Kamis, 02 Juli 2015

Kenangan Bersama Hercules

C130 Hercules Milik Pelita Air Service. Sumber: Airlines.net

Duduk berdesakan, panas, suara bising, itulah rasanya ketika saya terbang dengan C130 Hercules. Pesawat bermesin 4 turboprop ini semestinya sebagai penerbangan layanan cargo, tapi saat itu diisi oleh banyak manusia. Bukan sebagai pengungsi, bukan! Tapi penumpang reguler biasa dari Pelita Air Service.

Sebelum tahun 1995, Pelita Air Service yang merupakan jasa penerbangan dari anak usaha Pertamina ini mempunyai beberapa unit C130 Hercules. Biasa diperuntukkan untuk kepentingan cargo. Pelita sendiri merupakan angkutan yang sering dipakai para karyawan Pertamina untuk bepergian. Tidak hanya karyawan, keluarga karyawan juga bisa mendapat fasilitas penerbangan ini dengan potongan harga. Kalau liburan seperti lebaran, biasanya dapat gratis. Rezeki Allah, saya terlahir dari anak seorang karyawan Pertamina. Menikmati layanan Pelita Air Service yang setia memiliki pesawat jenis Fokker (F-28, F-70, dan F-100) juga sering saya rasakan. Semua kenikmatan fasilitas itu saya rasakan saat masih SD. Ketika negeri ini belum digoncang Reformasi tahun 1998. Masuk tahun 2.000an, Pertamina sudah mulai mengurangi fasilitas memanjakan karyawannya akibat krisis. Tidak tahu sekarang, apakah masih ada lagi fasilitas seperti ini seiring dengan mulai majunya Pertamina.

Kapasitas Fokker, yang paling besar seperti F-100, bisa terisi maksimal 100 penumpang. Untuk penerbangan Balikpapan - Surabaya dalam satu minggu hanya ada dua penerbangan, yaitu Kamis dan Sabtu. Hari lainnya, berjadwal ke daerah lain. Maklum, Pelita hanya perusahaan pesawat charter dengan jumlah pesawat yang sedikit. Balikpapan - Surabaya termasuk rute penerbangan yang sering saya dan keluarga lakukan. Ibu saya orang Jawa Timur.

Jika masuk masa libur sekolah dan lebaran, penumpang dari keluarga karyawan terutama anak sekolah dan mahasiswa, bakal membludak. Untuk mendapat jatah fasilitas tiket bisa berebutan. Saking membludaknya, nampak pihak penerbangan tak kehabisan akal. Diturunkanlah pesawat yang berbadan besar dengan kapasitas yang bisa mencapai 200an penumpang.  Saya ingat sekali saat itu, ketika mendapatkan tiket boarding pass tanpa nomor tempat duduk, sudah bertanda pasti ini bakal dapat pesawat Hercules.

Ketika pertama kali mendengar bakal akan terbang dengan Hercules, tak ada masalah. Selama ini hanya terbang menggunakan Fokker yang bermesin jet. Ada rasa ingin mencoba merasakan pesawat berbaling. Tapi ketika yang berikutnya mendapat pesawat Hercules lagi, ada rasa kecewa. Dengan fokker, kita bisa duduk nyaman, kabin dingin, dan menghadap depan. Tidak dengan Hercules, duduknya tidak ada bedanya dengan duduknya para tentara; berhadapan, bersempit-sempitan, dengkul bertemu dengkul, kursinya lipat bukan sofa, dan penderitaan lainnya. Manusia dan bagasi menyatu dalam satu kabin. Masuknya lewat bagian belakang dan rebutan mencari kursi yang strategis. Jika di pesawat fokker jatah makanan dibagikan oleh pramugari sebagaimana pesawat penumpang biasanya, maka di Hercules jatah makanan dibagi dengan cara di geser dari depan ke belakang, layaknya acara selamatan di rumah. Makan pun tanpa meja. Pesawat ini memang di desain sebagai pesawat cargo, bukan penumpang.

Ada 2 atau 3 kali saya naik Hercules. Agak lupa pastinya. Meski terkesan menderita, ada kenangan di pesawat ini. Inilah kenangan kami para anak-anak karyawan Pertamina Balikpapan. Kami yang sudah hidup dari fase Sekolah sampai mahasiswa di tahun 1990an kemungkinan pernah merasakan pesawat legendaris buatan Lockheed Martin, AS.

Hercules memang legendaris. Ia adalah pesawat yang mampu terbang di segala medan. Mampu mendarat di landasan yang paling pendek. Ratusan pengalaman terjun di medan pertempuran. Sejak terbang perdana tahun 1954, sudah banyak jasa yang diberikan oleh pesawat ini, terutama negara si pembuat, yakni Amerika Serikat. Hercules bukan saja untuk memenuhi kebutuhan angkutan militer dan cargo, beberapa seri terakhirnya mampu sebagai ‘Pom Bensin’ udara (jenis KC-130) dan patroli maritim yang bisa dilengkapi senjata canon.

Begitu juga Indonesia. Hercules sudah berjasa sejak Perang Trikora yang dicetuskan Presiden Soekarno tahun 1960-an. Indonesia adalah negara pertama yang memiliki Hercules di luar negara pembuat. Menariknya, Indonesia mendapatkan beberapa buah Hercules pertama kali secara gratis dari pemerintah AS. Pesawat ini didapat dari hadiah Presiden John F Kennedy yang berterimakasih kepada Soekarno karena telah membebaskan Alan Pope, seorang agen mata-mata AS yang tertangkap saat perang PRRI/Permsesta. Sejak saat itu, alat militer milik negara adidaya ini menjadi tulang punggung alusista militer Indonesia hingga saat ini.

Jadi, umur Hercules milik TNI-AU memang sudah cukup tua sekali. Setahu saya, pembelian terakhir tahun 90an. Hibah dari AS saat ini juga pesawat bekas. Sudah hukum alam, usia mempengaruhi kualitas. Ada fasenya dimana kualitas itu ada batas. Batas dimana sudah seharusnya mencapai kematian. Qadarullah, kematian pesawat ini ikut membawa kematian penumpangnya, dan warga yang tertimpa di darat. Takdir yang masih bisa diantisipasi pastinya.

Pemberitaan kecelakaan Hercules telah membuka kenangan lama saya. Kenangan merasakan penderitaan di dalam kabin penuh sesak selayaknya pengungsi. Alhamdulillah, pernah merasakan mengudara bersama si Hercules.

Apa kabar kalian semuan anak-anak Pertamina, komplek Parikesit, Panorama, Gunung Balikpapan dan Gunung Dubs :D

2 komentar:

  1. Hehe. Sudah kuduga, pengalaman ketika "masih di Pertamina". Aku sendiri gak ingat wan kalo pernah naik Hercules. Masih bayi waktu itu. Orang tuaku yang cerita kalo pernah naik. Tapi aku sendiri ya jelas gak ingat. Aku ingatnya ya naik Pelita. Yang fokker kalo gak salah. Sama Sempati dan Merpati juga.

    Kabarku.. Alhamdulillah baik :D
    Masih nyari kerja lagi sih. Ini sempat menganggur lumayan lama. Mohon doanya aja ;)

    BalasHapus
  2. @Agyl, wah konco SD sesama anak pertamina nongol nih, haha. Setiap pengalaman menyenangkan meski masih kecil (SD) insya Allah ingat. Semoga dapat pekerjaan yang terbaik :D

    BalasHapus

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger