| ilustrasi: tempo.co |
Di pinggiran tebing yang hanya beberapa ratus meter dari puncak Gunung Merbabu aku diam menyendiri. Menikmati hangatnya sinar mentari pagi dari tempat yang tinggi. Sinarnya pun memekarkan gumpalan awan sehingga langit seolah seperti musim semi. Bunga-bunga edelweis yang tumbuh disekitaran tebing pun tak ketinggalan memekar cantik seperti seorang putri.
Sambil mendengar iringan musik instrumental dari petikan gitar Masaaki Kishibe, Kotaro Oshio, dan detingan piano Yiruma, ada rasa tenang hati dalam diriku yang sedang menikmati kesunyian di alam bebas. Sesekali suara semilir angin menambah merdu iringan musik yang keluar dari headset iPod yang ku pakai.
Sengaja ku datang ke sini hanya untuk mencari sepi. Menenangkan pikiran dan meredam hati. Aku duduk santai di sebuah batu yang menempel kuat pada punggung gunung ini. Tempatnya tampak romantis, cukup nyaman untuk menyendiri sembari menikmati panaroma hijaunya daratan bumi. Di sebelah kanannya tampak jelas menjulang Gunung Merapi.
Sesekali aku hirup dalam udara segar pagi. Dengan pelan aku hembuskan nafas yang hangatnya mengalahkan hangat sinar mentari. Terus aku ulangi beberapa kali. Hingga mentari semakin meninggi. Ditengah kesunyian itu tiba-tiba seorang bapak bertubuh tegap datang seperti menghampiri. Kami pun saling bertatap wajah sambil senyum berseri.
“Permisi mas,” sapa bapak itu yang lewat di depanku. Tampak ia seperti seorang dari kesatuan militer. Terlihat dari kaos hijau dengan celana loreng seperti Pakain Dinas Lapangan (PDL) TNI. Sepatu lars hitam di kakinya dan tas ransel hijau kecil di punggungnya sudah cukup mudah aku simpulkan kalau ia seorang tentara.
“Iya, silakan pak.” Aku jawab sapanya. Ia terus berjalan perlahan sambil berhati-hati di pinggiran tepi tebing gunung. Aku tahu, ia sedang berjalan menuju jalan buntu. Tak ada jalan lagi ke arah yang ia tuju. Kecuali ia sedang mencari jalur baru. Mungkin ia bakal kembali melewati posisi dudukku lagi.
Memang benar, ternyata ia datang lagi. Sepertinya ada yang dicari. Wajah kami kembali bertatapan dan senyumnya kembali berseri. Tak tampak wajah sangar sebagai seorang TNI.
“Cari apa pak?” aku mencoba mulai menyapa sambil bertanya.
“Ingin lihat-lihat saja. Sendiri?” balas tanyanya sambil ku lepaskan headset yang kupakai untuk menghormati percakapan ini.
“Iya sendiri.” ku jawab sambil nyengir takut ia tak biasa melihat anak ingusan seperti aku yang seorang diri di gunung. “Bapak baru sampai?”
“Iya baru saja. Sambil nunggu anak buah.” Jawabnya.
“Jam berapa pak naik dari bascamp?” seperti biasa pertanyaan ini rutin ditanyakan setiap pendaki jika menyapa dan berbincang di atas gunung.
“Tadi mulai jam 4.” Jawaban yang mengagetkanku. Ini baru jam 7 pagi. Berarti ia hanya 3 jam mendaki, luar biasa sekali. Padahal aku biasanya baru jam 10 atau 12 malam mulai dari basecamp. Rata-rata perjalan 4-5 jam. Istirahat di jalan rata-rata bisa 2 kali 30 menit. Tapi akalku sadar, bapak itu tentara. Mendaki dengan cepat sudah biasa.
“Cepat juga ya pak. Saya beragkat 12 malam tadi, sampai sini jam 5 pagi. Hehe.” Ucapku sambil ia melihat jam tangannya.
“Iya-ya, baru jam 7.” ia juga tampak heran nampaknya. “Boleh saya ikut duduk? Istirahat sebentar. Tidak mengganggukan?”
“Iya, silakan pak.” Ucapku walaupun dalam hati agak sedikit terganggu. Heran juga mengapa ia memilih ketempatku ini. Tapi tak apa, setidaknya bisa berkenalan dengan seorang TNI. Syukur-syukur kalau ia ternyata perwira. Kulihat ia memakai topi hitam yang tertuliskan TNI AD.
“Tentara pak?” tanyaku untuk melengkapi jawaban penasaran.
“Keliatannya gimana?” tanyanya balik solah aku di suruh menebak pertanyaanku sendiri.
“Kalau dari tampilan bapak yang jelas bukan orang sembarangan.”
“hahaha..” tawanya lepas rasa ramah terlihat ia tunjukan.
“Ada acara apa pak ke sini?”
“Hanya latihan rutin biasa. Anak buah belum pada sampai. Tadi saya naik duluan. Mungkin setengah jam lagi.”
“Sering latihan di sini pak?”
“Tidak juga. Ini latihan fisik saja sambil liburan.”
“Liburanya TNI itu latihan fisik ya?”
“Hahaha,” ia tertawa lagi menerima pertanyaan konyolku, “kadang ia kadang tidak. Tergantung keinginan komandannya.”
“Ngomong-ngomong dari kesatuan mana pak?”
“Dari markas komando, Sukoharjo.” Awalnya agak bingung maksud dari markas komando. Apa maksudnya koramil, atau yonif. Tapi tak lama aku mencoba mengingat. Saat itu juga sadar, kalau di Sukoharjo itu ada markas Kopassus Grup 2.
“Kopassus maksud bapak?”
“Iya, tepat sekali.”
“Wah tak sangka saya bersama orang kopassus.”
“Kamu dari mana mas? Bukan orang jawa ya?” tanyanya coba menebak-nebak.
“Saya dari Jogja. Iya bukan jawa, hehe.”
“Kuliah?”
“Hmm.. begitulah.”
“Biasa sendiri naik gunung?”
“Tidak juga. Biasanya ramai-ramai. Ini hanya ingin sendiri saja. Mencari wangsit, hahaha.” Candaku sambil berkelakar.
“Baguslah. Bukan pria sejati namanya kalau belum menapakkan kakinya di puncak gunung.” Kata-katanya seperti memuji yang ku tanggapi dengan tertawa.
Obrolan perkenalan itu begitu singkat. Tetapi sudah terasa akrab. Cepat akrab bagi sesama pendaki gunung itu suatu yang lumrah. Sikap saling tolong menolong dan memberi cukup kentara di gunung. Itulah salah satu yang cukup menyenangkan dalam mendaki gunung.
Sebagai seorang yang mengaggumi dunia militer aku coba ingin bertanya berbagai hal dalam kesempatan ini. Beberapa pertanyaanku yang kadang aneh dan konyol aku ajukan. Seperti apa sudah pernah bunuh orang, bagaimana latihannya, taktik intelejen dan macam-macam, meski juga harus berhati-hati takutnya ada yang membuat tersinggung. Yang jelas, jangan sampai menyinggung soal politik.
Meski kami belum sempat berkenalan dan bertukar nama, bapak tentara yang umurnya perkiraan 40an tahun sangat terlihat ramah. Tidak ada pertanyaan yang tidak dijawabnya, meski pertanyaanku konyol di jawab juga dengan konyol. Sifat sombong dengan membanggakan kesatuannya juga tak ditunjukkan. Tidak seperti pengalamanku dulu yang pernah ngobrol dengan beberapa orang TNI, isi obrolannya hanya menjelek-jelekan polisi. Tapi tidak dengan bapak ini. Ia hanya menjelaskan apa yang ingin aku ketahui. Malah, aku yang sering banyak bertanya dari pada bapak ini.
Tiba-tiba terbesit olehku pertanyaan mengenai strategi tempur. Aku penasaran pangkat bapak ini. Sebab ia tidak memakai pakaian yang ada tanda pangkatnya. Ingin bertanya soal pangkat, aku cukup malu. Mungkin jika bertanya soal strategi dan jawabannya bagus, berarti ia seorang perwira.
“Pak, jika pasukan bapak berada digunung ini dan sedang dikepung musuh dari segala penjuru, strategi apa pak agar bisa keluar dari kepungan?” pertanyaan itu coba ku utarakan.
“Wah, kalau pertanyaan ini rahasia komando. Hahaha” di jawab sekenanya sambil berkelakar.
“Ingin tahu saja pak. Sapa tau ada ide dan inspirasi menarik dari jawaban strategi itu untuk menjawab kepungan masalah saya. Hahaha.” Aku coba menanggapi dengan juga berkelakar. “ Tapi kalo tak dijelaskan juga tidak apa-apa. Ganti pertanyaan yang lain saja.”
