| ilustrasi: vistabunda.com |
Dia pernah aktif di dunia literasi ketika mahasiswa. Forum Lingkar Pena menjadi wadah ekspresinya. Berbagai karya sastra dari sastrawan nasional menjadi konsumsinya. Menulis pun menjadi produktifitasnya. Tapi kini, seolah ia membenarkan bahwa dunia kerjanya saat ini bertolak belakang dengan dunia literasi yang pernah digeluti. Sejak awal bekerja ia pernah bertekad tetap bisa menunjukkan sebagai seorang penulis meski dirinya jauh dari lingkungan literasi. Tapi, ucapannya tadi itu menyiratkan ada suatu cita yang gagal.
Sebenarnya pertanyaan retorik di atas itu juga pernah terhinggap dibenak saya. Saya pun juga merasakan, dunia kerja benar-benar mematikan kreativitas seseorang yang pernah digelutinya saat masa sekolah atau kuliah.
Seorang kawan yang lain juga pernah bercerita. Ia pernah menghadapi sebuah wawancara kerja. Saat wawancara kerja itu, si pewawancara malah curhat ke kawan saya itu. Ia curhat tentang idealisme dalam hobinya yang runtuh karena tuntutan pekerjaan. Si pewawancara kawan saya itu mengaku dulunya senang dengan fotografi. Hobinya tersalurkan ketika masa mahasiswa. Hanya karena ia kuliah di jurusan akuntansi, ia mesti bekerja di dunia yang sesuai dengan ijazah. Pergolakan batin dihadapinya ketika selama bekerja hobinya sulit disalurkan.
Seperti itulah realitasnya. Kita yang dulunya bebas berkreasi, bebas beridealisme, bebas mengatur apapun keinginan kita, harus terjebak ke dalam sistem perusahaan yang menuntut kita mengikuti sistem tersebut. Kita lebih dituntut berkreativitas untuk kepentingan tempat kerja dari pada kreativitas untuk diri sendiri. Belum lagi waktu kerja yang memporsir energi harian. Meski jam kerja memakan sepertiga waktu kita dalam sehari, tetap saja, sisa waktu dua pertiganya terlalu sulit digunakan untuk aktivtas lainnya selain istirahat dan urusan hajat pribadi. Terkadang tingkat stres kerja rasa lelahnya bisa melebihi dari waktu sepertiga tadi. Akan sulit untuk berpikir ke hal lain jika stres sepetiga waktu sebelumnya masih terbawa. Bisa juga, pengaruh faktor-faktor seperti mengurus keluarga, beres-beres rumah, bermacam urusan dengan teman, tetangga, dll, yang memakan sisa waktu dari dua pertiga tadi. Kecuali jika memang benar-benar berhasil memanajemen waktu dan mengatur stres dengan baik. Maka, beruntung dan bersyukurlah kalian yang bisa berpenghasilan dari hobi atau kreativitas yang disenangi.
Saya juga kurang tahu bagaimana kesibukan kawan saya yang bankir itu. Kalau saya sendiri tetap berusaha untuk menyediakan waktu membaca dan menulis di luar jam kerja. Meski memang agak sulit bisa rutin menulis, saya tetap mencoba mengerjakannya di waktu hari-hari libur jika tak punya aktivitas lain. Malah kadang, jika hanya tulisan ringan bisa saya kerjakan saat jam bekerja di kantor. Biasanya dilakukan jika sedang bosan dan pekerjaan di hari itu sudah diselesiakan. Berbeda dengan tulisan berat yang butuh waktu khusus.
Walau bagaimana pun, sangat penting memiliki kreativitas atau aktivitas lain di luar waktu kerja. Aktivitas kerja memiliki masa dimana kita akan mengalami kebosanan. Ada masa dimana kita terlalu bersemangat. Lalu masa dimana kita tertekan. Rutinitas kerja itu membuat hidup seperti mesin. Meski gaji besar dengan fasilitas perusahaan nyaman, belum tentu juga menjamin kebahagian seorang karyawan jika hidupnya sudah terjebak seperti mesin. Itulah mengapa, tingkat stres di kota-kota besar dan kota industri cukup tinggi. Seperti hasil penelitian Happy Planet Index (cek di happyplanetindex.org), negara dengan produktivitas ekonomi dan pendapatan yang tinggi tidak berbanding lurus dengan tingkat kebahagian penduduknya. Justru, negara-negara berkembang dengan ekonomi tidak maju masuk peringkat tinggi sebagai bangsa yang bahagia. Seperti kata pepatah “uang mampu membeli segalanya, kecuali kebahagiaan”.
Aktivitas atau hobi diluar kerja bisa menjaga hidup kita tetap hidup. Terhindar dari kehampaan. Bisa merasakan makna dan hakikat kehidupan. Seperti saya, membaca dan menulis salah satu aktivitas di luar kerja yang bisa dikatakan menyenangkan, selain mendaki gunung dan traveling. Membaca bukan saja menambah pengetahuan, tetapi bisa mengekang rasa hampa akibat stres kerja dan masalah hidup yang lain. Begitu juga menulis, seperti kata Hernowo, menulis cara untuk mengikat makna. Menulis menjadi sarana aktualisasi, katarsis, dan cara bisa memaknai realitas. Dengan begitu insya Allah, kreativitas tetap terjaga.
Mungkin itu yang terjadi dengan teman saya. Terjebak dalam aktivitas mekanik. Rutinitas dan tekanan kerja bisa jadi telah mengeringi gagasan kreativitasnya. Yang menjadi bahaya berdampak pada gairah kerja akan menurun. Kalau sudah menurun susana kerja jadi tak nyaman. Kesal dengan pekerjaan. Produktivitas menurun. Efeknya bukan hanya pada diri saja, tapi bisa mempengaruhi hubungan dengan kawan sekitar dan keluarga di rumah. Mempunyai aktivitas kesenangan di luar pekerjaan menjadi penting. Lebih penting lagi jika kita mampu mendapat pekerjaan sesuai bakat dan, -kalau kata Rhenald Kasali: ‘meaning’ kita.
Teringat ucapan menarik dari kawan saya yang lainnya lagi ketika berbicang masalah pekerjaan. Ditengah pengalaman sulitnya dalam bekerja, ia memotivasi dirinya, “Bisa bekerja sudah bersyukur. Bisa bermanfaat buat orang lain. Jadi, apapun yang terjadi dinikmati saja, Insya Allah ada jalan keluar.” Menariknya, ketika kawan saya ini berhasil diterima PNS dengan gaji yang lebih kecil dari pekerjaan sebelumnya dianggap bukan masalah baginya karena merupakan suatu pengabdian, “Mau kerjaaan apapun dinikmati aja. Yang penting (berusaha) happy 😇” ujarnya.
Hehe.. semoga bermanfaat buat kau para buruh pekerja!
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.