Sabtu, 03 Januari 2015

Surat untuk Kau - 9 : Doa yang Melahirkan Ishaq, Ya’qub, dan Yusuf



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum,

Hei Kau,

Jika doa kau belum terkabulkan, janganlah menyerah. Teruslah berdoa. Kalau pun doa kau tak terkabulkan, bait-bait kata dalam doa kau sudah menjadi nilai pahala. Karunia Allah tak pernah terbatas, seperti karunia Allah pada Ibrahim. Ibrahim selama berpuluh-puluh tahun lamanya sangat penuh harap bisa memiliki turunan agar ada yang melanjutkan risalah dakwahnya. Ia berdakwah kesekian tempat, tak banyak orang yang mau mengikuti ajakannya.  Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku seorang anak yang termasuk orang yang Shalih.” (Ash-shaffat : 100) Terus ia berdoa tanpa pernah menyerah bahwa Allah akan mengabulkan permohonannya.

Doa itu terkabulkan ketika usianya telah masuk 90 tahun. Anak pertamanya, seperti yang sudah diceritakan pada surat sebelumnya, lahir di rahim istri kedua yang bernama Hajar. Karunia Allah tidak berhenti sampai di situ. 14 Tahun kemudian, dari rahim istri pertama, Sarah, lahirlah anak yang diberinama Ishaq.

Masihkah ingat kisah Ibrahim ketika kedatangan tamu dari para malaikat? Kisah yang sudah aku singgung pada judul Misi Ketauhidan Bapak Para Nabi dan Hari yang Sulit Nabi Luth. Kehadiran malaikat itu cukup mengejutkan Ibrahim. Selain mengabarkan akan terjadi tragedi pada kaum Nabi Luth, ia juga mendapat kabar akan lahirnya Ishaq. Kebahagiaan terpancar di raut mereka. Terutama Sarah, yang telah menvonis dirinya mandul. Ia selalu merasa tak bisa memberikan keturunan pada manusia yang begitu mulia di sisi Allah. Takdir Allah menuliskan, Sarah telah menjadi ibu untuk generasi yang sering disebutkan di dalam Al-Qur’an, yakni Bani Israel.

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq seorang Nabi yang termasuk orang-orang saleh. Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishaq. Dan diantara keturunannya ada yang berbuat baik dan ada yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. (Ash Shaffat : 112-113)

Ishaq lahir dari ikhtiar dalam doa. Begitu juga Ya’qub, anak Ishaq. Ia juga terlahir dari ikhtiar dalam doa. Ibnu Katsir mengambil dari sumber Israliat yang ditulisnya di Al Bidayah wa An-Nihayah menceritakan; Ishaq menikahi seorang wanita yang ternyata mandul. Ribka binti Betuel namanya. Meski vonis sudah dicapkan, doa-doa Ishaq menjadi jalan awal sebuah ikhtiar merubah kondisi yang membalikan. Doanya dikabulkan oleh Allah ketika usianya menginjal 40 tahun. Kala itu Ibrahim masih hidup. Artinya, Ibrahim dengan usia yang sudah sangat tua, ia masih bisa menggendong cucu yang diberkahinya. Cucu yang diberi nama Ya’qub ini juga hasil doa-doa Ibrahim yang telah dikabarkan oleh Allah.

Dalam catatan sejarah dari sumber Israliat itu juga, yang lahir dari rahim Ribka bukan saja Ya’qub, namun sekaligus anak yang diberi nama Ishu atau Esau. Jadi mereka lahir berbarengan, atau disebut saja lahir kembar.

Dalam catatan itu juga dikatakan bahwa Ishaq lebih mencintai Ishu dari pada Ya’qub. Perjalanan hidup kedua anak mereka menjadi kisah persaingan bagaimana mereka berusaha mendapatkan kasih sayang dan doa dari sang ayah.

Suatu ketika, Ishaq meminta Ishu makanan dari daging hewan buruan yang diiginkannya. Ishu memang seorang yang pandai berburu. Saat ia pergi mencari hewan buruannya, keinginan Ishaq diketahui oleh sang istri yang justru yag paling menyayangi Ya’qub dari pada Ishu. Lalu Ya’qub diperintahkan ibunya agar bisa mengantikan Ishu untuk memenuhi permintaan sang ayah. Tapi tidak dengan cara berburu, namun dengan menyembelih hewan dari ternaknya lalu di masak sesuai keinginan Ishaq. Kemudian sang ibu mendandani Ya’qub agar mirip dengan Ishu. Kemudian Ya’qub membawa makanan itu ke ayahnya. Ishaq pun tak curiga dan menyantap makannanya hingga habis. Lalu ia mendoakan Ya’qub (yang dikira Ishu) agar menjadi pemimpin dari keturunannya, keturunan saudaranya, memiliki derajat yang lebih tinggi dari saudaranya, serta dianugerahi rezeki yang lebih banyak.