“Iya kelihatan. Dari wajah-wajah mu terlihat banyak masalah. Hahaha.”
“Hahaha..iya-ya. Wajah saya kelihatan bermasalah.” kami masih saling berkelakar.
“Jadi begini mas,” nampaknya ia mau serius menjawabnya. Langsung saja aku simak, “Apapun masalah yang kau hadapi. Termasuk masalah sedang dikepung musuh. Semuanya itu menyangkut soal pikiran. Ketika kau ingin bebas dari kepungan masalah, kau selalu terbebani dengan masalah dari keterbatasan-keterbatasan yang kau miliki. Ini soal mental mas. Bebaskan dulu mental takut mu.”
“Maksudnya membebaskan mental takut?”
“Masalah terbesar manusia adalah ketika takut untuk lepas dari penjara karena sudah merasa nyaman dengan kepasrahannya. Padahal jelas penjara itu adalah masalahnya. Strategi pertama adalah bebaskan mental terpenjara itu menjadi mental bahwa aku bisa bebas. Taklukan dulu pikiranmu dari rasa takut, rasa pasrah.”
“Oke, saya sedikit mengerti.”
“Lebih jelasnya begini. Kau tahu cara menaklukan gajah liar yang bertubuh besar untuk dijinakan?”
“Tidak pak.”
“Bener tidak tahu? Cobalah pikirkan.”
“Mmm.. diikat?”
“Gimana mengikatnya? Gajah itu bertubuh besar dan cukup kuat 50 orang pun mungkin tak mampu mengikat gajah yang berontak.” Aku pun berpikir keras untuk menjawab pertanyaan ini.
“Mungkin ditembak dengan bius?”
“Bisa saja. Lalu setelah itu?”
“Ya, diikat.”
“Gajah itu bakal bangun lagi dan akan berontak lagi. Pikirkan bagaimana kau mampu membuat gajah itu takluk dan menurutimu?” Pertanyaan ini membuat pikiranku tertantang. Tapi, aku tak berpengalaman dalam memahami gajah. Aku malas mikir. Sebaiknya menyerah sajalah.
“Tidak mengerti aku pak. Jelaskan saja pak bagaimana selanjutnya.”
“Hahaha, ternyata kau mudah menyerah. Bagaimana kau bisa jadi seorang penakluk.” dongkol juga dalam hatiku. Tapi tak apalah. Aku memang tak mengerti soal gajah ini. Namun aku penasaran bagaimana menaklukan gajah itu.
“Para pawang gajah biasa menggunakan obat bius untuk melumpuhkan gajah di awal.” Penjelasanya mulai menarik, sama seperti jawabanku tadi. Dengan serius aku menyimak. “Seperti yang kau bilang tadi, setelah lumpuh dan tak sadarkan diri gajah itu lalu diikat di sebuah pohon yang besar dengan rantai baja. Setelah sadar pelan-pelan gajah itu mulai berontak. Gajah akan mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berontak. Setiap kali berdiri, lalu mencoba berlari ia terjatuh. Begitu seterusnya. Biasanya berlangsung satu hari penuh sang gajah akan teriak, meronta, berdiri, mencoba berlari, lalu terjatuh, hingga ia lelah lalu dan tertidur. Kemudian dia terbangun lagi, mulai berteriak lagi, meronta lagi, terjatuh lagi seharian sampai lelah dan tertidur lagi.”
Aku masih menyimak dan tak sabar menunggu penjelasan selanjutnya. Semoga ini menjadi ilmu yang bermanfaat kelak. Ia masih melanjutkan, “Di saat-saat gajah itu terlihat pasrah dan lemas, sang pawang datang dengan membawa makanan. Maka, dengan lahap si gajah akan memakannya.”
“Bukannya nanti akan kuat kembali?” tanyaku heran.
“Memang itu tujuannya.” Aku kembali heran. “Setelah gajah kembali kuat, ia akan kembali berteriak dan merontah mencoba lepas dari ikatan itu, berdiri dan berusaha berlari lalu jatuh lagi. Hingga ia lemas kembali dan tidak sanggup lagi meronta. Saat itu sang pawang kembali datang dan memberinya makan. Begitu seterusnya, si gajah akan kuat kembali lalu meronta hingga lemas lalu sang pawang datang membawakan makanan. Perlakuan itu bisa berlangsung lama. Bisa ada sebulan.”
