Assalamu’alaikum,
Hei Kau,
Kau percaya takdir? Ingat, Qada dan
Qadhar itu masuk bagian dari rukun iman. Keyakinan kita kepada Allah yang Maha
Berkehendak menuntut bahwa semua yang akan terjadi sudah dikehendaki oleh-Nya.
Yang menjadi masalah adalah, bagaimana kita menyikapi takdir itu menjadi suatu
keoptimisan dalam menjalani hidup. Itulah yang aku pahami dari kisah yang ingin
kuceritakan dari Surat Yusuf ayat 1 – 111, yaitu tentang Yusuf anak Ya’qub.
Perjalanan Nabi Yusuf tak lepas dari
takdir Allah yang meruntuhkan kekuasaan dinasti Fir’aun ke tiga belas di Mesir.
Sejak tahun 1720 SM, bangsa Hyksos yang juga dikenal sebagai bangsa pengembara
dan barbar dari daerah Semenanjung Sinai, melakukan infiltrasi ke Mesir. Selama
40an tahun mereka melakukan serangan-serangan militer ke pusat peradaban
Dinasti Fir’aun.
Arnold Toynbee dalam bukunya Mankid and Mother Earth mencatat, tahun
1674 SM bangsa Hyksos berhasil menguasai Kota Memphis. Kekuasaan politik Mesir
mereka ambil alih. Yang selama ini mereka hidup mengembara, kini mereka mulai
menemukan kemapanannya. Yusuf bin Ya’qub, meski bukan dari bangsa Hyksos, tercatat
sebagai salah satu pejabat kerajaan yang mempunyai andil besar dalam penyelamatan
ekonomi negeri ketika hampir sebagian besar wilayah Timur Tengah mengalami
musim panceklik.
Perjalanan hidupnya membuat dirinya menjadi ahli
takwil mimpi. Bisa jadi, karena penasarannya terhadap maksud mimpi yang
dialaminya ketika kecil, ia menjadi seorang anak yang terus belajar tentang rahasia dibalik
mimpi. Atas karunia Allah, ia mampu memahami mimpi-mimpi yang dialami orang
lain. Karena ahli takwil mimpi itu juga, Sang Raja Hyksos yang
bernama Apophis terpesona dengannya. Tidak hanya itu, kepintaran Yusuf membuat Sang raja
mengangkatnya menjadi wazir Negara, atau disebut juga al Aziz, atau dalam
bahasa popular kita saat ini adalah perdana mentri. Kala itu umurnya sudah
menginjak 30an tahun. Ia masih muda, namun berhasil mengelola negara dengan baik sehingga
ketika memasuki masa muslim panceklik, negara masih memiliki persediaan
cadangan makanan hingga tujuh tahun lamanya.
Salah satu kepintaran Yusuf adalah pengetahuannya tentang cara membuat biji
gandum agar tidak cepat membusuk. Pengetahuannya inilah yang membuat
negeri Mesir memiliki persediaan cadangan makanan yang banyak ketika terjadi
bencana panceklik. Dari buku Atlas Sejarah Para Nabi yang ditulis oleh Sami Bin Abdullah
al-Maghluts, menuliskan bahwa seorang Profesor dari Universitas Wajdah, Maroko
membuat penelitian tentang biji-biji gandum yang dibiarkan tetap di dalam
tangkainya selama beberapa tahun. Ternyata biji gandum tersebut tidak membusuk.
Bebeda ketika biji tersebut masih dibiarkan di dalam pohon dengan kandungan air
yang banyak, atau melepaskan bijinya dari tangkai, maka biji akan mudah
membusuk. Hal inilah yang dilakukan kepemimpinan Yusuf saat itu.
Keberlimpahan cadangan makanan menarik penduduk negeri
lain memperoleh bahan makanan dari negeri Mesir. Salah satu penduduk negeri lain
yang datang meminta bantuan gandum adalah sekelompok bersaudara yang datang dari
negeri Kan’an. Kedatangan sekelompok bersaudara itu membangkitkan ingatan masa lalunya. Yusuf sudah lama
terpisah dari keluarga kandungnya. Ia mencoba meyakinkan, bahwa sekelompok
saudara itu adalah keluarganya.
Ketika sekelompok saudara itu berhasil
menghadap Yusuf, ia bertanya, “Berapa saudarakah kalian?” Mereka pun menjawab, “Kami berduabelas saudara. Yang satu
sudah tidak ada, yang kecil bersama ayah kami.” Yusuf yakin, bahwa mereka adalah
saudara-saudaranya dahulu. Namun ia tak mau mengungkapkan siapa dirinya. Ia
punya rencana terhadap mereka. Sebab, merekalah yang telah memisahkan dirinya
dari sang ayah, yakni Ya’qub. Ramalan mimpi masa kecil itu hampir terwujud. Yakni mimpi
meramalkan jalan takdirnya.
Tentang ramalan mimpi ini, bermula ketika sang anak Ya’qub
yang masih kecil datang menemuinya, lalu mengatakan “Wahai
ayah, aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat
semuanya sujud kepadaku.” Ayahnya
berkata, “Anakku, jangan kau ceritakan mimpimu itu kepada
saudara-saudaramu. Jika mereka tahu, mereka akan membinasakanmu.” (Yusuf : 4).
Ya’qub tau, dibalik mimpi anaknya ada suatu ramalan
masa depan tentang kehidupan anak tersebut. Ada karunia yang luar biasa dari
Allah kepada sang anak. Inilah yang menjadi kekhawatiran Ya’qub. Sebab, anak
ini menjadi spesial dimatanya dibanding ke sebelas anaknya yang lain. Ya’qub
takut, anak ini mendapat gangguan dari saudara-saudaranya yang lain.
Semenjak menceritakan mimpinya itu, Ya’qub semakin
awas terhadap Yusuf akan perbuatan saudara-saudaranya yang bisa dikatakan
memiliki kecemburuan dengan Yusuf. Tak heran, rasa tak adil dalam kasih sayang
menginggapi saudara-saudara mereka yang lain. “Sungguh, ayah kita dalam keliruan yang nyata.” ( Yusuf : 8). Rencana
untuk melenyapkan Yusuf terbesit diantara mereka.
Rencana dijalankan. Caranya, yaitu
dengan berusaha mengajak Yusuf bermain bersama mereka dengan meyakini sang ayah
bahwa mereka akan menjaga Yusuf dari serangan hewa buas, seperti serigala. Ya’qub mempersilakan
jika saudara-saudaranya mampu menjaga Yusuf dari serangan serigala. Mereka
berjanji akan menjaga Yusuf.
Rencana mereka terwujudkan. Dimasukanlah Yusuf ke
dalam sumur. Mereka tak ingin membunuhnya. Hanya ingin meghilangkan Yusuf dari
dekapan ayahnya. Berharap, jika ada orang lain yang ingin memanfaatkan sumur
itu dapat menemukan Yusuf, lalu membawanya. Kebohongan kepada Ya’qub mereka buat.
Dengan bukti pakaian Yusuf yang lumuri darah domba mereka menjelaskan jika Yusuf diterkam serigala,
dan mereka menyesal telah lalai menjaga Yusuf. Tapi kebohongan mereka tak mampu meyakini Ya’qub.
Ya’qub sudah mengerti bahwa ini adalah bagian dari akal-akal anak-anaknya untuk
melenyapkan Yusuf. Sabar dan tawakal saja yang ia harapkan dari Allah.
Yusuf kecil ditemukan para musafir ketika memanfaatkan
sumur itu. Kemudian dibawa untuk dijual dijadikan budak. Beruntung, seorang
pejabat tinggi Kerajaan dari Mesir membeli Yusuf untuk mereka rawat. Dan demikianlah Kami beri kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri
Mesir, dan agar Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi. Dan Allah berkuasa
terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengerti. Dan ketika
dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya kekuasaan dan Ilmu. (Yusuf :
21-22)
Yusuf beruntung dibesarkan dari keluarga
yang terhormat dan mapan. Ia besar dilingkungan kekuasaan dan mendapatkan pendidikan
yang pantas. Bukan nabi namanya jika tidak diberikan ujian. Ia yang dewasa
dengan wajah yang sangat tampan, membuat istri dari pejabat Mesir yang
memeliharanya tergoda. Sejarawan dan ulama mencatat nama perempuan itu
Zulaikha. Setelah lama tinggal bersama Yusuf, penahan bendungan hasrat Zulaikha
jebol juga. Ia merayu Yusuf agar mau berzina dengannya. Yusuf juga sempat
tergoda. Bagaimana tidak tergoda, ketika melihat wanita cantik yang
berkedudukan di dalam ruangan yang tertutup sempat menyalakan sinyal
kelaki-lakiannya. Andai kata dia tidak
melihat tanda Rabbnya (Yusuf : 24) mungkin ia sudah terjerumus. Marahlah
Yusuf kepada wanita itu. Ia hampir memukulnya. Lalu Yusuf lari menuju pintu.
Tapi Zulaikha tetap memaksa hingga robek pula baju Yusuf pada bagian belakang.
Ketika pintu terbuka, munculah suami Zulaikha. Untung saja ada saksi sekaligus
hakim yang bisa membuktikan Yusuf tidak bersalah ketika Zulaikha mulai menuduh
Yusuf. Beruntung, sang suami dapat bersikap bijaksana. Bahkan meminta maaf atas
perilaku istrinya.
Tapi ternyata, berita tentang peristiwa
itu mulai menyebar. Zulaikha menjadi bahan gosip di kalangan istri-istri
pejabat yang lain karena tergoda dengan anak peliharaan. Karena tak tahan
dengan gosip itu, ia tunjukan saja Yusuf kepada istri-istri pejabat lainnya.
Agar mereka tahu, kenapa ia tergoda. Disitulah para wanita tertegun melihat
keelokan Yusuf, sampai-sampai mereka tak sadar tangannya terhunus pisau ketika
melihat Yusuf sambil memotong buah.
Yusuf merasa, ketampanannya membuat
fitnah baginya. Para wanita itu memaksa Yusuf agar menuruti permintaan mereka
dengan ancaman. Tapi Yusuf tak mau. Ia meminta kepada Allah keselamatan, “Wahai Rabb-ku, penjara lebih aku sukai dari
pada memenuhi ajakan mereka. Jika tidak Engkau hindarkan tipu daya mereka aku
akan cendrung memenuhi keinginan mereka.” (Yusuf : 33) Itulah permintaan
Yusuf. Ia sangat ingin meminta dihindarkan yaitu dengan dipenjara jika lebih
baik. Jika tidak, mungkin ia akan masuk perangkap godaan itu. Itu pilihannya.
Pilihan jalan hidupnya sesuai dengan takdir Allah yang sudah tertulis. Karena ia
menolak ajakan para wanita itu, disebarlah fitnah bahwa Yusuf berusaha ingin memperkosa
istri Al Azis. Karakter Yusuf dihancurkan dengan propaganda mereka. Doa Yusuf terhindar dari mereka dengan cara dipenjara
dikabulkan Allah. Ia dipenjara dengan cara fitnah yang tidak mengenakan.
Kasihan betul Yusuf. Kecintaan Ayahnya
pada Yusuf ketika kecil membuat saudara-saudaranya menjatuhkan ke sumur. Ketika
dewasa, kecintaan Zulaikha pada ketampanannya menjatuhkan ia ke penjara. Takdir
yang dituliskan pada Yusuf benar-benar menarik. Setiap orang yang mencintai Yusuf
justru membuatnya jatuh. Bisakah kau rasakan perasaan Yusuf waktu itu?
Selama dipenjara ia bersahabat dekat
dengan dua orang kawan. Keduanya sangat dekat dengan Yusuf karena sifatnya yang
baik. Selama dipenjara dua orang kawan itu mengetahui jika Yusuf ternyata ahli
dalam takwil mimpi. Dimintalah ia menakwilkan mimpi mereka. Salah satunya
ditakwil akan menjadi pelayan minuman raja dan satunya akan mati di salib.
Ketika salah satu orang tersebut akan bebas dan Yusuf tau ia akan menjadi pelayan
minuman raja, dimintalah agar bercerita kepada raja tentang masalah Yusuf, yaitu
fitnah yang membuatnya dipenjara. Inilah bentuk ikhtiar Yusuf agar lepas dari
kezaliman. Meski ia ditakdirkan di penjara, ia tidak pasrah. Ia harus melawan
kezaliman dan membuktikan kebenaran, meski, mungkin, penjara lebih nyaman
baginya.
Setelah temannya itu bebas dan bekerja
menjadi pelayan minuma raja, ternyata lupa menceritakan tentang Yusuf. Kelupaan
itu terjadi hingga beberapa tahun lamanya. Mungkin saat itu Yusuf dongkol. Tapi
ia yakin, Allah akan memberikan jalan terbaik. Allah punya cara untuk menjadikannya
manusia mulia. Inilah cara Allah untuk mewujudkan takwil mimpinya.
Ternyata benar, cara Allah untuk memuliakanya
adalah ketika sang raja memerlukan kehadiran sosok Yusuf di dalam masa-masa
sulit kepemimpinannya. Masa-masa sulit itu terjadi ketika sang raja stres akibat
mimpi yang menghantuinya. Raja itu bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang
gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus. Dan tujuh butir gandum
yang hijau dan tujuh butir lainnya yang
kering. Tak ada orang yang mampu menakwilkan mimpi raja itu. Karena stresnya
raja, si pelayan menjadi teringat Yusuf yang pernah menakwilkan mimpinya. Diceritakan
kepada raja tentang Yusuf, kemudian pelayan itu di utus kepada Yusuf untuk
menjelaskan maksud mimpinya sekaligus memenuhi permintaan Yusuf waktu itu.
Ketika pelayan itu menemui Yusuf di
penjara, ternyata Yusuf tidak dongkol seperti yang aku kira tadi. Permintaan si
pelayan atas mimpi raja di jawab Yusuf dengan baik, “Supaya kamu bertanam tujuh tahun sebagaimana biasa. Apa yang kamu petik
hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (Yusuf
: 47) Inilah pengetahuan yang dimiliki Yusuf soal cara membuat biji gandum
tidak cepat membusuk seperti yang sudah aku jelaskan di atas. Kemudian Yusuf
melanjutkan penjelasannya, “Sesudah itu
akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan
untuk menghadapinya. Setelah itu akan datang tahun yang akan diberi hujan dan
di masa itu mereka akan memeras anggur.” (Yusuf : 48-49)
Jawaban itu disampaikan kepada raja.
Raja pun puas. Raja meminta agar Yusuf bisa menghadap sang raja dan dibebaskan.
Tapi ketika hendak dibebeaskan, Yusuf menolak. Ia meminta disampaikan pesan
kepada raja persoalan dirinya yang dituduhkan. Disitulah sang raja membuka
kasus kembali lalu menyelidiki, siapakah sebenarnya yang bersalah. Dalam proses
penyelidikan ini terbukti bahwa Yusuf tidak bersalah. Zulaikha pun mengakui
kesalahannya, “Sekarang jelaslah
kebenaran itu. Akulah yang menggodanya. Sesungguhnya dia termasuk orang yang
benar.” (Yusuf : 51)
Setelah semua itu kasus itu selesai, Yusuf
bebas dengan nama baiknya yang sudah bersih. Yusuf diajak kembali menemui raja.
Lalu mereka saling berbincang. Ternyata Raja kagum dengan Yusuf. Ia melihat
Yusuf adalah orang yang sangat pandai. Dimintalah Yusuf untuk menjadi orang terdekatnya
dan memberikan jabatan. Yusuf dengan senang hati menerima dan meminta agar ia
diberi jabatan sesuai ilmu yang dikuasainya, yaitu mengurusi ekonomi, perdagangan,
atau jual-beli. Raja menyetujuinya. Dia menjadi pejabat kerajaan dengan gelar
Al-Azis. Inilah hikmah takdir akibat tertundanya Yusuf bebas dari penjara
akibat si pelayan tadi yang lupa.
Kemampuannya saat menjabat terbukti
seperti yang sudah aku jelaskan di awal. Ia berhasil mengelola ekonomi untuk mempersiapkan
masa panceklik yang akan datang. Ketika masa sulit tanam itu datang, negeri
Mesir memiliki cadangan makanan yang melimpah, bahkan berlebih sehingga menarik
warga dari negeri seberang untuk berdagang ke Mesir.
Menarik bukan kisah Nabi Yusuf ini?
Semoga kau tidak lelah membacanya. Ceritanya masih panjang.
Seperti yang sudah aku ceritakan di
awal, kedatangan sekelompok bersaudara dari negeri Kan’an membuat Yusuf yakin
takwil mimpinya saat kecil akan segera terwujud.
Saat para pembantu-pembantu Yusuf menyiapkan bahan
makanan untuk mereka, Yusuf memberi tahu bahwa mereka hanya diberikan bahan
makanan hanya untuk satu tahun. Satu tahun berikutnya bisa mereka dapatkan asal
dengan syarat bisa membawa adik mereka yang paling kecil yang bernama Bunyamin.
Sebab Bunyamin satu ibu dengan Yusuf. Yusuf berkata, ”Jika kamu tidak membawanya padaku, maka kamu tidak akan mendapatkan
jatah gandum lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku.” (Yusuf : 59)
Demi bisa mendapatkan jatah makanan di tahun depan,
mereka berjanji akan membawakan Bunyamin kepadanya, meski mereka tak tahu apa
maksud dari Yusuf. Mereka masih belum mengerti jika Al Azis itu adalah saudara
mereka juga.
Kemudian secara diam-diam Yusuf pun meminta para
pembantunya agar memasukan kembali barang penukar saudara-saudara Yusuf ke dalam
karung-karung mereka dengan maksud sebagai tes kepada mereka, apakah mereka
akan kembali atau tidak untuk mengembalikan barang penukar ini kepada Yusuf. Maksudnya barang
penukar itu adalah benda untuk barter agar bisa mendapakan gandum.
Setelah sekelomok bersaudara itu pulang, salah satu
dari mereka menemui sang ayah untuk memberitahu pesan dari Al Azis. Mereka bisa
mendapatkan bahan makanan lagi tahun depan jika bisa mempertemukan Bunyamin
dengan Al Azis. Begitu diketahui ternyata barang alat penukar makanan masih ada
pada mereka, mereka terus meyakini kepada sang ayah, Ya’qub, agar bersedia
melepaskan Bunyamin ikut dengan mereka. Ya’qub sangat berat hati, “Bagaimana aku akan mempercayakan Bunyamin
kepada kalian, seperti aku telah mempercayai Yusuf kepada kalian dahulu?”
(Yusuf : 64) Ya’qub tak percaya lagi dengan anak-anaknya, mengingat kejadian
yang menimpa Yusuf pada masa lalu.
Ingatan Ya’qub kepada Yusuf membuat ia sangat berat
hati melepaskan Bunyamin. Karena itu, Ya’qub berkata, “Aku tidak akan melepaskannya pergi bersama kamu sebelum kamu bersumpah kepadaku
atas nama Allah bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika
kamu dikepung musuh.”(Yusuf : 66). Dengan sumpah itu, Ya’qub harus merasa percaya
kepada anak-anaknya. Setelah setahun kemudian, ketika mereka kembali menemui Al Aziz untuk meminta bahan
makanan, Bunyamin akhirnya diajak sesuai permintaannya.
Bertemulah Yusuf dengan saudara kandung seibu,
Bunyamin. Bunyamin diberitahu oleh Yusuf bahwa ia adalah saudaranya. Tapi Yusuf
meminta agar Bunyamin tidak menceritakan ke yang lain. Yusuf punya rencana
berikutnya.
Rencana Yusuf adalah bagaimana agar Bunyamin tetap
berada bersamanya. Kemudian disusunlah taktik dengan memasukan barang berharga
milik kerajaan ke dalam kantung bawaannya Bunyamin saat para pegawai Yusuf
memasukan bahan makanan ke kantung-kantung mereka. Mulailah siasat dimainkan.
Pengawal istana mengumumkan ada barang kerajaan yang hilang. Dituduhlah mereka
sebagai pencurinya. Mereka mengelak, “Demi
Allah, Sungguh kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk berbuat kerusakan
di negeri ini dan kami bukan para pencuri.” (Yusuf : 73)
Mereka saling membuat kesepakatan. Jika mereka
terbukti berbuat salah, maka hukumannya akan ditimpakan kepada yang melakukan
diantara mereka. Hukumannya adalah pelaku menjadi milik Yusuf (dijadikan
budak). Kantung-kantung masing-masing dari mereka diperiksa. Barang berharga
istana itu akhirnya ditemui di kantung milik Bunyamin. Jadilah Bunyamin
mendapat hukumannya, yaitu menjadi milik Yusuf. Rencana Yusuf berhasil untuk
menahan Bunyamin tetap bersamanya. Salah satu dari mereka berkomentar, “Jika dia (Bunyamin) mencuri, maka dulu
saudaranya (Yusuf) pernah mencuri.” (Yusuf : 77). Kata-kata ini membuat
Yusuf kesal. Hal ini adalah bentuk fitnah dari para saudaranya ketika masa
kecilnya dulu ia pernah dituduh mencuri.
Salah satu dari mereka berkata lagi, “Wahai Al Aziz, dia mempunyai ayah yang sudah
lanjut usia, ambilah salah satu diantara kami sebagai gantinya.” (Yusuf :
78). Mereka berjanji akan membawa kembali Bunyamin kepada ayah mereka. Kejadian
ini membuat mereka melakukan negoisasi agar Bunyamin bisa digantikan oleh
saudara mereka yang lain. Tapi tetap, Yusuf bersikeras akan menahan Bunyamin bersamanya.
Mereka menjadi tertekan. Mereka tidak ingin kehilangan
kepercayaan dari sang ayah untuk yang kedua kalinya. Diantara mereka berjanji
tidak mau pulang sampai diizinkan oleh sang ayah. Salah satu dari mereka ada
yang kembali pulang lalu menceritakan semuanya kepada Ya’qub. Kesedihan Ya’qub kembali terjadi. Ia
benar-benar sedih sesedihnya. Sampai-sampai karena sering manangis,
penglihatannya menjadi kabur. Hanya sabar dan doa yang dilakukan Ya’qub
terhadap apa yang menimpanya, “Mudah-mudahan
Allah mendatangkan mereka semuanya
kepadaku. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” (Yusuf
: 83). Ya’qub belum tahu jika ini rencana Yusuf.
Lalu sang Ayah memerintahkan mereka semua untuk pergi
kembali mencari Yusuf (yang hilang dulu) dan Bunyamin. Kembalilah mereka
menuju Mesir untuk bertemu kembali kepada Al Aziz, selain meminta jatah gandum,
mereka juga memohon agar mengembalikan Bunyamin, “Wahai Al Aiziz, keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan. Kami datang
dengan membawa barang-barang tidak berharga (sebagai penukar). Penuhilah jatah
gandum kepada kami.” (Yusuf : 88)
Yusuf pun iba. Ia tak mau menyembunyikan lagi
rahasianya. Rencana terhadap saudara-saudaranya sudah dicukupkan. Perasaannya
terlontarkan,
“Tahukah kamu kejelakan apa yang telah
kalian perbuat kepada Yusuf dan saudaranya karena kamu tidak menyadari akibat
perbuatanmu itu?” (Yusuf : 89)
Mereka berkata, “Apakah
engkau benar-benar Yusuf? Yusuf menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku
(Bunyamin). Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” (Yusuf : 90)
Mereka pun terkejut. Ternyata selama ini Al Aziz yang
terus memberikan bantuan kepada mereka adalah saudarannya yang pernah mereka
zalimi dahulu. Ungkapan penyesalan dan rasa bersalah terlontarkan, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan
engkau di atas kami, kami adalah orang-orang yang bersalah.” (Yusuf : 91)
Yusuf memaafkan mereka. Yusuf meminta mereka untuk
kembali ke negeri mereka dan menemui sang ayah. Ia juga menitipkan pakaian yang
dikenakannya untuk diberikan kepada sang ayah. Lalu meminta agar pakaian
tersebut diseka ke wajah sang ayah agar penyakit yang diderita matanya akibat
kesedihan bisa sembuh.
Tibalah para saudara-saudara itu di rumah mereka lalu
menceritakan apa yang terjadi dan memberikan pakaian Yusuf kepada sang Ayah.
Ya’qub bisa melihat kembali, dan berucap “Bukankah
telah aku katakana kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak
kamu ketahui.” (Yusuf : 96). Anak-anaknya memohon kepada Ya’qub, “Wahai ayah, mohon ampunan untuk kami atas
dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.” (Yusuf
: 97). Ya’qub mengabulkan permintaan mereka, “Aku akan memohon ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sungguh, Dia Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf : 98)
Kemudian, Yusuf meminta saudaranya agar
mengajak ayahnya ke Mesir. Yusuf sengaja meminta sang ayah dan seluruh keluarganya agar
pindah ke Mesir. Di negeri ini mereka akan bisa hidup lebih baik. Merekapun
menerima permintaan Yusuf. Hampir seluruh keluarga Ya’Qub dan turunannya pindah
dari negeri Kan’an ke Mesir. Inilah eksodus pertama turunan Ya’qub atau Bani Israel.
Ketika tiba di gerbang Negeri Mesir, mereka di sambut seperti tamu agung. Sang
raja pun tak ketinggalan menyambut. Yusuf dan keluarganya menjadi orang-orang
yang dimuliakan oleh mereka.
Yusuf berhasil bertemu ayahnya. Di sediakan juga
singgasana buat Ayah Yusuf dan Ibunya (dari istri Ya’qub yang lain), ketika
Yusuf meminta kedua orang tuanya menaiki singgasana yang diberikan Yusuf,
tiba-tiba kedua orang tuanya termasuk ke sebelas saudaranya tunduk bersujud
kepada Yusuf sebagai bentuk penghormatan dan penganggungan untuknya.
Tiba-tiba Yusuf mengingat apa yang pernah
diberitahukan kepada ayahnya, “Wahai
ayah, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu.” (Yusuf : 100). Inilah arti
dari mimpi Yusuf ketika kecil. Mimpi saat Matahari, bulan, dan kesebelas
bintang bersujud kepada Yusuf membentuk sebuah perjalanan yang panjang bagi
Yusuf. Mimpi itu bermakna bahwa Ayah, sebagai matahari, Ibu sebagai bulan, dan
kesebelas bintang sebagai kesebelas saudaranya, mereka semua sujud kepadanya. Takwil mimpi itu
terwujud setelah Yusuf mengaami berbagai ujiannya. Cerita berakhir indah.
Bagi Ya’qub dan Yusuf memang berakhir
indah. Tapi tidak dengan turunannya. Bani Israel benar-benar mendapatkan ujian
dari Allah untuk membuktikan mereka adalah orang-orang yang taat kepada ajaran
ketauhidan Ibrahim.
Selama kekuasaan Hyksos di Mesir, anak
turunan Ya’Qub mendapat kehidupan yang layak. Ternyata, kekuasaan Hyksos tak
bertahan sampai dua abad. Selama berkuasa, Kerajaan Hyksos berhasil memecah
dinasti Fir’aun menjadi 3 dinasti. Tapi akhirnya, Dinasti ke delapan belas, yang
juga dari orang-orang Thebes Mesir, berhasil meruntuhkan kekuasaan Hyksos.
Dinasti Fir’aun ke delapan belas yang dipimpin oleh Raja Amosis I berhasil
menguasai Ibu kota Hyksos, yaitu Avaris, pada tahun 1567 SM.
Perpolitikan Mesir kembali dikuasai Dinasti
Fir’aun. Nasib turunan Ya’qub (Bani Israel) berubah. Sebab, mereka bukan orang
asli Mesir. Mereka juga para pendukung pasukan Hyksos, sehingga menjadi ancaman
politik bagi Dinasti Fir’aun. Juga, mereka membawa agama yang bebeda dari agama
yang dianut masyarakat asli Mesir. Kekuasaan Fir’aun memaksa Bani Israel
menjadi kasta budak. Hidup mereka menjadi menderita karena perbudakan.
Ketakwaan mereka diuji dengan cara seperti ini. Hingga akhirnya, muncul Nabi
pembebas mereka tiga abad kemudian, yaitu Musa. Insya Allah nanti kita akan
membahas Musa dan nasib pengikutnya.
Sungguh, pada
kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Yusuf : 111).
Inilah kisah yang mengajariku untuk memahami takdir, ikhtiar, dan tawakal.
Semoga kau mendapatkan hikmahnya juga.
Maha Besar Allah yang Maha Menentukan (Al-Qadiir)
Wassalamu’alaikum
Jogja 4 Januari 2014
@RidwanHd
Baca,
Selanjutnya >> : Coming Soon..
Sebelumnya >> : Surat untuk Kau - 9 : Doa yang Melahirkan Ishaq, Ya'qub, dan Yusuf
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.