Minggu, 04 Januari 2015

Surat untuk Kau - 10 : Mimpi yang Menakdirkan Nabi Yusuf



Bismillahhirrahmannirrahim,
Assalamu’alaikum,

Hei Kau,

Kau percaya takdir? Ingat, Qada dan Qadhar itu masuk bagian dari rukun iman. Keyakinan kita kepada Allah yang Maha Berkehendak menuntut bahwa semua yang akan terjadi sudah dikehendaki oleh-Nya. Yang menjadi masalah adalah, bagaimana kita menyikapi takdir itu menjadi suatu keoptimisan dalam menjalani hidup. Itulah yang aku pahami dari kisah yang ingin kuceritakan dari Surat Yusuf ayat 1 – 111, yaitu tentang Yusuf anak Ya’qub.

Perjalanan Nabi Yusuf tak lepas dari takdir Allah yang meruntuhkan kekuasaan dinasti Fir’aun ke tiga belas di Mesir. Sejak tahun 1720 SM, bangsa Hyksos yang juga dikenal sebagai bangsa pengembara dan barbar dari daerah Semenanjung Sinai, melakukan infiltrasi ke Mesir. Selama 40an tahun mereka melakukan serangan-serangan militer ke pusat peradaban Dinasti Fir’aun.

Arnold Toynbee dalam bukunya Mankid and Mother Earth mencatat, tahun 1674 SM bangsa Hyksos berhasil menguasai Kota Memphis. Kekuasaan politik Mesir mereka ambil alih. Yang selama ini mereka hidup mengembara, kini mereka mulai menemukan kemapanannya. Yusuf bin Ya’qub, meski bukan dari bangsa Hyksos, tercatat sebagai salah satu pejabat kerajaan yang mempunyai andil besar dalam penyelamatan ekonomi negeri ketika hampir sebagian besar wilayah Timur Tengah mengalami musim panceklik.

Perjalanan hidupnya membuat dirinya menjadi ahli takwil mimpi. Bisa jadi, karena penasarannya terhadap maksud mimpi yang dialaminya ketika kecil, ia menjadi seorang anak yang terus belajar tentang rahasia dibalik mimpi. Atas karunia Allah, ia mampu memahami mimpi-mimpi yang dialami orang lain. Karena ahli takwil mimpi itu juga, Sang Raja Hyksos yang bernama Apophis terpesona dengannya. Tidak hanya itu, kepintaran Yusuf membuat Sang raja mengangkatnya menjadi wazir Negara, atau disebut juga al Aziz, atau dalam bahasa popular kita saat ini adalah perdana mentri. Kala itu umurnya sudah menginjak 30an tahun. Ia masih muda, namun berhasil mengelola negara dengan baik sehingga ketika memasuki masa muslim panceklik, negara masih memiliki persediaan cadangan makanan hingga tujuh tahun lamanya.

Salah satu kepintaran Yusuf adalah pengetahuannya tentang cara membuat biji gandum agar tidak cepat membusuk. Pengetahuannya inilah yang membuat negeri Mesir memiliki persediaan cadangan makanan yang banyak ketika terjadi bencana panceklik. Dari buku Atlas Sejarah Para Nabi yang ditulis oleh Sami Bin Abdullah al-Maghluts, menuliskan bahwa seorang Profesor dari Universitas Wajdah, Maroko membuat penelitian tentang biji-biji gandum yang dibiarkan tetap di dalam tangkainya selama beberapa tahun. Ternyata biji gandum tersebut tidak membusuk. Bebeda ketika biji tersebut masih dibiarkan di dalam pohon dengan kandungan air yang banyak, atau melepaskan bijinya dari tangkai, maka biji akan mudah membusuk. Hal inilah yang dilakukan kepemimpinan Yusuf saat itu.

Keberlimpahan cadangan makanan menarik penduduk negeri lain memperoleh bahan makanan dari negeri Mesir. Salah satu penduduk negeri lain yang datang meminta bantuan gandum adalah sekelompok bersaudara yang datang dari negeri Kan’an. Kedatangan sekelompok bersaudara itu membangkitkan ingatan masa lalunya. Yusuf sudah lama terpisah dari keluarga kandungnya. Ia mencoba meyakinkan, bahwa sekelompok saudara itu adalah keluarganya.

Ketika sekelompok saudara itu berhasil menghadap Yusuf, ia bertanya, “Berapa saudarakah kalian?” Mereka pun menjawab, Kami berduabelas saudara. Yang satu sudah tidak ada, yang kecil bersama ayah kami.” Yusuf yakin, bahwa mereka adalah saudara-saudaranya dahulu. Namun ia tak mau mengungkapkan siapa dirinya. Ia punya rencana terhadap mereka. Sebab, merekalah yang telah memisahkan dirinya dari sang ayah, yakni Ya’qub. Ramalan mimpi masa kecil itu hampir terwujud. Yakni mimpi meramalkan jalan takdirnya.

Tentang ramalan mimpi ini, bermula ketika sang anak Ya’qub yang masih kecil datang menemuinya, lalu mengatakanWahai ayah, aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku.” Ayahnya berkata, “Anakku, jangan kau ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu. Jika mereka tahu, mereka akan membinasakanmu.” (Yusuf : 4).

Ya’qub tau, dibalik mimpi anaknya ada suatu ramalan masa depan tentang kehidupan anak tersebut. Ada karunia yang luar biasa dari Allah kepada sang anak. Inilah yang menjadi kekhawatiran Ya’qub. Sebab, anak ini menjadi spesial dimatanya dibanding ke sebelas anaknya yang lain. Ya’qub takut, anak ini mendapat gangguan dari saudara-saudaranya yang lain.

Semenjak menceritakan mimpinya itu, Ya’qub semakin awas terhadap Yusuf akan perbuatan saudara-saudaranya yang bisa dikatakan memiliki kecemburuan dengan Yusuf. Tak heran, rasa tak adil dalam kasih sayang menginggapi saudara-saudara mereka yang lain. “Sungguh, ayah kita dalam keliruan yang nyata.” ( Yusuf : 8). Rencana untuk melenyapkan Yusuf terbesit diantara mereka.

Rencana dijalankan. Caranya, yaitu dengan berusaha mengajak Yusuf bermain bersama mereka dengan meyakini sang ayah bahwa mereka akan menjaga Yusuf dari serangan hewa buas, seperti serigala. Ya’qub mempersilakan jika saudara-saudaranya mampu menjaga Yusuf dari serangan serigala. Mereka berjanji akan menjaga Yusuf.

Rencana mereka terwujudkan. Dimasukanlah Yusuf ke dalam sumur. Mereka tak ingin membunuhnya. Hanya ingin meghilangkan Yusuf dari dekapan ayahnya. Berharap, jika ada orang lain yang ingin memanfaatkan sumur itu dapat menemukan Yusuf, lalu membawanya. Kebohongan kepada Ya’qub mereka buat. Dengan bukti pakaian Yusuf yang lumuri darah domba mereka menjelaskan jika Yusuf diterkam serigala, dan mereka menyesal telah lalai menjaga Yusuf. Tapi kebohongan mereka tak mampu meyakini Ya’qub. Ya’qub sudah mengerti bahwa ini adalah bagian dari akal-akal anak-anaknya untuk melenyapkan Yusuf. Sabar dan tawakal saja yang ia harapkan dari Allah.

Yusuf kecil ditemukan para musafir ketika memanfaatkan sumur itu. Kemudian dibawa untuk dijual dijadikan budak. Beruntung, seorang pejabat tinggi Kerajaan dari Mesir membeli Yusuf untuk mereka rawat. Dan demikianlah Kami beri kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri Mesir, dan agar Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengerti. Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya kekuasaan dan Ilmu. (Yusuf : 21-22)

Yusuf beruntung dibesarkan dari keluarga yang terhormat dan mapan. Ia besar dilingkungan kekuasaan dan mendapatkan pendidikan yang pantas. Bukan nabi namanya jika tidak diberikan ujian. Ia yang dewasa dengan wajah yang sangat tampan, membuat istri dari pejabat Mesir yang memeliharanya tergoda. Sejarawan dan ulama mencatat nama perempuan itu Zulaikha. Setelah lama tinggal bersama Yusuf, penahan bendungan hasrat Zulaikha jebol juga. Ia merayu Yusuf agar mau berzina dengannya. Yusuf juga sempat tergoda. Bagaimana tidak tergoda, ketika melihat wanita cantik yang berkedudukan di dalam ruangan yang tertutup sempat menyalakan sinyal kelaki-lakiannya. Andai kata dia tidak melihat tanda Rabbnya (Yusuf : 24) mungkin ia sudah terjerumus. Marahlah Yusuf kepada wanita itu. Ia hampir memukulnya. Lalu Yusuf lari menuju pintu. Tapi Zulaikha tetap memaksa hingga robek pula baju Yusuf pada bagian belakang. Ketika pintu terbuka, munculah suami Zulaikha. Untung saja ada saksi sekaligus hakim yang bisa membuktikan Yusuf tidak bersalah ketika Zulaikha mulai menuduh Yusuf. Beruntung, sang suami dapat bersikap bijaksana. Bahkan meminta maaf atas perilaku istrinya.

Tapi ternyata, berita tentang peristiwa itu mulai menyebar. Zulaikha menjadi bahan gosip di kalangan istri-istri pejabat yang lain karena tergoda dengan anak peliharaan. Karena tak tahan dengan gosip itu, ia tunjukan saja Yusuf kepada istri-istri pejabat lainnya. Agar mereka tahu, kenapa ia tergoda. Disitulah para wanita tertegun melihat keelokan Yusuf, sampai-sampai mereka tak sadar tangannya terhunus pisau ketika melihat Yusuf sambil memotong buah.

Yusuf merasa, ketampanannya membuat fitnah baginya. Para wanita itu memaksa Yusuf agar menuruti permintaan mereka dengan ancaman. Tapi Yusuf tak mau. Ia meminta kepada Allah keselamatan, “Wahai Rabb-ku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka. Jika tidak Engkau hindarkan tipu daya mereka aku akan cendrung memenuhi keinginan mereka.” (Yusuf : 33) Itulah permintaan Yusuf. Ia sangat ingin meminta dihindarkan yaitu dengan dipenjara jika lebih baik. Jika tidak, mungkin ia akan masuk perangkap godaan itu. Itu pilihannya. Pilihan jalan hidupnya sesuai dengan takdir Allah yang sudah tertulis. Karena ia menolak ajakan para wanita itu, disebarlah fitnah bahwa Yusuf berusaha ingin memperkosa istri Al Azis. Karakter Yusuf dihancurkan dengan propaganda mereka.  Doa Yusuf terhindar dari mereka dengan cara dipenjara dikabulkan Allah. Ia dipenjara dengan cara fitnah yang tidak mengenakan.

Kasihan betul Yusuf. Kecintaan Ayahnya pada Yusuf ketika kecil membuat saudara-saudaranya menjatuhkan ke sumur. Ketika dewasa, kecintaan Zulaikha pada ketampanannya menjatuhkan ia ke penjara. Takdir yang dituliskan pada Yusuf benar-benar menarik. Setiap orang yang mencintai Yusuf justru membuatnya jatuh. Bisakah kau rasakan perasaan Yusuf waktu itu?

Selama dipenjara ia bersahabat dekat dengan dua orang kawan. Keduanya sangat dekat dengan Yusuf karena sifatnya yang baik. Selama dipenjara dua orang kawan itu mengetahui jika Yusuf ternyata ahli dalam takwil mimpi. Dimintalah ia menakwilkan mimpi mereka. Salah satunya ditakwil akan menjadi pelayan minuman raja dan satunya akan mati di salib. Ketika salah satu orang tersebut akan bebas dan Yusuf tau ia akan menjadi pelayan minuman raja, dimintalah agar bercerita kepada raja tentang masalah Yusuf, yaitu fitnah yang membuatnya dipenjara. Inilah bentuk ikhtiar Yusuf agar lepas dari kezaliman. Meski ia ditakdirkan di penjara, ia tidak pasrah. Ia harus melawan kezaliman dan membuktikan kebenaran, meski, mungkin, penjara lebih nyaman baginya.

Setelah temannya itu bebas dan bekerja menjadi pelayan minuma raja, ternyata lupa menceritakan tentang Yusuf. Kelupaan itu terjadi hingga beberapa tahun lamanya. Mungkin saat itu Yusuf dongkol. Tapi ia yakin, Allah akan memberikan jalan terbaik. Allah punya cara untuk menjadikannya manusia mulia. Inilah cara Allah untuk mewujudkan takwil mimpinya.

Ternyata benar, cara Allah untuk memuliakanya adalah ketika sang raja memerlukan kehadiran sosok Yusuf di dalam masa-masa sulit kepemimpinannya. Masa-masa sulit itu terjadi ketika sang raja stres akibat mimpi yang menghantuinya. Raja itu bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus. Dan tujuh butir gandum yang hijau dan tujuh butir lainnya yang  kering. Tak ada orang yang mampu menakwilkan mimpi raja itu. Karena stresnya raja, si pelayan menjadi teringat Yusuf yang pernah menakwilkan mimpinya. Diceritakan kepada raja tentang Yusuf, kemudian pelayan itu di utus kepada Yusuf untuk menjelaskan maksud mimpinya sekaligus memenuhi permintaan Yusuf waktu itu.

Ketika pelayan itu menemui Yusuf di penjara, ternyata Yusuf tidak dongkol seperti yang aku kira tadi. Permintaan si pelayan atas mimpi raja di jawab Yusuf dengan baik, “Supaya kamu bertanam tujuh tahun sebagaimana biasa. Apa yang kamu petik hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (Yusuf : 47) Inilah pengetahuan yang dimiliki Yusuf soal cara membuat biji gandum tidak cepat membusuk seperti yang sudah aku jelaskan di atas. Kemudian Yusuf melanjutkan penjelasannya, “Sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya. Setelah itu akan datang tahun yang akan diberi hujan dan di masa itu mereka akan memeras anggur.” (Yusuf : 48-49)

Jawaban itu disampaikan kepada raja. Raja pun puas. Raja meminta agar Yusuf bisa menghadap sang raja dan dibebaskan. Tapi ketika hendak dibebeaskan, Yusuf menolak. Ia meminta disampaikan pesan kepada raja persoalan dirinya yang dituduhkan. Disitulah sang raja membuka kasus kembali lalu menyelidiki, siapakah sebenarnya yang bersalah. Dalam proses penyelidikan ini terbukti bahwa Yusuf tidak bersalah. Zulaikha pun mengakui kesalahannya, “Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggodanya. Sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.” (Yusuf : 51)

Setelah semua itu kasus itu selesai, Yusuf bebas dengan nama baiknya yang sudah bersih. Yusuf diajak kembali menemui raja. Lalu mereka saling berbincang. Ternyata Raja kagum dengan Yusuf. Ia melihat Yusuf adalah orang yang sangat pandai. Dimintalah Yusuf untuk menjadi orang terdekatnya dan memberikan jabatan. Yusuf dengan senang hati menerima dan meminta agar ia diberi jabatan sesuai ilmu yang dikuasainya, yaitu mengurusi ekonomi, perdagangan, atau jual-beli. Raja menyetujuinya. Dia menjadi pejabat kerajaan dengan gelar Al-Azis. Inilah hikmah takdir akibat tertundanya Yusuf bebas dari penjara akibat si pelayan tadi yang lupa.

Kemampuannya saat menjabat terbukti seperti yang sudah aku jelaskan di awal. Ia berhasil mengelola ekonomi untuk mempersiapkan masa panceklik yang akan datang. Ketika masa sulit tanam itu datang, negeri Mesir memiliki cadangan makanan yang melimpah, bahkan berlebih sehingga menarik warga dari negeri seberang untuk berdagang ke Mesir.

Menarik bukan kisah Nabi Yusuf ini? Semoga kau tidak lelah membacanya. Ceritanya masih panjang.

Seperti yang sudah aku ceritakan di awal, kedatangan sekelompok bersaudara dari negeri Kan’an membuat Yusuf yakin takwil mimpinya saat kecil akan segera terwujud.

Saat para pembantu-pembantu Yusuf menyiapkan bahan makanan untuk mereka, Yusuf memberi tahu bahwa mereka hanya diberikan bahan makanan hanya untuk satu tahun. Satu tahun berikutnya bisa mereka dapatkan asal dengan syarat bisa membawa adik mereka yang paling kecil yang bernama Bunyamin. Sebab Bunyamin satu ibu dengan Yusuf. Yusuf berkata, ”Jika kamu tidak membawanya padaku, maka kamu tidak akan mendapatkan jatah gandum lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku.” (Yusuf :  59)

Demi bisa mendapatkan jatah makanan di tahun depan, mereka berjanji akan membawakan Bunyamin kepadanya, meski mereka tak tahu apa maksud dari Yusuf. Mereka masih belum mengerti jika Al Azis itu adalah saudara mereka juga.

Kemudian secara diam-diam Yusuf pun meminta para pembantunya agar memasukan kembali barang penukar saudara-saudara Yusuf ke dalam karung-karung mereka dengan maksud sebagai tes kepada mereka, apakah mereka akan kembali atau tidak untuk mengembalikan barang penukar ini kepada Yusuf. Maksudnya barang penukar itu adalah benda untuk barter agar bisa mendapakan gandum.

Setelah sekelomok bersaudara itu pulang, salah satu dari mereka menemui sang ayah untuk memberitahu pesan dari Al Azis. Mereka bisa mendapatkan bahan makanan lagi tahun depan jika bisa mempertemukan Bunyamin dengan Al Azis. Begitu diketahui ternyata barang alat penukar makanan masih ada pada mereka, mereka terus meyakini kepada sang ayah, Ya’qub, agar bersedia melepaskan Bunyamin ikut dengan mereka. Ya’qub sangat berat hati, “Bagaimana aku akan mempercayakan Bunyamin kepada kalian, seperti aku telah mempercayai Yusuf kepada kalian dahulu?” (Yusuf : 64) Ya’qub tak percaya lagi dengan anak-anaknya, mengingat kejadian yang menimpa Yusuf pada masa lalu.

Ingatan Ya’qub kepada Yusuf membuat ia sangat berat hati melepaskan Bunyamin. Karena itu, Ya’qub berkata, “Aku tidak akan melepaskannya pergi bersama kamu sebelum kamu bersumpah kepadaku atas nama Allah bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.”(Yusuf : 66). Dengan sumpah itu, Ya’qub harus merasa percaya kepada anak-anaknya. Setelah setahun kemudian, ketika mereka kembali menemui Al Aziz untuk meminta bahan makanan, Bunyamin akhirnya diajak sesuai permintaannya.

Bertemulah Yusuf dengan saudara kandung seibu, Bunyamin. Bunyamin diberitahu oleh Yusuf bahwa ia adalah saudaranya. Tapi Yusuf meminta agar Bunyamin tidak menceritakan ke yang lain. Yusuf punya rencana berikutnya.

Rencana Yusuf adalah bagaimana agar Bunyamin tetap berada bersamanya. Kemudian disusunlah taktik dengan memasukan barang berharga milik kerajaan ke dalam kantung bawaannya Bunyamin saat para pegawai Yusuf memasukan bahan makanan ke kantung-kantung mereka. Mulailah siasat dimainkan. Pengawal istana mengumumkan ada barang kerajaan yang hilang. Dituduhlah mereka sebagai pencurinya. Mereka mengelak, “Demi Allah, Sungguh kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk berbuat kerusakan di negeri ini dan kami bukan para pencuri.” (Yusuf : 73)

Mereka saling membuat kesepakatan. Jika mereka terbukti berbuat salah, maka hukumannya akan ditimpakan kepada yang melakukan diantara mereka. Hukumannya adalah pelaku menjadi milik Yusuf (dijadikan budak). Kantung-kantung masing-masing dari mereka diperiksa. Barang berharga istana itu akhirnya ditemui di kantung milik Bunyamin. Jadilah Bunyamin mendapat hukumannya, yaitu menjadi milik Yusuf. Rencana Yusuf berhasil untuk menahan Bunyamin tetap bersamanya. Salah satu dari mereka berkomentar, “Jika dia (Bunyamin) mencuri, maka dulu saudaranya (Yusuf) pernah mencuri.” (Yusuf : 77). Kata-kata ini membuat Yusuf kesal. Hal ini adalah bentuk fitnah dari para saudaranya ketika masa kecilnya dulu ia pernah dituduh mencuri.

Salah satu dari mereka berkata lagi, “Wahai Al Aziz, dia mempunyai ayah yang sudah lanjut usia, ambilah salah satu diantara kami sebagai gantinya.” (Yusuf : 78). Mereka berjanji akan membawa kembali Bunyamin kepada ayah mereka. Kejadian ini membuat mereka melakukan negoisasi agar Bunyamin bisa digantikan oleh saudara mereka yang lain. Tapi tetap, Yusuf bersikeras akan menahan Bunyamin bersamanya.

Mereka menjadi tertekan. Mereka tidak ingin kehilangan kepercayaan dari sang ayah untuk yang kedua kalinya. Diantara mereka berjanji tidak mau pulang sampai diizinkan oleh sang ayah. Salah satu dari mereka ada yang kembali pulang lalu menceritakan semuanya kepada Ya’qub.  Kesedihan Ya’qub kembali terjadi. Ia benar-benar sedih sesedihnya. Sampai-sampai karena sering manangis, penglihatannya menjadi kabur. Hanya sabar dan doa yang dilakukan Ya’qub terhadap apa yang menimpanya, “Mudah-mudahan Allah mendatangkan  mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” (Yusuf : 83). Ya’qub belum tahu jika ini rencana Yusuf.

Lalu sang Ayah memerintahkan mereka semua untuk pergi kembali mencari Yusuf (yang hilang dulu) dan Bunyamin. Kembalilah mereka menuju Mesir untuk bertemu kembali kepada Al Aziz, selain meminta jatah gandum, mereka juga memohon agar mengembalikan Bunyamin, “Wahai Al Aiziz, keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan. Kami datang dengan membawa barang-barang tidak berharga (sebagai penukar). Penuhilah jatah gandum kepada kami.” (Yusuf : 88)

Yusuf pun iba. Ia tak mau menyembunyikan lagi rahasianya. Rencana terhadap saudara-saudaranya sudah dicukupkan. Perasaannya terlontarkan, “Tahukah kamu kejelakan apa yang telah kalian perbuat kepada Yusuf dan saudaranya karena kamu tidak menyadari akibat perbuatanmu itu?” (Yusuf : 89)

Mereka berkata, “Apakah engkau benar-benar Yusuf? Yusuf menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku (Bunyamin). Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” (Yusuf : 90)

Mereka pun terkejut. Ternyata selama ini Al Aziz yang terus memberikan bantuan kepada mereka adalah saudarannya yang pernah mereka zalimi dahulu. Ungkapan penyesalan dan rasa bersalah terlontarkan, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas kami, kami adalah orang-orang yang bersalah.” (Yusuf : 91)

Yusuf memaafkan mereka. Yusuf meminta mereka untuk kembali ke negeri mereka dan menemui sang ayah. Ia juga menitipkan pakaian yang dikenakannya untuk diberikan kepada sang ayah. Lalu meminta agar pakaian tersebut diseka ke wajah sang ayah agar penyakit yang diderita matanya akibat kesedihan bisa sembuh.