Setelah Ya’qub selesai dari melayani sang ayah, datanglah Ishu. Keheranan terjadi pada Ishaq. Ia berkata kepada Ishu bahwa telah mendapat makanan darinya barusan. Tapi Ishu baru saja membawakannya. Ishu pun menyadari kalau adiknya telah mendahului dirinya. Ishu pun marah karena kesal dengan perbuatan Ya’qub. Ishu bersumpah akan membunuh Ya’qub.

Mengetahui keinginan Ishu, sang ibu meminta Ya’qub pergi ke rumah pamannya, yang bernama Laban, di negeri Harran. Pergilah Ya’qub ke negeri haran untuk tinggal sementara di rumah pamannya. Selama tinggal bersama sang paman, Ya’qub meminta untuk dinikahkan ke salah satu putrinya. Ada 2 orang putrid Laban; yang pertama Laya dan kedua Rahil. Ya’qub lebih memilih Rahil yang lebih muda dari Laya karena lebih cantik. Laban memberikan syarat ke Ya’qub agar berkeja mengembala kambing mereka selama tujuh tahun. Setelah tiba waktu untuk menikah, ternyata Laban menikahkan Ya’qub dengan Yala dengan alasan adat ditempat mereka tidak boleh melangkahi sang kakak dalam pernikahan. Akhirnya Ya’qub menikah denga Laya. Jika ingin menikah dengan Rahil, Ya’qub harus mengembala kambing lagi selama tujuh tahun. Ya’qub pun menyetujui. Setelah tujuh tahun, menikahlah Ya’qub dengan Rahil.

Selama pernikahan itu, Laya bisa melahirkan banyak anak, anak-anak dari Laya bernama Raubil, Syam’un, Lawi, dan Yahudza. Berbeda dengan Rahil, hingga telah lama menikah belum juga dikaruniai anak. Rahil pun cemburu. Maka, Rahil memberikan budak miliknya yang bernama Balha agar dinikahi Ya’qub. Dari balha lahirlah anak bernama Dan lalu Yaftsali. Laya juga tak mau kalah. Ia pun juga memberikan budak yang dimilikinya untuk dinikahkan kepada Ya’qub, lalu lahir anak-anak yang bernama Jad dan Usyair. Laya pun melahirkan lagi anak yang diberi nama Aosakhar, kemudian Zabilun. Terakhir lahir anak perempuan yang diberi nama Dina.

Rahil tetap ingin punya anak. Ia pun berdoa kepada Allah agar bisa dikaruniai anak. Permintaannya akhirnya dikabulkan Allah. Rahil yang sungguh-sungguh berdoa, melahirkan anak yang lebih Shalih dibanding anak-anak Ya’qub yang lain. Anak itu diberi nama Yusuf. Terakhir, Rahil dikarunia lagi anak, namun saat melahirkan ia meninggal. Anak terkahir Ya’qub itu bernama Bunyamin.

Mungkin perlu kau ketahui, bahwa pada saat itu syariat masih memperbolehkan menikahi kakak adik sekaligus. Begitu juga menikahi para budak merupakan suatu hal yang lumrah dan tidak melanggar syariat.

Dari pernikahan itu Ya’qub pun memiliki 12 anak. Dari laya; Raubil, Syam’un, Lawi, Yahudza, Aisakahr, dan Zabalun. Dari Rahil; Yusuf dan Bunyamin. Dari budak wanita Rahil; Dan, dan Naftsali. Lalu dari budak wanita Laya; Jad dan Asyir. Semua anak-anaknya ini yang nantinya menurunkan bangsa yang terkenal dengan sebutan Bani Israel (disebut juga Yahudi). Ya’qub juga sering disebut dengan nama Israel.

Banyak anak banyak rezeki, mungkin seperti itu yang dialami Ya’qub. Anak-anak Ya’qub bukan saja menjadi kebahagiaan buat dirinya, namun juga karunia Allah kepada Ishaq dan Ibrahim untuk melanjutkan risalah katauhidan yang masa itu tak banyak manusia yang menyembah Allah.

Seperti yang aku katakan tadi, dari semua anak-anak Ya’qub hanya Yusuf yang paling Shalih dan memiliki kelebihan khusus, yaitu ahli takwil mimpi yang juga paling tampan. Yusuf pun yang paling disayang Ya’qub, kemudian diikuti Bunyamin. Sebab, mereka terlahir dari Ibu paling Shalih.

Mari kita lanjutkan tentang Yusuf dan saudara-saudaranya di surat berikutnya.
Maha besar Allah yang Maha Mengabulkan (Al Mujiib).

Wassalamu'alaikum

Jogja, 3 Januari 2015

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger