Nama adik itu Nafisa. Usianya (saat saya menulis ini), kurang lebih setahun. Awalnya
sangat sulit agar bisa saya gendong. Selalu menangis. Mungkin karena jarang
bertemu dan belum kenal. Ia masih malu. Setelah saya sogok makanan mau juga di
gendong. Ternyata ia suka makan. Sambil saya gendong, ia lahap makanan yang
saya ambilkan. Kadang, ia suapkan juga ke mulut saya. Lucu sekali.
Nafisa, satu dari sekian banyak bayi yang lahir hasil dari kenakalan para
remaja. Ia lahir dari orang tua yang tak menghendakinya hadir. Umur belasan
pada ibunya lebih suka menikmati hasrat seksual dari pada mensyukuri akibat
yang diperbuat. Memang, bagi pezinah, anak adalah aib. Bagi pezinah, anak
adalah sosok yang bakal menyusahkan kesenangan mereka. Bagi pezinah, rasa
syukur akan kenikmatan dunia tak penah mereka pikirkan, apalagi rasakan.
Padahal, andai membuka sedikit saja ruang kecil merasakan adanya karunia (hikmah)
dari perbuatan yang ia lakukan, Insya Allah, ia akan merasakan nikmat syukur
itu. Nikmat syukur akan hidayah, bahwa lahirnya Nafisa bisa menjadi cara Allah
yang diberikan kepadanya untuk tobat dan menebos dosa. Dengan merawat dan
membesarkan sang anak dengan baik ada terkumpul pahala. Ada karunia hidayah
Allah yang terlimpah.
Nafisa, bagi keluarga besar kami ia adalah karunia. Ia adalah karunia
yang amat berharga seperti arti namanya. Bulek, biasa kami memanggil adiknya
bapak, belum juga dikaruniai anak meski umur menginjak kepala empat.
Keinginannya memelihara anak ia putuskan untuk mengadopsi saja. Atas kehendak
Allah, bulek kami bertemu dengan bidan yang menawarkan bayi yang tak
dikehendaki orang tuanya. Kemalangan Nafisa terobati dengan hadirnya bulek kami
yang siap merawat dan memanjakan.
Nafisa,dalam struktur keluarga, ia sudah menjadi adik (sepupu) saya meski
tak sedarah. Panggilan mas yang diajarkan bulek saya kepadanya memang agak
sedikit tak nyaman. Mengingat, anak-anak sepupu saya yang seusianya pada
memanggil saya om atau pakde. Tapi tak masalah. Ia beruntung memiliki kakak
yang baik dan penyayang, ehem.. Sayang, jarak kami jauh. Ia di Balikpapan saya
di Jogja. Jumpa akan jarang. Tapi tak apa, akan tetap sayang.
Nafisa mengajarkan kami kesyukuran. Lahir dari orang tua yang tak menghendaki.
Tapi di sisi lain, ada orang tua yang menghendaki. Dosa mereka, bisa menjadi
pahala buat kami. Allah menguji kemuliaan manusia dengan cara-Nya. Allah
menguji keluarga kami, terutama bulek, dengan cara syukur seperti ini. Karunia
Allah memang tak harus datang dengan cara sebagaimana umumnya. Karunia bisa
saja datang dengan cara yang unik. Kadang mengejutkan. Mengadopsi cara unik
itu. Meski bukan anak sedarah, bisa menjadi pahala jika kami berhasil hadapi
ujian ini. Memelihara anak itu juga ujian, karena juga akan dipertanggung
jawabkan di akherat.
Nafisa, tak pernah kami anggap anak haram. Sorot matanya tak ada dosa.
Pandangannya meneduhkan. Tangisnya kemanjaan. Tawanya kebahagiaan. Wajah
lugunya memantik nurani kemanusiaan. Sikapnya menyadarkan arti penting makna
penciptaan. Ia butuh kasih sayang. Ia butuh bimbingan dari jalan gemerlapnya
dunia. Bersyukur, keluarga besar kami sangat menerima kehadirannya. Kami bukan
keluarga yang penuh dengan masalah moral. Kami adalah keluarga yang lahir atas
doa-doa kebarokahan kakek kami. Keluarga besar kami, melalui bulek kami, siap
membesarkan Nafisa dalam kesyukuran karunia-Nya.
Semoga kau akan besar menjadi anak yang sholihah. Amin..
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.