Tibalah para saudara-saudara itu di rumah mereka lalu menceritakan apa yang terjadi dan memberikan pakaian Yusuf kepada sang Ayah. Ya’qub bisa melihat kembali, dan berucap “Bukankah telah aku katakana kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Yusuf : 96). Anak-anaknya memohon kepada Ya’qub, “Wahai ayah, mohon ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.” (Yusuf : 97). Ya’qub mengabulkan permintaan mereka, “Aku akan memohon ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf : 98)

Kemudian, Yusuf meminta saudaranya agar mengajak ayahnya ke Mesir. Yusuf sengaja meminta sang ayah dan seluruh keluarganya agar pindah ke Mesir. Di negeri ini mereka akan bisa hidup lebih baik. Merekapun menerima permintaan Yusuf. Hampir seluruh keluarga Ya’Qub dan turunannya pindah dari negeri Kan’an ke Mesir. Inilah eksodus pertama turunan Ya’qub atau Bani Israel. Ketika tiba di gerbang Negeri Mesir, mereka di sambut seperti tamu agung. Sang raja pun tak ketinggalan menyambut. Yusuf dan keluarganya menjadi orang-orang yang dimuliakan oleh mereka.

Yusuf berhasil bertemu ayahnya. Di sediakan juga singgasana buat Ayah Yusuf dan Ibunya (dari istri Ya’qub yang lain), ketika Yusuf meminta kedua orang tuanya menaiki singgasana yang diberikan Yusuf, tiba-tiba kedua orang tuanya termasuk ke sebelas saudaranya tunduk bersujud kepada Yusuf sebagai bentuk penghormatan dan penganggungan  untuknya.

Tiba-tiba Yusuf mengingat apa yang pernah diberitahukan kepada ayahnya, “Wahai ayah, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu.” (Yusuf : 100). Inilah arti dari mimpi Yusuf ketika kecil. Mimpi saat Matahari, bulan, dan kesebelas bintang bersujud kepada Yusuf membentuk sebuah perjalanan yang panjang bagi Yusuf. Mimpi itu bermakna bahwa Ayah, sebagai matahari, Ibu sebagai bulan, dan kesebelas bintang sebagai kesebelas saudaranya, mereka semua sujud kepadanya. Takwil mimpi itu terwujud setelah Yusuf mengaami berbagai ujiannya. Cerita berakhir indah.

Bagi Ya’qub dan Yusuf memang berakhir indah. Tapi tidak dengan turunannya. Bani Israel benar-benar mendapatkan ujian dari Allah untuk membuktikan mereka adalah orang-orang yang taat kepada ajaran ketauhidan Ibrahim.

Selama kekuasaan Hyksos di Mesir, anak turunan Ya’Qub mendapat kehidupan yang layak. Ternyata, kekuasaan Hyksos tak bertahan sampai dua abad. Selama berkuasa, Kerajaan Hyksos berhasil memecah dinasti Fir’aun menjadi 3 dinasti. Tapi akhirnya, Dinasti ke delapan belas, yang juga dari orang-orang Thebes Mesir, berhasil meruntuhkan kekuasaan Hyksos. Dinasti Fir’aun ke delapan belas yang dipimpin oleh Raja Amosis I berhasil menguasai Ibu kota Hyksos, yaitu Avaris, pada tahun 1567 SM.

Perpolitikan Mesir kembali dikuasai Dinasti Fir’aun. Nasib turunan Ya’qub (Bani Israel) berubah. Sebab, mereka bukan orang asli Mesir. Mereka juga para pendukung pasukan Hyksos, sehingga menjadi ancaman politik bagi Dinasti Fir’aun. Juga, mereka membawa agama yang bebeda dari agama yang dianut masyarakat asli Mesir. Kekuasaan Fir’aun memaksa Bani Israel menjadi kasta budak. Hidup mereka menjadi menderita karena perbudakan. Ketakwaan mereka diuji dengan cara seperti ini. Hingga akhirnya, muncul Nabi pembebas mereka tiga abad kemudian, yaitu Musa. Insya Allah nanti kita akan membahas Musa dan nasib pengikutnya.

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Yusuf : 111). Inilah kisah yang mengajariku untuk memahami takdir, ikhtiar, dan tawakal. Semoga kau mendapatkan hikmahnya juga.

Maha Besar Allah yang Maha Menentukan (Al-Qadiir)

Wassalamu’alaikum

Jogja 4 Januari 2014
@RidwanHd


Baca,
Selanjutnya >> : Coming Soon..
Sebelumnya >> :  Surat untuk Kau - 9 : Doa yang Melahirkan Ishaq, Ya'qub, dan Yusuf

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger