Rabu, 14 Januari 2015

Karunia Allah itu bernama Nafisa


Nama adik itu Nafisa. Usianya (saat saya menulis ini), kurang lebih setahun. Awalnya sangat sulit agar bisa saya gendong. Selalu menangis. Mungkin karena jarang bertemu dan belum kenal. Ia masih malu. Setelah saya sogok makanan mau juga di gendong. Ternyata ia suka makan. Sambil saya gendong, ia lahap makanan yang saya ambilkan. Kadang, ia suapkan juga ke mulut saya. Lucu sekali.

Nafisa, satu dari sekian banyak bayi yang lahir hasil dari kenakalan para remaja. Ia lahir dari orang tua yang tak menghendakinya hadir. Umur belasan pada ibunya lebih suka menikmati hasrat seksual dari pada mensyukuri akibat yang diperbuat. Memang, bagi pezinah, anak adalah aib. Bagi pezinah, anak adalah sosok yang bakal menyusahkan kesenangan mereka. Bagi pezinah, rasa syukur akan kenikmatan dunia tak penah mereka pikirkan, apalagi rasakan. Padahal, andai membuka sedikit saja ruang kecil merasakan adanya karunia (hikmah) dari perbuatan yang ia lakukan, Insya Allah, ia akan merasakan nikmat syukur itu. Nikmat syukur akan hidayah, bahwa lahirnya Nafisa bisa menjadi cara Allah yang diberikan kepadanya untuk tobat dan menebos dosa. Dengan merawat dan membesarkan sang anak dengan baik ada terkumpul pahala. Ada karunia hidayah Allah yang terlimpah.

Nafisa, bagi keluarga besar kami ia adalah karunia. Ia adalah karunia yang amat berharga seperti arti namanya. Bulek, biasa kami memanggil adiknya bapak, belum juga dikaruniai anak meski umur menginjak kepala empat. Keinginannya memelihara anak ia putuskan untuk mengadopsi saja. Atas kehendak Allah, bulek kami bertemu dengan bidan yang menawarkan bayi yang tak dikehendaki orang tuanya. Kemalangan Nafisa terobati dengan hadirnya bulek kami yang siap merawat dan memanjakan.

Nafisa,dalam struktur keluarga, ia sudah menjadi adik (sepupu) saya meski tak sedarah. Panggilan mas yang diajarkan bulek saya kepadanya memang agak sedikit tak nyaman. Mengingat, anak-anak sepupu saya yang seusianya pada memanggil saya om atau pakde. Tapi tak masalah. Ia beruntung memiliki kakak yang baik dan penyayang, ehem.. Sayang, jarak kami jauh. Ia di Balikpapan saya di Jogja. Jumpa akan jarang. Tapi tak apa, akan tetap sayang.

Nafisa mengajarkan kami kesyukuran. Lahir dari orang tua yang tak menghendaki. Tapi di sisi lain, ada orang tua yang menghendaki. Dosa mereka, bisa menjadi pahala buat kami. Allah menguji kemuliaan manusia dengan cara-Nya. Allah menguji keluarga kami, terutama bulek, dengan cara syukur seperti ini. Karunia Allah memang tak harus datang dengan cara sebagaimana umumnya. Karunia bisa saja datang dengan cara yang unik. Kadang mengejutkan. Mengadopsi cara unik itu. Meski bukan anak sedarah, bisa menjadi pahala jika kami berhasil hadapi ujian ini. Memelihara anak itu juga ujian, karena juga akan dipertanggung jawabkan di akherat.

Nafisa, tak pernah kami anggap anak haram. Sorot matanya tak ada dosa. Pandangannya meneduhkan. Tangisnya kemanjaan. Tawanya kebahagiaan. Wajah lugunya memantik nurani kemanusiaan. Sikapnya menyadarkan arti penting makna penciptaan. Ia butuh kasih sayang. Ia butuh bimbingan dari jalan gemerlapnya dunia. Bersyukur, keluarga besar kami sangat menerima kehadirannya. Kami bukan keluarga yang penuh dengan masalah moral. Kami adalah keluarga yang lahir atas doa-doa kebarokahan kakek kami. Keluarga besar kami, melalui bulek kami, siap membesarkan Nafisa dalam kesyukuran karunia-Nya.

Semoga kau akan besar menjadi anak yang sholihah. Amin..

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger