Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum,
Hei Kau,
Jika doa kau belum terkabulkan, janganlah menyerah.
Teruslah berdoa. Kalau pun doa kau tak terkabulkan, bait-bait kata dalam doa
kau sudah menjadi nilai pahala. Karunia Allah tak pernah terbatas, seperti
karunia Allah pada Ibrahim. Ibrahim selama berpuluh-puluh tahun lamanya sangat
penuh harap bisa memiliki turunan agar ada yang melanjutkan risalah dakwahnya.
Ia berdakwah kesekian tempat, tak banyak orang yang mau mengikuti ajakannya. “Ya
Tuhanku, anugerahkan kepadaku seorang anak yang termasuk orang yang Shalih.”
(Ash-shaffat : 100) Terus ia berdoa tanpa pernah menyerah bahwa Allah akan
mengabulkan permohonannya.
Doa itu terkabulkan ketika usianya telah masuk 90
tahun. Anak pertamanya, seperti yang sudah diceritakan pada surat sebelumnya,
lahir di rahim istri kedua yang bernama Hajar. Karunia Allah tidak berhenti
sampai di situ. 14 Tahun kemudian, dari rahim istri pertama, Sarah, lahirlah anak
yang diberinama Ishaq.
Masihkah ingat kisah Ibrahim ketika kedatangan tamu
dari para malaikat? Kisah yang sudah aku singgung pada judul Misi Ketauhidan
Bapak Para Nabi dan Hari yang Sulit Nabi Luth. Kehadiran malaikat itu cukup mengejutkan
Ibrahim. Selain mengabarkan akan terjadi tragedi pada kaum Nabi Luth, ia juga
mendapat kabar akan lahirnya Ishaq. Kebahagiaan terpancar di raut mereka.
Terutama Sarah, yang telah menvonis dirinya mandul. Ia selalu merasa tak bisa
memberikan keturunan pada manusia yang begitu mulia di sisi Allah. Takdir Allah
menuliskan, Sarah telah menjadi ibu untuk generasi yang sering disebutkan di
dalam Al-Qur’an, yakni Bani Israel.
Dan Kami beri dia kabar
gembira dengan kelahiran Ishaq seorang Nabi yang termasuk orang-orang saleh.
Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Dan diantara
keturunannya ada yang berbuat baik dan ada yang terang-terangan berbuat zalim
terhadap dirinya sendiri. (Ash Shaffat : 112-113)
Ishaq lahir dari ikhtiar dalam doa. Begitu juga Ya’qub,
anak Ishaq. Ia juga terlahir dari ikhtiar dalam doa. Ibnu Katsir mengambil dari
sumber Israliat yang ditulisnya di Al Bidayah wa An-Nihayah menceritakan; Ishaq menikahi seorang
wanita yang ternyata mandul. Ribka binti Betuel namanya. Meski vonis sudah
dicapkan, doa-doa Ishaq menjadi jalan awal sebuah ikhtiar merubah kondisi yang
membalikan. Doanya dikabulkan oleh Allah ketika usianya menginjal 40 tahun.
Kala itu Ibrahim masih hidup. Artinya, Ibrahim dengan usia yang sudah sangat
tua, ia masih bisa menggendong cucu yang diberkahinya. Cucu yang diberi nama
Ya’qub ini juga hasil doa-doa Ibrahim yang telah dikabarkan oleh Allah.
Dalam catatan sejarah dari sumber Israliat itu juga,
yang lahir dari rahim Ribka bukan saja Ya’qub, namun sekaligus anak yang diberi
nama Ishu atau Esau. Jadi mereka lahir berbarengan, atau disebut saja lahir
kembar.
Dalam catatan itu juga dikatakan bahwa Ishaq lebih
mencintai Ishu dari pada Ya’qub. Perjalanan hidup kedua anak mereka menjadi
kisah persaingan bagaimana mereka berusaha mendapatkan kasih sayang dan doa
dari sang ayah.
Suatu ketika, Ishaq meminta Ishu makanan dari daging
hewan buruan yang diiginkannya. Ishu memang seorang yang pandai berburu. Saat
ia pergi mencari hewan buruannya, keinginan Ishaq diketahui oleh sang istri
yang justru yag paling menyayangi Ya’qub dari pada Ishu. Lalu Ya’qub
diperintahkan ibunya agar bisa mengantikan Ishu untuk memenuhi permintaan sang ayah.
Tapi tidak dengan cara berburu, namun dengan menyembelih hewan dari ternaknya
lalu di masak sesuai keinginan Ishaq. Kemudian sang ibu mendandani Ya’qub agar
mirip dengan Ishu. Kemudian Ya’qub membawa makanan itu ke ayahnya. Ishaq pun
tak curiga dan menyantap makannanya hingga habis. Lalu ia mendoakan Ya’qub
(yang dikira Ishu) agar menjadi pemimpin dari keturunannya, keturunan saudaranya,
memiliki derajat yang lebih tinggi dari saudaranya, serta dianugerahi rezeki
yang lebih banyak.
Setelah Ya’qub selesai dari melayani sang ayah,
datanglah Ishu. Keheranan terjadi pada Ishaq. Ia berkata kepada Ishu bahwa
telah mendapat makanan darinya barusan. Tapi Ishu baru saja membawakannya. Ishu
pun menyadari kalau adiknya telah mendahului dirinya. Ishu pun marah karena
kesal dengan perbuatan Ya’qub. Ishu bersumpah akan membunuh Ya’qub.
Mengetahui keinginan Ishu, sang ibu meminta Ya’qub
pergi ke rumah pamannya, yang bernama Laban, di negeri Harran. Pergilah Ya’qub
ke negeri haran untuk tinggal sementara di rumah pamannya. Selama tinggal
bersama sang paman, Ya’qub meminta untuk dinikahkan ke salah satu putrinya. Ada 2 orang
putrid Laban; yang pertama Laya dan kedua Rahil. Ya’qub lebih memilih Rahil
yang lebih muda dari Laya karena lebih cantik. Laban memberikan syarat
ke Ya’qub agar berkeja mengembala kambing mereka selama tujuh tahun. Setelah
tiba waktu untuk menikah, ternyata Laban menikahkan Ya’qub dengan Yala dengan
alasan adat ditempat mereka tidak boleh melangkahi sang kakak dalam pernikahan.
Akhirnya Ya’qub menikah denga Laya. Jika ingin menikah dengan Rahil, Ya’qub harus mengembala kambing
lagi selama tujuh tahun. Ya’qub pun menyetujui. Setelah tujuh tahun, menikahlah
Ya’qub dengan Rahil.
Selama pernikahan itu, Laya bisa melahirkan banyak
anak, anak-anak dari Laya bernama Raubil, Syam’un, Lawi, dan Yahudza. Berbeda dengan
Rahil, hingga telah lama menikah belum juga dikaruniai anak. Rahil pun
cemburu.
Maka, Rahil memberikan budak miliknya yang bernama Balha agar dinikahi Ya’qub.
Dari balha lahirlah anak bernama Dan lalu Yaftsali. Laya juga tak mau kalah. Ia
pun juga memberikan budak yang dimilikinya untuk dinikahkan kepada Ya’qub, lalu
lahir anak-anak yang bernama Jad dan Usyair. Laya pun melahirkan lagi anak yang
diberi nama Aosakhar, kemudian Zabilun. Terakhir lahir anak perempuan yang diberi
nama Dina.
Rahil tetap ingin punya anak. Ia pun berdoa kepada
Allah agar bisa dikaruniai anak. Permintaannya akhirnya dikabulkan Allah. Rahil yang sungguh-sungguh berdoa, melahirkan anak yang lebih Shalih dibanding
anak-anak Ya’qub yang lain. Anak itu diberi nama Yusuf. Terakhir, Rahil
dikarunia lagi anak, namun saat melahirkan ia meninggal. Anak terkahir Ya’qub
itu bernama Bunyamin.
Mungkin perlu kau ketahui, bahwa pada saat itu syariat
masih memperbolehkan menikahi kakak adik sekaligus. Begitu juga menikahi para
budak merupakan suatu hal yang lumrah dan tidak melanggar syariat.
Dari pernikahan itu Ya’qub pun memiliki 12 anak. Dari
laya; Raubil, Syam’un, Lawi, Yahudza, Aisakahr, dan Zabalun. Dari Rahil; Yusuf
dan Bunyamin. Dari budak wanita Rahil; Dan, dan Naftsali. Lalu dari budak
wanita Laya; Jad dan Asyir. Semua anak-anaknya ini yang nantinya menurunkan
bangsa yang terkenal dengan sebutan Bani Israel (disebut juga Yahudi). Ya’qub juga sering
disebut dengan nama Israel.
Banyak anak banyak rezeki, mungkin seperti itu yang
dialami Ya’qub. Anak-anak Ya’qub bukan saja menjadi kebahagiaan buat dirinya,
namun juga karunia Allah kepada Ishaq dan Ibrahim untuk melanjutkan risalah
katauhidan yang masa itu tak banyak manusia yang menyembah Allah.
Seperti yang aku katakan tadi, dari semua anak-anak
Ya’qub hanya Yusuf yang paling Shalih dan memiliki kelebihan khusus, yaitu ahli
takwil mimpi yang juga paling tampan. Yusuf pun yang paling disayang Ya’qub,
kemudian diikuti Bunyamin. Sebab, mereka terlahir dari Ibu paling Shalih.
Mari kita lanjutkan tentang Yusuf dan
saudara-saudaranya di surat berikutnya.
Maha besar Allah yang Maha Mengabulkan (Al Mujiib).
Wassalamu'alaikum
Jogja, 3 Januari 2015
@RidwanHd
Baca,
Selanjutnya >> : Surat untuk Kau - 10 : Mimpi yang Menakdirkan Nabi Yusuf
Sebelumnya >> : Surat untuk Kau - 8 : Jejak-jejak Nabi Ismail
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.