Keluhan
seorang kawan yang sulit membiasakan menulis setelah sibuk bekerja berbuah
tantangan. Tumpulnya ide setelah sibuk bekerja bukanlah sebuah alasan untuk
berhenti menulis. Maka, cetusan ide dari kawan yang lain dengan membentuk grup whatsapp
One Week One Note membuka ruang
tantangan para mantan aktivis ini untuk terus menulis. Memposting tulisan di
blog pribadi seminggu sekali sebenarnya merupakan tambahan beban mental. Meski
beban, ada tuntutan agar ide-ide terus mengalir dalam untaian kata. Hanya
menulis, jiwa katarsis manusia disalurkan lebih produktif.
Pada
dasarnya saya tak punya hobi menulis. Tapi, saya mulai terlibat menulis naratif
sejak SMP. Itu pun gara-gara dipaksa teman yang memegang tanggung jawab
mengelola mading sekolah. Tapi tak banyak tulisan yang dihasilkan. Yang jelas
kualitasnnya sesuai umur saat itu. Sayang tak menyimpan filenya. Jika ada,
pasti akan tertawa membacanya.
Lanjut
SMA, tawaran menulis ada lagi. Kali ini majalah rohis sekolah. Saya tidak masuk
dalam susunan redaksi. Bahkan tidak dianggap sebagai orang yang senang menulis
ataupun anak-anak pintar yang berpengetahuan luas seperti kawan-kawan rohis
yang lain. Saya bukan apa-apa. Hanya makhluk ingusan yang tak mengerti
pengetahuan agama. Bergabung rohis hanya karena karakter saya yang introvet
sehingga senang dengan teman-teman yang suka mendiami mushola. Mereka adalah orang-orang
yang tak suka hura-hura.
Saya
‘terpaksa’ menulis karena diminta sang pimred majalah rohis saya untuk mengisi
kolom. Pengisi kolom sebelumnya, tetua rohis itu yang sudah lulus. Entah mengapa,
saya diminta mengisi. Tapi waktu itu saya tak berpikir alasan-alasan kenapa
harus mengisi kolom itu. Atau mungkin, karena pernah bercanda ingin mengisi,
lalu ditanggapi serius. Hanya beberapa artikel saja yang saya tulis,
sebabterbitnya juga tidak rutin. Bahan pengetahuannya bermodal buku-buku agama
yang dimiliki bapak saya. Saya waktu itu belum suka koleksi buku. Kalau pun
beli buku paling seputar pengembangan diri, dunia jin, dan konspirasi dajjal.
Buku pengembangan diri yang saya suka saat SMA dan sering menjadi bahan rujukan
adalah Seven Habbits for Teen Sean
Covey dan ESQ Ary Ginanjar.
Masuk
kuliah, lagi-lagi saya dipertemukan dengan dunia menulis. Ketika berada di
dakwah kampus, saya diminta untuk melanjutkan kepemimpinan media masjid kampus.
Alasannya, karena tidak ada lagi kader yang bisa mengelola. Padahal umur saya
waktu itu mestinya belum bisa menjadi ketua bidang. Ketua kaderisasi yang masih
mba-mba meminta dengan memelas, akhirnya saya luluh. Saya kelola majalah dakwah
kampus itu dengan ilmu otodidak. Ada 4 tahun saya berada di majalah ini. Selama
itu juga saya bermetamorfosis dalam menulis. Saya juga tak pernah ikut training
kepenulisan. Tapi lingkungan akhirnya membentuk.
Seperti
yang menjadi keterangan di blog saya ini, saya menulis hanya untuk mengisi
waktu senggang di tengah beban hidup yang semakin mencekam. Saya belum punya
cita-cita menjadi penulis atau punya karya tulis yang dibaca orang banyak. Saya
masih lebih senang menulis untuk blog ini aja. Meski saat ini, ada beberapa
tulisan bertema tokoh islam masa kemerdekaan saya kontribusikan ke
IslamPos.com. Itu pun hanya ingin menyalurkan apa yang saya ketahui agar bisa
diketahui orang lain terkhusus generasi muda Islam agar mengenal tokoh-tokoh
Islam masa lalu.
Soal
menulis ini, saya kadang heran pada orang-orang yang ingin belajar menulis
dengan ikut training berbayar hingga jutaan. Mungkin, apa karena mereka
berpikir instan? Apa dengan ikut training mahal bisa langsung menulis? Nyatanya
tidak juga. Ini hanya soal kemauan. Kemauan untuk mencoba dengan menulis apa
saja yang dipikirkan atau apa saja yang kita ketahui. Dengan seringnya melatih,
lama-lama akan terlatih. Mengelola majalah kampus saat itulah membuat saya ‘terpaksa’
harus menulis. Akhirnya jadi terbiasa dan terbawa hingga sekarang. Tahun 2006
saya mulai membangun blog ini. Berarti sudah 9 tahun umur blog ini. Tidak
disangka juga.
Biasanya
yang menjadi kendala setiap orang adalah ide. Rutinitas kehidupan seperti roda
mesin terkadang memupus ide seseorang untuk menulis. Ide ini dasarnya dari
pengetahuan yang kita miliki. Pengetahuan bersumber dari bacaan. Bukan hanya
ide, bacaan juga menambah kekayaan kosa kata. Kekayaan kosa kata itu juga yang
mempengaruhi cara menulis. Maka, waktu untuk membaca memang harus lebih banyak
dari pada waktu untuk menulis demi menjaga kualitas tulisan. Kualitas tulisan
bukan terletak pada pilihan kata atau narasi cerita, tapi isi yang ingin di
sampikan. Semakin berkualitas bacaan semakin berisi pula isinya.
Di One Week One Note, ide adalah tantangan. Akhirnya saya tertantang untuk memikirkan ide sekali seminggu. Sebenarnya banyak ide yang ingin dituliskan. Tapi ada kendala waktu untuk menuliskan dan mencari bahan. Meski terkadang, menuliskan pengalaman keseharian lebih mudah. Tapi tak semua pengalaman harus dituliskan. Seperti tulisan ini, karena masih bingung apa yang ingin ditulis meski ide sudah ada, jadinya mendapat ide untuk menulis ini. Tak perlu bahan yang banyak. Hanya perlu ingatan.
Yang
jelas kemampuan menulis juga butuh proses. Saya juga perlu proses
bertahun-tahun agar bisa menulis dengan baik. Saat ini pun masih belum
bagus-bagus amat. Tak bisa instan. Di One
Week One Note ada tuntutan merutinkan membuat satu tulisan satu minggu, agar
menjadi tempat kami untuk menempa proses itu. Semua memang harus berawal dari
pemaksaan. Seperti kasus saya, yang akhirnya belajar menulis karena ada faktor ‘keterpaksaan’.
Semangat
kami hanya satu, bahwa kami ingin tetap menjadi bagian dari peradaban. Menulis
adalah tradisi para ulama dan intelektual. Peran ulama dan intelektual itulah
yang membentuk peradaban. Ada cita yang
ingin dirajut sebagai mantan aktivis kampus agar tetap menjadi bagian dari gerakan
intelektual pelaku perbuahan. Maka, kami ingin merubah dunia dengan menulis.
Meski ada satu masalah yang tak bisa terpecahkan dengan menulis, yaitu masalah yang
dikatakan salah seorang novelis nasional, “dengan menulis aku mungkin bisa
mengubah dunia, tapi belum tentu bisa mengubah hatimu.” ^_^

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.