![]() |
| Foto: okezone.com |
Keputusan tak jadi melaut menjadi langkah Sunan, nelayan dari Kuala Langsa,
Aceh, setelah bertemu kapal yang penuh sesak dengan manusia di tengah laut.
Padahal, ia baru saja berangkat melaut mencari ikan yang rencananya selama 4-5
hari. Bertemunya dengan para pengungsi yang terlantar di lautan membuat Sunan
dan beberapa nelayan yang lain iba. Tak sampai hati, mereka pun mendekat.
"Begitu mereka melihat kami, beberapa melompat ke air. Ada yang
berenang, ada yang begitu sampai air tidak muncul lagi, tewas tenggelam,
mungkin karena perut kelaparan sehingga tidak ada tenaga," kata Sunan yang
ditulis oleh Denny Armandhanu di cnnindonesia.com (21/5/15).
Segera saja Sunan menghampiri mereka dan menghubungi rekanan sesama nelayan
untuk menolong. Satu persatu para pengunsi itu berpindah ke kapal para nelayan
Aceh. Keputusan tidak jadi mencari ikan membuat mereka kehilangan penghasilan.
"Kami tidak menyesal menyelamatkan mereka, ini kebanggaan bagi kami jadi
pelaut. Di laut jika ada yang butuh pertolongan pasti dibantu," ujar
Sunan.
Jarak antara ditemukannya pengungsi Rohingya oleh nelayan Aceh dengan
daratan sekitar 4-5 jam perjalanan. Selama perjalanan menuju darat, para
nelayan dengan kerelaannya mengeluarkan dan memasak semua bekal perjalanan
selama 5 hari. Mereka tidak tega melihat para pengungsi yang kelaparan selama
berhari-hari. Apalagi juga banyak terdapat anak-anak.
Ketika hendak sampai di darat, penyelamatan warga terusir ini tak mudah.
Mereka harus tertahan oleh polisi air yang melarang para imigran gelap masuk ke
daratan Indonesia. Tapi para nelayan itu tetap nekat. Malah rencanannya, jika
para pengungsi tersebut tidak boleh didaratkan, mereka akan demonstrasi.
Beruntung, berita kehadiran pengungsi ini cepat tersebar. Pemerintah, melalui
mentri luar negeri, segera bertindak melakukan konsolidasi dengan negara-negara
ASEAN agar bisa memberikan tampungan sementara. Sunan dan para nelayan lainnya
bernafas lega setelah sebelumnya mendapat ancaman penjara karena melanggar
perintah para “berwajib”.
Aksi heroik juga dilakukan oleh para nelayan dari Desa Simpang Lhee,
Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur. Malah, mereka harus menarik kapal para
pengungsi ke dalam muara karena desa mereka tidak terletak di tepi pantai. Itu
pun dilakukan saat tengah malam.
Setelah sampai di daratan, para warga teraniaya di negerinya diterima
dengan sangat terbuka oleh warga Desa Simpang Lhee. Kondisinya sangat
mengharukan. Para warga berbondong-bondong memberi bantuan pakaian dan makanan
setelah para pengungsi ini di tampung di surau desa. “Semua bantuan itu murni
dari masyarakat, tidak ada yang dari pemerintah,’’ tegas Muhammad Nasir, tetua
kampung yang dikutip dari jpnn.com (21/5/15).
Tak hanya pengorbanan tenaga dan waktu, harta berupa modal melaut juga
habis untuk menyelamatkan pengungsi itu. Modal melaut tidak hanya bahan
makanan, solar sebagai bahan bakar kapal juga habis saat aksi penyelamatan.
’’Saya rugi sekitar Rp 5 juta. Tetapi, saya ikhlas. Rezeki bisa dicari. Tetapi,
kesempatan menyelamatkan ratusan nyawa orang, kapan lagi kami dapat?’’ kata
Fakhri, salah seorang nelayan yang juga dikutip dari jpnn.com (21/5/15).
Adenan, seorang nelayan dari Kota Langsa, Aceh, juga tak ketinggalan ikut
melakukan aksi penyelamatan. Pengorbanan tak jadi melaut dan memberikan tenaga,
materi, dan waktu yang dimilikinya juga ia berikan demi menyelamatkan saudara
seiman yang terusir di negerinya.
“Saat kami menolong mereka, tak ada di hati kecuali rasa iba. Saya
membayangkan saat itu, seandainya mereka itu adalah kami, tentu kami saat itu
akan sangat berharap pertolongan dari siapapun,” kata Adenan saat ditemui
relawan dari ACT yang di tulis Islampos.com (19/5/15).
Sebelumnya, memang ada perintah dari Panglima TNI untuk tidak menerima para
pengungsi masuk ke perairan Indonesia. TNI sebagai penjaga kedaulatan negara
memiliki kewajiban mematuhi apa yang sudah disepakati ‘peraturan’ bernegara dan
berbangsa. Keengganan para aparat, baik di atas maupun di lapangan,
menyelamatkan para pengungsi bisa jadi bukan mereka tak punya hati, tapi demi
menjaga pekerjaan mereka yang harus taat pada ‘atasan’ dan 'aturan'. Setidaknya, dari
beberapa berita sebelum para pengungsi yang masuk ke daratan Aceh, etnis yang sedang terapung sempat dibekali
makanan dan bahan bakar oleh TNI AL. Lalu, kapal mereka kemudian didorong
keluar agar tidak memasuki wilayah Indonesia.
Perintah TNI itu memang ditaati oleh para nelayan. "Kalau negara kita
melarang, kami harus patuh, karena yang kami laksanakan di bawah lembaga
kearifan lokal itu sesuatu yang tidak bertentangan dengan Undang-undang
negara," kata Panglima Laot Provinsi Aceh, Teuku Bustaman, kepada
wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, yang dikutip dari bbc.com/indonesia
(18/5/15).
Tapi nyatanya mereka tak sampai hati bila tidak menolong orang-orang yang
mereka jumpai ditengah laut dalam kondisi yang memprihatinkan. "Rasanya
kami tidak sampai hati untuk tidak menolong. Susah, karena ini masalah
kemanusiaan," kata Bustaman.
Bustaman juga bercerita bila pernah memiliki pengalaman diselamatkan oleh
kapal negera lain ketika mengalami kesulitan di tengah laut. Apalagi kata
seorang nelayan lainnya yang bernama Rahman mendengar teriakan Allahu Akbar
dari para pengungsi yang melihat kapal mereka mendekat membuat dirinya
terpanggil untuk menyelamatkan.
Sikap tak sampai hati warga Aceh juga berlanjut pada mereka yang bukan
nelayan. Sebagai warga yang pernah ditolong oleh berbagai negara saat bencana
tsunami membuat mereka seperti merasakan penderitaan yang sama. Sayangnya, niat
baik mereka seperti dinafikan oleh Pemerintah RI. Terlihat dari sikap TNI yang
melarang para nelayan tadi dan pemerintah yang enggan menampung secara
permanen. “Kami warga Aceh bersedia menampung mereka di tanah kami. Kalau
Pemerintah Indonesia tidak bersedia biarkan kami mendirikan negara sendiri!”
tulis salah seorang, yang mungkin warga Aceh, pada sebuah komentar di social
media.
Berbondong-bondong para ibu-ibu mendirikan dapur umum di setiap desa.
Mereka tanpa kenal lelah memasak untuk mengisi perut pengungsi. Bapak-bapak
juga giat mengatur pembagian makanan kesetiap para pengungsi. Para pemuda tak
ketinggalan. Mereka ikut berpartisipasi dengan memberikan hiburan kepada
pengungsi yang masih terlihat murung. Sebagian berpartisipasi menjaga keamanan. Tak ketinggalan
anak-anak sekolah ikut memberikan apa yang mereka miliki kepada bocah-bocah
dari tanah terusir itu.
