Di tengah ramainya media-media
saling melempar opini dan isu dari masalah perpolitikan nasional, tiba-tiba
iseng ingin mengecek ranking situs berita. Segala macam isu yang muncul ke
permukaan publik tak lepas dari kinerja pemberitaan situs berita yang hampir
tiap jam bahkan tiap menit menerbitkan berita-berita terkini. Berita-berita
yang ditampilkan mempengaruhi tingkat kunjungan ke situs tersebut.
Artinya, mungkin bisa jadi,
semakin tinggi peringkat kunjugan ke situs berita tersebut semakin besar pula
situs berita itu memberikan pengaruh opini ke masyarakat netter. Sebab,
tingginya kunjungan bisa diartikan sebagai banyaknya netter mengakses untuk mengkonsumsi informasinya. Tapi ini masih pendapat subyektif
saya yang perlu diuji lagi validitasnya.
Di sinilah saya penasaran
untuk melihat mana situs berita yang paling banyak di akses masyarakat. Untuk
melihat ranking ini bisa kita lihat dari situs alexa.com. Situs ini cukup terkenal untuk melihat data traffic
website. Penjelasan detailnya silakan bisa dibaca di sini http://id.wikipedia.org/wiki/Alexa_Internet
atau di sini http://www.alexa.com/about.
Berikut ranking situs berita
nasional (Per 25 Januari 2015 pukul 18.00 – 19.00 WIB)
1. Detik.com
(9) http://www.alexa.com/siteinfo/detik.com
2. Kompas.com (10) http://www.alexa.com/siteinfo/kompas.com
3. Liputan6.com
(12) http://www.alexa.com/siteinfo/liputan6.com
4. Tribunnews.com
(19) http://www.alexa.com/siteinfo/tribunnews.com
5. Viva.co.id
(21) http://www.alexa.com/siteinfo/viva.co.id
6. Suara.com (24) http://www.alexa.com/siteinfo/suara.com
7. republika.co.id (25) http://www.alexa.com/siteinfo/republika.co.id
8. merdeka.com (26) http://www.alexa.com/siteinfo/merdeka.com
9. okezone.com (29) http://www.alexa.com/siteinfo/okezone.com
10. jpnn.com (31) http://www.alexa.com/siteinfo/jpnn.com
11. tempo.co (42) http://www.alexa.com/siteinfo/tempo.co
Keterangan :
-
dalam
kurung: angka peringkat web secara nasional (bukan dunia). Biasanya setiap jam
suka berubah.
-
Link:
kalo di klik akan menuju halaman alexa tentang penjelasan detail traffic web
tersebut.
Dari data ranking ini
kita lihat detik.com masuk peringkat pertama diikuti kompas.com, liputan6.com
dan seterusnya. Mungkinkah situs berita teratas ini sangat mempengaruhi opini
masyarakat netter Indonesia? Silakan bagi yang ingin meneliti apakah ada pengaruh ranking terhadap
opini publik untuk membuktikan dugaan saya. Jikapun dugaan itu benar, maka
analisis-analisis selanjutnya terhadap perkembangan isu perpolitikan dan dinamika
nasional bisa kita baca arah petanya. Mengingat daya kritis masyarakat kita
yang lemah, sehingga mudah terpengaruh isu yang muncul di media-media tersebut.
Sudah kita pahami, setiap media pasti memiliki kepentingan dari setiap berita
yang diturunkan. Ada framing yang dibentuk. Biasanya framing dipengaruhi siapa
pemilik, ideologi, atau orang-orang dibalik media.
Tidak hanya melihat
ranking situs berita nasional, saya pun tertarik melihat ranking situs berita
yang bersegmen Islam.
Berikut ranking situs
berita segmen Islam (Per 25 Januari 2015 pukul 18.00 – 19.00 WIB)
1. republika.co.id (25) http://www.alexa.com/siteinfo/republika.co.id
2. islampos.com (242) http://www.alexa.com/siteinfo/islampos.com
3. eramuslim.com (493) http://www.alexa.com/siteinfo/eramuslim.com
3. eramuslim.com (493) http://www.alexa.com/siteinfo/eramuslim.com
4. voa-islam.com (532) http://www.alexa.com/siteinfo/voa-islam.com
5. dakwatuna.com (547) http://www.alexa.com/siteinfo/dakwatuna.com
6. pkspiyungan.org (550) http://www.alexa.com/siteinfo/pkspiyungan.org
6. pkspiyungan.org (550) http://www.alexa.com/siteinfo/pkspiyungan.org
7. arrahmah.com (551) http://www.alexa.com/siteinfo/arrahmah.com
8. fimadani.com (596) http://www.alexa.com/siteinfo/fimadani.com
8. fimadani.com (596) http://www.alexa.com/siteinfo/fimadani.com
9. rumaysho.com (843) http://www.alexa.com/siteinfo/rumaysho.com
10. islamedia.co (976) http://www.alexa.com/siteinfo/islamedia.co
10. islamedia.co (976) http://www.alexa.com/siteinfo/islamedia.co
Keterangan :
-
dalam
kurung: angka peringkat web secara nasional (bukan dunia). Biasanya setiap jam
suka berubah.
-
Link:
kalo di klik akan menuju halaman alexa tentang penjelasan detail traffic web
tersebut.
Dugaan saya tentang
peringkat kunjungan ke situs berita nasional mempengaruhi opini publik apakah
bisa juga diterapkan pada situs berita bersegmen islam? Bisa ya, bisa tidak.
Mengapa bisa tidak, sebab
beberapa situs berita bersegmen islam memiliki masa pembaca dari kelompok jama’ah
tertentu. Misal, Dakwatuna, islamedia dan (terutama) pkspiyungan terlihat
sekali afiliasinya ke PKS. Tak perlu dibantah, dari berita yang diangkat sudah
jelas.
Situs berita yang
memiliki masa kelompok cukup membantu meningkatan kunjungan web, namun jika
berita yang diangkat hanya seputar ideologi kelompoknya agak sulit untuk bisa
menaikan traffic yang lebih besar lagi. Lihat saja media-media milik HTI dan
salafy (sesuai hasil ranking situs pada hari dan jam itu tidak) tidak masuk 10
besar. Media yang dikelola orang-orang PKS masih bisa berada di urutan 10 besar
karena konten yang diangkat tidak hanya masalah berita kelompoknya tapi juga
sebagian diisi oleh konten-konten yang diterima oleh umum. Selama media islam
hanya masih mengeluarkan konten untuk konsumsi kalangan kelompoknya akan sulit
mempengaruhi opini publik yang lebih besar.
Bisa juga jawaban iya.
Situs berita segmen islam yang berada di atas adalah situs yang tidak memiliki
masa kelompok. Konten yang diangkat bisa diterima kalangan umum atau cukup
mempengaruhi publik netter. Republika.co.id sudah jelas. Ini memang situs
berita yang sudah besar dan hadirnya sudah lama. Berita-berita yang diangkat
lebih banyak umum. Dan yang paling penting, motivasi utama media ini adalah
bisnis. Jadi, gak heran jika berada cukup diatas dengan posisi yang cuku jauh
antara urutan 1 dan 2.
Urutan 2 ditempati
islampos.com. Situs ini bisa dikatakan tidak memiliki afiliasi kelompok.
Menurut pendapat saya, loh. Berita yang dimuat tidak terlihat khusus ke
afiliasi tertentu. Lalu dikuti oleh situs eramuslim.com yang juga tak terlihat
afiliasinya. Konten yang diangkat juga tidak hanya seputar tentang kelpompok tertentu, tapi konten-konten yang bisa diterima semua kalangan.
Khusus untuk voa-islam.com saya agak ragu menilai. Sebab (masih menurut saya), media ini sering acap kali mengankat berita berupa tuduhan, hinaan, atau apalah namanya ke kelompok lain yang berseberangan pendapat dengan data-data dari kesimpulan spekulatif. Walaupun kadang apa yang disampaikan itu benar (saya pun sepedapat) tapi konteks atau cara penyampaian terasa tidak etis. Mungkin bisa jadi, tingginya pengunjung pada situs ini karena daya tarik beritanya dari judul-judul yang mungkin agak satir. Bukannya mempengaruhi opini pembacam justru pembaca berkunjung untuk mengkritik pemberitannya. Tapi sayang, kini kolom komentar di web itu sudah tidak ada.
Khusus untuk voa-islam.com saya agak ragu menilai. Sebab (masih menurut saya), media ini sering acap kali mengankat berita berupa tuduhan, hinaan, atau apalah namanya ke kelompok lain yang berseberangan pendapat dengan data-data dari kesimpulan spekulatif. Walaupun kadang apa yang disampaikan itu benar (saya pun sepedapat) tapi konteks atau cara penyampaian terasa tidak etis. Mungkin bisa jadi, tingginya pengunjung pada situs ini karena daya tarik beritanya dari judul-judul yang mungkin agak satir. Bukannya mempengaruhi opini pembacam justru pembaca berkunjung untuk mengkritik pemberitannya. Tapi sayang, kini kolom komentar di web itu sudah tidak ada.
Bagi saya, inilah
kesempatan islampos dan eramuslim untuk mengankat konten yang bisa diterima
kesemua kalangan. Namun tetap memperhatikan jangan sampai terbawa arus pasar
seperti media-media nasional yang rankingnya cukup tinggi. Semakin tinggi
tingkat kunjungan, semoga dan berharap, semakin besar pula kesempatan untuk
mempengaruhi opini pembaca. Sasaran dakwah juga akan lebih besar. Inilah
tantangan untuk situs-situs berita bersegmen islam.
Wallahualam,

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.