foto narsis selama mengudara. Ternyata pilot juga bisa
narsis.

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.