![]() |
| Para siswi Aceh yg kut membantu memberi sedikit makanan kepada anak Rohingya di Bayeun. Foto: BBC Indonesia |
Para pengungsi, terkhusus wanita tak terlihat kumal lagi. Bantuan pakaian
yang masih bagus-bagus mereka pakai. Karena warga aceh itulah, para
pengungsi perempuan juga bisa terlihat cantik dengan jilbab barunya.
Apapun warga Aceh lakukan untuk bisa membantu sesama saudar aseiman. Jika tak memiliki harta bisa
juga tenaga. Memiliki keahlian tertentu pun juga menjadi cara warga Aceh
menunjukkan kepeduliannya. Seperti hal unik yang dilakukan Pak Razali dari
Keude Lapang, Lhoksukon, Aceh Utara. Ia sangat ingin membantu para pengungsi
itu. Tapi tak punya cukup uang, termasuk umur sudah agak tua. “Apa yang bisa
Anda lakukan?” tanya tim relawan yang ditulis oleh ACTNews di act.id. “Saya
bisa memangkas rambut anak-anak itu. Kasihan, mereka tak karuan
rambutnya," ujar Razali. Rambut anak-anak Ronhingnya yang panjang-panjang
dengan keahlian jemari dan gunting Pak Razali bisa membuat mereka tampak lebih
rapi. Berharap, dengan tampilan baru anak-anak Rohingya akan lahir hidup baru yang lebih baik di kehidupan mereka kelak.
Banyak hal cara warga Aceh menujukan kepeduliannya. Seperti yang ditulis
Denny Armandhanu di sebuah kolom di cnnindonesia.com berjudul Kebaikan Warga
Aceh yang Mengharukan menuliskan, “Di saat banyak negara, termasuk
Indonesia, menafikan keberadaan Rohingya atas nama kedaulatan negara, wilayah,
ketahanan sosial dan tetek bengek lainnya, warga Aceh tidak pikir dua kali
menarik Rohingya ke daratan, melayaninya dengan istimewa. Mungkin ini adalah
cerminan dari anjuran memuliakan tamu yang disampaikan junjungan umat Islam,
Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam.”
Orang yang pernah menderita biasanya lebih peka terhadap penderitaan orang
lain. Begitu juga Aceh yang berpuluh-puluh telah tahun mengalami penderitaan.
Sejarah mencatat, selama berpuluh-puluh tahun mereka harus berperang melawan
Belanda setelah kedaulatannya yang telah beradad-abad berdiri mulai
dikolonisasi di akhir abad 19.
Rasa penderitaan itu mereka balaskan dengan kepedulian pada Indonesia yang
baru berdiri dengan bersedia bergabung menjadi wiayah RI. Kepekaan warga Aceh terlihat dari aksi mereka yang berbondong-bondong
mengumpulkan hasil tani hingga perhiasan emas para ibu-ibunya untuk membantu
keuangan Republik yang baru berdiri. Terbelilah Dakota RI-001 sebagai pesawat
milik Pemerintah RI pertama yang diberi nama Seulawah. Tapi, kepekaan
itu harus terkhianati beberapa tahun kemudian.
Penghianatan pemerintah Soekarno hingga Soeharto yang menyebabkan berpuluh
tahun lamanya mereka berperang dan berontak menuntut janji. Selesai ujian
konflik, ujian ‘Tuhan’ berupa bencana tsunami membawa pelajaran yang lebih
berharga bagi kehidupan mereka. Mereka tak pernah merasa ini kemarahan Sang
penguasa alam, atau tak adilnya Tuhan. Tapi inilah cara Tuhan mendidik mereka
menjadi manusia yang lebih manusia.
Nb:
Mohon maaf, jika penulis ini masih belum bisa banyak membantu kepedihan
saudara Rohingya. Terimakasih warga Aceh.


0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.