“Sabar sekali ya si pawang.” Timpaku.
“Usaha memang perlu sabar, mas.” lanjutnya, “Si gajah sudah merasakan kebaikan sang pawang di saat kesusahannya. Berkali-kali ia berjuang dan berontak, selalu berakhir sia-sia. Itu terus berulang hingga sampai pada fase si gajah pasrah. Di saat masa-masa kritis gajah, sang pawang datang membantu karena memberikannya makanan. Maka, gajah merasa pawang tersebut penolongnya. Sampai si gajah kemudian hari tak tampak memberontak lagi. Selanjutnya ia hanya diam saja sambil menunggu makanann datang dari sang pawang. Gajah sudah pasrah. ”
Ia masih bercerita, “Rantai pada gajah itu lalu dilepas. Kau tau apa yang terjadi?”
“Si gajah nurut?”
“ Ia benar. Si gajah hanya diam. Mestinya ia punya kesempaan untuk berontak. Ia sudah bebas kok. Ia bisa berlari kabur. Tapi kau tau kenapa gajah tidak berontak?”
“Sebab, gajah sudah lelah karena selalu gagal berontak terus. Makanya ia nurut saja pada si pawang yang terlihat menolongnya.” dengan bangga aku menjawab berharap ini benar.
“Sedikit tepat.” Ucapnya yang lagi-lagi membuat dongkol, mengapa tidak berkata “tepat” saja. Harus ada embel-embel sedikit. Seolah belum pasti benar. “Yang terikat bukan lagi rantai besi pada kakinya, namun pada pikiran si gajah. Mentalnya terikat oleh pupusnya harapan yang selalu gagal berkali-kali. Hidupnya kini hanya ia serahkan pada si pawang yang menurut anggapan si gajah adalah penolong sekaligus pemberinya hidup. Jadilah si gajah menurut dan bisa diperlakukan sesuai keinginan sang pawang.”
“Ooh.. begitu ternyata menjinakan gajah.”
“Apa yang kau bisa ambil dari pelajaran penjinakan gajah itu?”
“Strategi penaklukan kekuatan besar dengan gagasan cerdas dan hal-hal yang menyebabkan mental kita terpenjara, seperti gajah yang gagal bangkit karena mentalnya telah dikuasai kepasrahan.”
“Cukup benar. Tapi, strategi menaklukan gajah itu soal teknis. Yang terpenting dari cerita ini adalah soal mental bagaimana membangkitkan mental kita yang berkali-kali terus terjatuh. Melepaskan beban-beban yang memenjara pikiran mental kita adalah strategi pertama. Selanjutnya soal teknis.”
“Artinya, ketika kita sedang dikepung oleh musuh dari segara penjuru itu sama halnya kita sedang dalam penjara. Maka, ketika ingin bebas dari kepungan penjara, kita harus bebaskan pikiran kita dulu dari mental pasrah ke mental bahwa kita bisa bebas dari kepungan, bukan begitu?”
“Cerdas!” ucapannya singkat nan padat yang membuatku tersanjung, “Seperti dalam penjinakan gajah tadi. Setelah gajah ditaklukan sang pawang, pikiran gajah sudah terpenjara. Ia menjadi penurut dengan sang pawang. Itu yang menjadi beban masalah si gajah. Namun gajah adalah hewan, kita manusia. Kita bisa berpikir. Kita bisa tahu apa saja penyebab adanya beban yang ada dipikiran. Manfaatkan akal kita untuk itu. Untuk bebas dari kepungan. Jika kita masih seperti mental gajah tadi, biasanya pasukan akan cendrung menerapkan strategi bertahan. Padahal seperti kata pepatah: Sebaik-baik bertahan adalah menyerang.”
“Tetapi bukankah menyerang itu bisa saja disebut bunuh diri? Justru dengan bertahan bisa membuat hidup pasukan bertahan lebih lama.”
“Hahaha,” tawanya seperti meremehkan pertanyaanku. “Bertahan bagi saya itu pengecut. Kalau kita bisa menyerang kenapa harus bertahan. Hanya faktor-faktor tertentu yang membuat pilihan bertahan. Jika bertahan juga berujung kematian kenapa tidak mati dengan menyerang saja. Itu lebih patriot. Semua pilihan ada resiko. Saya percaya takdir. Hasil itu urusan Tuhan. Pasrahlah pada hasil, jangan pasrah pada proses. Yang penting kita bertempur dengan akal cerdas dan mental bebas.”
Ini jawaban sorang pemimpin. Aku yakin dia seorang perwira. Pasti berpangkat tinggi dengan pasukan yang banyak.
“Dan, di sini toh rupanya. Dicari dari tadi.” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul bersama seorang lainnya. Mereka berpenampilan tentara seperti bapak ini, tapi lebih muda. Lalu memanggi “Dan”, “apakah bapak ini komandannya?” tanyaku dalam hati.
“Oh, sudah sampai. Sudah lama? Maaf, keasikan ngobrol dengan anak ini.”
“Sudah sekitar lima belasan menit kami sampai, Dan!” Jawab mereka tegas.
“Baik, saya segera ke sana.”
“Yah, sudah dipanggil. Padahal seru cerita bapak. Saya merasa belum tuntas. Strategi selanjutnya belum terjawab.” Aku menyesal ternyata waktu obrolan ini hanya pendek saja. Kira-kira sekitar 40-45 menit kami berbincang. Tak terasa sekali.
“Hahaha. Kau lebih butuh jawaban tadi itu dari pada strategi-strategi teknis militer. Kalau mau jawaban tuntasnya masuk saja militer. Nanti akan diajari. Kalau urusan bisnis, kuliah, dn urusan hidup lainnya beda lagi cara penyelesaian teknisnya. Tergantung masalahnya. Strategi pertama itu, mental menyerang, bukan bertahan!.”
“Hmm, bener juga pak. Oke deh pak. Terimakasih banyak atas cerita dan nasehatnya. Tak sia-sia saya mendaki dan bertemu bapak hari ini.”
“Sama-sama, saya pergi dulu. Main-main saja ke markas. Kami juga sering melatih mental orang-orang sipil di situ. Ajak-ajak saja teman kau.”
“Siap Dan!” aku ikutan menyapa Dan. “Kalau boleh tahu nama bapak siapa?”
“Saya Iqbal. Mayor Iqbal,” ucapnya sambil kami berjabat tangan lalu saya balas dengan menyebut nama saya. Tidak disangka, ternyata bapak ini seorang mayor. Pangkat yang biasanya memimpin pasukan setingkat batalyon. Prajuritnya biasnya sejumlah seribu hingga dua ribu.
“Wah ternyata seorang Mayor. Tak menyangka saya bisa berbicang dengan perwira militer seperti ini. Bapak serasa seperti motivator dan trainer outbond. Sekali lagi terimakasih pak.” Ditanggapinya perkataan saya itu dengan sedikit tertawa sambil hendak siap beranjak. “Oh ya, boleh saya tanya satu lagi? Pendek saja.”
“Silakan.”
“Strategi menaklukan gajah tadi, apa bisa diterapkan untuk taklukan wanita?” tanyaku iseng.
“Hahahaha, ada-ada saja kau. Itu kau berdoa saja. Biarkan Tuhan yang menaklukan, hahaha.” Di jawabnya dengan penuh kelakar. “Ingat, Napoleon Bonaparte, seorang Panglima dan Kaisar Perancis yang ahli strategi dan hampir menguasai Eropa, tak berhasil menaklukan perempuan. Justru ia yang ditaklukan perempuan. Makanya, akhirnya kalah dengan Tsar Rusia, Hahaha.”
“Benar-benar, hahaha. Oke deh pak. Sekali lagi terimakasih.”
“Iya sama-sama. Ingat ya, kalau kau ingin bebas dari masalah yang kau hadapi, bebaskan dulu mental kau dari penjara ketakutan dan mental bertahan. Terutama bebaskan dari mental pecundang kau. Sebaik-baiknya bertahan adalah menyerang!” Pesan terakhir Sang Mayor Kopassus itu kepadaku sambil kami berjabat tangan perpisahan.
“Siap Dan!”
Komandan itu pergi. Aku kembali sendiri. Matahari semakin terik. Awan mulai menggumpal lebat. Sesekali, gumpalan awan itu menghampiri seperti semilir angin yang begitu segar. Daratan yang tadinya jelas terlihat kini mulai ditutupi bintik-bintik awan yang sebentar lagi membentuk lautan seperti tumpukan kapas.
Kembali aku memakai headset dan mendengar merdunya musik instrumental tadi sambil menikmati panorama karya Ilahi. Mulai ku renungi kata-kata sang mayor tadi. Senang rasanya mendapat pembinaan mental dari salah seorang komandan Kopassus TNI.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.