Minggu, 21 Juni 2015

One Week One Note – Sebuah Cita

Belajar menulis seperti Buya HAMKA

Keluhan seorang kawan yang sulit membiasakan menulis setelah sibuk bekerja berbuah tantangan. Tumpulnya ide setelah sibuk bekerja bukanlah sebuah alasan untuk berhenti menulis. Maka, cetusan ide dari kawan yang lain dengan membentuk grup whatsapp One Week One Note membuka ruang tantangan para mantan aktivis ini untuk terus menulis. Memposting tulisan di blog pribadi seminggu sekali sebenarnya merupakan tambahan beban mental. Meski beban, ada tuntutan agar ide-ide terus mengalir dalam untaian kata. Hanya menulis, jiwa katarsis manusia disalurkan lebih produktif.

Pada dasarnya saya tak punya hobi menulis. Tapi, saya mulai terlibat menulis naratif sejak SMP. Itu pun gara-gara dipaksa teman yang memegang tanggung jawab mengelola mading sekolah. Tapi tak banyak tulisan yang dihasilkan. Yang jelas kualitasnnya sesuai umur saat itu. Sayang tak menyimpan filenya. Jika ada, pasti akan tertawa membacanya.

Lanjut SMA, tawaran menulis ada lagi. Kali ini majalah rohis sekolah. Saya tidak masuk dalam susunan redaksi. Bahkan tidak dianggap sebagai orang yang senang menulis ataupun anak-anak pintar yang berpengetahuan luas seperti kawan-kawan rohis yang lain. Saya bukan apa-apa. Hanya makhluk ingusan yang tak mengerti pengetahuan agama. Bergabung rohis hanya karena karakter saya yang introvet sehingga senang dengan teman-teman yang suka mendiami mushola. Mereka adalah orang-orang yang tak suka hura-hura.

Saya ‘terpaksa’ menulis karena diminta sang pimred majalah rohis saya untuk mengisi kolom. Pengisi kolom sebelumnya, tetua rohis itu yang sudah lulus. Entah mengapa, saya diminta mengisi. Tapi waktu itu saya tak berpikir alasan-alasan kenapa harus mengisi kolom itu. Atau mungkin, karena pernah bercanda ingin mengisi, lalu ditanggapi serius. Hanya beberapa artikel saja yang saya tulis, sebabterbitnya juga tidak rutin. Bahan pengetahuannya bermodal buku-buku agama yang dimiliki bapak saya. Saya waktu itu belum suka koleksi buku. Kalau pun beli buku paling seputar pengembangan diri, dunia jin, dan konspirasi dajjal. Buku pengembangan diri yang saya suka saat SMA dan sering menjadi bahan rujukan adalah Seven Habbits for Teen Sean Covey dan ESQ Ary Ginanjar.

Masuk kuliah, lagi-lagi saya dipertemukan dengan dunia menulis. Ketika berada di dakwah kampus, saya diminta untuk melanjutkan kepemimpinan media masjid kampus. Alasannya, karena tidak ada lagi kader yang bisa mengelola. Padahal umur saya waktu itu mestinya belum bisa menjadi ketua bidang. Ketua kaderisasi yang masih mba-mba meminta dengan memelas, akhirnya saya luluh. Saya kelola majalah dakwah kampus itu dengan ilmu otodidak. Ada 4 tahun saya berada di majalah ini. Selama itu juga saya bermetamorfosis dalam menulis. Saya juga tak pernah ikut training kepenulisan. Tapi lingkungan akhirnya membentuk.

Seperti yang menjadi keterangan di blog saya ini, saya menulis hanya untuk mengisi waktu senggang di tengah beban hidup yang semakin mencekam. Saya belum punya cita-cita menjadi penulis atau punya karya tulis yang dibaca orang banyak. Saya masih lebih senang menulis untuk blog ini aja. Meski saat ini, ada beberapa tulisan bertema tokoh islam masa kemerdekaan saya kontribusikan ke IslamPos.com. Itu pun hanya ingin menyalurkan apa yang saya ketahui agar bisa diketahui orang lain terkhusus generasi muda Islam agar mengenal tokoh-tokoh Islam masa lalu.

Soal menulis ini, saya kadang heran pada orang-orang yang ingin belajar menulis dengan ikut training berbayar hingga jutaan. Mungkin, apa karena mereka berpikir instan? Apa dengan ikut training mahal bisa langsung menulis? Nyatanya tidak juga. Ini hanya soal kemauan. Kemauan untuk mencoba dengan menulis apa saja yang dipikirkan atau apa saja yang kita ketahui. Dengan seringnya melatih, lama-lama akan terlatih. Mengelola majalah kampus saat itulah membuat saya ‘terpaksa’ harus menulis. Akhirnya jadi terbiasa dan terbawa hingga sekarang. Tahun 2006 saya mulai membangun blog ini. Berarti sudah 9 tahun umur blog ini. Tidak disangka juga.

Biasanya yang menjadi kendala setiap orang adalah ide. Rutinitas kehidupan seperti roda mesin terkadang memupus ide seseorang untuk menulis. Ide ini dasarnya dari pengetahuan yang kita miliki. Pengetahuan bersumber dari bacaan. Bukan hanya ide, bacaan juga menambah kekayaan kosa kata. Kekayaan kosa kata itu juga yang mempengaruhi cara menulis. Maka, waktu untuk membaca memang harus lebih banyak dari pada waktu untuk menulis demi menjaga kualitas tulisan. Kualitas tulisan bukan terletak pada pilihan kata atau narasi cerita, tapi isi yang ingin di sampikan. Semakin berkualitas bacaan semakin berisi pula isinya.

Di One Week One Note, ide adalah tantangan. Akhirnya saya tertantang untuk memikirkan ide sekali seminggu. Sebenarnya banyak ide yang ingin dituliskan. Tapi ada kendala waktu untuk menuliskan dan mencari bahan. Meski terkadang, menuliskan pengalaman keseharian lebih mudah. Tapi tak semua pengalaman harus dituliskan. Seperti tulisan ini, karena masih bingung apa yang ingin ditulis meski ide sudah ada, jadinya mendapat ide untuk menulis ini. Tak perlu bahan yang banyak. Hanya perlu ingatan.

Yang jelas kemampuan menulis juga butuh proses. Saya juga perlu proses bertahun-tahun agar bisa menulis dengan baik. Saat ini pun masih belum bagus-bagus amat. Tak bisa instan. Di One Week One Note ada tuntutan merutinkan membuat satu tulisan satu minggu, agar menjadi tempat kami untuk menempa proses itu. Semua memang harus berawal dari pemaksaan. Seperti kasus saya, yang akhirnya belajar menulis karena ada faktor ‘keterpaksaan’.

Semangat kami hanya satu, bahwa kami ingin tetap menjadi bagian dari peradaban. Menulis adalah tradisi para ulama dan intelektual. Peran ulama dan intelektual itulah yang membentuk peradaban.  Ada cita yang ingin dirajut sebagai mantan aktivis kampus agar tetap menjadi bagian dari gerakan intelektual pelaku perbuahan. Maka, kami ingin merubah dunia dengan menulis. Meski ada satu masalah yang tak bisa terpecahkan dengan menulis, yaitu masalah yang dikatakan salah seorang novelis nasional, “dengan menulis aku mungkin bisa mengubah dunia, tapi belum tentu bisa mengubah hatimu.” ^_^


0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger